
Jujur saja, dirinya sedang dirundung amarah yang luar biasa. Saat melihat adik keparatnya berhasil membunuh aligator kecil di depan mata.
Tak bisa disembunyikan kebencian di dirinya, terlebih lagi atas apa yang menimpa keluarganya. Bagaimanapun juga, sosoknya sudah menerima misi dari sang Ratu sekaligus ibunya untuk membunuh Revtel dan Kers bagaimanapun caranya.
Tapi, serangan Raja aligator berhasil menghantam kesadarannya. Ia pun pingsan seketika bersamaan dengan teman-temannya.
“Gawat, awas Kers!” teriak Revtel mencoba menyelamatkan adik sepupunya.
Ekor panjang monster buas itu seperti cambuk bagi yang merasakannya. Bahkan Orion juga hampir pingsan di sana. Andai Trempusa tidak membantunya, bisa dipastikan dia akan tumbang akibat api di arena.
Akan tetapi, benang-benang merah seperti cacing yang menggila menyeruak dari tubuh Aza Ergo. Begitu banyak jumlahnya, berputar hebat sehingga menghentikan laju air untuk mendekatinya.
Sontak saja para penonton terpukau melihatnya. Dan pusaran yang tercipta, terhenti bersamaan dengan bergeraknya benang-benang itu ke atas sana.
Semuanya menengadah menyaksikan kemampuan sosok yang dipanggil Azkandia hampir menutupi langit-langit mereka.
“I-ini,” kaget Remus Eterno menyadari level murid barunya.
Dalam sekejap mata, bagai hujan dari untuk semuanya, benang itu pun menghujam seluruh area danau tanpa iba.
Teriakan bahkan gelombang kasar air menari di depan mata. Bagai pertarungan dahsyat dan bukan sekadar level merlindia pemula. Itu merupakan level bangsawan bagi siapa pun yang tahu nilainya.
Dan beberapa saat kemudian, semua terbungkam menyaksikan apa yang ada di penglihatan mereka.
Bukan cuma monster buas yang bermahkotakan berlian biru, tapi seluruh aligator di danau telah mengambang tampilannya.
Mati akibat pembantaian benang Aza yang mengerikan kemampuannya. Tiba-tiba diangkatnya salah satu tangan. Memamerkan batu berkilau yang sebelumnya menghiasi kepala monster terbuas di pertarungan mereka.
Tanpa terasa kekaguman pun terlontar dari mulut-mulut para guru yang menyaksikan itu semua. Kalau sosok Azkandia, memanglah murid terbaik di Hadesia.
“K-kalian baik-baik saja?” tanya Orion pada teman-temannya.
Akan tetapi, tak ada satu pun yang menjawab. Entah kenapa anak-anak itu terdiam seperti terhanyut dalam pemikiran masing-masingnya.
“Luar biasa,” Lascarzio muncul tiba-tiba. Bukan hanya dirinya, di sebelahnya juga ada Thertera Aszeria. “Sepertinya, anak-anak di asrama akhir, dihuni oleh calon-calon terbaik untuk bangsanya.”
__ADS_1
“Kamu menghina kami?” tanya Trempusa.
“Tidak, mana mungkin? Aku hanya memuji kalian. Mengingat tidak satu pun dari penghuni asrama ini saat pelatihan.”
“Siapa bilang tak ada yang terluka? Buktinya sang pangeran tak ada di sini,” Orion ikut menimpali. Dan memang seperti perkataannya. Kalau sosok kakak Revtel tak berada di sana.
Entah ada di mana dirinya, terluka atau tidak tak satu pun tahu kondisinya.
Sementara Kers, rupanya seperti menatap kosong. Tentunya hal itu disadari Lascarzio Hybrida. Dan tangannya pun terarah untuk menyentuh bocah hydra.
“Kau mau apa?”
Semuanya pun terkesiap. Terlebih nada dingin yang entah bagaimana menggetarkan hati mereka. Tentu saja itu berasal dari adik sepupu Revtel yang datar ekspresinya.
“Kamu,” Lascarzio tersenyum menatapnya. Jujur saja ini benar-benar luar biasa. Mengingat refleks Kers sangat tidak disadari mereka. Cengkeramannya yang menghentikan tangan sang bocah eksotis, terlalu cepat ditangkap mata.
Dan Revtel serta Blerda yang menyaksikannya, hanya bisa memandang lekat itu semua. Seolah keduanya tak melihat pergerakan Kers dalam mencegat sosok di depannya untuk menyentuhnya.
“Refleks yang luar biasa,” lirih Lascarzio sambil mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman bocah hydra.
Di satu sisi pemandangan tak terduga telah terjadi.
Sontak saja hal itu menimbulkan kegemparan bagi para pendengarnya. Dan Komandan Ksatria Kerajaan, justru juga menyetujuinya.
