Death Game

Death Game
Kesepakatan dan sayembara


__ADS_3

“Anak mengerikan, kau ingin membunuh orang yang mau kau temui?” seringai pak tua itu melebar.


Toz memandang kaget mendengar ucapannya, berlainan dengan Reve yang sudah terlanjur dingin air mukanya. “Orang yang ingin aku temui? Apa kau si pembuat kaca itu?”


“Entahlah.”


Reve mengedarkan pandangannya berkeliling, menatap setiap isi ruangan. Tak ada yang aneh di sana, kecuali berbagai macam barang-barang antik berkelas terpajang di lemari kaca.


“Near,” panggil Reve. Ular yang selalu setia menemaninya pun muncul dari balik bajunya.


“Reve, apa yang mau kamu lakukan?” ekspresi Toz berubah cemas.


“Dia tahu terlalu banyak tentang kita.” Reve memutar-mutar gagang pedangnya. “Jika tak mau bicara, maka tak ada gunanya kita berlama-lama.”


“Kau yakin akan melakukannya? Mengingat ada utusan hydra berkeliaran di kota ini,” sela pak tua itu.


“Kau, siapa kau sebenarnya?”


“Kalian memang seperti yang diucapkan Noa.”


“Noa?” sambung Toz bingung.


“Cih, tua bangka sialan!” umpat Reve akhirnya. “Kau dan dia mempermainkan kami?”


“Aku hanya ingin menguji dirimu. Jadi apa kau bisa menyimpan senjatamu? Itu cukup menggangguku, jika mengingat perkataan Noa.”


“Reve, Noa itu siapa?” bisik Toz.


“Pak tua kepala desa.”


“Oh! Jadi itu namanya!” angguk Toz.


Reve melempar pedang di tangan ke udara, sehingga senjata itu lenyap sepenuhnya. “Jika kau sudah dengar tentang kami darinya, apa itu berarti kau tahu apa tujuanku?”


“Ya.”


“Siapa saja yang tahu?”


“Hanya aku dan dia.”


“Jadi apa kau pembuat kaca? Aku tak menemukan apa pun.”


“Itu hanya julukan, dari seni yang kupunya.”


“Takdir yang menarik, karena aku langsung bertemu denganmu. Jadi, bagaimana dengan pembuat kaca di tepi sungai Leviosa?”


“Itu bohong, karena di sana hanya ada tempat penginapan utusan hydra.”


Raut wajah Reve mengeruh memandangnya. “Ikut aku,” ajak pak tua yang tak peduli dengan ekspresi orang-orang di depannya.


Mereka kembali menuruni tangga dan memasuki tempat penyimpanan senjata tadi. Pada salah satu lemari, pak tua itu mengetuknya tiga kali. Tiba-tiba, terdengar bunyi berisik seperti gesekan senjata.


Akan tetapi, itu hanyalah bunyi dari lemari yang mencoba lepas dari sandaran dindingnya. Pak tua pun menggeser lemari layaknya sebuah meja ringan dan tampaklah pintu dari kristal di baliknya.


Tak ada suara lagi, ketiganya pun akhirnya masuk ke dalam. “I-ini!” pekik Toz saat menyadari ruangan apa yang di datanginya.


Itu tampak seperti kamar penyiksaan dengan segala jenis alat-alat yang akan membuat bulu kuduk berdiri dengan hanya membayangkannya.


“A-apa-apaan tempat ini?!”


“Tenang saja, kalian takkan merasakannya, karena tujuan kita ada di balik pintu itu,” jelas pak tua tetap melangkah melewati ruangan.


Di pintu selanjutnya, barulah suasana terasa berbeda. Seperti sebuah ruang tamu, namun ada banyak lilin yang berdiri kokoh di lantai untuk meneranginya.


Sebuah pola aneh yang diperkirakan lingkaran sihir, terukir jelas di salah satu sudut ruangan. Bongkahan kristal berwarna emerald, juga menghiasi meja agar tak begitu membosankan.


“Tempat apa ini?” Toz memecah suasana dengan pertanyaannya.


“Ini hanya ruangan, untuk menikmati kesendirian,” pak tua itu terkekeh sambil duduk di salah satu sofa. “Kalian tidak ingin duduk?”


“Aku tak suka buang-buang waktu. Kata-”


“Reygan Cottia, kenapa kau ingin membunuhnya?” tanyanya memotong kalimat Reve.


“Itu tak ada urusannya denganmu.”


“Tapi dia seorang legenda dunia Guide. Mendekatinya, sama saja mengantarkan nyawa pada bangsa-bangsa. Aku yakin kau tahu apa maksudnya.”


Toz yang mendengar pembicaraan mereka pun berjalan lambat dan mendudukkan tubuh di sofa dengan perlahan.


