
“Logan!” pekik Hayato saat melihat kondisi rekannya. Tapi dia juga dikejutkan oleh serangan tanpa ampun para ghoul. Begitu banyak jumlahnya, membuatnya kewalahan dan juga terluka.
Bagaimanapun sebuah kewajaran jika mereka kesusahan melawannya. Mengingat ghoul yang hadir merupakan monster level ketiga. Di mana makhluk itu sepenuhnya sudah bisa mengeluarkan ekor aneh mirip tentakel dengan mulut besar di ujungnya.
“Awas Hayato!” Estes memperingatkan sambil melindunginya.
Hampir saja, andai efltraz (penyembuh) bangsa empusa itu tidak cekatan menariknya, maka bisa dipastikan kalau dia akan jadi santapan ghoul yang muncul dari tanah.
“Yang tadi, mereka dari bangsa dracula bukan?” tanyanya pada Hayato Sarutobi. Dan laki-laki itu mengangguk membenarkan.
“Mereka memang dari bangsaku. Tapi, aku penasaran kenapa orang-orang itu malah masuk ke kuil dan bukan melawan kita.”
“Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka lakukan, mengingat bangsawan-bangsawan sialan ini yang malah menghadang kita,” jengkel Estes melirik musuh-musuh di sekitarnya.
Dan Arigan Arentio, malah tertawa pelan melihat kondisi petinggi dracula di hadapannya.
“Jujur saja, jika satu lawan satu, aku angkat tangan menghadapimu.”
Pernyataan itu hanya dibalas dengan tatapan tajam oleh Logan.
“M-maafkan aku Tuan Logan. Aku tidak bermaksud melukai anda, hanya saja aku—”
“Diam kau keparat!” umpat Ilhan tiba-tiba. “Berhenti bersikap munafik begitu, karena aku pasti akan memenggal kepalamu!” marahnya sambil berlari mendekati petinggi dracula.
“Hei! Kenapa kau malah ke sini?! Lawanmu Tuan Ivailo!” sela Arigan dengan tatapan herannya. Dan selesai ia mengatakan itu, ada api besar yang mendekati Ilhan dan juga Logan.
“Sial!” petinggi manusia itu pun terburu-buru merangkul Logan agar pergi dari sana. Mendekati Libra Septor yang memakai tamengnya untuk melindungi Reoa dan juga mayat Huldra dalam perisai emasnya.
“Benar-benar brengsek,” umpat Hanzo tiba-tiba. Di sampingnya, ada Asus Sevka sang petinggi kurcaci yang melakukan penyerangan pada ghoul sekaligus melindungi ketua kelompok satu itu.
Mungkin lawan merekalah yang paling menyebalkan yaitu Zargion Elgo dan juga Zeril Septor. Tankzeas (pelindung) serta sang pemanggil gerbang ghoul.
“Hei kau! Apa kau tidak sadar kalau tindakanmu akan menodai empusa? Kau pikir akan ditaruh di mana muka kakekmu kalau dunia sampai tahu kau seorang pengkhianat seperti mereka?!” cerca Hanzo pada lawannya.
Akan tetapi, sosok Zargion Elgo tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berekspresi tenang seolah tak berniat menjawabnya.
“Apa kau tuli?! Aku bertanya kepadamu!” marah petinggi chimera akhirnya.
Dan tetap saja cucu dari Bragi Elgo yang merupakan mantan Raja empusa itu tidak menanggapinya. Benar-benar membuat kesal Hanzo karena merasa tak diacuhkan.
“Sungguh aku ingin sekali merobek mulutnya itu,” geramnya dengan tangan memegang mata pedang yang terselubung benang besi.
__ADS_1
“Tahan emosimu, Tuan. Jangan sampai kamu kehilangan kendali dan bersikap ceroboh, karena itu bisa merugikan dirimu,” Asus Sevka pun memperingatkannya.
Sementara Zeril Septor, lirikan matanya tak henti-hentinya memandangi putrinya. Di satu sisi ia bersyukur anaknya itu baik-baik saja. Di sisi lain dirinya juga bersalah pada rekan-rekan pengkhianatnya.
Sampai akhirnya, gemuruh aneh menguar dari dalam kuil di belakangnya.
“A-apa itu?” lirih Qatil sambil menatap kaget ke arah sana.
Dan di dalam kuil, pekikan keras pun berkumandang dari mulut Efaseus. Bukan hanya dirinya, bahkan Zancro, Aos serta Crea juga berteriak kesakitan. Mereka adalah empat orang dari bangsa dracula. Pernah membuat onar melawan Doxia dan juga Horusca.
