Death Game

Death Game
The Story of Hadesia


__ADS_3

The Story of Hadesia 


 


 


Buka mata dan telinga, tak ada satu pun yang bisa dipercaya.


Dunia tak seindah khayalan, kenyataan tak seindah impian.


Tak ada perdamaian yang ada hanyalah hukum rimba.


Kitalah Rajanya, kitalah aturannya.


Yang bernyawa pasti mati. Jadi nikmatilah selagi kehidupan masih bersemi.


Jadilah yang terkuat bahkan jika harus mengorbankan semuanya.


Jangan lemah karena dunia tidak butuh sampah yang bisa ditindas.


Mati lebih terhormat daripada hidup tak berguna.


Kita adalah Hadesia. Kitalah yang terbaik di antara semuanya.


 


Dingin.


Salju berjatuhan, lolongan hewan berkumandang, tawa bersenandung di beberapa kediaman dan lukisan keindahan alam tercetak jelas di sebuah kawasan.


Hadesia.


Tanahnya begitu subur di penglihatan. Aroma buah-buahan yang matang serta bunga-bunga mekar bertebaran. Dominan magnolia, anggrek dan juga tulip.


Di sepanjang danau atau sungai bagian tengahnya dihiasi bebatuan. Menarik untuk dipijaki namun sulit dilewati. Mengingat banyaknya hewan buas yang menghuni kehidupan di bawah air.


Sementara di depan sebuah bangunan bak kastil, terpampang nyata papan besar dengan tulisan kuno dunia Guide di dalamnya.


Mengisahkan nama-nama dari sosok-sosok yang menjadi guru besar di daratan sana.


Tiga belas orang sebagai pelatih dan pengawasnya.


1.     Solea Ganymede – Empusa (Elftraz)


2.     Ireas Masamune – Empusa (Tankzeas)


3.     Bartigo Aertia – Gyges (Assandia)


4.     Jascuer Alcendia – Hydra (Merlindia)


5.     Azakhel Nerea – Manusia (Assandia)


6.     Vea Krusevka – Kurcaci (Merlindia)


7.     Belze Brask – Dracula (Elftraz)


8.     Lorgia Asqeral – Chimera (Scodeaz)


9.     Quisea Sirena – Siren (Scodeaz)


10.  Helgida Septor – Hydra (Tankzeas)


11.  Romario Stoyan – Manusia (Merlindia)

__ADS_1


12.  August Belmera – Chimera (Assandia)


13.  Remus Eterno – Siren (Merlindia)


 


Tiga belas orang itulah menjadi guru besar di pelatihan dingin Hadesia.


“Apakah surat undangannya sudah dikirim?” tanya Helgida pada Quisea.


Mereka berdua terlihat memberikan makanan pada salamander beracun dalam kandang di depan mata.


“Sudah.”


“Jadi kapan mereka akan dikirimkan?”


“Kemungkinan seminggu atau dua minggu lagi.”


“Kuharap, murid-murid yang diutus benar-benar anak berguna.”


“Tenang saja. Kudengar banyak keturunan Raja yang akan ikut ambil bagian.”


“Cih!” Helgida mendecih tiba-tiba. “Mau itu keturunan Raja atau rakyat jelata, kalau mereka payah tak ada gunanya. Hanya buang-buang waktu melatih mereka.”


Quisea Sirena pun tertawa mendengarnya. “Tenang saja. Kalau mereka lemah, mereka akan mati muda. Kita tidak perlu repot-repot lagi mengurusnya kan?”


Lawan bicaranya pun tersenyum jadinya. Benar-benar ocehan mengerikan yang dilirihkan dengan tampang santai keduanya.


“Heh? Kamu akan dikirim ke pelatihan Hadesia? Pelatihan macam apa itu?” tanya Kers pada Revtel yang sibuk mengelus kudanya.


Mereka berada di pinggiran kawasan bangsa hydra. Di mana keduanya menemani sang paman untuk melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya.


“Entahlah. Aku tidak tahu. Mungkin itu pelatihan untuk jadi Ksatria?”


“Mana mungkin aku jadi Raja? Aku hanya anak haram Yang Mulia.”


“Setidaknya kamu bukan anak buaya kan? Itu berarti kamu berhak duduk di atas tahta.”


Wajah Revtel pun berubah jengkel mendengar ocehan adik sepupunya. “Kamu tidak ikut?”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Aku tidak dapat undangan.”


“Kalau dapat bagaimana?”


“Aku tidak akan ikut.”


“Kenapa?” suara Revtel tiba-tiba mengeras dua oktaf.


Kers yang kaget pun langsung mengernyitkan dahi bingung kepadanya. “Karena aku ingin bermalas-malasan.”


“Sialan! Jangan lupa kalau kamu putra keluarga bangsawan.”


