
Toz dan Reve pun menghabiskan hari-hari mereka di ruang besi. Sesekali para kurcaci datang untuk memberikan makanan dan melihat keadaan.
Sekalipun Toz mengoceh panjang lebar, mereka tetap tak diizinkan untuk keluar. Terlebih lagi, sebuah mantra penyegel sudah dipasang untuk mengelilingi bangunan itu agar tak ada yang sadar kalau mereka terkurung di sana.
Mantra tingkat tinggi dari guider tankzeas (pelindung) yang takkan bisa disadari kecuali penggunanya mati.
“Sampai kapan kita akan di sini?”
“Entahlah,” balas Reve singkat.
“Jadi kapan aku bisa keluar? Aku harus menjelajah dan mencari kristal-kristal! Kalau begini, hanya terasa membuang-buang waktuku di sini!”gerutu Toz.
“Bukankah kau sudah dengar apa kata kurcaci itu? Kita takkan bisa keluar sampai utusan dari hydra pergi.”
“Lagi pula apa salahnya kalau bertemu? Kalau tidak, lepaskan saja kita agar bisa keluar dari desa ini.”
“Sepertinya telingamu rusak saat mereka bicara,” sindir Reve.
“Apa kau bilang! Padahal ini semua akibat ulahmu! Kalau bukan karena tindakanmu yang melawan pak tua itu, maka kita takkan jadi seperti ini!”
“Apa kau tidak bisa tutup mulut?”
“Tidak! Karena ini semua salahmu!”
“Kau ingin aku menyumbat mulutmu dengan kotoran Near?”
“Heh! Apa kau bilang! Kau berani melakukan itu?!”
“Berisik! Apa makhluk seperti kalian tidak bisa tenang? Aku sudah lelah mendengar ocehan kalian!” gerutu kurcaci yang menjaga di depan rumah itu.
“Bagaimana kami bisa tenang jika kalian mengurung kami seperti ini?! Aku ingin pergi dari sini!” Toz pun membalas perkataan dengan mulut andalannya.
“Sampai kepala desa mengeluarkan perintah, maka kalian akan tetap di sini!” Selesai mengatakannya, kurcaci itu pun pergi dan menembus dinding mantra sambil menempelkan tangan yang penuh tulisan kuno agar bisa melewatinya.
Di tempat lain, sebuah langkah penuh kepastian menapaki jalanan yang membelah pemukiman Krucoa. Dua orang itu menatap berkeliling, dan berhenti saat melihat sosok kepala desa berdiri di sana menyambut mereka.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, tuan Noa Krucoa,” sapa salah satu dari mereka sambil keduanya memberi sikap penuh penghormatan.
“Mmm,” balas pak tua yang menatap tenang pada mereka.
Kedua orang itu kembali berdiri tegak dan membalas tatapan kepala desa. “Maafkan kami, karena datang tiba-tiba. Aku yakin surat pemberi tahuan sudah dikirimkan ke desa ini. Sejujur-” ia tak melanjutkan ucapan, karena kepala desa mengangkat tangan menghentikan pembicaraan.
“Kalian baru saja datang, akan lebih baik membicarakannya sambil beristirahat di kediamanku.”
“Ah, te-terima kasih atas perhatian anda Tuan,” kedua tamu itu membungkuk hormat dan mengikuti langkah kepala desa sambil dikawal para kurcaci yang lain.
Sesampainya di sana, mereka disambut dengan sajian berupa makanan dan minuman yang normal. “Bagaimana keadaan Revtel?” tanya kepala desa.
“Ah, beliau baik-baik saja Tuan,” sahut salah satu dari mereka karena yang lain sibuk mengunyah sajian di depan mata. “Tu-tuan, itu,” ia tampak ragu melanjutkan.
“Tentang insiden yang menimpa salah satu hydra?”
“Benar Tuan.”
“Jadi apa yang akan kalian lakukan?”
“Kami diminta untuk memeriksa apakah ada sosok yang mencurigakan datang ke sini.”
“Sosok yang mencurigakan?”
“Benar Tuan. Seperti yang anda tahu, bagaimanapun yang mati adalah assandia (petarung) hydra, dan itu merupakan hantaman besar bagi kaum kami. Lagi pula, kita tak bisa membiarkan pelaku kejahatan berkeliaran dan merusak kepercayaan antar bangsa-bangsa.”
“Jadi hydra mencurigai kalau pembunuhnya adalah salah satu dari kami?”
