
Menangis.
Tak peduli seberapa lelah kaki berlari tapi itu tak berarti. Sebab fisik dan psikis telah tersiksa secara keji.
Sepanjang mata memandang, otak hanya dipenuhi oleh cara menyelamatkan diri. Sampai akhirnya panah assandia (petarung) berhasil melukai kaki Revtel. Ia terjatuh, di sela-sela suasana pelik sang Ksatria yang menemani akhirnya mengorbankan hidupnya.
Hydrea yang beruraian air mata pun menggendong keponakannya. Bersama Kers, mereka bertiga berlari menyusuri hutan agar bisa menembus pinggiran dan meminta bantuan.
Pada siapa pun selama hidup terselamatkan. Akan tetapi, usaha telah sia-sia. Seorang elftraz (penyembuh) melancarkan serangan jarak jauh kepadanya. Ketiganya pun dihujani serangan luar biasa bak buruan dari para pemangsa.
Hydrea pun berdiri dengan gagahnya, melindungi anak serta keponakan, berhiaskan api yang dikendalikannya.
“Ibu!”
“Lari.” Kedua anak itu tersentak. “Lari kalian berdua, aku bilang lari!”
Para eksekutor pun berdatangan ke sana. Tampak melancarkan serangan dan ditahan dengan kobaran api yang menggila.
“Kenapa kalian diam saja? Cepat lari!” marahnya.
Kers yang beruraian air mata pun terkesiap mendengar bentakan Ibunya. “I-Ibu.”
“Pergi! Jika kalian tetap di sini, aku takkan pernah memaafkan kalian sampai aku mati!”
Dan kalimat pedih yang dilontarkan Hydrea pun memaksa Revtel mengambil pilihan tak terduga. Ditariknya lengan Kers agar pergi dari sana.
“T-tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Ibu! Ibu! Aku mohon, jangan tinggal aku Ib—”
Terdiam. Sesaat sebelum sosoknya semakin menjauh, titik temu antara Hydrea dan Kers membungkam mulut putranya. Gerakan bibir wanita itu jelas melukiskan kalimat perih untuknya.
“Tetaplah hidup, anakku.”
Tanpa terasa kaki Kers tetap bergerak mengikuti sepupunya dengan terpaksa. Dia menangis, begitu pula Revtel.
Usaha melarikan diri mereka dihiasi pekikan seorang wanita. Bagai ditampar pendengaran keduanya, karena anak-anak itu tahu siapa pemiliknya.
Sang merlindia (penyihir) api, Hydrea.
Tapi sepertinya kebebasan masih jauh dari jangkauan mereka. Dua assandia (petarung) dan satu elftraz (penyembuh) berhasil menyusulnya.
“Mau ke mana lagi kalian anak-anak keparat!” cela pemakai pedang itu. Sementara dua rekannya malah tertawa mendengarnya.
Walau sendu wajahnya, tapi Revtel berusaha menekan isakannya. Apa pun yang terjadi, dia harus bertarung dan melindungi adik sepupunya.
Nyatanya Kers masih tak bisa menenangkan dirinya akibat tindakan mengerikan ibunya.
“Apa ini? Kau mau bertarung denganku? Lebih baik kau diam saja dan biarkan kami menangkapmu. Seperti apa yang terjadi pada wanita brengsek itu.”
__ADS_1
“Kau!” geram Kers akhirnya.
Dan pertarungan pun pecah di antara mereka.
Di mana Revtel memakai esnya sementara sang adik sepupu tak bisa melakukan apa-apa. Hanya kebencian yang dimilikinya, mengingat sosoknya tidak memiliki cincin apa pun untuk melukiskan kemampuannya.
“Agh!” erang Revtel tiba-tiba. Akibat sebuah panah menembus menggores perut kanannya.
“Revtel!”
“Cukup main-mainnya, kita bunuh saja!” sang pemanah pun mengeluarkan serangan tanpa ampun pada anak haram Raja di depannya.
“T-tidak, hentikan!”
Terkesiap. Energi hitam seketika bangkit dari tanah dan melewati tubuh mereka. Tiga penyerang itu, langsung tumbang tanpa aba-aba.
Revtel yang menyaksikan itu tubuhnya tak bisa berhenti gemetaran. Saat melihat seorang anak, berdiri di depannya dalam keadaan tertusuk panah di area jantung dan juga paru-parunya.
Kers yang tampak menindihnya, meneteskan air mata ke pipi kakaknya.
“Ibu.”
Terjatuh di pelukan putra haram Raja. Perlahan, Revtel pun menggerakkan tangannya. Mencoba mengelus kepala adik sepupunya.
“Kers?”
“Kers? A-ayo bangun, Kers. Mereka sudah tidak ada.”
Sayangnya tiada respons yang bisa dibalaskan putra Hydrea. Wajah Revtel menegang, saat menyaksikan kembali dua panah yang menembus tubuh anak laki-laki di depannya.
