Death Game

Death Game
Perjalanan ke bukit Kristal


__ADS_3

“Huft, dingin,” gumam Toz sambil mengapitkan kedua tangan memeluk tubuh.


Sementara Reve, ia terlihat tak merasakan apa-apa di mana Near sang ular melilit lehernya. Kakinya tetap melangkah di jalanan tak rata yang dialiri akar-akar pohon.


“Reve, apa kita tidak akan istirahat?” tanya Toz akhirnya.


“Ini bukan tempat yang bagus, kita akan istirahat setelah menemukan tempat yang pantas.”


“Huft, baiklah,” Toz tetap berjalan mengikuti langkah Reve di malam gelap.


Sayup-sayup terdengar olehnya lolongan serigala yang membuat bulu kuduk berdiri. Rasa cemas pun menggerogoti, akan tetapi ia tepis itu dan tetap fokus melangkah. Mungkin sudah hampir dua jam mereka berjalan, sampai akhirnya Reve berhenti tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Kita akan istirahat di sini,” ujar Reve menatap ke atas.


“Benarkah?”


“Ya!” Reve pun mendekat ke arah pohon besar di sampingnya. Mengangkat tangan, lalu menjelajahi batang pohon agar bisa sampai ke atas. Toz menatap sambil menganga melihat tingkah Reve yang tak ubahnya monyet baginya. Kelincahan anak itu dalam memanjat pohon sebelas dua belas mirip mereka.


“Kau tidak naik?” tanya Reve saat sudah sampai di dahan pertama.


“Kita akan tidur di atas?!”


“Jika mau di bawah silakan saja. Jangan gentayangan bila besok kau sudah jadi tulang,” tanggap Reve.


Ia melanjutkan panjat pohonnya bersama dengan Near yang selalu menghangatkan lehernya.


“Cih! Sialan! Kau menyumpahiku mati ya!” gerutu Toz.


Akhirnya, ia mengikuti langkah Reve memanjat batang pohon besar yang melebihi lebar tubuhnya. Baru sampai di dahan pertama napasnya sudah terengah-engah, bahkan tangannya mulai basah akibat gugup karena kurang ahli dalam memanjat.


Sementara Reve sudah bersandar dengan tenang di salah satu dahan yang menyamankan diri. Jaraknya dari permukaan tanah sekitar 10 meter. Butuh waktu hampir 15 menit bagi Toz untuk sampai di tempat Reve.


Dengan tubuh layaknya orang tua renta, ia memeluk pohon dengan wajah merah penuh keringat yang kurang terlihat jelas. “Hah ... hah ... hah ... Reve, apa kamu tidak kelelahan?”


“Tidak,” sahut Reve sambil memakan bekal yang diberikan Nesian.


“Luar biasa sekali, apa itu karena kamu sudah menjadi guider?”


“Entahlah, menurutku itu karena aku lebih pintar darimu.”


Wajah Toz langsung berubah jengkel mendengar ocehan yang keluar dari bibir Reve. Entah kenapa, sosok manusia bermulut gila seperti dokter sekolah malah membayanginya gara-gara Reve.


“Sialan! Tak di sekolah, tak di sini, kenapa orang bermulut duri sepertinya selalu ada? Sepertinya makhluk begini takkan punah cepat dari peredaran,” batin Toz bersungut-sungut.


“Kau tidak makan?” tanya Reve.


“Iya,” Toz pun akhirnya mengeluarkan perbekalan hidupnya. Akhirnya malam itu, mereka menghabiskan hari dengan beristirahat di sana.


Waktu berlalu dalam kebisingan hutan. Sekitar tujuh jam kemudian, kedua anak manusia itu bangun. Akan tetapi, Reve sudah terjaga duluan. Toz yang baru bangun pun bingung menatap ekspresi dingin di wajah Reve.


“Re-” mulut Toz langsung ditutup Reve, ia menunjuk ke bawah dengan sikap waspada. Tozx mengangguk sehingga Reve melepaskan tangannya.


“Mereka musuh,” gumam Reve pelan melihat sosok tubuh di bawah mereka.


“Musuh?”


“Ya, mereka dracula.”


“Dracula? Makhluk-makhluk yang makan darah seperti di film-film?” tanya Toz sambil dibalas anggukkan oleh Reve. “Kupikir itu hanya bohongan.”


“Sepertinya mereka level D atau C.”


“Bagaimana kamu bisa tahu?” bisik Toz.

__ADS_1


“Karena mereka bodoh tak bisa menyadari keberadaan kita,” ucap Reve seadanya.


