
“Ah, pintar sekali. Jika tuan Orion mati, maka kita akan aman,” seringai Aza Ergo melebar.
“Aza, kau!” Beltelgeuse Orion masih tak percaya dengan ucapan rekan sekaligus adik seperguruannya. “Apa yang kau rencanakan?”
“Biarkan kami pergi. Dan lupakan apa yang anda lihat, bagaimana?”
Ekspresi Orion tidak bisa disebut tenang. Karena ada ketegangan yang terpancar darinya, membuat tiga orang yang berhadapan cukup berdesir jantung karenanya.
“Kutegaskan sekali lagi Aza. Jangan pergi dan ayo kembali bersamaku.”
Aza tersenyum, lambat-laun ia terkekeh. “Anda yang merupakan petinggi bangsa gyges tahu apa? Jangan hapus harapanku dengan tindakanmu. Karena aku tak bisa membuangnya, bahkan jika itu harus mengorbankan nyawa.”
Beltelgeuse Orion terdiam, tak menyangka kalau lelaki yang selalu menyebalkan saat berbicara, akan melontarkan kalimat menohok seperti itu. “Aza.”
“Aku yakin kalau kamu jauh lebih berperasaan dibanding yang lain. Karena itu, kuharap kamu tahu tindakan apa yang harus diambil,” jelas Aza Ergo padanya. “Ayo kita pergi,” ajaknya pada Reve dan Toz. Seketika, hunusan pedang Reve memudar.
Mereka lalu pergi dari sana dan membiarkan Beltelgeuse Orion tetap diam di posisi dengan tatapan masih terarah pada ketiganya. Ia mengepalkan tangan, lalu berbalik kembali memasuki gerbang kota bukit Kristal.
Di jalan masuk hutan, tampak beberapa sosok sedang menanti ketiganya. “Tak kusangka dia akan membiarkan kita pergi begitu saja,” ucap Reve tiba-tiba.
“Dia pasti akan melakukannya. Karena Beltelgeuse Orion, jauh lebih menghargai nyawa di banding bangsa lainnya.”
“Baguslah kalau begitu,” Reve mangalihkan pandangan, dan mereka sampai di pintu masuk hutan, di mana tim lain sudah berdiri menanti kedatangannya.
“Jadi kau menyuruh kami duluan gara-gara mau bersama mereka?” tukas Doxia kesal.
“Mmm? Sepertinya anda salah paham paman,” Aza Ergo tersenyum simpul.
“Sepertinya kamu ketahuan,” timpal Horusca.
“Yah, jadi kamu mengetahuinya ya. Oh! Benar juga, elftraz (penyembuh) kan selalu begitu?” lanjutnya terbahak-bahak.
“Sepertinya aku paham kenapa banyak orang-orang kesal denganmu.”
“Aku?” Aza Ergo menunjuk dirinya saat disindir Rexcel.
“Ya. Sepertinya, ocehan tentang kau yang menyebalkan benar adanya.”
“Terima kasih.”
“Cih! Padahal itu bukan pujian!” gerutu Doxia.
“Ayo pergi. Sepertinya, akan ada badai nanti,” jelas Reve tiba-tiba.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Doxia memandang heran.
“Near anak pintar,” Reve pun berjalan duluan.
“Near?” Doxia mengernyitkan dahi heran.
“Ah, itu ular peliharaan Reve,” sambung Toz.
“Ular yang bisa mendeteksi cuaca?” ledek Doxia.
Reve tak mengacuhkan gunjingan mereka tentang ular kesayangannya. Ia tetap melangkah, berdampingan dengan Horusca si pemuda berambut merah.
“Sepertinya, jarak bulan masih cukup lama,” lirih Horusca tiba-tiba.
Reve tersenyum tipis. Ia ikut menatap ke langit, di mana hamparan bintang dan dua bulan menemani langkah mereka. “Malam bloodgrya ya.”
