
Tuan Criber benar-benar tak berkutik dibuatnya. Bahkan jika tangisan Bleria memekakan telinga, namun faktanya dirinya juga tidak bisa apa-apa. Kecuali akhirnya bersujud di hadapan pemimpinnya.
“Aku akan lepaskan jabatanku. Tapi aku mohon, tolong ampuni adikmu. Aku mohon, Yang Mulia, aku mohon,” pintanya.
Sungguh mengejutkan pemandangannya. Siapa pun yang melihatnya, pasti takkan menyangka kalau petinggi terhormat bangsa siren rela menundukkan kepala dan merendahkan diri pada pemimpin di atasnya.
Bahkan jika Blerda Sirena masih muda, walau sosoknya memang seorang Raja, nyatanya orang-orang sangat menghormati Tuan Criber mengingat seberapa lama dia menjabat di posisinya.
Dan gadis itu pun memainkan mata pada salah satu pengawalnya. “Bawa dia kembali ke penjara. Pastikan tak ada satu pun yang bisa menemuinya tanpa perintahku.”
“Baik Yang Mulia.”
Tuan Criber akhirnya bisa bernapas lega. Walau sosoknya tadi mengira Bleria akan dihukum mati, nyatanya Blerda hanya memenjarakannya. Tampaknya, masih ada rasa kasihan dari sang Ratu untuk sosok adiknya.
Sementara di bagian sayap kiri, beberapa orang berkumpul di salah satu ruangan. Seperti menunggu sosok-sosok yang tadi pergi meninggalkan. Mungkin mereka jenuh karena rasa penasaran, atas apa yang sebenarnya terjadi di Exedia sana.
“Kita sampai,” lirih Arigan Arentio.
Tiga orang yang bersamanya pun terdiam memandangnya. Sebuah kawasan terlarang dengan pemandangan aneh di depannya.
Hutan larangan. Begitu gelap dipandang, setiap batang pohon berlumut hitam. Namun satu hal yang pasti, aroma bunga melati terpancar jelas sebagai wewangian. Dan di ujung penantian Kuil Nagagini telah menyambut dengan keangkeran.
Terlebih lagi, kisah gelap sudah terkubur di tanah bangunan.
Cerberus.
Penjaga gerbang Dewa Hades, dibiarkan tersegel di dalam Kuil Nagagini setelah perang para Dewa. Melawan Yang Termulia, mengingat hewan mengerikan itu bisa mendatangkan bencana.
Demi membersihkan noda dari insiden perang mengerikan itu, para makhluk berbahaya pun di segel di masing-masing kuil Dewa.
Salah satunya Cerberus dan medusa.
Tapi sekarang, Arigan Arentio, Thertera Aszeria, Ivailo Stoyan, serta Zeril Septor sudah berdiri di depan pintu masuknya.
Membacakan mantra bersama-sama, untuk membukakan jalan agar mereka bisa menempuhnya.
Nyatanya, tanpa mantra yang dimiliki para Raja itu akan sangat mustahil bagi mereka. Terlebih lagi, membutuhkan darah sebagai pengorbanan. Sampai akhirnya masing-masing tangan empat guider tersebut menggenggam jantung yang entah muncul dari mana.
Mulai meneteskan darah, bersamaan dengan desiran kasar di tanah hadapan mereka. Sebagai tanda kalau pintu masuk kawasan terlarang, tampaknya menyambut pengorbanan empat yang jantung yang dihadiahkan para penyusupnya.
Cahaya emas pun berkilauan dari salah satu pohon di depan mereka.
“Pintunya terbuka,” ucap Ivailo Stoyan akhirnya.
Dan lubang hitam besar telah menganga di penglihatan empat guider itu.
“Apa kawasan terlarang, sensasinya memang semengerikan ini?” tanya Arigan tiba-tiba.
“Entahlah. Tapi karena Cerberus di segel di sini, jadi mungkin saja,” Zeril menimpalinya.
__ADS_1
Akan tetapi, tiba-tiba Thertera mengangkat tangannya.
“Ada apa?” Ivailo Stoyan meliriknya.
“Bagaimana dengan Efaseus?”
“Dia akan lewat jalan lain. Tapi, kenapa kamu mengangkat tanganmu?” Arigan menatap curiga.
“Ini aneh.”
“Apanya?” Zeril ikut bersuara.
“Bukan hanya aroma melati yang berkobar, tapi juga darah dan bangkai di dalamnya.”
Ketiga orang itu pun tersentak kaget menatap Thertera Aszeria. Merasa heran kenapa laki-laki itu bisa mengatakan hal di luar nalar mereka.
“Kamu bukan elftraz (penyembuh) Thertera. Bahkan juga bukan pemilik penciuman kejam seperti Blerda. Bagaimana bisa kamu mengetahuinya? Kami tidak mencium aroma apa-apa,” sosok dari siren pun menginterogasinya.
Dan dia yang ditanya pun perlahan menurunkan tangannya. “Tidak perlu banyak tanya. Ayo kita masuk, dan pastikan apa yang ada di dalamnya,” lalu ia melangkah duluan.
Diiringi tatapan penuh selidik dari orang-orang di belakang. Begitu keempat guider itu memasuki pintu masuk kawasan terlarang, aroma melati seperti terbakar malah menyambut penciuman.
