Death Game

Death Game
Pemakaman Arjuna


__ADS_3

Kelompok yang tadinya dipimpin oleh Beltelgeuse serta Arjuna, merekalah pendatang baru itu. Akan tetapi, sosok petinggi dengan kemampuan memanah milik bangsa siren, justru tak terlihat di sana. Sehingga semakin memperkuat pernyataan Blerda, kalau dia mungkin saja sudah dibunuh.


“Toyotomi,” lirih Lucian Brastok melihat petinggi dari bangsanya membawa sesuatu sambil beruraian air mata.


Akan tetapi, raut wajah petinggi dracula itu langsung berubah saat melihat Del Aney yang tak sadarkan diri di dekat kaki Trempusa.


“Dia!” geramnya.


Dan tiba-tiba Zarca Aseral memegang bahunya. Menggelengkan kepala sebagai tanda agar sosok itu menenangkan dirinya. Dengan berat hati Toyotomi Evazio pun menelan amarahnya sambil tetap melangkah mendekati mereka.


“Orion,” Serpens bersuara. 


“Maafkan aku.”


“Kalian,” Tuan Criber memandangi wajah para petinggi yang seharusnya sudah melakukan perburuan tadinya.


“Maafkan kami. Karena keterlambatan kami dalam membantu, Tuan Arjuna—” raut wajah bersalah jelas terlukis di rupa Ksatria Bintang sambil melirik bungkusan yang dibawa Toyotomi.


Semua terdiam. Hembusan badai yang tadi menggelora karena kehadiran mengerikan Capricorn pun mulai memudar di langit sana.


Dan Noa Krucoa pun bersuara dengan bijaknya.


“Kita harus memakamkannya saat ini juga. Sebagai penghormatan, atas kepergian petinggi terbaik siren yang sudah gugur dalam misinya.”


Hal itu pun disetujui oleh Tuan Criber. “Aku akan mengurusnya. Dan kalian, jangan mencoba kabur dari sini sampai semua masalah diselesaikan,” tekannya pada para buronan yang datang bersama Aza. Lalu sosoknya pun pergi meninggalkan mereka.


“Otama, bawa dua wanita ini ke Exedia,” perintah Blerda tiba-tiba.


“Exedia? Bukankah itu tempat penyiksaan? Mau kau apakan mereka?!” kaget Heksar. Tapi Blerda tidak mengatakan apa-apa, kecuali memilih pergi meninggalkan mereka menuju sayap kiri istana yang belum hancur kondisinya. “Apa yang ada dipikirannya? Apa isi otaknya cuma kekerasan saja? Dia terlalu barbar sebagai seorang Raja.”

__ADS_1


Dan beberapa orang enggan mengomentari kalimat Raja chimera. Lebih baik memilih diam, mengingat sosok Ratu siren moodnya pasti dalam keadaan begitu buruk. Terlebih lagi, istana merah kebanggaan bangsa pemain harpa juga sedang hancur kondisinya.


“Ini! Apa yang sedang terjadi?!” pekik seorang Tetua yang baru datang ke sana. Bahkan beberapa pengawal bersamanya juga ikut melongo melihat keadaan istana.


“Maafkan kami, Tuan. Kami pasti akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sini. Sekali lagi maafkan kami,” Serpens bersuara tiba-tiba dan mewakili mereka.


“B-Begitu? Baiklah kalau anda berkata seperti itu. Eh, tidak-tidak. Tunggu dulu, mana Ratu kami?! Apa mungkin dia—”


“Dia sudah masuk duluan! Jangan berpikiran yang aneh-aneh Pak Tua,” sela Heksar dengan jengkelnya. Tak terlihat keramahan di wajahnya, mengingat semua kejadian yang sudah menimpanya di kediaman siren menghancurkan moodnya.


Sementara Blerda yang sudah selesai mandi, menatap ranjang kosongnya dengan mata dingin di wajah. Rambut pendek sebahunya masih meneteskan air di ujungnya, tapi sosoknya tampak tidak peduli. Langkahnya keluar dari kamar itu dan disambut oleh sosok yang tak disangka.


“Yang Mulia.”


“Apa para pelayan lupa menunjukkan ruangan baru untuk anda? Kalau iya, biar aku yang mengantarkan anda sekarang,” jelas Blerda sambil langkahnya berhenti tepat di hadapan Raja bangsa kurcaci.


“Exedia, apa aku boleh tahu apa yang ingin anda lakukan dengan mengirimkan dua tersangka itu ke sana?”


“Tanpa persetujuan Raja lain?”


“Kalian berada di siren.”