Horusca tak membalas jawabannya. “Bagaimana rasanya hidup di malam itu?” lanjut Reve. Horusca terdiam sejenak, melirik Reve lewat sudut mata dan mengedarkan pandangan ke langit.
“Mengerikan, terlebih lagi jika kamu golongan yang tersiksa.”
“Golongan yang mana pun, rasa sakitnya akan tetap sama,” gumam Reve. “Aku, tak sudi kena kutukan di malam itu.”
“Silakan lari ke dunia manusia jika kau bisa,” Horusca kembali menatap jalan di depannya.
“Mmm? Apa yang sedang kalian bicarakan?” tambah Aza Ergo tiba-tiba. Ia berjalan sendiri tanpa ada yang menemani. Sementara, anggota lainnya berjalan di belakang dengan jarak tiga langkah dari mereka.
Reve hanya memandang malas padanya. “Di mana darah amarilis?”
“Di kota batu, jika rumornya benar.”
“Kota batu?” Reve memandang penasaran.
“Itu kota kuno, di mana pernah menjadi tempat tinggal leluhur bangsa gyges.”
“Apa itu jauh?”
“Begitulah, tapi kita akan mencari lokasi bangsa naga sekaligus melewati tempat tinggal petinggi yang kau cari,” jelas Aza Ergo.
“Sepertinya kau sudah mengenal jalur dunia ini dengan baik.”
Aza Ergo tersenyum. “Aku ini guider penjelajah, walau terpaksa berhenti gara-gara jadi petinggi.”
“Sepertinya, anak muda di dunia ini sangat hebat. Sampai-sampai jadi petinggi mengalahkan orang tua,” cela Reve.
“Hebat karena mereka berbakat,” jawab Aza dengan sombongnya.
Reve tertawa. Tawanya begitu keras membuat orang-orang sekelilingnya menatap heran. “Hidup bukan hanya tentang bakat, tapi juga usaha. Jika yang berbakat sangat dipuja, maka yang berusaha jauh lebih berharga.”
“Bijak sekali ocehanmu,” ledek Aza Ergo.
Reve tersenyum sombong. Sampai akhirnya perjalanan yang mereka tempuh sudah memakan waktu satu jam. “Ayo istirahat di sini,” ajak Reve.
“Hei! Kita bahkan belum jauh dari bukit Kristal. Bisa-bisa ketahuan jika tetap di sini,” balas Doxia.
“Sebentar lagi badai,” jelas Reve santai. Ia menghentikan langkah lalu bersandar ke pohon.
__ADS_1
“Badai? Kenapa aku tidak yakin?”
Reve cuma menatap malas pada Doxia. Sampai akhirnya Aza Ergo mengambil keputusan. “Kalau begitu kita berhenti di sini.”
“Hei! Apa kau yakin? Kita masih belum jauh,” cegat Doxia. Ia takut, jika tuan Criber tahu kalau gulungan rahasianya hilang dan akhirnya pergi mencari pencurinya.
“Menurutku, akan lebih baik jika kita beristirahat di sini. Lagi pula, beberapa dari kita juga sudah lelah,” sela Riz.
Doxia melirik mereka yang disebut lelah, lalu tampaklah Toz dan budak yang bersama mereka menghela napas letih. “Baiklah.”
Mereka memilih beristirahat di sana. Aza Ergo pun melubangi dinding batu tebing dekat mereka. Lalu di alas dan dikelilingi tanaman merambat kuat oleh Horusca.
“Wah, menyenangkan sekali jika memiliki kemampuan seperti Horusca,” lirih Toz tiba-tiba.
“Benar, kemampuannya juga hebat,” Riz menyetujuinya.
“Kapan aku bisa dapat kemampuan sepeti itu ya?”
“Nanti kamu pasti akan mendapatkannya,” Riz menyemangati.
