
“Jika seperti ini terus, gyges akan hancur karena mereka,” ucap Aegayon tiba-tiba. Trempusa melirik aneh padanya, entah kenapa ia masih tak terbiasa dengan suara indah yang dimiliki sang Raja. “Apa kamu masih bisa bergerak?”
“Ya. Tapi,” Trempusa pun mengepal erat tangannya. “Sepertinya aku tak bisa bertarung karena harus memulihkan tenaga.”
Dan Aegayon pun kembali melirik Heksar yang berjalan ke arah ayahnya. “Ini buruk. Kalau sampai Reygan tersudut dan melepaskan segel kemampuannya, takkan ada lagi yang tersisa di tanah gyges.
Trempusa pun terperangah mendengarnya. “Apa maksud—”
Tapi belum sempat melanjutkan ucapannya, suara dari serangan Heksar dan Reygan yang beradu begitu memekakan telinga.
Cakar melawan pedang, walau cebol Raja bangsa chimera mampu memberikan tekanan pada Reygan.
“Sepertinya, wujudmu memang sesuai dengan kemampuanmu,” puji Reygan yang melontarkan petir dari tangannya. Tapi bagi lawannya, itu tak ada artinya. Karena Heksar mampu menahannya dengan tangan kosong begitu saja. "Kau—”
Tiba-tiba sayap Heksar terkepak lebar dan itu mengejutkan para penontonnya. Reygan terkesiap, saat menyadari kulitnya mengeluarkan darah.
“Ini—”
“Kau melihat ke mana?”
Sang penyimpang pun langsung terpukul mundur menabrak reruntuhan karena tendangan Raja chimera.
“Reygan!” pekik kaget Kuyang melihatnya. Ia tak menyangka, jika rekannya akan kewalahan melawan orang baru itu. “Dia—”
“Aku bertanya-tanya, kemampuan apa yang kau punya sampai bisa melenyapkan bangsa phoenix. Dan melihatmu sekarang, aku yakin kau masih belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu. Jangan ragu-ragu Reygan Cottia, aku akan menghadapimu.”
Aegayon yang mendengarnya meradang. Jujur saja, ia masih memikirkan cara untuk melawan ayahnya dengan benar. Karena ia tahu kalau sekalipun para Raja bersatu, Reygan Cottia takkan semudah itu ditundukkan.
Karena bagaimanapun juga, dia guider level monster melebihi Heksar dengan dua kemampuan khusus. Merlindia langka, serupa Reve Nel Keres sebenarnya.
Seringai tipis pun tercipta dari bibir sang penyimpang sambil menepuk-nepuk pelan pakaiannya akibat kotor yang dirasa. Efek menabrak reruntuhan, benar-benar tak ada artinya baginya.
“Jujur saja, ini benar-benar luar biasa. Tapi,” ia pun terkekeh pelan. “Tentunya aku harus mengeluarkan kemampuanku, di panggung yang lebih sesuai. Bukankah begitu? Sif Valhalla.”
Semuanya pun terbungkam. Melirik ke arah pandangan Reygan Cottia. Di antara desiran angin yang menerpa, tampaklah seorang remaja di atas atap bangunan yang masih kokoh keadaannya. Duduk dengan santai memperhatikan mantan gurunya.
“Apakah kau merindukanku?” sambut Reygan Cottia yang mulai memutar tubuh ke arahnya. Tak ada jawaban darinya. Kecuali kepala yang dimiringkan dan surai bergerak akibat hembusan angin di dirinya. “Sebegitu tak inginnya kau menyapa gurumu?”
“Kenapa kau tak belajar dari kesalahanmu?”
Tawa berkobar dari mulut Reygan Cottia. Sungguh ia terhibur mendengar kalimat muridnya. Sampai sudut mata mengeluarkan kristal bening dengan tiba-tiba. “
“Karena aku lebih terhibur jika seperti itu.”
Wajah masam langsung menyeruak di rupa Sif Valhalla. Tentunya bagi Trempusa serta Heksar yang tak mengenalnya, kedua orang itu hanya tahu ia berasal dari hydra menilik aromanya.
“Bahkan aku tak pernah memimpikan hari di mana akan bertemu denganmu lagi.”
__ADS_1
Seseorang pun langsung muncul tepat di hadapan Reygan Cottia dengan gagahnya. Senyuman semakin merekah dari bibir sang penyimpang.
“Izanami.” Sosok pengendali darah, sekarang berdiri tepat di hadapan gurunya. “Aku benar-benar merindukanmu.”
“Guru.”
Tapi yang lebih mengejutkan, bukan hanya kedatangan satu persatu para pemegang kunci. Namun juga kehadiran para murid dari Hadesia.
Blerda Sirena.
Kedatangannya yang tak begitu heboh, berlawanan dengan orang-orang di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan, Raguel Exon Vortha, Lascarzio Hybrida, juga Revtel Elkaztas.