“Kers? Aku mohon buka matamu, Kers. A-aku mohon,” isaknya sambil mengusap wajah adiknya.
Akan tetapi, tak peduli lirihan sendu apa pun yang terlontar dari mulutnya. Nyatanya, anak dalam rangkulan itu takkan lagi membuka mata. Aliran napasnya sudah tak terasa di tubuhnya.
Entah kenapa, kulitnya mulai mendingin tiba-tiba. Seolah mencengkeram hati Revtel agar kian hancur tak bersisa.
Teriakan pun ia hempaskan akibat kehilangan yang mendera.
“Bangun, Kers! Bangun!” namun sekeras apa pun dirinya menggoncang tubuh anak itu, hasilnya tetap saja nihil.
Hanya tangisan dan pelukan yang bisa ia berikan pada mayat Hydragel Kers. Walau suara isakannya sudah terdengar parau sebenarnya.
Tapi, tiga belas menit setelah kematian adiknya, sensasi aneh mulai menyeruak di sana.
Kegelapan.
Aura gelap itu bermunculan dari tanah sekitar mereka, bergerak seperti bayangan dari pelan hingga menggila. Lalu membentuk siluet seseorang dan berjalan ke arah Revtel yang merangkul erat adik sepupunya.
__ADS_1
“S-siapa kau?!”
Tiba-tiba, energi itu melesat cepat dan masuk ke tubuh Kers. Revtel terbelalak, terlebih panah yang menembus tubuh adiknya lenyap begitu saja. Bersamaan dengan menyatunya jejak luka di tempat serangan tadinya.
Mata sang bocah hydra terbuka begitu saja, bersamaan dengan pekikan kaget dari Revtel saat melihatnya.
“K-Kers?”
Sang adik yang sudah tidak berada dalam rangkulan mulai bangkit di depan mata. Menampilkan tato hitam aneh yang memenuhi seluruh tubuhnya. Bahkan sorot matanya serupa kegelapan sepenuhnya.
“K-Kers?”
Tak ada jawaban sampai beberapa saat kemudian ia akhirnya bersuara. “Siapa?”
Revtel terkejut akan lirihannya. Mengernyitkan wajah bingung dan syok atas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, dia beranikan diri untuk mendekatinya.
“K-Kers?”
Namun, tiba-tiba air mata berjatuhan di pipi adiknya. Mulai terisak seperti sebelumnya. “I-ibu.”
Di tempat berbeda, Thertera Aszeria yang berjalan terseok-seok mencoba menggapai kediamannya. Di mana sang ibu dan ayah berada.
“I-itu!” pekik seseorang tiba-tiba. Sontak saja ia berlari menghampirinya. “Thertera! Apa yang terjadi padamu?!” kaget Heksar kecil melihatnya. Akan tetapi, sosok itu cuma tersenyum dan berjalan melewatinya. “Thertera!” cegatnya sambil menarik tangannya.
Akhirnya, cucu angkat salah satu Tetua chimera jatuh pingsan di hadapan temannya.
Sudah dua hari, Kers menangisi keadaannya. Walau dirinya dan Revtel berhasil kabur, nyatanya kondisi mereka tidak baik-baik saja.
Putra Hydrea meneteskan air mata sambil meringkuk di bawah pohon jati. Tak berbicara dan tidak memakan apa-apa.
Seolah fenomena kebangkitannya tak berarti baginya. Padahal, sang kakak sepupu jelas masih penasaran dengan kondisinya. Walau ia juga sangat sedih dan terluka, tapi jejak mayat yang mati tiba-tiba masih menghantuinya.
Di mana para penyerang terakhir kehilangan nyawa dengan kulit abu-abu dan tubuh membatu.
Walau hatinya meyakini itu mungkin saja ulah Kers, namun kebimbangan juga terjadi di sana. Saat melihat tiadanya cincin di jari adiknya.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kegelapan apa itu? Merasuk ke badan dan menyembuhkan luka bocah cengeng di depannya.
Sampai akhirnya, lirihan suara dari dua guider yang kebetulan berkeliaran tak jauh dari tempat mereka tertangkap oleh keduanya.
“Benar-benar tidak berperasaan. Bagaimana bisa mereka memperlakukan wanita seperti itu? Bagaimanapun Hydrea, hanya mencoba melindungi anak dan keponakannya.”
Seketika isakan Kers berhenti saat mendengar nama ibunya. Sosoknya dan Revtel yang bersembunyi, terus mengintai mereka.
“Mau bagaimana lagi, bagaimanapun keluarganya pengkhianat.”
“Lalu bagaimana dengan anak dan keponakannya?”
__ADS_1
“Entahlah. Tapi nasib mereka pasti tidak akan baik-baik saja. Apalagi Hydrea takkan berhenti disiksa sampai keduanya ditemukan Kerajaan.”