
Menakutkan.
Hembusan angin kasar yang menekan kulit berkumandang dari sosok pengendali magma.
“Aza?” kaget Xavier saat memandang ke arahnya.
“Tekanan mengerikan ini—” Horusca juga ikut bersuara.
“Olea Zoiyaveira,” gumam Laraquel Hybrida yang hampir bersamaan dengan Aegayon Cottia.
Sementara di satu sisi, jauh dalam kesadaran petinggi empusa, seseorang berjalan di atas genangan air berwarna merah darah. Menatap lekat, pada seseorang yang dihujam rantai ke pohon Akasia. Batang besar itu tumbuh di tengah-tengah perairan itu.
Lambat laun sosok asing itu pun sampai di depan sang pemuda yang tak berdaya.
Laravell Axadion Ergo. Keturunan bangsa tradio, dan merupakan keponakan Olea Zoyaveira yang merupakan putri bangsa naga. Juga, cucu pimpinan tradio sekaligus ibu angkatnya. Itulah identitas mereka sebenarnya.
Perlahan, kristal bening berjatuhan di mata Laravell yang menyaksikan kondisi adiknya.
Disentuhnya pipi sang pemuda. Dan benang magma pun menyeruak dari genangan di pijakan lalu melilit lengannya. Hampir saja, sentuhannya berjarak dari wajah adiknya.
“Maafkan aku, Aza. Maafkan aku karena hanya bisa menyembuhkan setengah penyakitmu,” lirihnya.
Sang petinggi bangsa empusa masih tak sadarkan diri kondisinya. Namun, wajah pucat juga aliran darah yang tampak nyata memenuhi fisiknya. Dia seperti mayat jika dilukiskan kondisinya.
Laravell pun menengadah. Menatap wujud mengerikan yang ada di langit-langit sana.
Pertama, seperti balon cacat berurat merah yang mengambang di atasnya. Begitu besar, terlebih ada satu benang kokoh dari tengah-tengahnya. Dan itu jelas menghujam punggung adiknya. Wujud penyakit aneh yang berisi kumpulan saraf untuk melumpuhkan fisik Aza.
Kedua, seperti pedang namun berwujud salib di udara. Penuh ukiran kuno bangsa Dewa. Mantra terkutuk yang dipelajari bangsa naga dan dipakai Olea untuk menekan penyakit aneh anaknya.
Ketiga, kendi terlarang milik sang Pangeran perang bangsa empusa. Berisi inti magma, juga jurus lain Aza yang ditahan agar tak menghancurkan fisiknya. Bagaimanapun juga, dia melakukan itu karena sangat menyayangi putranya.
Keempat, batu kristal bangsa tradio. Berisi mantra terlarang Laravell Axadion Ergo yang hanya bisa mengurangi sedikit penyakit Aza. Sebelum dirinya mengorbankan nyawa, balon cacat berurat merah itu dua kali lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Dan yang kelima, sebuah lambang aneh raksasa serupa tato di dahi Reygan Cottia juga Sif Valhalla. Mantra terkutuk milik Helga Nevaeh dan dipelajari sang penyimpang untuk mengendalikan orang-orang yang dirasukinya.
Mantra itu tak bisa dihancurkan kecuali korbannya dibunuh untuk melepaskan kutukan.
Kelima wujud aneh itulah yang bersemayam di tubuh Aza sekarang. Apalagi kondisi aslinya hampir meregang nyawa. Jika roh Laravell tidak melakukan sesuatu pada sang petinggi, adiknya jelas akan mati.
__ADS_1
Namun di antara lima itu, yang mana harus diusiknya? Kelima wujud yang tak berkesinambungan namun menekan sosok pengendali magma.
Dirinya tak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan adiknya.
Sementara Sif Valhalla yang tahu kondisi sesungguhnya sang petinggi empusa, justru melontarkan kata tak terduga.
“Siapa pun, cepat bunuh dia karena hanya itu pilihannya!” suruhnya tiba-tiba.
Jelas saja, kalimat tersebut bagai hukuman mati untuk siapa pun yang menganggap sang petinggi berharga.
Dan Arigan yang tersudut pun tak punya pilihan selain membawa lari Thertera juga Toz bersamanya. Bagaimanapun juga, rekannya itu jelas sekarat kondisinya. Karena ekor magma sang petinggi yang menggila berhasil membakar organ-organ vitalnya.
Reve Nel Keres yang menyaksikan itu pun menatap tajam Reygan Cottia.
“Tak cukup bagimu untuk menghancurkan bangsaku, dan sekarang kau juga ingin melukai rekanku?” tekannya.
