
Blerda menatap tenang, pada banyaknya mayat mengambang. Semua dalam posisi terlentang dan sorotan mengarah ke satu tujuan.
Raja siren.
Gadis itu duduk di singgasana yang terbuat dari enam tangan Capricorn. Sang pelayan Dewa, tegak mengudara di langit-langit sana. Tak bergerak, seolah sosoknya memang sebuah benda mati untuk kursi Ratunya.
“Ujian macam apa ini? Dulu raksasa, sekarang mayat teka-teki. Sepertinya para Dewa, memang suka membuat lelucon ya,” lirihnya dengan santainya.
Akan tetapi ucapannya barusan, berhasil membuat mayat-mayat di bawahnya bergerak secara tiba-tiba. Seperti meminta tolong dan melambaikan tangan mereka.
Namun semua benar-benar di luar dugaannya. Seluruh permukaan danau pun melemparkan jarum tanpa batas untuk menghajarnya.
Di bawah langit hujan, Blerda yang berekspresi menekan pun tersenyum dengan hangatnya.
“Abteriov, senka porta, (terbukalah, gerbang bayangan)” tiba-tiba selesai mengatakan itu, lubang hitam besar pun muncul tepat di pijakan kaki Capricorn. Memunculkan taring-taring mengerikan di dalamnya, seperti mulut hewan buas dan meneriakan getaran berbahaya untuk area sekitarnya.
Air danau pun langsung terhempas kasar dan membolong sempurna sehingga memamerkan dasar terdalamnya. Dan mayat-mayat yang bergerak jadi bertebaran ke sekitarnya.
Seperti teriakan ultrasonik tingkat tinggi, hewan dalam lingkaran besar pun mulai mengeluarkan satu tangannya.
Akhirnya, aliran air kembali normal untuk menutupi dasar danau yang terpamer tadinya.
“Menyedihkan,” begitulah sindiran sang gadis muda akan tontonan di depan matanya.
Tapi tiba-tiba, hawa mengerikan kembali terpancar dari sana. Berbeda dengan saat mayat-mayat itu muncul ke permukaan, sekarang sensasinya jauh lebih menakutkan.
Blerda masih memperlihatkan raut muka tenangnya, seolah ketakutan memang tak ada di dirinya.
Sampai akhirnya, air mulai bergelombang kasar. Menciptakan pusaran hebat yang tak bisa dilukiskan. Ibarat tsunami besar, amukan di dalam danau seolah ingin menelan siapa saja di dekatnya.
Dan Blerda yang memperhatikan itu semua, akhirnya terkejut dibuatnya.
Trisula.
Di tangan seorang pria. Baju kebesaran di badannya, memamerkan sebelah dada bidang dan betis kirinya. Seperti gelang yang dijadikan mahkota, dan penglihatan emerald yang menyejukkan pengamatnya menjadi ciri khas di dirinya.
Dia begitu menawan di mata, tapi ada satu hal yang pasti di luar nalar Sang Ratu bangsa siren. Tunduknya Capricorn kepada sosok di bawah sana, membuat pelayan itu melepaskannya, sehingga Blerda pun harus berdiri dengan kedua kakinya sekarang.
__ADS_1
“Dewa?” terkanya melihat kepatuhan rasi bintang peliharaannya.
Dan pria itu pun tersenyum menatapnya.
“Senang bertemu denganmu, pengendali pelayan Dewa, Sang Raja siren muda.” Gadis itu pun menyipitkan matanya. “Ujian akan dimulai. Jadi perlihatkan padaku, seperti apa kemampuan dari keturunan pembangkang sepertimu, sehingga Capricorn pun mampu tunduk di kakimu.”
“Ugh,” erang Blerda tiba-tiba. Sekejap mata, trisula di tangan Dewa itu terarah kepadanya. Dan secepat itu pula sebuah hujaman mengerikan mendera sisi kanan perutnya. Kecepatan serangan pria di depannya, benar-benar tak dapat dihindari oleh Raja siren seperti dirinya.
Di sebuah rawa di lokasi yang berbeda, sosok Toz Nidiel benar-benar tak disangka rupanya. Dua tangannya sudah tidak ada. Dan tiga lubang di perut serta dadanya menghiasi penampakannya.
Dia hampir meregang nyawa.
“Apa ini? Aku tak menyangka, kalau Vanargand akan memilih raga selemah milikmu. Sepertinya para scodeaz (pengendali) milik Dewa, suka melakukan lelucon ya.” Tangannya pun mencekik leher sang pemuda. “Aku yang mengujimu, jadi tolong jangan kecewakan aku, wahai manusia,” cengkeramannya pun kian mengerat sehingga Toz kesakitan.
