Death Game

Death Game
Pembantaian


__ADS_3

“H-hebat!” kagum Riz dan Toz bersamaan. Tentu saja mereka takjub dan terperangah, melihat daya serang kemampuan Aza Ergo secara langsung.


“Dia benar-benar menggila. Apa dia lupa kalau ini kawasan terlarang?” sela Reve berjongkok sambil menyentuh sisa magma yang ada di dekat kakinya dengan salah satu daun kering.


“K-kalian, akan menyesal karena sudah melakukan ini semua,” lirih Aquila tiba-tiba.


“Kami? Kenapa?” Reve mengenryitkan dahi bingung menatapnya.


“Empusa takkan mengampuni kalian atas apa yang terjadi padaku dan Ahool.”


“Hubungannya dengan kami? Yang salah kan petinggi gila itu?”


Aquila Ganymede pun tersenyum. “Karena kalian rekan Aza, maka kalian juga harus membayarnya.”


“Apa yang dibicarakan wanita ini?” Doxia mulai jengkel mendengar ocehannya.


Akan tetapi, teriakan keras berkumandang tak jauh dari sana. Seperti pekikan mimpi buruk bagi mereka yang tersiksa. Namun memang begitulah kenyataannya. Mangsa buruan Aza, menangis karena terkena jurus kemampuan tanpa ampunnya.


Rumput-rumput di tanah yang menguarkan aroma magnolia, sekarang bercampur dengan wewangian seperti tanaman dan daging terbakar. Tentu saja semua diakibatkan oleh jurus Aza.


Beberapa bawahan Aquila, Ahool dan Gilles sudah mati. Masih ada beberapa yang tersisa, tunggang langgang ke sana kemari. Andai bisa dilenyapkan Aza dengan cepat maka ia tak perlu bersusah seperti ini.


Sampai akhirnya elftraz (penyembuh) yang tadi mengobati tangan Ahool pun tertangkap olehnya. “Kenapa kalian kemari?”


“A-ampuni saya, Tuan. Ampun saya! Saya tidak tahu apa-apa, ini salah Nyonya Aquila dan Tuan Ahool! Saya mohon, Tuan! Jangan bunuh saya!” pintanya sambil bersujud dan badan gemetaran.


Tapi sosoknya, hanya ditatap panjang Aza dengan tujuh kepala ular lainnya bergerak seakan mengintai buruan selanjutnya.


“Salah Aquila dan Ahool?”


“Benar Tuan! Memang salah mereka berdua! Mereka pengkhianat empusa dan itu tidak ada hubungannya dengan saya!”


“Kau bawahannya, bukan?”


“B-benar, tapi itu bukan salah saya, Tuan! Saya juga menolak untuk ke sini namun tetap dipaksa! Saya hanya korban, Tuan! Saya tidak bersalah!” lagi-lagi ia memohon dalam keadaan tak mampu mengangkat kepala dengan benar.


Aza Ergo pun terdiam sejenak dengan tatapan intens pada pria paruh baya tersebut. “Baiklah. Sepertinya kau tidak bersalah, jadi aku akan melepaskanmu.”


“B-benarkah?” senyum syukur terpancar dari sosok di hadapan Aza. Sekarang, ia benarni menatap sang petinggi muda.


“Tentu saja. Tapi setelah kau mati.”


Dan begitulah akhirnya. Tanpa sempat mencerna kalimat pemuda itu, elftraz (penyembuh) yang memohon pengampunan hidup justru dimakan oleh salah satu ular raksasa. Meninggalkan setengah badannya untuk tergeletak tak bernyawa di atas tanah. Mengalirkan darah pekat sambil dihiasi lelehan magma di area pinggang dan perutnya.


Aza, benar-benar tak mengampuni dirinya.


“Atasanmu saja mati, bagaimana bisa kau kuampuni?” seringai tipisnya. “Baiklah, Gilles. Sejauh mana kau bisa berlari? Nikmati detik-detik perjuanganmu, sayang. Karena sebentar lagi kau pasti akan kutemui.”