“Yang Mulia! Apa anda yakin?!” kaget Ireas Masamune.
Tapi memang tak ada yang bisa dilakukan lagi. Pak tua itu sudah membulatkan keputusannya. Tanpa keraguan, darah dari telapak tangannya ditorehkan ke dahi Aza, sebagai tanda kalau anak kecil itu sudah menerima titah dari sosok tertinggi sebagai pemilik kekuasaan di bangsa empusa.
“Wahai putra berdarah empusa, sebagai yang agung di tanah kita, aku persembahkan posisi petinggi empusa pada raga dan jiwamu. Dan sampai dirimu mati, bawalah status itu ke peristirahatan terakhirmu.”
Selesai Bragi Elgo mengatakan itu, darah di dahi Aza pun lenyap seketika. Seolah terlahap ke dalam kulitnya. Di jejak tadinya, mulai muncul tulisan kuno yang serupa perkataan sang Raja.
Di mana pengangkatan tadi sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Mulai hari ini, Aza Ergo yang hanya mereka kenal sebagai Azkandia benang merah pun menjadi petinggi termuda dalam sejarah bangsa-bangsa.
“Jadi, kapan anda akan memberitahukan semuanya?” tanya Remus Eterno. Mengingat setiap bangsa-bangsa, memiliki kebiasaan mengumumkan siapa petinggi terbaru mereka.
__ADS_1
“Saat Azkandia sudah lulus dari Hadesia.”
Dan guru besar dari siren itu pun tersenyum pada sosok di depannya. “Aku turut berbahagia, karena empusa, berhasil mengukir sejarah di dunia kita. Di mana anak sepuluh tahun yang baru seminggu di Hadesia, mampu mengukuhkan namanya untuk berdiri di depan singgasana. Walau bukan sebagai Raja, tapi kakinya pantas diarahkan ke atas tahta. Bagaimana menurutmu? Yang Mulia.”
Cukup lama bagi Bragi Elgo untuk menjawabnya. Sampai akhirnya kalimat yang tak disangka-sangka tersembur darinya.
“Ya. Dan setidaknya empusa, sudah memiliki aset luar biasa agar bisa bersaing dengan seluruh bangsa-bangsa. Kalau begitu aku permisi dulu, Tuan Remus.”
Sepeninggalan Bragi Elgo dan Komandan Ksatria Kerajaan, Quisea Sirena pun menyuarakan apa yang ditahan-tahannya.
“Bagaimana bisa anak sepuluh tahun diangkat sebagai petinggi? Apa Yang Mulia itu sudah gila?” celanya.
“Ireas, bagaimana menurutmu? Mengingat empusa itu bangsamu.”
Tentu saja pertanyaan Quisea serta Belze memunculkan ekspresi bingung bagi laki-laki itu. Tak peduli apa pun yang akan mereka katakan, nyatanya keputusan sang Raja sudah bulat.
Terlebih lagi, semuanya juga melihat sendiri seperti apa kemampuan Azkandia di sana.
“Tapi, menurutku dia memang pantas untuk itu,” sela Lorgia Asqeral tiba-tiba. “Dia masih anak-anak, namun kemampuannya sangat luar biasa. Bahkan dirinya juga yang termuda di antara semua murid Hadesia.”
“Kau benar,” setuju August Belmera.
Dan di sebuah kamar, di mana hanya ada Bragi Elgo serta Aza, pak tua itu pun menyuarakan sesuatu yang sudah lama ditahannya.
“Kemampuanmu, apa yang terjadi? Jika aku tidak salah, anak-anak Maximus pengendali magma dan cahaya. Dan namamu, kenapa bisa diganti?”
Aza Ergo yang melihat ke luar jendela akhirnya menoleh pada sosok pembicara. “Bukankah anda sepakat takkan menanyakan apa pun yang aku katakan?”
“Tapi kenapa? Sekarang kamu sudah menjadi petinggi bangsa empusa, Nak. Lalu bagaimana caraku akan mengumumkan pada semuanya? Azkandia, tidak. Aza Axadion Ergo.”
Sosok pengendali magma itu pun mulai menyipitkan matanya. “Kita sudah sepakat sebelumnya bukan? Jadi jangan tanyakan apa pun padaku, karena anda sendiri yang memilihku sebagai petinggi wahai Yang Mulia Bragi Elgo.”
Selesai mengatakan itu, sosoknya pun berlalu dari sana. Meninggalkan pak tua dengan rahang raut muka jenuh di wajahnya.
Bagaimanapun juga, bukan keputusan mudah baginya untuk menangani putra Maximus. Mengingat latar belakang sebenarnya yang tak diketahui oleh orang-orang di empusa.
__ADS_1