Death Game

Death Game
Petir penghakiman


__ADS_3

Cley Vortha.


Dialah yang muncul tiba-tiba dan melancarkan serangan tanpa pandang bulu itu. Bahkan terlebih parahnya lagi, tanaman berapi juga menyeruak dari kolam magma serta es di bawah jembatan. Pertanda kalau sosoknya merupakan seorang elftraz (penyembuh) tingkat tinggi.


“Musuh?!” Kuyang menutup hidupnya.


Tapi serangan brutal orang itu memaksanya untuk melancarkan serangan dan sedikit menghirup asap beracun. Akibatnya, sensasi kejut pun menyentak dirinya.


Untungnya dari pihak Horusca ada Riz Alea sang tankzeas (pelindung). Setidaknya mereka bisa berlindung di balik perisai emas itu.


Berbeda dengan Reve, Aza, serta Xavier yang memilih menutup mulutnya.


“Elftraz (penyembuh) ya. Sepertinya level bangsawan, atau mungkin— kau,” tatap tajam Reygan karena sebuah pedang melewatinya. Siapa lagi kalau bukan Reve Nel Keres pelakunya. Sosok itu melempar senjata dan menggores pipi pria yang berdiri di udara. 


“Kalian,” ucap Cley Vortha tiba-tiba. Sosok itu dengan mudahnya bergerak di udara akibat tanaman raksasanya muncul dari tebing dan membentu jembatan setiap ia melangkah. “Aku merasakannya, peti mati itu ada padamu kan?” tekannya sambil menatap tajam Kuyang.


“Kau,” wanita itu menyipitkan mata.


“Vortha, benar?” sambung Reygan.


Laki-laki itu tak menjawab selain terus melangkah mendekat. Tapi, Kuyang malah menyeringai melihatnya. “Sepertinya, memang keputusan tepat bagiku untuk mengambil peti keparat itu.”


Dan tanaman berapi yang muncul dari bawah pun langsung menyerang scodeaz (pengendali) laba-laba. Seperti cambuk gila mencoba menghujam tubuhnya.


Reygan yang menatap itu hanya tersenyum dan melirik ke arah Reve serta rekannya. Tampak rupa kesombongan dari pria berambut pirang kepada mereka.


“Tak ingin maju?” tanyanya.


Reve yang menghela napas pelan pun mulai mengeluarkan pedang ganda. “Kemarilah, Pak Tua.”


Mendengar sebutan seperti itu pun membuat Reygan menyipitkan mata. Entah dirinya tak suka dengan panggilan barusan, yang jelas rupanya memancarkan ekspresi nan berbeda. Sekarang jauh lebih menekan untuk para penontonnya.


Terlihat sosoknya memasang kuda-kuda. Mengumpulkan energi di bawah kakinya. Tampaknya ia akan melancarkan serangan tak terduga.


Tapi beberapa detik kemudian kenyataannya berbeda. Dirinya melesat cepat menuju Reve Nel Keres berada.


Pemuda itu langsung lari dari sana. Karena bagaimanapun juga, bertarung di mana rekan-rekannya berada jelas menyusahkan dan bisa menjadi kelemahan.


“Kau menjauh agar orang-orang itu tak terkena serangan?”


Sekarang keduanya ada di sebuah tanah lapang. Cukup besar, namun memiliki beberapa lubang di permukaannya. Tentu saja karena lubang tersebut berisi genangan magma serta duri es menghiasi sekitarnya.

__ADS_1


Reve yang enggan menjawabnya. Memilih menghujani pria itu dengan puluhan pedangnya. Akhirnya tak ada lagi mulut yang berbicara. Selain pertarungan menjadi jawaban keduanya.


Di satu sisi, Kuyang terus menyemburkan jaringnya. Bersamaan dengan hempasan kasar dari ayunan senjatanya.


Tampaknya dirinya hanya fokus pada Cley Vortha. Sementara sisanya hanya menonton mereka.


“Apa Reve akan baik-baik saja?” gumam Toz tiba-tiba. Ia pun melirik ke arah Aza Ergo yang berjarak darinya.


Sang petinggi terlihat berdiri dengan tenang di sana.


Keras bunyinya. Semua menoleh ke arah yang diperkirakan di mana Reve berada. Dan ternyata sebuah ledakan telah terjadi di sana.


Efek samping dari aduan pedang Reve Nel Keres yang diselimuti aura hitam dengan pedang putih Reygan Cottia.


Akan tetapi, sayatan memanjang jelas menyelimuti dada sang pemuda.


“Hebat. Tapi sayang sekali, levelmu masih belum bisa memuaskanku.” Selesai mengatakan itu Reygan mengacungkan pedangnya ke atas. Entah apa yang ingin ia lakukan, kobaran energinya yang berwarna seperti asap putih itu begitu luar biasa.


Sampai akhirnya langit bergemuruh di atas sana. Sontak saja semua menengadah menyaksikannya.


