
“Siapa itu?!” Riz melirik takut ke sekelilingnya.
Perlahan-lahan, cincin api di langit-langit mulai turun ke bawah. Sampai akhirnya api itu menggumpal dengan posisi berdiri yang hampir setara dengan Riz. Semakin lama api itu semakin menbentuk siluet manusia.
“I-itu!”
“Wussh!” suara api yang lenyap, dan berubah wujud menjadi seorang pria tua yang tampan. Di tangannya terdapat sebuah tongkat yang dialiri listrik membuat tatapan Riz tak bisa lepas dari sana.
“Riz Alea, seorang calon guider dari bangsa manusia,” ucapnya. Mata Riz yang dari tadi menatap tongkatnya pun langsung buyar pandangannya.
“A-ah,” Ri tak tahu harus mengucapkan apa. Aneh, mendadak rasa takut yang tadi menyelimutinya pun lenyap begitu melihat ada orang lain di tempat ini selain dirinya.
“Kami akan memulai eksekusimu,” ucap pria tua itu tiba-tiba tanpa penjelasan.
“Eksekusi? Tunggu! A-apa maksudnya eksekusi?! Aku akan mati?!”
“Sebuah langkah terakhir dalam ujian takdir kemampuan, entah apa pun yang akan mendatangimu, semoga kamu memang pantas untuk memilikinya.” Begitu selesai mengatakannya, pria tua itu menghentakkan kaki tongkatnya ke lantai sebanyak tiga kali.
“Kraaak!” tiba-tiba kelima patung yang mengelilingi Riz langsung bergerak, membuatnya terperanjat karena jantungnya hampir saja jatuh ke kaki saking kagetnya. Ia tak bisa bersuara, walau mulutnya menganga namun suara sudah lari ke dalam perutnya.
Kelima patung itu sama-sama mengangkat tangan ke depan, dengan telapak tangan yang mengarah ke bawah.
“Akura hersa bleedya flowda leyros (tunduk dalam perjanjian bunga lily), aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini)” ucap kelima patung itu.
Suaranya pun menggetarkan jantung seolah dihujam pisau yang dirasakan Riz begitu mendengarnya.
Cahaya merah tiba-tiba muncul dan menghujam tubuh Riz tanpa sempat disadarinya. Ia pun pingsan seketika.
....
....
Hening, namun menenangkan. Hangat, namun menggairahkan. Semilir angin lembut seperti menerpa seluruh tubuhnya agar segera terbangun.
Dengan perlahan, Riz mencoba membuka mata. Serasa mimpi, sebuah langit-langit yang dipenuhi kristal cantik terbentang luas sepanjang mata memandang.
Rumput yang lembut menusuk tubuh seakan memberi kenikmatan. Riz seolah enggan untuk bangun dari tidurnya. Ia mengelus lembut rumput-rumput itu dengan melupakan apa yang sudah terjadi. Kenikmatan terlalu membuainya saat ini.
“Tes ... tes ... tes ...” tak terasa ada yang menetes di wajahnya.
“A-apa ini?” Mata Riz langsung terbelalak menyadari cairan apa itu.
“Darah? Darah siapa?!” pekiknya.
“Deg!” Aliran detak jantungnya perlahan mulai naik-turun. Lima ekor serigala, dengan masing-masing warna yang berbeda berdiri tegak seperti predator lapar yang hendak menerkamnya.
“Mimpi?” gumam Riz sambil mencubit pipinya. “Sakit! Tunggu, jadi ini bukan mimpi?” ia pun memiringkan kepalanya seperti masih tak menerima kenyataan.
“Grrr ...” racau sang serigala. “Grraa!” serigala-serigala itu pun melesat maju mengejarnya.
“Uwaaa! Siaalaan! Aku masih belum mau mati ...! Siapa pun tolong akuuu!” jerit Riz berlari cepat.
Salah satu serigala pun berhasil melompat di atasnya dan menghentikan langkah Riz. Ekspresinya benar-benar lapar, tampak binatang itu sudah tak tahan untuk ******* Riz beserta tulangnya.
__ADS_1
“Buaagh!” sebuah tindihan menabrak punggung Riz sehingga ia pun jatuh tersungkur.
“Grrr ...” salah satu serigala berwarna merah pun menindihnya. Riz gemetaran, untuk melirik sekilas saja ia bahkan tak mampu saking takutnya. Karena rasa takut melihat cakar serigala yang tertopang di dekat wajahnya.
