Death Game

Death Game
Harga seekor ular


__ADS_3

“Tidak, tapi sepertinya dia berkata begitu,” ucap Horusca bernada datar.


“Apa-apaan itu?” Riz mengernyitkan dahi bingung mendengarnya, sementara Toz tertawa dibuatnya.


“Hei bocah!” panggil Doxia tiba-tiba.


Para pemuda yang merasa paling muda pun menoleh, “kau bocah bermata biru,” lanjut Doxia.


Reve pun menoleh malas ke arahnya. “Apa?”


Doxia pun menatap lekatnya. “Padahal kau tak terlihat sehebat itu. Bagaimana bisa kau mengalahkan semua peserta?”


Reve mengunyah pelan makanannya. “Karena aku pintar. Tentu saja aku bisa mengalahkan mereka.”


“Benarkah? Kalau begitu racun apa yang kau gunakan?”


“Rahasia.”


“Cih! Sialan!” jengkel Doxia.


Mereka akhirnya melanjutkan makan sambil berbicara ringan dan berakhir terpisah ke kamar masing-masing.


“Reve? Kamu bersiap? Mau ke mana?”


“Tentu saja ke toko pak tua barang antik.”


“Benarkah? Apa aku boleh ikut?”


“Boleh, bersiaplah.”


Mereka berdua pun akhirnya pergi ke toko kemarin. Akan tetapi, begitu memasukinya tampak sosok tak terduga berada di sana.


“Bukankah ini sang pemenang sayembara? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini,” ucapnya.


“Mmm? Siapa ya?” bisik Toz pada Reve.


“Entahlah, apa kita pernah bertemu dengannya?” Reve balas berbisik.


“Apa ini? Apa wajahku sangat susah diingat?” celetuknya.


“Maaf membuatmu menunggu lama Logan,” sahut sebuah suara tiba-tiba. “Mmm ... sepertinya ada tamu.”


“Ha-halo,” sapa Toz pada pak tua pemilik toko yang baru datang.


“Ada yang bisa kubantu?” tanya pak tua pada kedua pemuda itu.


“Aku hanya ingin melihat-lihat sesuatu,” ucap Reve lalu pergi meninggalkan mereka.


“Kebetulan sekali, aku sangat penasaran dengan kalian. Bagaimana jika kita berbincang sebentar?” potong laki-laki itu.


“Apa dia bicara dengan kita?” gumam Toz.


“Ya, aku bicara pada kalian. Bukankah hanya ada kita?” sahutnya.


Sekilas Reve melirik pada pak tua pemilik toko barang antik. Tatapan tak kentara yang saling beradu akhirnya membuat Reve memberikan jawaban yang tak terduga.

__ADS_1


“Baiklah, kenapa tidak? Akan sangat menyenangkan jika anda juga memberikan kami makanan Tuan,” balas Reve tanpa malu-malu.


“Baiklah, karena aku yang mengundang kalian.”


Beberapa saat kemudian, mereka berempat pun duduk bersama di sofa yang tersedia di dalam toko. Dengan sajian di atas meja yang disiapkan tamu pak tua pemilik toko. Entah dari mana ia mendapatkan cemilan itu.


“Benar juga, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Logan Centrio, salah satu dari petinggi bangsa dracula,” ucapnya memperkenalkan diri.


“Ah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda Tuan. Namaku Toz Nidiel. Anda bisa memanggilku Toz,” balasnya memperkenalkan diri.


“Reve Nel Keres,” sambung Reve.


“Toz dan Reve ya. Kalau tidak salah, aku tak melihatmu dalam sayembara Toz. Apa kamu tidak ikut?”


“Oh, tidak. Karena aku seorang calon guider, jadi aku tidak ikut serta.”


“Begitu? Sayang sekali. Tapi, aku tak menyangka jika pemenangnya adalah bocah semuda ini. Kamu benar-benar luar biasa Reve,” puji orang tersebut.


Reve memancarkan tampang tak peduli dan memilih memakan cemilan yang ada di atas meja.


“Jadi, apa yang kamu lakukan dengan semua hadiah itu?” tanya orang tersebut.


Reve berpaling ke arahnya, “memakainya dengan baik dan benar.”


“Begitu?”


Reve tak menjawabnya. Orang itu pun kembali melanjutkan ucapannya. “Reve, apa aku boleh tanya sesuatu?”


“Ya silakan.”


“Kamu seorang assandia (petarung) bukan?”


“Kalau begitu bersyukurlah, karena sudah pernah melihatnya.” Perkataan Reve mengundang tatapan kaget dari pak tua pemilik toko dan Toz, karena tak menyangka kalau bocah itu akan berbicara dengan nada yang sombong.


Logan pun tertawa. “Luar biasa, kepribadianmu sangat menyenangkan sekali Reve. Sekarang aku mengerti kenapa tuan Barca tak bisa mengalihkan pandangannya darimu. Kamu benar-benar menarik.”


Sepintas Reve melirik pada pak tua pemilik toko. “Sepertinya wajahku sangat menarik, sampai-sampai anda tak bisa mengalihkan pandangan dariku,” Reve memuji dirinya sendiri.


