Death Game

Death Game
Menerima kekuatan


__ADS_3

 


Tersentak.


Bocah hydra tersadar. Matanya terbuka lebar saat menyaksikan pemandangan di depan mata. Di mana para murid tergeletak pingsan di sekelilingnya.


Mungkin tidak satu pun bisa mengira kalau dialah murid pertama yang terjaga. Perlahan disentuh kepalanya, mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya.


Setelah berusaha keras, bayangan aneh menerpa Hydragel Kers. Sebuah suara yang tadi memanggilnya, samar-samar tak asing baginya.


Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Kalau orang yang tadi memanggilnya adalah ibunya. Ya ibu kandungnya. Bibi dari Revtel, sosok cantik dengan pesona menawan di tanah bangsa hydra.


Tak tahu kenapa suara wanita itu malah membayangi ingatannya. Dan di sela-sela sendu yang menerpa, sensasi aneh berkumandang di hatinya. Perlahan mulai menjalar ke otaknya. Secercah memori aneh bersenandung di sana.


Membentuk rupa-rupa retak yang tak jelas baginya. Semakin lama semakin pasti penampakannya.


Tiga belas kursi, lantai diselimuti awan, suara tawa berkumandang juga rupa beberapa orang silih berganti di penglihatan. Dan suasana di dominasi siang menghiasi pemandangan.


Kers terkesiap. Saat merasakan sentuhan seseorang melekat di wajahnya. Wajah menawan dari pria yang mungkin sebaya ayahnya tadi terlihat di depan mata. Menangis seperti menggumamkan kata aneh namun ia tak tahu itu apa.


Semakin dipikirkan hanya membuatnya sakit kepala.


“Yang Termulia.”


Dirinya menengadah. Tidak asing dengan panggilan barusan. Suasana di dunia Guide yang cenderung malam dan daratan diterangi obor besar menemani kesadarannya.


Tak ada siapa-siapa, cuma para murid pingsan di sekelilingnya.


Jadi, siapakah yang bersuara? Itu jelas irama milik seorang laki-laki. Bukan lagi ibunya dan rupa pria menangis itu kembali terbayang di ingatannya.


“Cih!” Decihan tiba-tiba melukiskan frustrasi di dirinya. “Sialan! Sepertinya otakku sudah mulai bermasalah,” keluhnya.


Di satu sisi, Beltelgeuse Orion terdiam saat melihat panah cahaya menembus dadanya. Mulai tenggelam di sana, bersamaan dengan lirihan kata tak terduga dari laki-laki berwajah hancur di depannya.

__ADS_1


“Firasat Dewa Apollo. Terbang tinggi dan akhirnya jatuh ke tangan seorang pembawa darah gyges. Tak peduli dosa apa yang sudah ditaburkan leluhurmu. Kamu pantas menerima itu sebagai hadiah dari kebijaksanaan dirimu. Selamat datang wahai guider merlindia (penyihir) pengendali air. Lambang menenangkan dan menenggelamkan semuanya. Semoga sosokmu tidak tercela seperti para pendahulumu yang menodai kami dengan pengkhianatannya.”


Dan laki-laki yang ditemani dua anjing doberman itu mulai lenyap sepenuhnya. Jejak terakhirnya di depan mata berhasil menyadarkan Beltelgeuse Orion dari pingsannya.


Sampai ia tersadar kalau seorang anak laki-laki menatap remeh ke arahnya.


“Halo, Orion. Sudah sadar?” kekeh Kers sambil memakan anggur.


Entah dari mana bocah itu mendapatkan buah di tangan karena sosok gyges tersebut tidak punya waktu untuk memikirkan.


Sementara Trempusa, tubuhnya terlentang di atas tanah. Di masing-masing sisi dihiasi kuburan.


Akan tetapi ini cukup menakutkan. Karena gundukan tersebut hancur akibat kebangkitan tengkorak dari dari dalam tanah.


Perlahan, kristal bening berjatuhan dari mata bocah empusa. Sedih membasahi hatinya untuk dilontarkan lewat ekspresinya.


Dan patung assandia (petarung) yang hampir menusuknya, sekarang gerakannya terhenti tepat satu meter sebelum menembus tubuhnya.


Laki-laki berwajah hancur yang berdiri tidak jauh darinya, mulai berjalan mendekatinya.


Trempusa perlahan mengusap pelan air mata yang membasahi pinggiran wajahnya.


