
“Terima kasih, Yang Mulia.”
“Oh ya ampun, panggil aku Guru besar Remus saja. Itu jauh lebih pantas untukku yang merupakan pelatih di Hadesia.”
“Baik.”
“Benar juga. Tuan Betsheba, sebagai ganti kebaikanmu mempercayakan anak didikmu pada kami, akan kutunjukan padamu seperti apa pesona menawan dari Hadesia. Dan Guru besar Ireas Masamune, silakan tuntun Azkandia menuju asramanya.”
“Baik. Ayo ikut aku, Azkandia,” ajak pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Aza.
Sebelum menyentuhnya, putra Maximus menoleh pada sosok di sampingnya, dan arti dari tatapannya pun dibalas anggukan oleh Betsheba Voskha.
Akhirnya, Aza Ergo pun menuruti Ireas Masamune menuju tempat yang sudah disiapkan untuknya.
“Jadi kamu dari empusa ya? Aku juga,” sahut Guru besar itu tiba-tiba. “Jadi, siapa nama ayah dan ibumu? Mungkin saja aku mengenalnya.”
Sontak saja batin anak kecil di sampingnya tersentak. Tapi, raut wajah Aza terlalu polos untuk melukiskannya. Sehingga dia terlihat seperti bocah ingusan yang bodoh di mata gurunya.
“Nama ayahku Maxim dan ibuku Olan,” jawabnya asal-asalan.
“Begitu?” lirih Ireas dan matanya pun menatap penuh selidik ke arah jari tengah tangan kanan Aza. “Cincinmu, kamu seorang merlindia? (penyihir?)”
“Ya.”
Ireas Masamune terkekeh begitu saja tanpa aba-aba. Menimbulkan bingung Aza Ergo yang sedang dituntunnya.
“Kamu pasti luar biasa, karena sudah menjadi guider di usia anak-anak. Padahal murid-murid di sini, belum satu pun memiliki cincin seperti dirimu.”
Bagai disiram wajahnya, Aza terkejut menyadari kecerobohannya. Seharusnya, sebelum bertemu mereka cincinnya disembunyikan terlebih dahulu.
Tapi sekarang sudah tak ada gunanya. Karena sosoknya telah ketahuan oleh guru besar yang sebangsa dengannya.
Jadi, bagaimana selanjutnya? Jujur saja, Aza merasa tidak nyaman berbicara dengannya. Bukan hanya Ireas tapi mungkin seluruh guru yang ada.
Mengingat sorot mata mereka, menyimpan keanehan menurutnya.
“Ah, akhirnya kita sampai juga,” tanpa keraguan sang guru pun membuka pintu di depannya.
Dan di depan mata, terlihat keterkejutan para muridnya. Tentu saja Ireas tertawa menyaksikan mereka.
“Halo anak-anak. Mulai sekarang, kalian akan kedatangan teman baru. Perkenalkan dirimu pada mereka,” suruhnya pada sosok di sampingnya.
“Aku Azkandia. Salam kenal.”
__ADS_1
Singkat padat dan ditatap lekat para penontonnya. “Benar juga Azkandia, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini bersama mereka. Jika ada yang tidak kamu pahami, bisa kamu tanyakan pada guru-guru atau teman asramamu. Tapi satu hal yang pasti, jangan berkeliaran saat malam. Atau para makhluk buas mungkin saja akan membunuhnya sebagai makanannya. Mengerti?”
Aza mengangguk kepadanya. Setelah ditinggalkan, kakinya pun tanpa keraguan mendekati anak-anak di depannya.
“Halo Azkandia, aku Beltelgeuse Orion dari gyges.”
“Aku Trempusa dari empusa.”
“Kalau aku Hydragel Kers dari hydra! Dan aku, anak yang paling tampan di sini!” ucapnya sambil menunjuk diri sendiri.
“Dasar sombong!”
“Agh!” jerit Kers karena dijitak sepupunya. “Sakit bodoh!”
“Kau yang bodoh! Ah, aku Revtel Elkaztas dari hydra, dan aku sepupu si bodoh ini, salam kenal,” sapanya sambil menyodorkan tangan.
“Azkandia.”
“Nama yang bagus,” puji Revtel kepadanya.
Akhirnya, tibalah giliran satu-satunya perempuan yang ada di ruangan itu. “Blerda Sirena, dari bangsa siren.”
Dan begitulah pertemuan mereka dengan Aza. Walau anak-anak itu hanya tahu sosoknya merupakan guider pemula keturunan empusa, tapi Blerda juga Orion merasakan keanehan darinya.
“Oh ya, sebenarnya masih ada seorang lagi. Si Pangeran bajingan, tapi dia keluyuran entah ke mana.”
“Pangeran bajingan?”