“Lalu? Aku hanya ingin rebahan. Bekerja keras tidak cocok denganku. Aku bahkan tidak bisa berlari ataupun mengayunkan pedang. Jadilah kuat Revtel. Lalu lindungi aku dengan kekuatanmu.”


“Sialan! Panggil aku Kakak bodoh! Aku lebih tua darimu!” sambil menjitak kepala Kers yang sibuk mengupas kulit anggurnya.


“Sialan! Sakit bodoh! Tutup saja mulut menyebalkanmu itu!”


Akhirnya pertengkeran pun terjadi di antara mereka. Di mana Kers sibuk melempari buah-buahan selain anggur pada kakak sepupunya dan Revtel berusaha keras menghindarinya.

__ADS_1


“Kamu akan dikirimkan ke Hadesia,” suruh Raja siren kepada putrinya.


Blerda hanya diam tidak menanggapi. Dan hal itu pun berhasil membuat ayahnya mendecih kepadanya.


“Kenapa kamu diam saja? Jangan seperti orang tuli, Blerda. Tolong jawab jika ditanya,” jengah sang Raja kepadanya.


Akan tetapi, gadis muda itu masih saja tidak meresponsnya. Sampai suara seorang wanita mengalihkan perhatian keduanya.


“Yang Mulia. Bagaimanapun juga, ini masih seminggu sejak kematian kakakku. Blerda pasti syok karena telah kehilangan Ibunya. Jadi aku mohon tolong maklumi dia.”


Lagi-lagi pria itu mendecih. Perlahan, sorot matanya pun menajam kepada putrinya.


“Dengar Blerda. Kamu keturunan murni Sirena. Jadi jangan permalukan aku saat kamu berada di Hadesia. Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan, jadi mulai detik ini ubah sikapmu dan lebih banyak lah ceria. Mengerti?”


Tapi, masih tak ada suara yang ditorehkan putrinya.


“Mengerti?” tekan sang Raja sekali lagi. Bahkan suaranya lebih keras dari yang sebelumnya.


“Blerda pasti mengerti, Yang Mulia. Kupikir, lebih baik kami undur diri dulu. Karena bagaimanapun juga aku harus membantunya untuk bersiap-siap sebelum pergi ke Hadesia.”


Dan Belmina pun menarik tangan keponakannya untuk pergi dari sana.


“Blerda, mau sampai kapan kamu begini? Sudah seminggu sejak kematian ibumu dan kamu masih saja begini. Kamu pikir orang-orang tidak muak melihat sikapmu? Aku bahkan lelah berurusan denganmu!” kesal adik ibunya itu kepadanya.


Namun, tidak adanya suara yang tersembur dari mulut Blerda memang mengundang amarah orang-orang di sekelilingnya.


Sehingga hal itu berhasil meruntuhkan kesabaran Belmina dalam menghadapinya.


“Kalau aku bicara itu dijawab!”


Tiba-tiba, tanpa aba-aba tamparan pun dilayangkan sang bibi pada dirinya. Membuat gadis muda itu terkesiap saat menatapnya.


“Kamu pikir aku tidak capek mengurusimu yang cuma bisa diam saja. Sekarang cepat kemasi barang-barangmu! Karena kamu akan pergi ke Hadesia, ingat itu!”


Lalu wanita itu pun pergi dari sana. Bahkan ia membanting kasar pintu kamar keponakannya. Tapi, ini memang sangat menyedihkan. Karena beberapa saat kemudian Blerda menangkap suasana hangat yang tak akan pernah lagi di dapatkan olehnya.


Di mana Belmina dan Bleria tampak tertawa bahagia di halaman istana.


Ya, Ibu dan anak itu saling berbagi kesenangan di depan matanya. Benar-benar berbanding terbalik dengan perlakuan Belmina kepada dirinya. Padahal mereka punya ikatan darah kental yang tak bisa dielakkan.


Jujur saja, Blerda masih dirundung kesedihan akibat kepergian Ibunya yang dieksekusi mati akibat tuduhan pengkhianatan.


Walau dunia siren menghujatnya, tapi sosoknya percaya kalau Ibunya tidak bersalah sama sekali.


Dan di sebuah kawasan yang cenderung seperti reruntuhan, seorang pria sibuk memanggang daging burung.


Unggun yang disediakan benar-benar besar kobarannya. Tak lama kemudian terdengar tawa dari anak laki-laki tidak jauh dari sana.


“Aza! Laravell! Ayo ke sini! Saatnya makan!” panggilnya pada dua anak kecil yang baru selesai mandi itu.


“Wah, hari ini kita makan daging?!” semringah Aza sambil berlari ke sana.


Tapi tiba-tiba langkahnya tersandung oleh bebatuan yang tak sengaja diinjaknya.


“Awas!” laki-laki di belakangnya pun sontak saja menyelamatkan dirinya. “Hati-hati! Kalau kamu terluka bagaimana?!” cemas remaja berambut merah itu kepadanya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2