“A-apakah aku akan mati? Inikah akhirnya? A-aku, akan mati sia-sia?” batinnya.
“Grrrr ...” suara serigala yang nyaring di telinganya seperti sudah merobek tubuhnya. Apalagi jika diterkam, itu ibarat kematian sudah memeluknya.
Serigala di punggungnya membuka mulut lebar-lebar, Riz bisa merasakan hawa dingin di punggungnya. Dan ternyata, “grroaarr!”
Riz merasa aneh, “apa aku sudah mati?” gumamnya. Rasa berat karena diinjak serigala sudah tak terasa lagi. “Seperti ini rasanya mati? Aku tak merasakan apa-apa,” ucapnya dengan mata terpejam.
“Grrr ... ggroarr! Aarggh!” suara binatang dan erangan memecah suasana alam kematiannya.
“A-apa itu? Teriakan dari neraka? A-aku masuk neraka?!” racau Riz.
Ia pun membuka mata. Pemandangan di depannya masih sama sebelumnya. “A-aku tidak mati?”
“Aaargh!” jerit seseorang. Ri pun langsung mendongak ke belakang menatap sumber suara.
“I-itu!” Lima serigala yang tadi hendak menerkamnya tampak sedang bertarung dengan seorang raksasa bertangan enam. Rupanya aneh jika dikatakan mirip dengan manusia karena wajahnya menyerupai singa.
Mereka bertarung dengan sengit dan Riz menyaksikan itu dengan mata kepalanya sendiri. Di mana serigala hitam menggigit kaki raksasa itu dan menimbulkan api yang sesuai warnanya.
Sedangkan serigala berwarna hijau mengeluarkan tanaman merambat raksasa untuk mengikat kaki sang monster. Riz masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pemandangan sihir dari pertarungan sengit itu mengusik hatinya. Ia tak bergerak, karena matanya tak mau lepas dari sana.
Sementara serigala ungu melesat cepat ke arah kepala dan berhasil menggores mata sang raksasa.
“Aarrgh! Serigala kepar*t! Berani-beraninya melukai mataku!” erang raksasa.
Ia pun mengepalkan keenam tangannya, seperti hendak melakukan penyerang. Dan benar saja, pukulan beruntun pun dilayangkan raksasa ke arah serigala-serigala yang berlari menghindar.
Sayang sekali, salah satu serigala merah gagal menghindari pukulan ketiga yang membuat tinju itu mendarat ke kaki belakangnya dan hewan itu terlempar cukup jauh. Sementara empat serigala lain masih berusaha menghindar dan menyerang secara bersamaan.
Riz sangat kaget, serigala merah itu terlempar ke belakangnya. Dengan ragu-ragu, ia pun berlari mengendap ke arah serigala merah yang terkapar tak berdaya. Dari pinggang ke kakinya tampak hancur dan remuk. Sekuat itulah kekuatan raksasa yang menyerangnya.
“Grrr ...” erang pelan serigala itu.
Rintihan serigala yang tak ubahnya dengan manusia bagi Riz membuat hatinya sedikit tersentuh. Ia pun mendekat dan menyentuh sumber sakit dari sang serigala.
“A-apa yang harus kulakukan?” gumam Riz.
Sekalipun serigala itulah yang tadi menindihnya, tapi rasa kasihannya melupakan itu semua. Lagi pula ia baik-baik saja, entah apa pun alasannya.
“Bunuh aku,” lirih serigala itu tiba-tiba.
“A-apa maksudmu?! Kau bisa bicara?!”
“Aku sudah tak bisa bergerak, kematian adalah yang terbaik untukku saat ini. Karena itu bunuhlah aku,” ucap serigala itu lagi.
“Jangan gila! Aku bukan orang sekejam itu yang akan menghabisi makhluk tak berdaya!”
__ADS_1
Sementara suara raungan serigala di mana sedang bertarung dengan raksasa terdengar jelas oleh mereka.
“Aku mohon, bunuhlah aku dan bantulah keempat teman-temanku mengalahkan raksasa itu.”
Riz terkesiap mendengarnya, tak terasa air matanya mengalir. Serigala ini, mengingatkan Riz pada dirinya yang lalu. Ia tak bisa apa-apa, namun berharap ada yang bisa menyelamatkan ibunya ataupun Toz dari penindasan.