Menimbulkan perasaan aneh di badan dan tatapan penuh kekhawatiran.
Sebagai tanda kalau tempat yang dimasuki mungkin saja punya sensasi kejam.
“Apa itu?” kaget Zeril melihat penampakan aneh di atas pohon.
Lalu suara lolongan keras dari serigala pun memekikkan telinga dengan tiba-tiba. Mengejutkan mereka sampai-sampai keempatnya pun menatap tak percaya.
Kalau makhluk berupa ghoul dari gerbang iblis telah bangkit di tanah pijakan kakinya.
“Apa-apaan ini? Kenapa ada ghoul di sini?!” Ivailo pun menatap sekelilingnya.
“Itu!”
“Ada apa Thertera?” Arigan kaget karena laki-laki di sebelahnya berteriak tiba-tiba.
“Zargion Elgo,” lirih Zeril Septor menyadari sumber pandangan rekannya.
Dan dua sisanya pun juga menatap sosok tak jauh dari mereka.
Zargion Elgo.
Bangsawan dari bangsa empusa. Biru laut pesona rambutnya dan merah darah warna matanya. Mahkota bak helaian benang sutra itu begitu panjang sampai lututnya. Namun dikuncir kuda, dengan anting kristal hitam di kedua telinganya.
Dia menawan, berusia 24 tahunan, namun satu hal yang pasti. Guratan di wajahnya tidak menyiratkan keramahan. Tampangnya dingin dan menekan. Seperti Blerda Sirena versi laki-laki.
“Hei, apa-apaan ghoul ini?” Arigan tersenyum meremehkan. “Ayolah teman. Kau pasti punya terompetnya, jangan bermain-main dengan kami karena kita itu rekan.”
__ADS_1
Tiba-tiba, dalam sekali ayunan tangan Zargion, makhluk-makhluk mengerikan itu pun memudar seperti debu. Membuat mereka terkagum-kagum melihat keahliannya.
“Sebenarnya apa kemampuanmu? Kau selalu membuatku curiga.”
Dan pertanyaan Arigan pun diabaikan karena sosok bangsawan empusa itu meninggalkan mereka.
“Apa dia tidak bisa bicara? Aku tidak pernah mendengar suaranya.”
Ivailo Stoyan pun tersenyum mendengar lirihan Arigan Arentio di sebelahnya. “Percayalah, dibandingkan suaranya, aku lebih penasaran seperti apa respons keluarganya. Mengingat bocah itu cucu Raja terdahulu bangsa empusa.”
Dan di kawasan bangsa siren, terlihat sosok Toyotomi di pemakaman Arjuna. Memandang tenang gundukan itu dengan perasaan kecut di dada. Masih merasa bersalah atas kematian ketua kelompoknya.
Sungguh tak berguna, padahal dirinya dan juga Zarca berada di sana. Ingatan itu benar-benar memeluk sedih hatinya.
“Aku tidak tahu jika kamu ternyata orangnya seperti itu,” lirih Aza tiba-tiba.
Toyotomi Evazio pun melirik ke belakangnya. “Mau apa kau ke sini?”
“Menemuimu.”
“Kita bahkan tidak seakrab itu.”
“Memang benar.” Dan Aza Ergo pun mengeluarkan pisau dari magma yang membuat petinggi dracula itu menyipitkan matanya.
“Mau apa kau? Membunuhku?” Pengendali magma itu tersenyum lalu menyayat tangannya. Sehingga sosok pemakan darah di depannya menatap tak percaya. Akan kegilaan yang ada di dalam otak rekan berbeda rasnya. “Kau—” kaget Toyotomi saat tangan berlumuran darah itu diarahkan tepat ke hadapannya. “Kau gila?”
“Minum saja darahku. Ini akan membantumu dalam berburu.”
“Makananku memang darah, tapi aku juga tahu diri siapa mangsaku. Jangan bermain-main denganku, bocah. Aku sedang tak ingin meladeni leluconmu.”
Aza pun tertawa pelan mendengarnya. Perlahan, ia jatuhkan tangan yang terangkat dan meneteskan darah pada makam di sampingnya.
“Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi. Menurutmu, apa artinya itu?”
Toyotomi pun tersentak dibuatnya. Sungguh ia heran, kenapa petinggi muda itu melontarkan ramalan tiba-tiba. Merasa penasaran dengan sesuatu yang mungkin saja disembunyikan olehnya.
“Kau, apa kau tahu apa artinya?”
“Entahlah. Tapi jika kau meminum darahku, mungkin aku bisa menebaknya asal-asalan untuk dirimu.”
“Kau mungkin saja akan membunuhku.”
“Kau rekanku. Kenapa aku harus menghabisimu? Aku hanya membantumu, karena perburuan mengerikan itu.”
“Kau magma. Aku pasti mati jika meminum darahmu.”
“Atau kau mungkin saja jadi lebih kuat jika menuruti perkataanku. Padahal Trempusa yang Raja saja tidak keras kepala, kenapa kau begitu berbeda?”
Sontak saja Toyotomi dibuat terkesiap olehnya. “Kau—”
__ADS_1
“Minum darahku. Dan kau akan tahu seperti apa kemampuanku. Karena aku bisa membantumu, bahkan jika kau jauh dari jangkauanku.”