“Persiapan pemakaman untuk Arjuna sudah selesai.”


“Lalu? Apa anda ingin mengajakku untuk penghormatan terakhir? Kalau begitu ayo. Karena memang sudah sepantasnya, aku melakukan itu untuk petinggi dari bangsaku,” Blerda pun berjalan melewati Pak Tua tersebut.


Sepertinya, gadis itu sudah tahu di mana mayat pasir petingginya akan dikuburkan. Karena dia terus berjalan tanpa ragu, sambil sesekali lirikan matanya menyapu para pelayan yang menunduk hormat kepadanya.


“Apa anda ingat saat pertama kali kita bertemu?” Blerda pun menoleh pada sosok yang selangkah berada di belakangnya. Langkahnya memelan, sehingga Noa Krucoa bisa berjalan bersamaan dengannya. “Saat itu, anda masih belum dikirim ke Hadesia.”

__ADS_1


“Kupikir ini bukan saatnya bernostalgia Yang Mulia.”


“Anda tak sedingin sekarang, Ratu. Dulu bahkan seulas senyum masih tersungging di bibirmu.” Blerda tidak menjawabnya dan memilih mendengarkan ocehan orang tua di sebelahnya. “Ada begitu banyak rumor tentangmu. Bahkan pertumpahan darah yang terjadi di singgasanamu. Bagaimana menurutmu? Dengan perubahan sikapmu.”


“Aku tak mengerti. Kupikir, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk membahas itu,” tukas Blerda dengan nada yang menekan.


Dan perlahan, sebuah senyuman terlukis dari bibir pemimpin bangsa kurcaci.


“Hadesia, pelatihan dingin untuk para tunas muda. Namun begitu banyak yang mati di dalamnya. Tak terhitung berapa banyak bangsawan dan keluarga Raja harus meneteskan air mata karena hasilnya. Bagaimana menurutmu? Dengan rencana para pengkhianat yang ingin membebaskan medusa dan cerberus.”


Cukup lama Blerda terdiam. Meresapi pertanyaan pria tua di depannya. Entah kenapa ia mengatakan hal seperti itu, tapi jelas bagi Ratu siren kalau jawabannya mungkin saja akan membawa pemikiran Raja kurcaci pada sesuatu yang tak terduga.


Dan gadis itu pun memalingkan muka ke hadapannya. Menatap tajam jalanan yang akan dilewatinya, untuk mengantarkan sosoknya pada pemakaman petinggi dari bangsanya.


“Bahkan jika rencana mereka berkaitan dengan balas dendam atas Hadesia, tapi Kers, Revtel, Trempusa, Orion serta Aza, takkan tinggal diam begitu saja. Karena mereka juga berdarah di sana, bersama denganku dan juga tiga orang lainnya dalam menyaksikan tragedi gila yang merugikan dunia Guide.”


“Itu—”


“Aku tahu, kalau orang-orang yang kehilangan tidak mempercayai kesaksianku. Tidak pula pada mereka yang sama-sama selamat denganku. Tapi anda harus tahu, Hadesia sudah mati. Begitu pula dengan kisah yang terukir di dalamnya. Karena itu, jika pengkhianatan ini berkaitan dengan insiden di sana, maka aku tidak peduli. Akan kusambut pembalasan dendam mereka, bahkan jika harus menodai tahta yang kubawa, karena aku tetaplah Raja di bangsaku ini.”


Selesai mengatakan itu Blerda pun memilih pergi. Jalan duluan meninggalkan Raja kurcaci di belakangnya.


Sungguh luar biasa pernyataannya. Sebagai tanda kalau sosoknya sudah mengangkat pisau di tangan untuk menyambut pertarungan yang masih dalam bayang-bayang di permukaan.


Tangisan berkumandang. Dari keluarga petinggi Arjuna, karena masih tak menyangka kalau laki-laki itu telah pergi meninggalkan mereka. Pelepasan penghormatan pada petinggi siren, dilakukan oleh Noa Krucoa sebagai salah satu Raja tertua yang hadir di sana.


Pertama kalinya bagi orang-orang yang hadir di sana, menyaksikan penghormatan dihadiri oleh para Raja dari masing-masing bangsa. Mengingat hal itu cukup langka, dan sulit ditangkap oleh mata karena para pemimpin tahta jarang bisa berkumpul di suatu area.


Dan sekarang di kawasan bangsa siren pemandangan itu sedang terjadi.

__ADS_1


“Yang Mulia,” Otama mendekatkan wajahnya pada Ratu Blerda. Membisikkan sesuatu sehingga gadis itu menyipitkan matanya.


 


__ADS_2