
“Ini buruk!” Rexcel menatap berkeliling. “Guru ...” ucapnya melihat tuan Criber yang tak mengacuhkan keberadaan dua muridnya.
“Hiyaah!” Bleria melesat maju dengan mengayunkan tombaknya. Reve yang merupakan assandia (petarung) sepertinya, juga mengeluarkan pedang membalas serangan Bleria.
Pertarungan tampak sengit, terlebih kemampuan Bleria dalam memainkan tombaknya seperti sedang melakukan tarian. Skill yang begitu indah, berlainan dengan Reve yang tampak kasar dalam berpedang.
Bleria mengayunkan tombaknya ke arah kepala Reve. Pemuda itu berhasil menangkisnya dengan pedang. Akan tetapi, Bleria yang tidak tinggal diam pun menendang pemuda itu sehingga ia terdorong beberapa langkah ke belakang.
Reve mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang tadi menahan tendangan Bleria.
“Bahkan jika kau assandia (petarung) langka, kemampuan kita masih jauh berbeda,” ledek Bleria.
Reve tersenyum. “Tentu saja, kau kan petinggi. Jika anak kemarin sore sepertiku lebih unggul darimu, mau kau taruh di mana wajah sombongmu yang jelek itu?”
“Apa kau bilang!” Bleria mengayunkan tombaknya kasar sehingga menghasilkan serangan energi besar yang terbang ke arah Reve.
“Bruaagh!” serangannya tertahan oleh kemunculan batang pohon besar tiba-tiba.
“Woah, tak kusangka kau akan melindungiku,” Reve menyeringai.
“Horusca!” pekik Riz dan Doxia bersamaan.
“Aterma (tumbuhlah), flores rabidus (bunga gila),” ucap Horusca tiba-tiba.
Dan kumpulan bunga-bunga aneh yang mempunyai gigi berduri hampir di seluruh permukaannya pun bermekaran di sana-sini.
Tua Criber serta Bleria terperanjat melihatnya. “Apa ini?” lirih tuan Criber melihatnya.
“Cih! Dia bukan sekedar elftraz (penyembuh) biasa!” Bleria menggertakkan giginya. Ia memutar tombaknya sehingga senjata itu bercahaya.
Tanaman menggila itu meretakkan lantai yang mereka injak, sebelum akhirnya menyerang secara membabi buta ke arah dua petinggi yang bersiap dengan serangan mereka.
“Braak! Bruaagh! Wussh! Traang! Trang!” bunga-bunga yang menggila itu berserakan akibat tebasan, serangan atau pun hembusan dari jurus-jurus tak terduga.
Tak disangka, pusaran angin yang disebabkan oleh sihir tuan Criber lenyap seketika dengan kemunculan para petinggi di sekitar mereka.
Hea Alcendia, dengan rambatan bunga mawar yang mengelilinginya. Logan Centrio, dengan bola petir mengerikan di telapak tangan kanannya. Reoa Attia, dengan tumbuhan gelap yang menyelimuti lengan dan kakinya.
Tak hanya mereka, bahkan Asus Sevka sang merlindia (penyihir) dari bangsa kurcaci juga mengeluarkan sihir tanahnya.
“Sepertinya kalian sudah gila,” seringai Aza Ergo. Di balik wajahnya yang tampan, terdapat lelehan magma di mata kanannya. “Apa aku juga harus turun tangan?” ia menyisir poni hitam kemerahan itu ke belakang. Membuat alis rapinya yang indah, terlihat jelas oleh mata memandang.
“Guru! Tunggu dulu! Kami tak ada hubungannya dengan ini!” jelas Rexcel tiba-tiba.
Tuan Criber tak mengacuhkannya. Sementara Reoa Attia yang terlanjur emosi meneriakan kekesalannya. “Tak perlu buang-buang waktu lagi! Penghukuman harus dilaksanakan!”
