Death Game

Death Game
Sang penyair


__ADS_3

“Selamat datang, Yang Mulia,” sambut Lascarzio Hybrida. Entah dirinya sedang menghina atau menyanjung Aza, tak ada yang bisa mengartikan tatapannya.


Putra Maximus hanya melewatinya. Sampai akhirnya di tangga sosoknya berpapasan dengan Revtel.


“Selamat, karena sudah menjadi petinggi empusa.”


Nyatanya Aza Ergo tidak membalas jabat tangan yang terulur di depannya. Membuat orang-orang menyipitkan mata akan kesombongannya.


“Bagaimana menurutmu tentang dia? Trempusa,” tanya Orion tiba-tiba.


“Benar juga, dia satu bangsa denganku ya,” lirih putra Revos yang menatap pintu kamar Azkandia mulai tertutup.


“Merlindia (penyihir) dengan benang merah. Bahkan dia lebih muda dari kita, tapi nyatanya sosoknya sangat mengerikan.”


Trempusa pun menyetujui perkataan Orion.


Akan tetapi, suasana berbeda ditampilkan oleh Kers. Dirinya sedang rebahan di kamarnya, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.


Sesekali menyentuh dadanya, mengingat kembali kejadian yang sudah pernah membunuhnya.


“Sebenarnya, aku siapa?” Tapi tiba-tiba, sorot matanya menoleh ke samping. Mendapati sosok Blerda Sirena yang berada di sana, tanpa bisa ia sadari kehadirannya. “Kamu, apa yang kamu lakukan di sini?”


“Peliharaanku bergetar saat melihat sosokmu.”


Kers pun menyipitkan mata mendengar ocehannya. “Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan?”


“Aroma tubuhmu juga berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Begitu gelap dan pekat untuk dilihat mereka yang diberkati dengan kemampuan tak biasa.”


Tepi Kers, justru berdiri tiba-tiba dan membukakan pintu kamarnya. “Keluar.”


Anehnya, Blerda justru tertawa pelan mendengarnya. “Di Hadesia, kita belajar sejarah bangsa-bangsa. Tapi tidak semuanya diberitahukan pada kita. Ada satu buku dengan tanda tak biasa di tempat yang tidak seharusnya.”


Selesai mengatakan itu, Blerda pun pergi dari sana. Menimbulkan raut muka masam dari Kers saat melihatnya.


Entah apa maksudnya mengatakan itu semua, tapi yang pasti sosoknya jelas penasaran. Dan tanpa keraguan, malamnya ia pergi ke tempat yang disebutkan.


Perpustakaan, pintunya terkunci. Tak ada cara masuk ke dalam dan entah kenapa murid-murid tidak diizinkan mendatanginya.


Tentu saja menimbulkan penasaran Kers akibat sosok Blerda yang bisa mengetahui isi di dalamnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Terkesiap. Tapi ekspresinya kembali dinormalkan. Tampak olehnya, sosok Azkandia berdiri di sana. Di tangan anak itu ada batu segenggaman entah untuk apa.


“Aku mau masuk ke dalam.”


“Begitu?” langkahnya pun mencoba mengabaikannya.


“Bisa tolong bukakan untukku?”


Aza tersenyum, perlahan mendekat dan menyentuh gagang pintu. Mengejutkan Hydragel Kers akibat dilelehkan tiba-tiba.


“Kau,” liriknya tak percaya. Akan tetapi, entah kenapa Aza mengangkat tangannya dan mengarahkan jari ke bibir sendiri sebagai tanda tutup mulut mereka.


Kers pun tidak mengatakan apa-apa, selain masuk ke dalamnya. Tentu saja sang pengendali magma ikut memeriksanya.


Dia penasaran dengan ruangan yang tak boleh dijamahi para murid di Hadesia.


“Aroma darah,” gumam Kers tiba-tiba. Tangannya pun perlahan menyentuh salah satu buku di sana.


“Sejarah kuno bangsa setengah Dewa,” gumamnya sambil melempar itu ke arah Aza.


Tentu saja, putra Maximus membakarnya tanpa keraguan. Membuat Kers menyipitkan mata akan aksi gilanya.


Tapi ia memilih mengabaikan. Mengingat tujuannya datang ke sini untuk mencari sesuatu yang dikatakan Blerda.


Sampai akhirnya kakinya melewati sebuah lemari tua dengan pernak pernik aneh di dalamnya.