“Aku hanya ingin membunuhnya,” tegas Reve.


“Bahkan jika aku bisa memberi tahukan di mana orang yang mengetahui kuncinya, itu tak menutup kemungkinan jika nyawaku juga dalam bahaya.”


“Tenang saja, takkan ada yang tahu jika itu dari mulutmu.”

__ADS_1


Pemilik toko pun terdiam mendengar perkataan Reve. “Aku tak berniat memberi tahumu.”


“Lalu kenapa kau membawa kami ke sini?”


“Dia bukan orang yang boleh di dekati.”


“Bukankah sudah kubilang kalau aku hanya ingin membunuhnya?”


“Seorang assandia (petarung) setingkat bangsawan takkan ada artinya.”


Reve tertawa, membuat keduanya menatap heran padanya. Ia tampak tak bisa menghentikannya, sampai sang ular yang melilit leher Reve menjatuhkan diri dan menjauh darinya. “Apa itu yang kau dengar dari Noa Krucoa?”


Pak tua masih diam menanggapi ucapan Reve. Ia pun melanjutkan, “aku tak tahu, apakah dunia hanya membesar-besarkan namanya atau dia memang sehebat itu.”


“Apa maksudmu?” pemilik toko mulai memperlihatkan keseriusan.


“Aku bukan assandia (petarung) bodoh yang tak tahu siapa lawanku. Sekarang, katakan saja di mana kuncinya.”


“Anak yang tidak sabaran.” Pak tua pun mengalihkan pandangannya ke arah Toz. Toz jadi gugup karena ditatap seperti itu. “Kenapa anak polos sepertimu bersamanya?”


“Ah, a-aku? A-aku cuma kebetulan ingin menjelajahi dunia ini,” terang Toz.


“Termasuk membunuh Reygan Cottia?”


“Dia tak ada hubungannya. Setelah mendapatkan apa yang kuinginkan, kami akan berpisah,” timpal Reve sambil sesekali melirik ke arah Toz.


Hati Toz langsung merasa aneh begitu mendengarnya. Rasanya sedikit sesak, itu bukan sakit namun lebih seperti kecewa.


Alasan terbesar Toz mengikuti Reve, karena hanya dia rekan yang dikenalnya sejak masuk ke dunia Guide. Walau cuma rekan satu kamar, bagi Toz, Reve sudah seperti temannya. Di balik ocehan dan sikapnya yang sukar dimengerti, Toz sangat nyaman bersamanya.


Ini sama dengan saat ia bersama Riz. Tentu saja Toz merasa enggan jika harus berpisah dari Reve. Tapi ia tak bisa mengucapkannya, karena mereka juga punya sesuatu yang harus dicapai. Walau begitu, sendiri lagi di dunia Guide, memikirnya saja sudah membuat kesepian datang kembali menghantui Toz.


Pak tua yang terdiam sejenak untuk mencerna ekspresi kedua pemuda di depannya, akhirnya bersuara. “Jika kau ingin membunuhnya, kenapa kau membantai hydra?”


“Aku tak bisa menjawabnya. Tenang saja, apa pun yang kulakukan takkan merugikan kalian. Selama kalian masih tutup mulut.”


Pak tua menyipitkan mata mendengar ocehan Reve yang terasa ingin mengancamnya. “Dua hari lagi, akan ada sayembara di alun-alun kota. Ikutlah dan bawakan aku hadiah utamanya. Maka sebagai gantinya, akan kuberikan apa yang kau inginkan,” tukas pak tua sambil berdiri dari duduknya.


Mendengarnya, Reve tak melemparkan jawaban apa pun kecuali muka masam tertoreh di sana. Beberapa saat kemudian, “baiklah, harga yang sesuai untuk informasi berbahaya.”


“Jangan salah sangka. Bahkan darah salamander dan air mata peri, tak ada artinya dibanding keberadaan Reygan Cottia.”


Pembicaraan mereka hari itu, akhirnya terhenti dengan kesepakatan yang masih menunggu hasil untuk jawabannya.


Dua hari kemudian, “Reve, apa kamu yakin akan mengikutinya?” tanya Toz. Tampak mereka berdua sedang bersiap-siap di dalam kamar.


“Kenapa kamu sangat ingin membunuh Reygan Cottia itu?”


Aktivitas Reve terhenti, raut wajah yang tak bisa dilukiskan ekspresinya tergambar di sana. Toz menyadarinya, tapi masih berharap akan jawaban yang keluar dari mulut Reve.


“Karena dia sudah menghancurkanku.”


Dada Toz berdesir aneh, jawaban yang ia dengar memberikan sesuatu yang mengejutkan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Bahkan sampai kaki mereka berdua keluar dari bangunan penginapan, tak ada lagi yang saling bicara.