Pak tua pemilik toko pun tersenyum mendengar kesombongan bocah itu. “Kau benar.”


Suasana hangat terus berlanjut sampai akhirnya Logan meminta sesuatu yang tak terduga. “Reve, jika tidak keberatan, bisakah aku melihat ular yang kemarin? Apakah kamu membawanya bersamamu?”


Reve terdiam sejenak. Tampak keraguan tersirat di sana, “Near, keluarlah,” ucapnya.


Tiba-tiba, balik baju Reve bergerak dan mengeluarkan sosok yang selalu bersamanya. Near, sang ular pun muncul dari balik pakaian dan melilit lengan kiri Reve sambil melirik ke sekelilingnya.


“Ular yang cantik,” puji Logan. “Tubuhnya tak begitu besar, tapi bisa melahap perisai dan busur seperti itu. Apakah ini ular sihir?”


“Entahlah.”


Logan tersenyum mendengar pernyataan Reve. “Jika kamu tidak keberatan, maukah kamu menjual ular ini padaku? Berapa pun harganya akan kubayar.”


Orang-orang di samping Logan memandang kaget akibat ucapannya. Terlebih lagi Reve, ia yang semula santai mulai tampak serius pandangannya.


“Anda menyukai Near?”

__ADS_1


“Ya. Aku suka ular yang pintar dan serba guna,” jelas Logan.


“Kalau begitu sayang sekali. Aku tak berniat menjualnya.”


“Kenapa?”


"Hanya tidak ingin saja."


"Padahal lebih baik kamu menjualnya," bujuk Logan.


“Kalau begitu, bisakah anda berikan alasan kenapa aku harus menjualnya?”


Logan terdiam, beberapa detik kemudian, secercah senyum mengalir dari bibirnya. “Mungkin saja bayarannya adalah sesuatu yang takkan pernah kamu temui di dunia ini.”


“Benarkah? Memangnya apa itu?”


“Apa pun itu. Aku akan memberikannya jika kamu mau menjualnya.”


Reve tersenyum masam, “baiklah, itu kedengaran menarik.”


“Benarkan? Sebutkan saja, akan kuberikan apa pun itu.”


Reve melirik pak tua pemilik toko yang dari tadi diam saja. “Apa pun itu?”


“Ya.”


“Kalau begitu, aku ingin nyawa anda dan juga pemimpin anda. Bagaimana? Apa anda bisa memberikannya?” tantang Reve.


Wajah Logan yang semula tenang agak berubah ekspresinya. “Aku memang bilang apa saja. Tapi, apakah kamu tidak terlalu kurang ajar sekarang?”


“Kenapa? Anda sendiri yang menyuruhku meminta apa saja kan? Itulah harga yang kutawarkan.”


“Demi sebuah ular kotor ini, kamu menghina darahku dan juga darah pemimpinku?”


“Karena demi ular kotor ini, aku sangat menghormatimu dan juga bangsamu. Dia tak bisa dibeli, bahkan dengan nyawa siapa pun. Apa sekarang anda paham maksudku?” Reve menatapnya sinis.


“Kau benar-benar arogan,” tukas Logan, nada bicaranya mulai terasa berat dan menekan.


“Jangan salah sangka. Aku hanya menjawab apa yang anda tanyakan. Jika tidak sesuai, maka tak ada lagi yang perlu dilanjutkan.”


“Apa kau tahu? Aku bisa saja membunuhmu atas sikap kurang ajarmu itu,” ancam Logan padanya.


“Silakan saja. Jika anda memang ingin membuktikan kalau bangsa dracula bukan makhluk berjiwa besar,” Reve tertawa pelan. Hal itu mulai menimbulkan guratan merah aneh di wajah Logan.


“Sekarang aku mengerti, kenapa kau bisa memenangkan sayembara itu. Bukan hanya kemampuanmu saja yang licik, tapi mulutmu juga. Sepertinya, pertemuan para petinggi akan menyenangkan jika namamu ada di dalamnya,” pungkas Logan.


Pak tua pemilik toko langsung tersentak kaget mendengar ucapan tamunya itu. “Logan, menurutku, hal seperti ini tidak seharusnya dibahas dalam pertemuan. Dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.”


“Benarkah? Padahal di mataku dia tidak tampak sepolos itu.”


Tatapan pak tua dan Reve pun beradu pandangan. “Bukankah akan konyol jika membahasnya? Bagaimanapun, pembicaraan kalian tidak berjalan lancar akibat seekor ular,” lanjut tuan Barca.


“Kenapa anda terlihat seperti sedang membelanya? Apakah anda mencoba untuk melindunginya?” tanya Logan menatap dingin padanya. “Kalian saling mengenal?”


“Ya, aku mengenalnya. Karena dia adalah pelangganku. Bagaimana mungkin aku membiarkan pelangganku kena masalah? Ini akan mengganggu jalan bisnisku,” ujar pak tua.

__ADS_1


Tampaknya ia dan Reve berpura-pura tidak saling mengenal di hadapan Logan.


“Sekarang aku mengerti. Melihat sikap anda padanya, sepertinya ada yang sedang anda sembunyikan Tuan.”


__ADS_2