“Bu-bukan begitu Tuan. Kami hanya ingin meminta bantuan informasi, jika ada orang mencurigakan yang datang ke sini. Hanya itu saja Tuan. Kita sama-sama tahu, kalau gerbang dunia Guide sudah terbuka untuk manusia, itu tak menutup kenyataan kalau mungkin saja salah satu dari mereka adalah pelakunya.”
Kepala desa terdiam, membuat kedua orang itu cemas jika perkataannya mungkin sudah menyinggung sosok di depannya. “Tu-tuan?”
“Apa yang dilakukan pemimpinmu?”
“Ah, tu-tuan Kers sedang sibuk seperti biasanya,” jawab mereka ragu-ragu.
“Sibuk? Apa yang dia kerjakan?”
“I-itu,” suara mereka tersekat tak mau keluar.
“Jika hanya sibuk memakan anggur, bukankah lebih baik dia menggunakan kemampuannya yang hebat itu? Bangsa hydra takkan kesusahan kalau dia langsung turun tangan.”
“Ya-yah, mas-masalahnya,” wajah kedua tamu itu memucat karena tak tahu harus menjawab apa.
“Tak perlu dilanjutkan, aku sudah tahu jawaban kalian,” sela kepala desa.
Mereka berdua menunduk, merasa gusar dengan sosok petinggi kurcaci yang dari tadi melemparkan pertanyaan merepotkan.
“Sayangnya tidak ada orang mencurigakan yang datang kemari. Tapi kami pasti akan memberi tahu hydra jika ada yang mencurigakan,” kepala desa lalu berdiri.
Kedua tamu itu juga ikut berdiri dengan kaki yang bergetar. “Oa!” panggil kepala desa. “Antarkan mereka ke tempat peristirahatan,” perintahnya begitu Oa sudah memasuki ruangan.
“Silakan ikuti saya,” ajak Oa setelah mengangguk kepada kepala desa.
__ADS_1
“Terima kasih Tuan,” kedua tamu dari hydra pun pamit meninggalkan ruangan.
Sejenak, kepala desa terdiam sambil menatap hamparan pemandangan desa lewat jendela. Entah apa yang sedang ia pikirkan, sampai-sampai tanaman bunga mawar di atas meja layu karena hawa panas yang ia keluarkan.
“Hah ...” hela napas seseorang sambil memukul-mukul bantal. Tampak raut kebosanan melekat di wajahnya, sambil sesekali melirik ke arah pemuda yang rebahan dengan ular black mamba peliharaannya. “Sepertinya kamu sangat menikmati ini.”
Pemuda di depannya tak menjawab kecuali mengelus lembut kepala sang ular. “Reve, aku mau tanya sesuatu.”
“Mmm.”
“Bagaimana caraku bisa mendapatkan kekuatan dan cincin sepertimu?”
“Gerbang akan terbuka jika kamu pantas mendapatkannya.”
“Kalau aku tidak pantas?” Toz menatapnya lekat.
“Maka kamu cuma sampah di sini.”
Toz memanyunkan bibirnya karena jawaban menyebalkan Reve. “Kalau gerbangnya terbuka, apa yang harus kulakukan?”
“Bertarung.”
“Dengan siapa?”
“Dirimu sendiri,” jawab Reve singkat.
“Aku penasaran kemampuan seperti apa yang akan kudapatkan jika gerbang terbuka. Oh ya Reve, menurutmu aku cocok dengan kemampuan seperti apa?”
“Provokasi.”
“Hah?”
“Mulut perempuanmu cocok untuk membuat lawan bertekuk lutut.”
“Apa kau bilang?!” wajah Toz merah padam mendengar jawaban Reve yang bermuka datar. Tiba-tiba ia bangkit dari tidurnya dan menoleh ke arah pintu. “Ada apa?” Toz jadi penasaran.
“Apakah kau akan melepaskan kami?” lirih Reve tiba-tiba.
“Itu cukup sulit mengingat dosa yang telah kau lakukan,” sahut sebuah suara di balik pintu. Perlahan pintu itu terbuka, dengan sosok tak asing memasuki ruangan.
“Ke-kepala desa?” Toz terperangah.
“Bangsa hydra sudah datang.”
“Ya, aku tahu. Energi mereka terasa sampai ke sini,” Reve terkekeh.
“Aku hanya membunuh komandan, kenapa sikap mereka seperti kehilangan bangsawan?” kilah Reve.
Kepala desa menatap dingin ke arahnya, “kau tahu kami tak bisa menampungmu di sini terlalu lama.”