Keramaian yang mengelilingi tak mengganggu pandangan, desiran angin tak mengganggu kehidupan, kebisingan tak mengganggu pendengaran. Keduanya tetap menapaki jalanan sampai akhirnya sebuah papan pengumuman dengan huruf kuno, mengisyaratkan tentang sayembara.


Sebuah pertandingan, dengan hadiah menarik yang ditawarkan, dan juga nyawa sebagai bayaran tak pula ketinggalan. Itu bukanlah bahasa yang pernah dipelajari Toz, tapi ia bisa memahami artinya.


“Bagaimana bisa?” batin Toz berpikir keras, mencari jawaban yang tak kunjung ia dapatkan.


“Ayo,” ajak Reve.


Keduanya kembali berjalan, melintasi arah dari petunjuk di papan pengumuman. Rupanya tak hanya mereka, orang di depan juga melangkah ke arah yang sama. Sebuah alun-alun sudah menanti kedatangan para penontonnya.


Toz terperangah, melihat lautan manusia yang cukup jarang ditemuinya. Di sebuah panggung yang terbuat dari kristal, tampak pemandangan indah terpancar jelas di sana. Beberapa orang duduk dengan aura yang tak biasa masing-masingnya.


Reve terdiam, begitu pula dengan Toz. Mata mereka bertemu dengan sosok yang cukup menjengkelkan. Siapa lagi kalau bukan pemilik toko barang antik yang meminta Reve untuk mengikuti sayembara.


“Apa yang dilakukan landak tua itu di sana?” gumam Reve jengkel.


Di sebelah panggung itu, terdapat sebuah gerbang kecil dari batu kristal. Ada begitu banyak orang yang akan memasukinya, “itu tempat pendaftarannya?” lirih Reve saat menyadari orang-orang yang memasuki mendapat sebuah kalung sebagai tanda.


“Ayo,” ucapnya pada Toz.


Di tengah keramaian, mereka berdua pun mendekat ke arah gerbang kristal. “Ingin ikut serta?”


“Ya.”


“Berapa orang?” tanyanya dengan nada santai. Dari dandanan manusianya yang mirip bangsawan, serta keberadaannya di dekat gerbang, Reve memperkirakan kalau ia adalah petugas dalam sayembara.


“Satu orang.”


“Baiklah, ini kalungmu dan silakan memasukinya,” jelas orang itu menyodorkan sesuatu pada Reve.


Reve memakainya sambil berjalan memasuki gerbang. Toz mendekat begitu Reve melewatinya. “Sayembaranya tentang apa?”

__ADS_1


“Mungkin bertarung,” jelas Reve memandang berkeliling. Ia mengambil salah satu pedang yang dari tadi dipegang Toz.


“Satu lagi?”


“Satu lagi untukmu, ambillah.”


“Kamu yakin? Kupikir kamu ingin memakai keduanya.”


“Aku ini assandia (petarung), bahkan tanpa ini pun kemampuanku sudah bisa menghasilkan senjata,” Reve menanggapinya dengan tampang malas.


“Cih, dasar. Karena sayembaranya belum dimulai, ayo kita berdiri di sana,” ajak Toz sambil menunjuk tempat yang tak begitu ramai orangnya.


Sekitar satu jam lebih menunggu, terdengarlah suara teriakan diiringi suar di langit-langit. Seseorang pun mengambil alih suasana dengan berdiri di tengah alun-alun sambil mengeluarkan suara lantangnya.


“Untuk semua orang yang hadir, perkenalkan terlebih dahulu, namaku Ergo Fety. Pemandu yang akan memimpin alur di sini,” teriaknya.


“Seperti yang kalian tahu, sayembara terbesar di bukit Kristal adalah salah satu festival yang sangat dinantikan oleh siapa pun juga. Dan hadiah terbaik untuk bulan ini,” ia pun mengarahkan tangannya pada sesuatu di atas panggung di mana orang-orang dengan aura tak biasa duduk di sana.


Tampaklah seseorang menyentuh bongkahan kristal besar yang sebelumnya tak ada di sana. Bongkahan kristal biru itu lalu meleleh menjadi asap dan menampilkan isi yang disembunyikannya.


Orang-orang pun berteriak girang saat melihatnya. Sebuah terompet dari tanduk binatang, busur emas, dua botol kristal dengan cairan yang masih rahasia, dan perisai berwarna hitam, semuanya menjadi puncak dari akhir sayembara.


Sorakan penonton menggetarkan area, membuat beberapa pasang mata menatap tak senang dengan keadaan sekelilingnya.


“Hadiahnya sangat luar biasa, terlebih lagi perisai itu, bagaimana cara anda mendapatkannya?” tanya Bleria Sirena pada pak tua pemilik toko barang antik.