Padahal kenyataannya, mereka tak ketahuan akibat keringat ular yang sudah menyatu dengan tubuh keduanya.


Tanpa Toz sadari, semalam Near menggerayangi tubuhnya. Sehingga keringat sang ular melekat di tubuh Toz dan menyamarkan bau manusianya. Itulah alasan kenapa Reve sering membawa Near bepergian, walau kemampuannya tak sekadar itu saja.


“Sialan! Sialan! Darah binatang membuatku bosan! Seharusnya kita bunuh saja empat makhluk kepar*t itu!” gerutu salah satu dracula.


“Apa kau ingin mati? Elftraz (penyembuh) itu level bangsawan,” Crea menimpali.


Muka Aos langsung berubah kesal begitu mengingat wajah pemuda berambut merah. “Cih! Sialan! Hanya karena jauh lebih hebat, bisa-bisanya kepar*t itu menghina kita!” Aos kembali mengomel.


“Bahkan walaupun kita bertarung, mereka berempat itu guider. Cukup sullit bagi kita untuk mengalahkannya,” ujar Zancro.


“Lalu kita harus bagaimana? Tidak mungkin kan kita biarkan saja penghinaan darinya,” lanjut Crea.


“Ayo ke bukit Kristal, kudengar ada turnamen di sana. Jika bisa dapatkan senjata hadiah, setidaknya kita bisa membalas mulut-mulut kepar*t yang sudah merendahkan kita,” ajak Zancro akhirnya.


“Baiklah,” sambung yang lain. Mereka pun meneruskan perjalanan ke arah timur di mana bukit Kristal yang disebutkan berada.


Sementara Reve dan Toz yang dari tadi mengintai di atas pohon hanya diam mendengarkan.


“Mereka juga akan ke bukit Kristal, bukankah itu gawat?” ucap Toz akhirnya.


“Gawat? Kenapa?”


“Itu berarti kita bisa saja bertemu dan dibunuh mereka. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau mereka dracula? Itu sama saja dengan kita santapan mereka,” oceh Toz panjang lebar.


“Jadi kau takut?”


“Tentu saja! Aku tak mau mati muda!” gerutu Toz.


“Kalau begitu akan kubunuh mereka.”


“Hei, jangan bodoh! Mereka ada berempat, memangnya kau bisa apa?!”


“Apa yang ada di otakmu hanya membunuh saja? Mereka ada berempat dan kemampuannya empat kali lipat lebih hebat dari kita.”


“Aku jauh lebih hebat jika serius,” Reve menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Sudahlah! Jangan cari masalah lagi. Kalau aku tidak salah, kau juga yang buat masalah dengan hydra atau apalah namanya. Jangan cari masalah dulu sebelum kita sampai di bukit Kristal dengan tenang.”


“Hah ... terserahlah. Aku malas berdebat dengan bocah cerewet sepertimu,” oceh Reve kembali merebahkan tubuhnya.


Satu jam kemudian, mereka pun turun dari pohon. “Jadi ke mana arah jalannya?” tanya Toz.


“Timur,” ucap Reve melangkahkan kaki ke arah jalanan kecil namun dipenuhi akar-akar pohon yang muncul di permukaan.


“Bagaimana kau bisa tahu kalau ini timur? Padahal jalanan sangat gelap.”


“Karena aku pintar,” jawaban singkat Reve membungkam mulut Toz yang kesal.


Sekitar tiga jam menempuh perjalanan, mereka sampai di depan kolam air terjun yang diselimuti cahaya kunang-kunang.


“Wah ... indah sekali,” Toz tampak terpukau melihatnya. Tanpa ragu, ia langsung membuka baju dan celana lalu melompat layaknya bocah kegirangan dengan masa kecil suram.


Reve hanya diam menatapnya. “Reve, kamu tidak ikutan mandi?” tanya Toz dengan senyum cerianya.


Reve memiringkan wajah, membuat Toz bingung menatapnya. “Ada apa?” Toz kembali bertanya.


“Tutup mulutmu apa pun yang terjadi. Jika tidak, kita pasti langsung mati,” ucap Reve tanpa ekspresi.


“A-apa maksudmu?” wajah ceria Toz langsung berubah cemas.


“Plaaash ... sraak ... srak ...” suara dari hempasan air di belakang Toz. Mendadak, sebuah bayangan besar langsung menutupi permukaan yang membuat bulu kuduk Toz langsung berdiri.

__ADS_1


“Reve?” panggil Toz pelan. Tubuhnya bergetar dan tak sanggup menatap ke belakang.