__ADS_1


Dan ular raksasa itu pun kembali bergerak maju untuk memburu mangsanya. Tak peduli jika permukaan kawasan terlarang yang suci dan tidak boleh dimasuki berantakan karena ulahnya.


Bagaimanapun juga, nanti ini semua akan ia limpahkan pada orang lain. Tentu saja kambing hitamnya adalah mereka yang tidak disangka-sangka. Jika orang lain bisa ditumbalkan untuk kerusakan ini, kenapa tidak? Setidaknya seperti itulah pemikiran yang terlintas di dalam otaknya.


Tapi di tempat lain, terlihat beberapa orang memasang ekspresi tak terduga dan menatap panik sekelilingnya.


“Tetua, sensasi ini!” pekik seseorang berkulit hitam dan berusia sekitar 28 tahun. Rambutnya putih namun panjang sebahu. Pria dengan pakaian seperti samurai dan ada tanduk kecil di kepalanya.


“Tak salah lagi, Aza Ergo! Kenapa dia di sini?” geram pak tua yang dipanggil Tetua itu.


“Apa mungkin untuk menangkap kita?”


“Kalau memang itu tujuannya, dia bisa apa? Dia pasti sendirian,” seorang wanita berpotongan rambut pixie cut tampak geram membayangkan sosoknya.


“Tapi, siapa yang memberikan kuncinya? Tidak mungkin Trempusa kan? Dia ataupun pimpinan lain tidak ada yang tahu tentang ini!” sela laki-laki berkulit hitam itu. Namanya Cobra, seorang assandia (petarung) level komandan tingkat menengah dari empusa.


“Entahlah! Ini bukan saatnya memikirkan siapa yang memberi tahunya. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengenyahkannya. Cobra, Sidag, temui dia! Dan sisanya tetap di sini bantu aku membuka gerbang ke kuil!” perintah pak tua itu.


“Baik!” setuju semuanya.


Akhirnya, Cobra serta wanita berambut pixie cut itu pun melompat ke pohon untuk menyambut kedatangan Aza. Mereka melesat dengan cepat karena sudah mengetahui di mana posisi petinggi gila tersebut. Terlebih, tekanan kemampuannya benar-benar tak main-main sampai bisa dirasakan di tempat mereka.


“Aku bisa merasakan tekanan kemampuan Aza dari sini. Sehebat apa dia sebenarnya?” keluh Doxia.


“Dia orang gila yang mendapat posisi petinggi pertama di usia muda. Sekaligus jenius paling menyebalkan di dunia Guide kalau sudah berbicara,” jelas Horusca tiba-tiba.


“Dia hanya pengkhianat yang tak berguna,” Aquila pun terkekeh bahkan bila rasa sakit akibat luka di kedua tangan mengiringinya saat berbicara.


“Pengkhianat?” wajah Riz berkerut bingung.


“Orang yang dengan santainya menyebarkan aib bangsanya, apalagi kalau bukan pengkhianat?”


“Kalau begitu, kenapa kalian masih memakainya? Kalian yang bodoh karena tetap membiarkannya menjadi petinggi empusa,” sindir Reve padanya.


Tentu saja kalimat dari bocah pemelihara ular itu ditatap tajam oleh Aquila. Merasa tertohok dan tak suka dengan nada bicara ataupun kalimat yang dilontarkannya.


“Sialan!” pekik Gilles tiba-tiba karena tak menyangka jika Aza langsung muncul di hadapannya. Ular raksasa itu melompat tepat di depan matanya, sampai meretakkan tanah akibat kemunculannya yang tak disangka-sangka.


Aza tertawa pelan melihat kepanikan di wajah wanita itu. “Jujur ekspresi itu, sangat tidak cocok untuk bangsawan sombong sepertimu. Apa mungkin, Bleria juga terlibat di sini?”


“Dia tak ada hubungannya dengan ini!”