“Itu rahasia Nona,” jawabnya sambil mengelus janggutnya. Mata pak tua itu pun menyorot dua anak manusia yang tampang mereka tak asing lagi baginya.


“Sepertinya hadiahnya sangat hebat.”


“Hebat pun takkan ada gunanya jika tidak bisa memakainya,” sambung Reve yang membuat Toz tersenyum kecut mendengarnya.


“Andai aku juga bisa mengikutinya,” gumam Toz dengan ekspresi sedikit kecewa.


“Memang apa yang ingin kamu dapatkan?”


“Busur itu terlihat bagus.”


“Busur?” Reve memiringkan wajahnya.


“Memang kau bisa memakainya?”


“Tidak, tapi karena kamu assandia (petarung), bukankah akan sangat bagus jika bisa dikombinasikan dengan pemanah?” Toz pun tertawa pelan.


“Dasar bodoh,” cela Reve. Ia kembali menatap ke atas panggung. Tanpa disengaja, tatapannya bertemu dengan seseorang yang ada di sebelah pak tua pemilik toko antik. “Ini benar-benar sayembara merepotkan,” gumamnya pelan.


“Aku akan memberi tahukan aturan sayembaranya. Bagi seluruh peserta silakan memasuki arena,” ucap Ergo Fety sambil tersenyum.


“Kalau begitu aku ke sana dulu,” Reve dan Toz pun berpisah.


Mata Toz masih tak lepas dari Reve yang berjalan ke depan menuju tempat di mana Ergo Fety berdiri.


Setelah semua peserta berkumpul, “Hadiah apa pun yang kalian inginkan, akan kalian dapatkan. Tentu saja jika kalian memang pantas mendapatkannya! Inilah aturan mainnya! Siapa pun yang dapat bertahan sampai titik terakhir, maka kalianlah pemenangnya! Apa pun diizinkan, selain kematian! Sayembara dimulai!” teriak lantangnya sambil bertepuk tangan.


Tiba-tiba, sebuah tanaman merambat muncul mengelilingi alun-alun yang menjadi medan sayembara, membentuk pagar berduri mengurung seluruh peserta yang berdiri di tengah-tengahnya.


Sebuah kilau emas bertebaran di sekitar tanaman, menjadi tanda kalau pagar itu adalah ulah dari eftraz (penyembuh) dan juga tankeas (pelindung).


“Baiklah, tontonan menarik apa yang akan mereka sajikan?” lirih seseorang yang juga ikut serta duduk di atas panggung.


Semakin lama, para peserta pun mulai merasakan panas di pijakannya, seperti ada api yang berkobar di sana.


“Aaah!”


“Panas-panas! Apa-apaan ini?!” jeritan para peserta saling sahut-menyahut. Keringat pun mulai turun membasahi tubuh mereka, ada yang berlari ke sana kemari karena tqak tahan dengan panas di kaki.


“Permainan yang kejam,” seseorang pun tersenyum di antara semuanya. “Nigel (muncullah)” dan sebuah bola besi berputar cepat di atas tangannya yang terangkat.


“Hei! Mau apa kau!” sahut seseorang menyadarinya.


“Nedierma! (Menyebar!)” bola besi pun memecah menjadi ribuan jarum dan terbang ke sekelilingnya.


“Aaah!” erang mereka yang terkena tusukan jarum-jarum. Sang penyerang pun tersenyum dengan hasil yang ia dapatkan.


“Sayang sekali, tapi seranganmu tidak mengenai semuanya,” sela wanita berpakaian seksi di sebelahnya.


“Ayolah Crea, bagaimanapun, tak ada yang lebih baik dari kemampuanku jika ingin menghabisi mereka dengan cepat,” tukas Aos dengan sombongnya.


Dari dua nama itu sudah jelas kalau mereka adalah dracula yang sempat bermasalah dengan rombongan Riz dan hampir saja bertemu Toz dan Reve.


“Mereka!” pekik Riz kaget melihat sosok menyebalkan yang sempat menggoresnya.


“Cih, untung saja aku tak ikut serta. Tapi, apa si siren baik-baik saja?” Doxia menatap rekan seperjalanannya yang tampak mengelap keringat di dahi.


Tak disangka, jika rombongan Riz juga ada di sana. Mereka sedang menonton sayembara yang diikuti oleh Rexcel Sirenca, assandia (petarung) level komandan dari bangsa siren.

__ADS_1


“Sepertinya, ini takkan mudah baginya,” timpal Horusca, pemuda berambut merah yang ikut menonton sayembara. Matanya tertuju pada beberapa orang dengan energi yang cukup hebat di tubuh mereka.


__ADS_2