Tuan Barca Asera, hanya terdiam melihat pemandangan di depan matanya. Ia tak ikut campur ataupun bersuara. Tapi, pandangan penuh yang arti yang terlihat jelas di raut matanya membuat Reve paham apa yang diinginkannya.
Mata mereka saling beradu cukup lama, sampai akhirnya Reve memudarkan pedang yang dari tadi ia pegang. “Waktuku sudah habis. Sepertinya aku harus pergi,” ucapnya tiba-tiba.
“Jangan pikir kau bisa lari dari sini!” Reoa mengarahkan serangan tanamannya pada Reve. Secepat kilat serangan itu datang, secepat itu pula serangan Reoa hancur tanpa penyebab yang jelas.
Reve tertawa, melihat ekspresi Reoa yang kaget melihat serangannya gagal. “Baiklah para petinggi, terima kasih untuk hadiah sayembara dan juga hiburannya,” pemuda itu menyeringai.
Ia menjentikkan jarinya, dalam sekali bunyi, lantai langsung bergetar yang membuat para petinggi menatap ke langit-langit.
“Itu!” pekik Hea tiba-tiba.
Ratusan, tidak bahkan ribuan senjata berupa pedang berada tepat di langit-langit mereka semua.
“Reve?” panggil Toz berkeringat dingin.
Riz juga bergetar, terlebih Rexcel dan Doxia tak menyangka akan melihat pemandangan seperti itu.
“Oi-oi, kau juga ingin membunuh kita?” tanya Doxia karena melihat pedang-pedang itu juga ada di atas langit-langit mereka.
“Kedengarannya tidak buruk. Near,” panggil Reve sambil menjentikkan jarinya. Seketika ribuan pedang itu menghujani mereka seluruhnya.
“Sial!” Bleria bersiap hendak menebas dengan tombaknya. Akan tetapi, Horusca tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan tanaman merambat di sela-sela mereka terpaku pada pedang Reve.
“Kau!” geram Bleria.
Logan yang merupakan merlindia (penyihir) pengendali petir pun segera mengumpulkan energi di tangan hendak melepaskan serangan besar.
“Kalian terlambat,” seringai Reve makin melebar.
“Bruaagh!” Dinding di belakang para petinggi hancur seketika oleh serangan ratusan pedang berenergi merah yang hendak menghujani mereka.
“Ini!” Hea berpaling. Ia terlambat merespons, senjata berenergi merah itu sudah melesat cepat hendak menghujaninya. Dengan sigap Asus Sevka memukul lantai di depannya yang menimbulkan gempa dan memunculkan dinding tanah melindungi mereka.
“Dia!” Aza Ergo terpekik.
Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaan. Di saat mereka sibuk hendak mengusir serangan dari tiga sisi, ular dari leher Reve melayang di udara dengan membuka mulutnya lebar-lebar melebihi badannya.
__ADS_1
Ular itu pun melahap orang-orang di depannya secepat kilat yang membuat Reoa terpekik. “Sialan! Mereka akan kabur!”
Tanpa membuang waktu, tuan Criber mengumpulkan energi angin di tangan lalu melemparnya ke arah ular itu. Terlambat, serangan angin terpental dengan kemunculan ratusan pedang dari lantai yang tiba-tiba mengamuk tak tentu arah.
Hujan senjata besi itu benar-benar mengganggu suasana, terlebih ada aroma aneh bertebaran dari energi merah senjata yang menyerang mereka.
"Ini racun!" Aza menutup mulut dan hidungnya.
Near sang ular pun lenyap seketika, bersamaan dengan kelompok Reve yang dilahap ke dalam mulutnya.
“Traang! Traang! Traang!” suara senjata yang beradu dan juga berserakan di lantai. Pemandangan di ruangan itu benar-benar hancur lebur. Dengan jumlah pedang yang tak terkira bersamaan dengan tanaman-tanaman yang dikeluarkan para elftraz (penyembuh) dalam melancarkan serangannya.