“Kalau kau tak suka, cobalah untuk menghentikannya,” seringai Reygan menanggapi. Bahkan tangannya berhasil mengayunkan senjata untuk memaksa mundur Sif Valhalla.
Sosok dari hydra itu pun terengah-engah akibat pertarungan tak seimbang dirinya juga gurunya.
“Kau bilang, petinggi itu harus dibunuh untuk menghentikannya?” tanya Reve dengan nada suara yang dingin.
“Ya. Karena itulah kutukannya,” balas Sif sambil memegang lengannya yang putus.
“Kau mau apa?” tanya laki-laki itu dengan tatapan penuh selidik.
“Tentunya memberi gurumu hukuman agar melepaskan mantranya,” senyum tipis pun tersungging di akhir kata. Membuat Sif Valhalla merasa heran akan ekspresi yang diperlihatkan sang pemuda.
Namun baru tiga langkah maju, energi di tubuh Reve memudar berganti dengan aura biru yang menyala. Siapa pun jelas bisa melihat kobaran itu, api abadi milik bangsa phoenix yang melegenda.
“Api itu, akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Sepertinya, aura itu akan sangat berharga untuk dilahap pedangku. Jadi, maukah kau memberikannya padaku?” Reygan tampak takjub menyaksikannya.
Dan Reve pun menyeringai tiba-tiba. “Jika kau mau, maka cobalah untuk mengambilnya.”
“Baiklah.”
Mendadak tubuh Reve lenyap di pandangan. Membuat beberapa saksi mata terkejut jadinya, apalagi setelah sang pemuda muncul begitu saja di depan Reygan Cottia. Dalam sekali pukulan, sang penyimpang dipaksa mundur walau berhasil menahan serangannya.
Pecahan kristal biru juga berterbangan di udara akibat sentuhan dari api sang pemuda pada lawannya.
__ADS_1
“Serangan itu, begitu menggetarkan hatiku. Tapi sayangnya takkan cukup untuk membunuhku.”
“Benar, karena itulah aku akan serius melakukannya,” kobaran api yang menyelimuti semakin membesar di tubuh Reve. Bahkan bukan hanya itu saja, rambut biru kehitamannya juga memanjang sampai pinggangnya. Dan penglihatan sedalam samudra langsung memenuhi bola mata.
Wujud sesungguhnya dari bangsa phoenix yang memekarkan bunga. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja.
“Majulah!”
Mendengar ucapan Reygan, semangat pembunuh begitu menghiasi perasaan Reve. Tanpa ragu sosoknya melesat baju. Mengeluarkan sebuah pedang terindah berwarna biru yang pernah dimilikinya.
Setiap sentuhan melontarkan serpihan kristal. Termasuk pijakannya. Bongkahan berwujud keras yang dipuja di dunia manusia, menyeruak begitu saja.
Seni berpedangnya yang berantakan, cukup akurat melukai Reygan. Sif tak percaya, jika anak semuda itu memiliki kemampuan luar biasa.
Begitu mirip dengan Danzo Yukimura menurutnya. Sang pemegang kunci Reygan, yang kondisinya tak diketahui mereka ternyata bernasib mengenaskan. Sedang terkurung, disalib di sebuah pohon akasia dan menangis darah walau mata tertutup sepenuhnya.
Dan tak satu pun dari rekan-rekannya sang pemegang kunci tahu keberadaannya.
Bahkan saking hebatnya Reve Nel Keres, ia berhasil mengoyak mulut salah satu wajah Reygan sehingga menimbulkan geram.
“Berani-beraninya kau melukaiku seperti itu!” kesalnya. Bahkan petir ikut terlontar dari tubuhnya, menghanguskan apa pun yang disambar sehingga Reve terpaksa menjauh menghindar.
Tapi, pada pijakan mundur terakhir, pemuda itu dikejutkan secara tak terduga. Oleh kemunculan ekor magma, yang menusuk kakinya dan membuatnya mengerang tiba-tiba.
Sontak Reve pun menoleh pada pelakunya.
Aza Axadion Ergo.
Sang petinggi empusa, berjalan gontai ke arahnya akibat mantra terlarang Helga yang ditanamkan Reygan padanya.
“Sial!” jengkel Reve lalu mengangkat kakinya.
Sensasi kulit terbakar yang ingin meleleh langsung menusuknya. Baru pertama kali ia rasakan sensasi sakit akibat serangan sang petinggi empusa. Pantas saja orang-orang takut kepadanya, apalagi jurus ini mampu menghancurkan tubuh jika dibiarkan begitu saja.
__ADS_1