Tangan yang mengering dengan kulit masih melekat sempurna. Lima bola mata berwarna hitam sepenuhnya, tersimpan rapi dalam botol kaca. Taring panjang entah milik siapa. Tanduk rusa juga unicorn di balik pajangan kaca. Dan terlebih anehnya lagi, ada tubuh tanpa kepala yang dibalut pakaian merah menyala terpampang nyata di sana.


Tak jelas milik perempuan atau laki-laki. Kers dan Aza sama-sama mengernyitkan wajah bingung melihatnya. Apalagi tangan sang mayat yang terlipat ke dada memperlihatkan ukiran pisau namun membentuk huruf kuno di permukaannya.


Dan matanya pun menangkap sebuah buku rusak di dalamnya. Tak ada sampul sebagai penghias awal, kecuali sebuah gambar aneh membentuk satu mata dikelilingi bunga lily.


Tanpa keraguan Kers pun mengambilnya. Tapi saat menyentuhnya, jantungnya tersentak dan menjatuhkan benda itu tiba-tiba.


Gemetar di tangan yang luar biasa ditatap bingung oleh Aza di sebelahnya. Anak itu pun memungutnya. Anehnya ia tidak merasakan apa-apa.


Disodorkannya ke arah Kers yang masih diam memandangi telapak tangannya.


“Ini yang kamu cari?”

__ADS_1


“Ya. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu cari sudah ditemukan?” tanyanya balik.


Tapi, Aza hanya menggeleng. “Aku cuma penasaran,” perlahan disentuhnya mayat tanpa kepala di depan mata. “Ini tubuh asli.”


Kers pun juga memegangnya. Dan sensasi aneh merasuk ke jiwa. “Cindaku,” gumamnya tiba-tiba.


“Bagaimana kamu mengetahuinya?”


Bocah hydra tidak menjawabnya. Perlahan tangannya bergerak untuk membuka baju itu dan menyaksikan huruf kuno apa saja yang terukir di tubuh mayat itu.


“Dengan mengutuk para Dewa, dengan mengorbankan semuanya, kami persembahkan kematian sebagai bentuk kebencian kepada mereka. Di bawah uluran tangan Helga Nevaeh, dalam keagungan Titan Kronos yang bijaksana, semua penyimpang bernyanyi demi kebangkitan di tanah kehancuran kaisar langit. Mengukir janji dalam darah demi pembantaian Dewa dan para pemuja, berjanjilah wahai pengorbanan Hadesia.”


Tersentak. Keduanya terkesiap. Selesai membacakan itu, pandangan Kers memburam tiba-tiba. Ia sentuh kepala akibat keanehan yang dirasa. Perlahan hening menyusup ke telinga dan sebuah suara memanggil dirinya.


“Yang Termulia.”


“Kers,” panggil Aza sambil menyentuh lengannya. Tentunya hal tersebut berhasil menghilangkan keanehan yang menimpa Kers dan memulihkan kembali kesadarannya. “Ayo kita pergi,” ajaknya lalu membenarkan kembali pakaian dari mayat yang ternyata wanita di depannya.


Ditariknya tangan anak itu melewati jalanan yang tak pernah diketahui bocah hydra. Memasuki sebuah perapian dan mendapati pintu rahasia di balik dinding.


Keduanya lenyap dengan meninggalkan satu jejak di pintu perpustakaan. Yaitu gagang pintu yang sudah hancur karena magma.


“Bagaimana kamu bisa tahu ada jalan rahasia di sini?”


“Bagaimana kamu bisa tahu arti dari kalimat kuno itu?”


Kers terdiam, dan mengalihkan pandangan. Matanya pun memperhatikan buku yang dibawa Aza. Perlahan diambilnya untuk dibuka di sana.


“Maiestas deorum (Keagungan para Dewa)” gumam Aza saat melihat judul yang tertera. Kers hanya meliriknya sekilas. Tempat itu cukup gelap tapi entah kenapa mata keduanya bisa membaca dengan jelas.


‘Langit bergema, daratan bergetar, angkasa terdiam menyaksikan nirwana di depan mata. Sampai sang Uranus Dewa langit, sang Gaia Dewi Bumi, meneteskan darah pada dua belas Titan di keindahan kayangan. Namun ketakutan menyelimuti semesta, ramalan kuno bersuara, Kronos sang Raja meluapkan curiga pada garis darahnya. Rea dengan dusta meninggalkan mala petaka sebagai lambang perusak belahan hatinya. Para Dewa kayangan bernyanyi di bawah senjata Zeus di singgasana.