Tentunya, mereka juga ikut ambil bagian dalam sayembara di Bukit Kristal. Akan tetapi, sekarang keempat orang itu justru harus bernasib mengerikan. Kerja sama yang dilakukan Efaseus dengan para pengkhianat justru mengantarkan dirinya dan juga rekan-rekannya sebagai tumbal persembahan.
Untuk kebangkitan Cerberus yang membutuhkan banyak korban.
“K-kalian—”
“Maafkan aku, ah siapa namamu?” Mosia tersenyum tipis.
“Efaseus,” sela laki-laki yang berdiri di depannya.
“Benar, Efaseus. Maafkan aku, karena melakukan ini kepadamu. Bagaimanapun juga kami butuh darah yang banyak untuk rencana kita. Matilah dengan tenang dan jadilah bagian dari Cerberus, Nak. Dewa pasti akan mengampunimu,” sahut wanita itu dengan santainya.
Begitu pula dengan ketiga rekannya, tidak bergerak lagi karena telah meregang nyawa.
Mereka berempat yang menerima ratusan tusukan pedang jarum dari Mosia di atas meja batu, telah mengalirkan darah untuk membasahi altar yang digenanginya.
Tengkorak yang terikat pada salib di tengah-tengah mayat itu, entah kenapa mulai memancarkan hawa tak biasa. Seperti sensasi akan hidup tiba-tiba untuk mengejutkan semuanya.
“Apakah darahnya cukup?” tanya laki-laki itu pada Mosia.
Wanita itu belum menjawabnya, kecuali melangkah mengitari altar dan memperhatikan genangan darah di atasnya.
“Sial! Kita masih butuh satu orang lagi!” umpatnya.
“Benarkah?” tanya laki-laki itu.
Dan memang seperti perkataan Mosia. Lingkaran mantra yang terpahat di lantai altar dan membentuk lubang genangan itu masih belum terisi darah sepenuhnya. Mereka masih kekurangan tumbal untuk melakukannya.
“Ayo suruh mereka bawakan siapa pun dari musuh kita,” perintah Mosia pada laki-laki itu.
“Bukan ide yang buruk. Caspier, ikutlah dengan mereka dan bawakan satu petinggi untuk tumbal kita.”
__ADS_1
Mendengar titah laki-laki itu, Ksatria tidur yang selalu bersamanya pun bangkit dari posisinya dan berjalan keluar kuil. Membuat para pengkhianat terkejut akan kedatangannya.
“Caspier? Kenapa kamu kemari?” Arigan memandang heran.
“Satu tumbal. Satu tumbal lagi untuk kebangkitan.”
Seketika pernyataannya berhasil menyentak para petinggi yang menjadi lawan.
“Ooh, itu berarti kamu ingin menangkap satu petinggi bukan? Mm ... bagaimana kalau yang itu? Dia sedang terluka dan punya petir yang menyusahkan,” tunjuknya pada Logan.
Sontak saja Hanzo dan Ilhan menatap geram mendengarnya.
“Dasar keparat! Jangan mimpi kau bisa menangkap salah satu dari kami!” dan ahli pedang itu langsung melayangkan serangan kasar ke arah Caspier.
Tapi serupa dengannya, Ksatria itu juga seorang assandia (petarung) dengan pedang yang hampir mirip. Bedanya, senjatanya berwarna perak sedangkan milik Hanzo terselubung benang besi.
“Benar-benar gila! Dia salah satu assandia (petarung) terhebat yang pernah kulihat,” puji Arigan.
“Tuan Thertera? Ada apa?” Qatil menyadari ekspresi tenang laki-laki itu mulai diselimuti kegelisahan.
“Sensasi ini, rasanya tidak asing.”
“Sensasi? Sensasi apa, Tuan?”
Dan sorot matanya pun menajam menatap laki-laki itu. “Qatil, masuklah ke dalam kuil terlebih dulu. Katakan pada Mosia dan juga Zenolea, bersiaplah karena mungkin saja bantuan musuh sudah di depan kawasan terlarang.”
Sosok yang mendengarnya pun dibuat terbelalak oleh pernyataannya. “B-benarkah?!”
“Cepatlah Qatil! Kita tidak punya waktu lagi,” bisik Thertera sambil menatap panik.
Sehingga laki-laki yang disuruhnya pun segera memasuki Kuil Dewa Nagagini. Mengejutkan beberapa orang di sekitarnya, terlebih lagi juga rekan-rekan sesama pengkhianatnya.
“Kenapa dia malah pergi?!” Ivailo jadi bingung menatapnya.
“Entahlah, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada Mosia dan juga Zenolea,” selesai mengatakan itu, senyum tak kentara pun terpatri di bibir Thertera Aszeria.
Tak jelas apa rencananya, membohongi rekannya dengan memutar balikkan fakta. Padahal, dia sendiri yang menyuruh Qatil untuk memasuki kuil Dewa.
__ADS_1