“Ya, tenang saja. Aku akan pergi setelah kau memberi tahuku di mana keberadaannya.”
“Dia bukan orang yang bisa kau bebaskan begitu saja! Seluruh bangsa lain akan membunuhmu sebelum kau sempat menemuinya,” jelas kepala desa.
“Aku tahu, dan aku takkan sebodoh itu untuk membiarkan diriku mati sia-sia.”
Toz terdiam, ia memperhatikan kedua orang yang sedang membahas hal aneh dan tak dipahaminya. “Siapa yang ingin dibebaskan Reve?” batin Toz penasaran.
“Apa kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya?”
“Lalu? Apa kau ingin kita melanjutkan pertarungan yang kemarin?” sekarang Reve berdiri tepat di hadapan kepala desa.
“Dia adalah kutukan untuk dunia Guide. Apa yang kau rencanakan dengannya?”
Reve mengedarkan pandangan tak menjawab. Berbalik ke belakang dan meraih Near sang ular ke pangkuan. “Aku hanya ingin membunuhnya.”
Kedua orang itu tersentak kaget mendengar jawaban dari Reve Nel Keres.
“Membunuhnya? Anak kecil sepertimu ingin membunuh seorang legenda? Kenapa?” tampaknya kepala desa masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Reve.
“Kau tak perlu tahu, katakan saja di mana penjaranya maka aku akan pergi dari sini.”
“Akan ada goncangan besar jika kau membuka penjaranya.”
Reve menatap jengkel kepala desa, “lalu?”
“Dan tak ada seorang pun yang bisa membunuhnya.”
“Jangan samakan aku dengan kalian, aku tidak takut dengan kutukan kematian,” ucap Reve yang membungkam kepala desa. Tubuh pak tua itu langsung bergetar hebat karena perkataan Reve yang tak disangkanya.
“Kau, siapa kau sebenarnya?”
Reve tersenyum, “aku? Bukankah kalian sudah tahu? Aku Reve Nel Keres, anak yang akan membunuh Reygan Cottia dengan kedua tangannya sendiri.”
Kepala desa menunduk, cukup lama ia tak bersuara sampai akhirnya dagu curamnya terangkat. Sorot mata jernih dari orang tua yang tak diketahui berapa umurnya menatap reve tanpa berkedip.
Sayup-sayup hembusan angin luar pun memasuki ruang. Mencoba mengaduk suasana hening agar kembali mendapat hiburan.
“Tanah merah, di sanalah dia berada. Sebuah tanah yang tak bisa dicapai siapa pun kecuali kalian memiliki tanda kuncinya,” beber kepala desa.
__ADS_1
“Tanah merah? Jadi, di mana aku bisa mendapatkan kuncinya?”
“Kuncinya ada tiga, dan hanya tiga orang yang tahu di mana keberadaannya,” kepala desa memalingkan wajah.
“Siapa?” Reve memandang dingin.
“Pergilah ke bukit Kristal dan temui sang pembuat kaca, maka kau akan tahu jawabannya.”
“Reve tersenyum, “terima kasih, aku takkan pernah melupakan kebaikan anda.”
Kepala desa menunduk sekilas sebelum kembali menatap wajah kedua pemuda di dekatnya, “pergilah saat tengah malam dan lewati jalan akar, maka tiga hari kemudian kau akan sampai di sana,” kepala desa pun pergi meninggalkan mereka.
Setelah itu, Reve pun merebahkan kembali tubuhnya di ranjang, “kamu dengar Near, sebentar lagi kita akan pergi dari sini,” ucapnya sambil mengelus ular yang melilit lengannya.
“Tunggu-tunggu! Apa maksudnya itu? Apa yang kalian bicarakan? Membunuh Reygan Cottia? Bukit Kristal? Memangnya apa yang sedang kalian bahas sebenarnya?” sosor Toz tiba-tiba.
Reve memandangnya dengan ekspresi hangat yang aneh, “maaf teman. Sepertinya, kebersamaan kita akan berakhir malam ini.”
“A-apa maksudmu?”
“Aku harus pergi.”
“Ke mana?”
“Bukit Kristal.”
Toz menutup mulutnya, beberapa detik kemudian, ia kembali mengajukan pertanyaan. “Reygan Cottia, apa demi itu kamu datang ke dunia Guide?”
“Ya.”
“Siapa dia?”
“Musuhku.”
“Apakah itu berarti kamu sendiri yang akan pergi menemuinya?”