Para pemuja, mengukir nadi dalam lantunan sang penyimpang, menjadi lambang keagungan dan juga pemberontakan.


Perang besar-besaran, bumi menangis akan kehancuran dan para pemilik kekuatan memandikan daratan dalam kengerian.


Darah air mata, teriakan pesakitan, raga dan jiwa, amarah dan ambisi, bersuara dalam lima kemampuan agung para Termulia sang perusak.


Namun sang setia masih mengangkat tangan dan berkumandang untuk mereka. Bisikan keji membelah keindahan dengan berbagai retakan.


Ambrosia, makanan para Dewa.


Lambang kenikmatan dan juga kehancuran. Tiga belas Yang Termulia, sepuluh tali tiga pengkhianatnya.


Maafkan aku, wahai semuanya kasih tersayang di tanganku.


 


Sang tepian, Orfeus dan juga syair kita.’


 


Begitulah isi kalimat buku yang dominan gambar itu.  


Aza Ergo terkekeh entah apa maknanya. Tentu saja hal itu mengundang lirikan aneh dari Kers.


Dan buku itu pun perlahan dijatuhkan putra hydra. “Selesai dan jadi sampah,” lirih sang pengendali magma.


“Terima kasih karena sudah membantuku membukakan pintu tadi,” Kers perlahan meninggalkannya.


“Cindaku,” ucap Aza tiba-tiba. “Menurut mitos kuno, merupakan salah satu penyimpang di dunia Guide. Seperti penjahat terburuk yang memusnahkan bangsa phoenix. Apa tanggapanmu? Hydragel Kers.”


Aneh rasanya mendengar Aza memanggil namanya. “Apa yang ingin kamu katakan?”


“Kalimat kuno di tubuh mayat itu dan juga Hadesia. Menurutmu apa yang sebenarnya ada di sini?”


Kers berbalik kembali mendekatinya. Disentuhnya wajah Aza dan terhenti dekat matanya. “Aku tidak tahu dan itu bukan urusanku.”


Sementara di depan perpustakaan, Azakhel Nerea sang guru besar dari bangsa manusia terkesiap menyaksikan kenyataan di depannya.


Gagang pintu yang hancur dan tanpa keraguan dimasukinya perpustakaan. Di mana matanya tertuju pada lemari di sudut ruangan dan mendapati sesuatu menghilang.


Buku karangan sang penyair, Orfeus.


“Sial!” umpatnya dan pergi dari sana. Menuju ruangan Remus Eterno untuk membangunkannya. Bagaimanapun juga dialah pemimpin tertinggi di Hadesia.


Di satu sisi Blerda menatap tenang kedatangan Kers ke dalam kamarnya. Gadis yang duduk di pinggir jendela memiringkan kepala.


“Apa tujuanmu memberitahukan tentang buku itu kepadaku?”


Gadis itu tersenyum dan menggerakkan tangannya. Seolah mencengkeram udara sambil menyeringai di akhir tindakannya.

__ADS_1


“Empat makhluk milik Dewa sekarang ketakutan.”


“Hah?”


“Di antara semuanya, mereka berbisik tidak tenang.”


“Kamu seperti penyair di buku jelek itu.”


Blerda tertawa pelan. “Karena siren keturunan sang penulis.”


Kers pun tersentak. “Oh? Jadi karena itu kamu memberitahuku? Seharusnya kamu mengatakan itu pada Revtel, karena dia kutu buku.”


Blerda mengabaikan perkataannya dan memilih mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


“Siren, sosok-sosok pemain harpa. Suara merdunya membuat para Dewa mengaguminya. Fisik yang indah untuk berada di lautan, namun bermimpi bisa terbang menembus awan. Mengukir janji dengan sang Titan dan mendapat bantuan dari Raja kegelapan. Merebut kecantikan yang tak sepantasnya disandang. Mereka berdarah karena menodai bantuan tiga Termulia. Bagaimana menurutmu? Kisah itu.” 


“Dongeng yang menarik. Dan aku bosan mendengarnya.”


Tapi anehnya Blerda justru tertawa pelan.


“Tiga termulia, mengambil harga atas kasih sayang mereka. Perpecahan yang terjadi mendorong penyegelan di diri. Tahta di singgasana dibuang, kehidupan di kayangan diasingkan. Mereka terlahir kembali dalam darah pembangkang yang mencoreng kehormatan. Menurutmu, siapa itu?”