Rasa sakit karena melihat cerminan dirinya benar-benar membakar luka di hati Riz. Ia pun menggendong serigala yang besarnya hampir menyamai dirinya.
“Kau mau membawaku ke mana?”
Di depan sana aku melihat hutan, mungkin saja ada tanaman obat di sana. Aku mohon bertahanlah! Aku tak bisa meninggalkanmu terkapar di tempat tadi mengingat ada raksasa gila itu,” jelas Riz tiba-tiba.
Dengan bersusah payah ia pun menggendong hewan tersebut di punggungnya dengan hati-hati.
“Bawalah aku ke tempat teman-temanku, mereka sedang kesusahan melawan serigala itu.”
“Jangan gila! Kau sedang terluka! Memangnya apa yang bisa dilakukan serigala tak berdaya sepertimu?!” teriak Riz emosi.
“Tolong, bawa saja aku ke sana. Salah satu serigala bisa mengobati lukaku, aku mohon,” pinta serigala itu.
Riz tak bicara, cukup lama ia terdiam sampai akhirnya langkah kakinya pun berbelok arah. Sekarang ia mengarahkan tubuhnya menuju tempat di mana keempat serigala tersisa sedang bertarung dengan raksasa.
Hiruk-pikuk mengerikan itu menggetarkan langkah Riz, akan tetapi ia tetap memilih maju. Rasa takut sudah terlanjur menyelimutinya, namun rintihan sakit dari serigala di punggunglah penyebab ia tak peduli bahaya di depan.
Tak ada pilihan lain, ia tak tahu siapa yang jahat saat ini, entah serigala ataupun raksasa. Terpenting baginya hanyalah melakukan apa pun yang benar menurut suara hatinya.
Pertarungan itu begitu sengit, serigala ungu yang lincah sudah memar tubuhnya. Sementara serigala kuning menggigit dan mencakar paha raksasa itu secara buas, lalu mulai melompat jauh karena merasakan tanda bahaya.
Walau berbeda ukuran, tapi keempat serigala itu bekerja dengan baik, terlebih lagi kemampuan layaknya sihir yang dimiliki serigala hitam dan hijau cukup mendominasi.
Tanaman rambat penuh duri memenuhi area itu, disertai dengan api hitam yang membakarnya. Langkah kaki Riz pun sampai di sana, ia berhenti di jarak yang terasa takkan terjangkau oleh serangan fisik dari raksasa itu.
“Ya-yang mana serigala penyembuh itu?” Riz menatap raksasa di depan dengan pupil bergetar.
“Elftraz (penyembuh)” panggil serigala di punggung Riz tiba-tiba.
Sang serigala hijau pun berpaling dan berlari cepat ke arah mereka membuat jantung Riz memburu detakannya.
“Liaythax Nehriem Miaglea (Bola Hijau Nehriem)” ucap serigala hijau itu tiba-tiba begitu ia mendekat. Sebuah bola hijau yang sama persis dengan milik dokter Cley dan pemuda berambut merah mengelilingi Riz dan serigala merah.
“Turunkan dia,” perintah serigala hijau itu.
Perlahan Riz pun menurunkan serigala di punggungnya dengan hati-hati dan membaringkannya.
“Selama aku mengobati, bisakah kau membantu ketiga temanku? Menjadi pengalih perhatian pun tidak masalah,” pinta serigala hijau pada Riz.
Riz pun mengangguk, sepintas ia tatap serigala merah yang sedang diobati. “Lupakan saja, aku akan membantu mereka,” batin Riz saat bayangan pertama kali bertemu dan hampir diterkam serigala-serigala itu terlintas lagi diingatannya.
Ia pun berbalik dan menatap raksasa yang sibuk memukul beruntun ketiga serigala lincah di depannya. Riz pun mendekat dan mengatakan sesuatu yang tak terduga dengan suara bergetarnya.
“Hei, raksasa jelek! Apa kau tak malu menyerang makhluk yang lebih kecil darimu? Sepertinya bukan hanya tubuhmu saja yang besar, tapi otakmu juga tidak ada!” teriak Riz memprovokasinya.
Raksasa itu berpaling ke arahnya dengan muka marah. Bagi Riz, marah atau tidak, rupa raksasa itu tetaplah menyeramkan. Kakinya gemetaran dan mulai terasa kehilangan tenaga. Kebodohan karena tak berpikir terlebih dahulu sebelum berteriak kini menghantuinya.
__ADS_1