“Jangan lihat. Karena jika kau berteriak, maka aku akan membunuhmu,” Reve menyeringai sambil mengangkat pedang yang entah muncul dari mana. Ekspresi wajahnya langsung menggelap, tiba-tiba ia pun lenyap dari sana.


“Bruagh!” suara hempasan gelombang air yang keras akibat hantaman besar. Tanpa sadar, Toz menoleh ke belakang dan tampaklah olehnya sosok Reve sedang memenggal ular raksasa dengan dua kali tebasan.


“Sepertinya tubuhku kaku,” Reve bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa. Padahal sekarang kakinya sedang menginjak tubuh ular raksasa yang sudah mengambang tak bernyawa.


“Ka-kamu,” gumam Toz terbata-bata.


“Sepertinya aroma darahnya melekat di tubuhku,” sahut Reve menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia pun tenggelam beberapa saat sebelum akhirnya bangun lagi ke permukaan.


“Apa yang kau lihat?” tenya Reve pada Toz.


Pemuda itu masih tak bisa melepaskan pemandangan dari ular yang sudah terbaring tanpa arwah di badannya. Tak berapa lama, Reve pun bangkit dari sana dan membuat unggun di tepi kolam. Reve membakar lima buah ikan yang entah dari mana ia dapatkan.


“Kamu luar biasa,” lirih Toz tiba-tiba.


Tubuhnya masih basah, tanpa ragu ia pun memakai pakaian di depan Reve dengan santai.


“Kupikir jantungku akan keluar saat melihatmu menebas ular itu,” Toz menoleh ke arah mayat ular yang masih mengambang.


“Kamu hanya penakut, itu saja.” Reve membalikkan ikan yang dibakarnya.


“Kamu bahkan juga mendapat ikan,” Toz ikut membantu membalik ikan lainnya.


“Bukan aku, ini pancingan Near,” jelas Reve.


“Near? Ular itu?!” tanya Toz dengan ekspresi masih tak percaya.


“Ya.”


“Hah!” Toz memandang lekat sang ular yang tampak sombong di matanya. Melilitkan tubuh di atas tas Reve dan melirik sinis ke arah Toz dengan mata menyebalkannya.


“Sepertinya dia ular yang pintar.”


“Ya, dia jenius. Berbeda denganmu.”


“Apa kau tidak bisa berhenti menghinaku?” ketus Toz akhirnya.


“Tidak, karena ini mulutku,” Reve pun mengambil satu ikan dan meniupnya.


Toz bergumam, “sepertinya, ucapanmu tentang kehebatanmu memang benar.”


“Kenapa? Kau merasa takjub?”


“Ya.”


“Jangan suka padaku, aku masih normal,” sela Reve berwajah datar.


Wajah Toz langsung berubah jengkel mendengar ocehan tak masuk akal Reve yang terlempar dari muka datar jeleknya. “Siapa juga yang suka padamu?!”


Reve tak mengacuhkan dan memilih memberikan ikan yang dipegangnya pada Near. Ular itu memakannya dengan lahap, membuat Toz tak bisa mengalihkan pandangannya. “Apakah ular ini selalu bersamamu?”


“Ya,” Reve mengelus lembut kepala sang ular.


“Dia tampak seperti anakmu,” celetuk Toz memakan salah satu ikan bakar.


“Anak ya,” Reve menatap Near dengan tersenyum. Hal itu langsung menusuk mata Toz karena merasa aneh dengan pemandangan di depannya.


“Aku jadi ingin memelihara binatang. Setidaknya aku takkan kesepian saat tidur.”


Reve tak menanggapinya, sejenak kemudian ia mengatakan sesuatu yang tak terduga. “Begitu sampai di bukit Kristal, pastikan apa yang kau dengar tak keluar dari mulutmu. Atau kau akan mati karena mengucapkannya,” tukas Reve tiba-tiba.


Toz langsung meneguk kasar ikan di kerongkongannya. “Ya-yang kudengar? Tentang apa?”

__ADS_1


“Semuanya, tentang apa pun yang sudah kau dengar dan ketahui. Kau tahu Toz? Dunia ini sangat kejam, bahkan satu kata bisa membuat sebuah nyawa menjadi tak berharga,” wajah tanpa ekspresi Reve tak teralihkan dari rupa Toz. Membuat yang ditatap menjadi tak fokus pandangannya.


Di malam yang panjang itu, keduanya tak lagi berbicara setelah ucapan terakhir Reve. Bagaimanapun juga, hal tersebut berhasil mengacaukan pikiran Toz di mana mereka kembali menempuh perjalanan panjang menuju bukit Kristal yang menanti kedatangan para pengacaunya.


__ADS_2