“Mereka,” kaget Trempusa melihatnya.
“Sensasi ini, peti Zeus Vortha!” pekik Raguel melirik ke arah Kuyang yang berdiri tak jauh dari Reygan Cottia.
Sontak saja para pemegang kunci terkesiap mendengarnya.
“Apa!” syok Izanami. “Guru, kau— ugh!” erangnya. Hampir saja sang pengendali terkena tebasan Reygan Cottia andai Sif Valhalla tak muncul tiba-tiba dan menyelamatkannya. “Terima kasih, Sif.”
“Kembalikan peti itu!” murka Raguel yang berjalan ke arah Kuyang.
“Kau pikir aku akan menurutimu?” seringai wanita itu.
“Kau!”
“Aku dan Raguel akan mengurusnya. Kalian tangani dia,” tunjuknya ke arah Reygan Cottia.
Revtel dan Lascarzio tak mengatakan apa-apa kecuali menoleh ke arah penyimpang yang dikelilingi para penantangnya.
Perlahan, Reygan Cottia terkekeh pelan. “Benar juga, ini mengingatkanku pada masa lalu. Dulu juga begitu, banyak yang datang untuk menantangku. Tapi jumlahnya lima kali lipat dari sekarang. Apakah, harus menunggu tamu lainnya dulu? Atau kita mulai tariannya sekarang?”
Tangan terkepal pun melukiskan penampakan para pemegang kunci.
“Aku benar-benar tak tahan dengan mulutnya,” jengkel Sif Valhalla.
“Wah-wah, yang namanya pahlawan memang datang belakangan ya.”
Seketika para pendengar menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda, dengan sebelah wajahnya memerah serupa bara.
“Kau,” Reygan Cottia menyipitkan matanya.
“Aromanya, Olea?” Aegayon tersentak dibuatnya.
“Tunggu! Aegayon, apa maksudmu—” syok Izanami mendengarnya. Kalimatnya tak dilanjutkan lagi, karena ekor magma menyeruak dari tubuh Aza.
“Aegayon? Apa mungkin dia Raja gyges yang legendaris itu?” Revtel menyela mereka.
__ADS_1
“Jika kau selamat, apa bocah phoenix itu juga?” tanya Reygan Cottia.
“Entahlah. Ingin tahu jawabannya?” Aza mengelus lembut ekor magmanya.
Reygan pun perlahan menundukkan kepalanya. “Baiklah. Sembari menunggu para keparat yang tersisa, majulah,” suruhnya sambil mengacungkan senjata.
“Tapi gyges—” sela Izanami melirik ke arah Aegayon. Walau tak bisa melihat rupanya, ia yakin jika Raja bangsa raksasa itu akan sangat terluka menyaksikan pertarungan besar-besaran di tanahnya.
“Blerda,” panggil Aza tiba-tiba.
Sontak saja gadis yang sibuk membantu Raguel menoleh ke belakang. Terlihat olehnya, senyuman aneh adik seperguruannya. Seketika tangannya terangkat ke arah Reygan Cottia. “Zankai (mencengkeram)”
Reygan pun tersentak dibuatnya. “Ini!” Secepat kilat ia tancapkan pedang ke tanah.
“Dia,” Blerda semakin menguatkan cengkeraman gravitasinya.
“Kau,” tatap tajamnya ke arah Ratu siren. “Lawan yang cukup merepotkan.”
“Blerda!” pekik Trempusa.
Karena Reygan Cottia menghilang dari medan gravitasi dan muncul tepat di belakang gadis itu. Tapi sayang, duri es menyeruak dari tanah sebagai pelindung sang Ratu dan menyerang musuh mereka.
Bahkan bukan hanya es saja, tapi ekor magma Aza juga bergerak bak ular liar mengejar Reygan yang lincah menghindarinya.
“Anak zaman sekarang memang hebat,” puji Reygan di sela-sela penghindaran.
“Benar, mereka memang hebat.” Dan pukulan dahsyat dari Heksar pun langsung menghantam Reygan yang melindungi diri dengan pedang.
Saking kuatnya serangan, ayah dari Raja bangsa gyges pun terlempar jauh dan menabrak bangunan-bangunan kokoh bangsa itu.
“Wah, chimera harus bertanggung jawab atas perusakan ini,” kekeh Aza menyaksikannya.
“Aegayon,” panggil Izanami yang berjalan mendekatinya bersama Sif Valhalla.
“Terima kasih sudah datang ke sini.”
Sang pengendali darah pun menyentuh bahunya. “Maaf, karena harus membuatmu mengalami situasi ini lagi.”
Butuh sejenak waktu bagi Aegayon untuk menjawabnya. Sosoknya yang tertunduk pun mulai menatap Izanami juga Sif Valhalla. “Tak peduli siapa pun dirinya, dia tetaplah penjahat dan harus menerima bayarannya.”
Sang Raja gyges pun berlalu meninggalkan murid-murid ayahnya itu.
__ADS_1