“Luar biasa. Mereka kabur. Tak kusangka bocah sayembara dan elftraz (penyembuh) itu punya kemampuan yang gila. Levelnya seperti komandan. Tapi apa-apaan energi aneh itu? Ini racun,” gerutu Aza Ergo yang masih tetap menutup mulut dan hidungnya.
“Assandia (petarung) langka dengan racun ya. Ular itu, apa ular itu punya kemampuan teleportasi?” timpal Logan.
Para petinggi terdiam. “Aku akan melacaknya!” ucap Hea tiba-tiba. Ia menempalkan kedua telapak tangannya ke lantai. Mengalirkan enerigi berwarna hijau dari tubuhnya ke seluruh permukaan.
Cukup lama ia seperti itu, bahkan keringat mulai membasahi dahinya sampai akhirnya pemuda itu menarik tangan dengan napas terengah-engah.
“Bagaimana?”
“Hilang!” jawab Hea. Deru napasnya naik turun. Sepertinya kemampuan pelacak elftraz (penyembuh) barusan menguras banyak energinya.
Di lain tempat, di sebuah kamar yang sepi, tampak ular dengan perut gendut melata lambat di atas ranjang. Tiba-tiba ular itu membuka mulutnya. Ia memuntahkan semua isi mulutnya sehingga perutnya kempes.
“Uaah! Apa-apaan ini!” gerutu Doxia sambil menyentuh kulitnya yang terasa lengket.
“Kerja bagus Near,” ucap Reve sambil mengelus pelan ular yang yang menggeliat itu. Near pun terkapar tidur karena kelelahan.
“Kita di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?” Toz memandang berkeliling dengan perasaan heran.
“Reve terima kasih,” ucap Riz sambil menatap dengan senyum di bibir.
Reve tak menanggapi, ia masih terus mengelus ular kesayangannya itu. “Ular ini, apa ular ini punya kemampuan teleportasi?” tanya Rexcel padanya.
“Entahlah.”
“Sepertinya kamu tak berniat menjawab walau kenyataan sudah di depan mata ya.”
Reve menoleh padanya. “Asal tahu saja, aku tak berniat membantu orang cerewet seperti kalian.”
“Kau! Padahal kami seperti ini gara-gara kau!” tunjuk Doxia kesal.
“Uuh! Aku benar-benar ingin mengoyak mulut bocah ini!” Doxia mengepalkan tangan geram ke arah Reve.
Sementara Horusca, ia masih menatap Reve sejak awal mereka keluar dari mulut ular. Budak yang juga ikut serta bersama mereka pun tiba-tiba bersuara.
“Terima kasih. Maafkan aku, tapi aku benar-benar berterima kasih. Tanpa bantuan kalian, mungkin aku akan dihukum dan di penjara,” ucapnya sambil menangis terisak-isak. “Aku benar-benar minta maaf, gara-gara aku, kalian ikut diburu para petinggi.”
“Ini bukan salahmu. Ini hanya salah hukum di sini. Bahkan walau kamu jadi budak, bagaimana bisa disiksa seperti itu? Mereka benar-benar tidak punya hati!” oceh Riz kesal.
Di balik gerutuan mereka, Rexcel tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. “Seumur hidupku, beru pertama kali aku bertemu dengan assandia (petarung) langka sepertimu. Tak kusangka kalau itu benar-benar ada,” ucap Rexcel.
Reve menatapnya. “Bersyukurlah, karena sudah bertemu orang terhormat sepertiku. Apa kamu mau melayaniku?”
“Sialan! Padahal baru kupuji,” Rexcel geleng-geleng kepala.
“Assandia (petarung) langka? Maksudnya bagaimana?” tanya Toz.
“Kamu tidak tahu?” Rexcel melihat ke jari-jari tangan Toz. “Rupanya kamu masih calon guider. Di dunia Guide, ada mitos yang menyebut tentang guider langka.”