Bocah hydra terdiam. Sorot matanya mulai menekan. Entah kenapa tangannya terkepal dengan sangat erat.


“Hidea lah saksi sesungguhnya.”


“Menarik,” gumam Kers tiba-tiba. “Kamu berbicara seolah tahu semuanya, tapi memutuskan kenyataan secara tiba-tiba. Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan lewat dongengmu itu, jadi berhentilah menggangguku dengan syair-syair konyolmu.”


Dan dia pun memilih pergi dari kamar Blerda Sirena.


“Jika tebakanku benar, maka aku akan memaklumi ketakutan empat peliharaanku kepadamu. Wahai Hydragel Kers dari bangsa hydra.”


 Kalimat yang di dengan anak laki-laki itu sekilas sebelum pergi pun mengundang tatapan masamnya. Tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan dengan Blerda.


Dia tidak bodoh dan tahu jelas apa maksudnya. Kalau gadis siren itu menuduhnya sebagai salah satu Termulia yang disegel ke bangsa hydra.


Seketika, ingatan di masa lalu mengusiknya. Akan ucapan sosok berwajah rusak yang ditemani dua anjing doberman sebelumnya.


“Apa aku memang salah satu Termulia?” lirihnya. Perasaan sedih pun menyelimuti Hydragel Kers. Di mana wajah sang ibu membayanginya tiba-tiba. Menyebutkan sosoknya merupakan anak kandung tersayangnya.


Air mata pun berjatuhan ke pipi, sebagai perwakilan hati kalau dirinya dirundung rasa sepi.


Dan pada saat itu juga, nyatanya di luar asrama kegemparan sedang terjadi. Para guru besar mencari sosok penyusup ke dalam perpustakaan. Menerka-nerka siapa pelaku kejahatan yang sudah melelehkan gagang dan mengambil buku Orfeus sang penyair.


Bagaimanapun juga, para tamu dari empusa atau semua murid tidak boleh tahu kenyataan yang ada di tanah pelatihan mereka.


Kalau Hadesia merupakan tempat terlarang dan juga penumbalan untuk para penyimpang yang memuja sang Titan.


“Bagaimana? Apa sudah ditemukan pelakunya?”


“Tidak. Tapi bisa dipastikan kalau tersangkanya tinggal bersama kita.”


“Membunuh Helgida juga Romario, bahkan mencuri buku itu, ini benar-benar tidak bisa dimaafkan,” kesal Quisea Sirena.


Sementara Remus Eterno diam saja mendengar pembicaraan Azakhel dan Quisea.


“Kita tak bisa melacak jejaknya. Bagaimana jika kita lepaskan saja monster itu? Kita tidak perlu kesusahan membantai semuanya.”


Ajakan Azakhel pun membuat Remus Eterno menghela napas pelan. “Bragi Elgo bukanlah lawan yang mudah.”


“Tapi monster itu jelas bukan tandingannya. Bagaimanapun dia sosok penyimpang yang ditakuti seperti Reygan Cottia.”


Dua guru besar yang mendengarkan pun mendelik kaget ke arah rekannya. “Jangan sebut namanya, karena kita terlalu kotor untuk memanggilnya,” sela Remus yang membuat Azakhel tersenyum canggung kepadanya.


“Lalu kita harus bagaimana?” tanya wanita dari siren.


Tampak olehnya, kalau Remus Eterno yang sebangsa dengannya sedang berpikir keras. “Lakukan patroli setiap jam, siapa pun yang berkeliaran bunuh saja,” perintahnya.


“Bahkan jika itu Raja empusa?”


Sosoknya pun menoleh pada Azakhel yang berbicara. “Dia akan pergi sebentar lagi, jika mencurigakan maka kalian tahu apa yang harus dilakukan.”


Dua guru besar di depannya pun menggangguk paham.


Tapi nyatanya, sosok Aza Ergo sedang menyaksikan pemandangan di luar jendela dengan kondisi tubuh yang tidak biasa.


Tanduk di kepala, mata emas serupa netra ular dan juga sisik di wajahnya menjadi penghias di diri. Ada sayap yang tak mekar di punggungnya. Dan ekor panjang dengan kristal berduri di ujungnya.  


Sosoknya yang menatap sayu pun memiliki tatapan mirip dengan seseorang di seberang sana.


Sedikit lebih tua darinya, berambut merah dengan tato cahaya di wajahnya. Dialah Laravell Axadion Ergo yang sangat dinanti-nantikan olehnya.

__ADS_1


 


__ADS_2