“Sabit Dewa kematian memilih dirimu. Meraih tanganmu untuk berbagi teriakan mereka yang telah dibantainya. Tak peduli sekeras apa pun kamu menolaknya, karena kemampuan assandia (petarung) sudah menyatu dengan tubuhmu sebagaimana mestinya.”


“Aku tidak ingin menjadi assandia (petarung)” ucap Trempusa sambil terisak.


Tapi, justru guratan senyum tipis yang dipancarkan laki-laki berwajah hancur itu kepadanya.


“Ini memang menyedihkan,” dan tangannya pun terulur untuk menghapus air mata anak itu. “Tapi, yang namanya kematian sudah menjadi takdir mereka. Tak peduli seperti apa teriakannya, karena yang membunuhnya adalah senjata itu dan bukan kamu sebagai penggunanya. Ingat itu, wahai putra garis setengah Dewa.”


Selesai mengatakannya, patung assandia (petarung) yang mengarahkan senjatanya pada Trempusa pun langsung menghujam tubuhnya.


Menimbulkan sensasi kejut luar biasa sehingga anak itu tersadar dari pingsannya. Dan sekarang ia terdiam menyaksikan Kers juga Orion yang menatap ke arahnya.

__ADS_1


“Sudah sadar?” kekeh Kers tiba-tiba.


Akan tetapi, di tempat yang berbeda Blerda Sirena tak berkutik menyaksikan kengerian di depan mata.


Megalodon, sang peliharaan para Dewa.


Capricorn, salah satu rasi bintang sekaligus pelayan makhluk di atas sana.


Dan juga kupu-kupu berdarah, hewan yang menjadi pemanis dunia kayangan namun pembunuh di dunia Guide.


Serta, hewan aneh yang ia tak tahu itu apa namun berwujud gelap sambil bersembunyi di dalam retakan besar di udara.


Empat makhluk itu berdiri mengelilinginya. Sementara laki-laki berwajah hancur dengan dua anjingnya mulai berjalan mendekat ke arahnya.


“Siren, sosok menawan pemain harpa. Dulu mereka memuja para Dewa dengan nyanyian merdu miliknya. Melantunkan harapan dan doa sebagai sanjungan untuk makhluk di atas sana. Tetapi, lambat laun kedengkian memakan hati mereka. Keindahan para Dewi menyilaukan mata dan membutakan kebaikan yang ada. Mengulurkan tangan pada Raja Ghoul untuk merebut kecantikan yang tak sepantasnya. Perjanjian kotor pun tercipta namun para Termulia mencoba memakluminya. Tapi kalian memang tidak pernah sadar dengan kasih sayang semuanya.”


Blerda yang mendengar lirihannya pun langsung menyipitkan mata. Raut wajahnya masam, walau masih kecil dia tak sebodoh itu untuk tidak tahu makna dari kalimat sosok di depannya. 


Perlahan darah yang mengalir dari sudut bibirnya pun dihapuskan gadis itu dengan kasarnya.


“Apa itu dosa dari leluhurku?”


Laki-laki berwajah hancur pun tersenyum puas mendengar lirihannya.


“Jiwamu bergairah namun mati karena amarah. Dendammu berkobar namun terkunci dalam kebencian. Ingin terbebas tapi ketakutan merangkul perasaan. Tenang di permukaan membunuh dalam kepanikan. Semua berlawanan dan para makhluk legenda sangat menyukai ketidak sesuaian. Mungkin itulah kelebihanmu sebagai keturunan pembangkang yang sangat mengerikan.”


“Terima kasih atas pujian anda, Tuan. Akan kuingat perkataan anda itu sampai aku mati.”


Sungguh sosok di depan mata Blerda terkekeh pelan. Tak jelas apakah ia merasa terhibur dengan ucapannya, tapi satu hal yang pasti kalau di belakang laki-laki itu telah berdiri kokoh sebuah patung berlambangkan merlindia (penyihir) di dadanya.


Dan lagi-lagi darah tak berhenti mengalir dari sudut bibir serta hidung Blerda akibat serangan patung itu sebelumnya.


Di mana putri siren diserangnya dengan sinar emas yang terasa memberatkan tubuh sehingga gadis itu pun kehilangan keseimbangannya dan bertumpu pada tongkat kayu yang ia dapatkan entah dari mana.

__ADS_1


Fisiknya sangat kesakitan namun ia tahan dengan penampilan angkuh di dirinya. Ketidak sesuaian memang pantas disandangnya sehingga membuat para makhluk legenda jatuh hati kepadanya.


 


__ADS_2