“Guider langka adalah mereka yang mempunyai kemampuan tak biasa. Salah satu contohnya si ular ini. Dia seorang assandia (petarung), seperti yang kita tahu kalau mereka cenderung bertarung dengan senjata, baik dalam jarak apa pun."
"Akan tetapi, seorang assandia (petarung) hanya bisa menarik satu senjata dari tulangnya. Seperti aku dan Doxia yang hanya bisa menarik satu pedang atau kapak dari tulang kami.”
“Tapi bocah ini berbeda, dia bisa menarik banyak sampai ribuan pedang dari tulangnya. Akan berbeda ceritanya jika dia seorang merlindia (penyihir) tipe senjata. Tapi dia seorang assandia (petarung), makanya disebut langka,” jelas Rexcel panjang lebar.
Toz dan Riz termangut-mangut mendengar penjelasan Rexcel. “Aku tak menyangka jika kamu sehebat itu Reve,” ucap Toz padanya.
“Bahkan Near juga hebat. Kalau begitu, Reve assandia (petarung) level berapa?” tanya Riz.
Rexcel dan Doxia terdiam sejenak, sampai akhirnya salah satu dari mereka bersuara.
“Hei bocah! Kau level berapa? Kalau level komandan, bukankah itu terlalu aneh? Aku ingat bocah ini mengatakan kalau kalian sama-sama datang dari dunia manusia. Itu berarti kau masih level pemula,” tukas Doxia sambil menunjuk ke arah Riz.
Reve hanya menatap datar orang-orang di depannya. “Level berapa pun diriku, itu tak berpengaruh apa-apa karena aku jenius.”
Riz, Toz dan Doxia sama-sama memasang tampang jengkel mendengarnya. “Aaah!” pekik Riz. “Kenapa ocehanmu malah mirip dokter sekolahku? Wajah dokter sialan itu kembali muncul di ingatanku!” Riz mengusap-usap kasar rambutnya sampai berantakan.
“Benar, ocehan Reve benar-benar mirip dengannya. Tunggu! Apa jangan-jangan kalian bersaudara?!” Toz menggoyang-goyangkan bahu Reve.
“Hah?”
__ADS_1
“Benar juga, wajah menyebalkan kalian juga mirip! Reve! Apa kamu punya hubungan darah dengan orang yang bernama dokter Cley?” tanya Riz ikut menggoyang-goyangkan bahu Reve.
“Dokter Cley? Siapa itu?” jawab Reve datar.
“Sudah hentikan! Daripada mengoceh tak jelas, lebih baik pikirkan bagaimana nasib kita sekarang!” Rexcel mengambil alih pembicaraan.
Di tempat lain.
“Hatchiuu!” seseorang bersin tiba-tiba. Tampak laki-laki berekspresi aneh mengelus-elus hidungnya.
“Kena virus?”
“Kau pikir aku selemah itu?”
“Ya, di mataku memang seperti itu.”
Laki-laki itu melempar apel di tangan ke kepala pemuda yang mengatainya. “Dasar brengsek! Walau tampangku begini, aku tetap seorang dokter!”
“Dokter apa? Memang apa hubungannya kau dokter dengan bersin?”
“Cih! Tutup mulutmu. Karena tidak hormat begini, makanya banyak pemuda yang mati muda!” ocehnya.
“Apa hubungannya? Dasar aneh,” pemuda itu mengambil apel yang tadi terlempar ke kepalanya. Ia lalu menjatuhkan apel tersebut ke jurang di bawah kakinya.
“Sampai kapan kau akan berkeliaran begini? Trempusa takkan mengampunimu.”
“Sampai aku berhasil mengubah pemandangan ini menjadi tanah kematian.”
Orang yang mengaku dirinya sebagai dokter tersenyum. “Apa kau sudah dengar rumor hydra?”