Sang petinggi pun memiringkan wajahnya. “Mendengarmu berkata seperti itu, entah kenapa aku merasa kalau siren pendengki itu ada hubungannya dengan ini. Di mana dia?”


“Jaga bicaramu Aza! Mulut kotormu tak pantas menyebut nama Bleria!”


“Kenapa? Karena dia bangsawan murni? Atau mungkin karena kau cemburu? Jujur aku merinding dengan hubungan kalian. Apa ini percintaan sejenis? Pantas saja dia selalu di bawah Blerda. Hanya bisa menggonggong di punggung kakaknya,” ia pun terkekeh.

__ADS_1


“Keparat! Tutup mulutmu Aza!” marah Gilles akhirnya. Tanpa peduli siapa yang ada di depannya, dirinya pun langsung maju menyerang pemuda itu.


Pertarungan begitu sengit, karena keenam tangan Gilles menghantam tiga kepala ular yang menyerangnya. Bahkan jika sensasi melebihi terbakar melukai kulitnya, namun itu bisa disembuhkan kembali.


Benar-benar suatu keuntungan bagi scodeaz (pengendali) bertipe kuda sepertinya.  


“Hebat,” dan salah satu dari tiga ular yang menyerang pun membuka mulutnya. Spontan saja Gilles mendelik saat semburan lahar keluar dari dalam sana. Dia berhasil menghindarinya namun sisik kulit sebelah kanannya agak terkena.


Walau sisik itu kuat, namun yang dilawannya adalah magma. Lebih kuat dari api, bukan sekadar membakar sampai habis tapi bisa meleburkan dan memudarkan kulit mangsanya.


Benar-benar petinggi menyebalkan yang berkemampuan sangat hebat. Aza Ergo jelas- hanya bermain-main saja. Sisa kepala ular tak diturunkan untuk menyerang entah apa maksudnya.


Sampai akhirnya kepala ular yang berada di samping Aza membuka mulutnya lebar-lebar dan memuntahkan teriakan bergema.


Hewan-hewan sekitar pun melolong dibuatnya. Ketakutan dan lari tunggang langgang untuk keluar dari area. Benar-benar keras teriakannya, bahkan mencapai posisi di mana rekannya serta orang-orang yang berada di pintu masuk kuil Dewa.


“A-apa itu?”


“Aza?” gumam Reve saat menyadari kalau Near sang ular kesayangan mendesis tak tenang.


“Kita harus menyusulnya!” saran Rexcel tiba-tiba.


“Lalu bagaimana dengan dia?” Reve pun menunjuk Aquila yang agak melemah.


“Biar kubawa!” sela Doxia tiba-tiba dengan maksud menggendongnya.


“Kau pikir kau siapa? Jangan coba-coba menyentuhku!” hardik sang petinggi kesal. Akan tetapi, tiba-tiba Reve meninju perutnya sehingga wanita itu jatuh pingsan.


“Kau kasar sekali!”


“Ayo cepat!” Reve mengabaikan sambil lari duluan. Dia benar-benar penasaran dengan teriakan barusan. Begitu keras dan menakutkan jika dilihat respons dari ular kesayangannya.


Terbungkam.


Dua pendatang yang baru tiba di sana seakan dipaksa membisu, saat mendapati salah satu rekan mereka ternyata dalam keadaan sangat mengerikan.


Sang wanita yang merupakan seorang bangsawan siren, keenam tangannya telah berceceran di permukaan. Darah berjatuhan dan ketidak berdayaan menjadi tontonan. Diiringi deru napas memburu akibat pesakitan yang tak terucapkan.


“Gilles!”


Sontak Aza Ergo pun menoleh pada dia yang berteriak.


“Apa-apaan ini? Kalian berdua juga di sini?” tekannya menatap tak percaya.


“Bajingan!” pekik Sidag lalu berlari ke arah sang petinggi empusa.   


 

__ADS_1


 


__ADS_2