“Tentu saja, karena hanya aku yang memiliki dendam padanya,” lirih Reve kembali mengelus kepala Near.
Toz mengepalkan tangannya, merasa bingung harus mengatakan apa setelah mendengar perbincangan Reve dan kepala desa tadi. “Bukit Kristal, itu tempat apa?”
“Mmm ... Entahlah, tapi menurut legenda, itu adalah tempat di mana para dewa sering bermain di sana.”
“Tempat bermain para dewa,” gumam Toz. Ia tak lagi berbicara pada Reve yang sudah menutup mata untuk melelapkan dirinya.
Tengah malam yang dinantikan pun datang, hawa dinginnya terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Pintu kembali terbuka, dengan beberapa sosok memasuki ruangan.
“Kalian,” Toz menyapu bersih pandangan di depannya.
“Ini,” Nesian menyodorkan beberapa bungkusan makan pada Reve.
“Perjalanan ke timur tidak begitu sulit, tapi itu tidak menutup kemungkinan kalau kau bisa saja bertemu dengan musuh di jalan,” tukas kepala desa.
“Terima kasih,” angguk Reve. Ia pun menoleh ke arah Toz sambil menyentuh bahunya.
“Kalau begitu kita berpisah di sini. Kuharap, hari di mana gerbang kekuatanmu terbuka akan segera datang,” ucapnya.
Toz terdiam, pandangannya masih tak lepas dari Reve yang berpaling ke arah kepala desa. “Terima kasih atas segala bantuan anda, saat tujuanku sudah tercapai, aku pasti akan membalas kebaikanmu,” Reve membungkuk hormat padanya.
Kepala desa mengangkat tangannya dan menyentuh bahu Reve yang membungkuk, “semoga kau selalu dilindungi dewa dalam setiap langkahmu.” Ia lalu menurunkan tangan yang membuat Reve berdiri tegak kembali.
“Tu-tunggu!” cegat Toz tiba-tiba. “Aku, aku akan ikut denganmu!”
Mereka semua memandang ke arah Toz, “ikut? Ke bukit Kristal?” Reve memiringkan wajahnya.
“Ya,” balas Toz dengan ekspresi penuh keyakinan.
“Asal kau tahu saja, aku tak bisa melindungi calon guider sepertimu jika kau ikut ke sana.”
“Tak masalah, karena aku yang akan melindungi diriku sendiri.”
Reve mengernyitkan dahinya, “lagi pula kenapa kau ingin pergi ke sana? Lebih baik kau di sini saja.”
Toz terdiam sejenak, “mungkin, mungkin memang benar kalau aku akan merepotkanmu nantinya. Tapi bagaimanapun juga, tujuanku datang ke dunia ini adalah untuk menjelajahinya. Jika aku tetap di sini maka aku takkan mendapatkan apa-apa. Karena itu, tolong ... tolong izinkan aku untuk pergi bersamamu!” Toz memohon sambil membungkuk padanya.
“Baiklah, jika itu maumu.”
Toz pun tersenyum senang mendengar persetujuan Reve. Ia pun memandang kepala desa dengan wajah semringah, “terima kasih! Terima kasih sudah menampungku beberapa hari di sini walau kalian mengurungku tanpa persetujuanku,” seloroh Toz tanpa disaring.
Kepala desa mengulurkan tangannya, membuat Toz bingung dengan artinya. Tangan itu pun menyentuh dada Toz, “semoga dewa selalu bersamamu dalam setiap langkahmu,” ucapnya.
Sentuhan itu tiba-tiba mengalirkan udara sejuk ke tubuh Toz, menimbulkan hawa yang mengingatkannya akan sesuatu secara samar.
“Terima kasih!” tanpa sadar Toz meneteskan air mata. Nesian yang tadi pergi sebentar pun kembali lagi sambil menyodorkan tas. Ambillah, di dalamnya ada makanan,” jelasnya.
Tak hanya tas, dua buah jubah yang tampak menghangatkan juga diserahkan pada kedua anak manusia itu.
“Terima kasih!” sahut Toz dan Reve hampir bersamaan.
Selesai berpamitan, mereka berdua pun meninggalkan desa Krucoa yang tertutup kabut dan duri secara diam-diam. Mengingat keberadaan dua tamu dari bangsa hydra, sedang terlelap di peristirahatannya akibat ramuan tidur yang mereka makan. Perjalanan kedua anak manusia yang penuh lika-liku pun, akhirnya dimulai dari sekarang.
__ADS_1