“Aku memang ingin membunuhmu, tapi akan lebih baik jika yang lain juga ikut bersamamu. Membantai secara besar-besaran jauh lebih nikmat bagi orang sepertiku.”


Hampir saja, hampir sosoknya terkena serangan petir itu. Membuat napasnya terengah dan menatap tak percaya pada Reygan Cottia.


“Abteriov senka Porta, lightning of judgment (Terbukalah gerbang bayangan, petir penghakiman)”


Dan selesai mengatakan itu, hujan petir memandikan daratan dunia Guide. Tentunya semua terpekik melihatnya.


Bahkan para pemegang kunci tak bisa berkata-kata saat menyaksikannya. Kegilaan dari Reygan Cottia, salah satu penyimpang terhebat yang bisa melancarkan serangan gila dengan jangkauan jarak jauhnya.


Kemampuan mengerikan ini pula yang digunakannya dalam mempercepat pemberantasan bangsa phoenix dahulu kala.


“Apa-apaan ini?!” pekik Heksar Chimeral saat berhasil memblokir salah satu hujan petir yang hendak menghantam istananya.


Bahkan bukan hanya dirinya, Revtel pun melakukan hal serupa. Ia masih tak percaya akan kilauan biru yang berjatuhan bak hujan meteor itu ke daratan mereka. 


“Apa yang sebenarnya sedang terjadi,” kaget Ragraph saat menyaksikan kakaknya menghentikan serangan petir yang menghantam kawasan empusa.


 Di satu sisi, Tuan Criber menghela napas kasar akibat berhasil menghentikan serangan petir barusan. Namun ia masih tidak tenang saat melihat gemuruh biru itu berjatuhan ke tempat lainnya.


Bahkan saat menabrak hutan ada beberapa lahan yang terbakar. Segila itulah level Reygan Cottia.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan brengsek!” marah Reve sambil menyerang dirinya. Dan senjata yang diayunkan Reygan langsung menepis ayunan kasar pemuda ular.


“Tentu saja memanggil para penusuk diriku,” kekehnya. Dan hanya dengan sekali hantam Reve Nel Keres berhasil terpental namun hujan pedang miliknya ikut menyerang. Reygan hanya tersenyum menyaksikannya. “Kau membuang-buang waktuku.”


Lagi-lagi hujan petir turun ke arah sang pemuda. Tapi sekarang posisinya jauh lebih berbeda, tak lagi menghindar karena Aza Ergo muncul tiba-tiba untuk memblokir serangan itu.


“Kau—” kaget Reve melihatnya.


Sang petinggi pun memiringkan wajahnya. “Dasar monster,” ucapnya.


Dan Reygan pun terkekeh meresponsnya. “Majulah.”


Akhirnya Aza Ergo pun memamerkan pedang magma yang lebih besar dan panjang. “Ayo,” ajaknya pada Reve Nel Keres.


“Kau—”


“Bukankah kau ingin membunuhnya? Setelah itu ayo kita cari darah amarilis. Jangan buang-buang waktu lagi Reve Nel Keres.” Tanpa aba-aba senjata itu ditancapkan ke tanah sehingga menimbulkan retakan tanah yang merah. “Majulah!”


Reve pun mengangguk dan menyerang sosok itu, bahkan walau serangannya berhasil ditepis, tapi duri magma Aza benar-benar membantunya. Mereka saling mendukung satu sama lain dalam melukai musuh gila di depannya.


“Kutanya sekali lagi, di mana peti itu!” marah Cley Vortha.


Bahkan dia berhasil memotong dua kaki laba-laba kuyang tanpa iba. Tapi wanita itu hanya terkekeh menyaksikannya.


“Kau pikir aku akan memberitahumu?”


Dan tiba-tiba petir Reygan turun ke arah Dokter gila itu. Namun hanya dengan sekali cambukan tanaman sulurnya, serangan tersebut berhasil dihentikan.


“Memang susah bicara dengan wanita berotak lumut seperti dirimu,” kesal sosok itu akhirnya padanya. 


Tapi, kekacauan tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka. Karena dua tubuh yang entah muncul dari mana terhempas sampai ke sana.


Semuanya pun terkesiap saat melihatnya. Saat mendapati kalau ternyata Aza Ergo serta Reve Nel Keres lah korban yang terlempar jauh itu.


Dan semuanya semakin dikejutkan oleh aura mengerikan yang mendekatinya. Di mana seorang Reygan Cottia dengan rambut pirang memancarkan kilauan emas serta pedang putih berasapnya muncul di tengah-tengah mereka.


Satu tangannya telah tak ada.


“R-Reygan?!” kaget Kuyang menyaksikannya.


“Benar-benar kurang ajar. Akan kuhabisi kalian berdua!” geramnya menatap lekat sang petinggi serta bocah berambut ular yang sudah tak berdaya. Wajah mereka sama-sama dihiasi tato hitam sebagai lambang kendali mantra tradio yang melegenda. 

__ADS_1


__ADS_2