“Tentang kegilaan Revtel?”
“Tentang kegilaan pengacaunya. Menurutmu siapa pelakunya?”
“Entahlah, mungkin orang yang tak suka dengan hydra.”
“Menarik tali di saat pintu Guide terbuka untuk guider baru. Bukankah ini menarik?”
“Kita tak ada hubungannya. Jangan menarik Kers dalam lingkaran. Orang gila itu akan mengacaukan kebahagiaanku.”
“Tapi aku butuh pasien untuk diobati. Kalau tidak, kejeniusanku akan sia-sia.”
“Manusia aneh,” ucap pemuda itu meninggalkan lelaki yang tak jelas ocehannya.
*******
“Riz, bagaimana ini?” ucap Toz panik.
Keduanya bermandikan keringat dingin saat menyadari sosok lelaki yang tak asing wajahnya berdiri tepat di hadapan mereka.
“Jadi? Di mana rekan kalian yang lain?”
“I-itu ...” mata Toz bergetar ketakutan.
“Ti-tidak tahu. Kami tidak tahu,” Riz berjalan mundur sambil menarik lengan Toz.
“Mau kabur? Kalian ingin aku memberi tahu para petinggi kalau kalian bersembunyi di sini?”
Mendengat kata petinggi, keduanya langsung bergidik ngeri. “Tenang saja, jika kalian menurut, akan kupastikan para petinggi takkan datang untuk memburu kalian. Tapi lain cerita jika kalian berbohong, karena aku takkan segan-segan membakar kalian berdua,” sebelah kanan wajah lelaki itu meleleh merah seperti magma.
Riz menoleh ke arah Toz. Dengan mengangguk pelan, keduanya terpaksa mengantar lelaki itu ke kamar lantai dua di mana para buronan sedang istirahat.
“Kalian kembali lagi? Mana minumannya?” tanya Doxia.
“Hai ... kita bertemu lagi,” ucap sebuah suara tiba-tiba.
Reve yang kaget, spontan langsung menghunuskan senjatanya ke lelaki yang muncul tiba-tiba itu.
“Kau ingin membunuhku?” Reve tak bersuara mendengarnya, kecuali menatap tajam ke arah dua rekan tak bergunanya. “Tenang saja, hanya ada aku di sini,” ucap orang itu menyeringai.
“Bukankah dia salah satu petinggi?” pekik Doxia kaget. “Kalian membawanya ke sini?! Apa itu berarti Criber tua juga di sini?!”
“Kalian tuli? Sudah kukatakan hanya ada aku di sini.” Doxia terkesiap karena dikatai seperti itu oleh lelaki yang tampak lebih muda darinya.
Dengan lancang lelaki itu masuk ke kamar dan mengedarkan pandangan dengan sombongnya. “Kamar yang besar. Ah! Bukankah ini si budak? Eh! Ini si ular teleportasi, manis sekali, siapa namamu?” ia tampak senang hendak membelainya.
Akan tetapi, Reve memukul tangan laki-laki itu agar tidak menyentuhnya. “Jangan sentuh Near, dia bisa ternoda.”
“Kau pikir aku kotoran?” lelaki itu menyeringai. “Sudahlah, aku lelah.”
“Sedang apa kau di sini? Bagaimana kau bisa menemukan kami?” tanya Reve tak berbasa-basi.
Lelaki itu tersenyum, “aku ingin menginap di sini, kebetulan sekali bisa bertemu kalian bukan?”
__ADS_1
Reve memalingkan wajahnya yang tampak jengkel. “Hmm ... Dua assandia (petarung), tankzeas (pelindung), assandia (petarung) langka, elftraz (penyembuh), merlindia (penyihir), calon guider, kombinasi yang tak begitu buruk. Jadi, apa ini dua murid tuan Criber? Sepertinya kalian sudah menggali kuburan ya,” tambah orang itu sambil terkekeh.