Tapi pada detik-detik selanjutnya, sebuah sensasi tak biasa berkibar di diri Toz yang akan mati.
Mata serigala, muncul tiba-tiba diiringi energi merah mengerikan. Dan itu berkumpul tepat di sekitar kedua tangannya putus. Sampai akhirnya, sebuah gumpalan kulit menyeruak kembali di sana. Bersamaan dengan seringai yang tercetak sempurna di bibir sang pemuda. Toz pun mencengkeram lengan yang mencekik lehernya. “Ah ... ini menyenangkan,” ucapnya sambil memamerkan tampang meremehkan.
“Heh? Vanargand? Kau memang suka bermain ya,” dan tentakel di belakang punggungnya pun menghujani tubuh Toz yang dirasuki barusan.
Cambuk di tangannya sudah putus, dan sosok yang menjadi lawannya, memancarkan aura merah pekat melelehkan.
Aza Ergo.
Sensasi mengerikan di dirinya, mampu meleburkan pijakan sekitarnya. Permukaan lahar dingin di depannya seolah dihiasi cipratan magma. Dan teratai mengambang di hadapannya, sudah hancur tak bersisa.
Kedua matanya menampilkan pandangan seperti bara menyala, dan kaki serta tangannya juga melukiskan keadaan serupa. Tapi ada satu yang berbeda. Wajah bagian kirinya, dipenuhi tulisan kuno dengan makna tak bisa dijelaskan artinya.
Dia tersenyum dengan angkuhnya.
“Bukankah kau ingin mengambil jantungku? Kalau begitu lakukan dengan benar, Nona. Karena aku, ingin memotong kepalamu.”
“Bocah lancang!” hardik gadis itu tiba-tiba. Amarah berkobarnya, seperti menghasilkan gempa di sekitarnya.
Mengguncang seluruh area, dan memunculkan banyak pedang di sekitarnya.
Sang petinggi muda pun memiringkan wajahnya. “Apa ini? Assandia (petarung) langka?”
__ADS_1
“Mati kau!” dan puluhan senjata itu pun menghujani tubuh Aza. Dia tak bergerak, hanya membiarkan pedang-pedang tersebut melubangi tubuhnya.
Nyatanya, serangan fisik takkan mempan pada dirinya.
“Menyedihkan. Kalau kau memang Dewa, maka lawan aku dengan kemampuanmu yang sebenarnya.”
Gadis itu pun tersenyum karenanya. “Sepertinya, memang sudah tak ada gunanya lagi menahan semuanya. Calsea bloodeya, towera armurus merlindia (pemanggilan berdarah, menara penjara sang penyihir)”
Hentakan kasar pun langsung terpancar dari gadis itu. Dan tepat di bawah kakinya, muncul sebuah patung raksasa, bersamaan dengan lenyapnya sosoknya yang tadi terangkat ke atas sana.
Merlindia.
Patung berperawakan laki-laki dengan lambang hitam di dadanya. Sebuah ukiran sebagai tanda kebanggaan dari mereka, yang menjadi seorang guider penyihir di dunia Guide.
“Hm? Sepertinya, ujian kali ini jauh lebih sulit ya? Kalau begitu majulah,” ucap Aza sambil mengangkat sebelah tangannya.
Terdiam.
Reve Nel Keres tak bersuara, kecuali tubuhnya bergetar hebat di atas sebuah piringan yang mengambang di udara.
Di bawah sana ada begitu banyak mayat mengerikan melemparkan batu ke arahnya. Dan di belakang mereka, telah berdiri seorang gadis muda.
Rambutnya dikuncir kuda. Matanya merah menyala dan pakaiannya seperti seseorang yang akan turun ke medan perang. Pedang di tangan dan perisai di pegangan, sensasinya jauh lebih mengerikan dari semua orang yang pernah ditemuinya.
Reve tak tahu siapa sosok di depannya, kecuali satu hal yang ia yakini. Kalau dirinya, pasti mati jika berhadapan dengannya.
“Assandia (petarung) langka dan kutukan yang menodainya ya? Siapa yang bisa mengira jika berkatku dimakan bocah sepertimu? Sepertinya aku, harus membuktikan seperti apa kualitasmu.”
Reve pun terkesiap mendengarnya. Masih mencerna dengan benar apa maksud ucapan gadis di depannya.
“S-siapa kau?”
Dan perempuan itu mengangkat pedang ke arah pemuda yang di atasnya.
“Athena, itulah namaku, wahai titisan sang Dewa.”
__ADS_1