“Kakak si bodoh itu,” jelas Kers sambil menunjuk Revtel dengan bibirnya. Aza yang merasa lucu hanya tersenyum kepadanya. “Mm? Cincin? Tak kusangka kamu ternyata seorang guider. Jadi, apa kemampuanmu? Itu cincin milik merlindia (penyihir) kan?”
“Hawa panas.”
Jawaban singkat Aza, menimbulkan kening berkerut di wajah lawan bicaranya. “Hawa panas? Apa itu berarti kamu bisa membuat pemandian air panas dengan kemampuanmu?”
“Ya. Jika kamu mau, aku juga bisa merebusmu dengan air itu.”
Entah itu lelucon atau bukan, tapi Kers jelas terbelalak mendengarnya. “Kau ingin membunuhku?”
“Aku cuma ingin menawarkan kebaikan—”
Tiba-tiba, suara pintu terbuka keras mengalihkan perhatian mereka. Dan di sana, tampaklah wujud kakak Revtel bersama komplotannya. Terlebih parahnya lagi, ada seorang berandalan dari chimera serta empusa yang bersama dengannya.
Tentunya hal itu menimbulkan takut di diri Trempusa, karena cucu dari salah satu Tetua bangsanya lah yang muncul di sana.
__ADS_1
“Oh? Ada anak baru ya?” kekeh Pangeran pertama berjalan menghampiri Kers dan Aza.
Sejujurnya, keringat dingin mulai turun di diri sosok bocah bangsa hydra. Mengingat mereka sedang berada di Hadesia. Itu berarti takkan ada satu pun keluarganya yang akan membantu jika pertengkaran pecah di antara Kers dan juga Pangeran di depannya.
Dia pun meneguk ludah kasar untuk menutupi kegugupan dirinya.
“Siapa namamu?”
“Azkandia.”
Tapi, entah kenapa para pendatang itu tertawa terbahak-bahak di hadapan mereka.
“Nama apa itu?! Jelek sekali!” ledek Pangeran kedua bangsa hydra.
Aza tidak meresponsnya dan hanya diam memperhatikan mereka. “Sepertinya kamu lebih muda dari kami. Dan apa-apaan warna matamu itu? Merah sekali. Apa kamu menyiramkan darah ke sana? Sepertinya harus kusentuh dulu ya untuk tahu jawabannya.”
Tersentak.
Orang-orang terdiam. Saat menyaksikan kelancangan Aza mencengkeram tangan Pangeran pertama yang ingin menyentuh matanya.
“Kau!” geram anak itu. “Lepaskan tanganku, brengsek! Lepas!” marahnya sambil mendorongnya.
Aza pun terjatuh ke belakang dan hampir saja menabrak meja. Untung Orion bergerak cepat sehingga kepala anak itu tidak membentur benda mati di sana.
“Hei! Apa yang kamu lakukan? Dia kan tidak salah apa-apa!”
“Diam bodoh!” marah Pangeran pertama sambil memukul kepala Orion tiba-tiba. Dan Kers yang menyaksikan itu hanya bisa membeku menontonnya. “Berani-beraninya sampah sepertimu membentakku?! Kau ingin mati ya!”
Tapi, pemandangan di luar dugaan pun langsung terjadi tanpa bisa disangka-sangka. Karena Aza, memukul wajah Pangeran bangsa hydra dengan kepalan tangan yang terasa panas oleh lawannya.
Sontak saja pekikan keras berkumandang dari mulut kakak Revtel itu. Karena dua giginya patah akibat penyerangan anak baru di asrama mereka.
“Kau!” marah Pangeran kedua melihat darah mengalir dari sudut bibir kakaknya.
“Aku ingin istirahat. Kalau mau bertarung, silakan maju tanpa ragu,” mereka pun langsung bergidik ngeri mendengar ucapannya. Karena Aza mengangkat tangannya saat berbicara. Di mana itu retak tiba-tiba dan berubah warna seperti bara yang menyala.
“K-kau!” kaget anak-anak itu menyaksikannya. Akhirnya komplotan Pangeran pertama itu pun langsung bubar termasuk adiknya. Sehingga hanya dia yang tersisa di sana dan menatap panik ke arah Aza.
Bagaimanapun juga, putra Maximus itu melirik angkuh ke arah dirinya.
“Tak ada yang ingin bertarung? Baiklah. Kalau begitu aku istirahat dulu. Sampai jumpa lagi semuanya,” pamitnya berlalu menyusuri tangga. Berjalan tak tentu arah menuju kamar yang ia tebak kosong isinya.
Dan penghuni lain yang satu ruangan dengan Aza hanya bisa menatap tak percaya dari kejauhan. Kalau ternyata, anak baru di asrama mereka merupakan bocah gila dengan kemampuan luar biasa di mata masing-masingnya.
__ADS_1