Seperti kata Reve, badai besar pun menerpa daerah itu, membuat para penghuni bukit kristal memilih tetap di rumah. Dan dengan kemampuan tanaman Horusca, mereka mencoba terlelap aman tak memikirkan bahaya yang mungkin menerpa.
Tiga jam kemudian.
“Uugh, dingin,” lirih Toz menggeliat. Ia tersadar, sambil menatap langit-langit gelap. Hamparan dedaunan tampak bergelantungan di sana.
“Sudah bangun?” tanya sang budah yang juga ikut bersama.
“H-hai tuan Osmo.”
Budak itu tersenyum, “apa kamu lapar?”
“Ah, i-itu,” Toz tampak ragu. Melirik ke sekeliling karena yang lain masih tertidur. “Ada makanan?”
“Ada, ini. Makanlah,” sodornya. Sebuah roti kering berbungkus daun ia berikan pada Toz.
“Anda yang membawanya?” tanya Toz karena tak melihat kalau orang itu membawa tas. Ia lalu berjalan menghampiri Osmo di dekat api unggun.
“Ya. Aku menyimpannya dalam tas bayangan,” sahutnya mengeluarkan tas kecil pada Toz, lalu memperlihatkan apa saja isinya.
“Woah, hebat sekali. Di mana aku bisa mendapatkan tas ini?”
“Ada pedagang gelap yang sering berkeliling di dunia Guide. Terkadang, kita bisa bertemu dengannya jika beruntung.”
“Sepertinya aku tidak beruntung, karena tak menemuinya ataupun memiliki kekuatan.”
“Calon guider ya, itu hal yang wajar. Suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkannya.”
“Tapi kapan? Jika terjadi sesuatu, aku tak ingin menjadi beban yang lainnya,” jelas Toz.
“Apa hidupmu berharga?”
“Tentu saja,” tegas Toz.
Toz terbungkam, tak menyangka kalau orang tersebut akan mengatakan sesuatu di luar bayangannya.
“I-itu, aku,” Toz menunduk malu.
“Bahkan jika kamu tidak memiliki kekuatan, ada banyak cara untuk bertahan dan membantu rekanmu. Mungkin kamu hanya belum menyadarinya,” jelas Osmo sambil memakan roti di tangan. Ia berusia sekitar 37 tahun. Tentu saja dirinya lebih berpengalaman.
“Kalau aku boleh tahu, apa kemampuan anda tuan Osmo?”
“Aku seorang merlindia (penyihir) air.”
“Woah, hebat sekali. Apa anda bisa menurunkan hujan?”
“Sayangnya tidak. Menurunkan hujan hanya bisa dilakukan oleh merlindia (penyihir) dengan kemampuan lebih tinggi.”
“Anda level berapa?”
“Aku masih level prajurit, atau level D bagi kaum manusia.”
“I-itu,” sela Toz tiba-tiba.
“Ya?”
“Bagaimana cara orang-orang di sini menentukan jenis bangsa dan menilai level kemampuan?”
Osmo terdiam sejenak. Ia kembali melanjutkan ucapan. “Setiap bangsa memiliki aroma tubuh yang berbeda, jadi kami bisa mengetahuinya. Kalau soal kemampuan, saat kamu sudah mencapai guider level prajurit, matamu akan bisa melihat energi yang terpancar di tubuh guider.”
“Benarkah? Energi seperti apa?” Toz benar-benar penasaran.
“Biasanya, para guider memancarkan energi berwarna tergantung tingkatan. Level prajurit, komandan, bangsawan, raja, monster, naga memancarkan energi berwarna putih, emas, merah, hijau, biru dan ungu. Lain halnya calon guider atau guider level dewa, mereka tak memancarkan energi apa-apa.”
“Begitu?” angguk Toz. “Lalu kalau aura?”
Mata Osmo menampilkan kekagetan, sampai akhirnya normal kembali. “Aura hanya bisa dilihat oleh dua bangsa. Bangsa naga dan kurcaci.”
“Sepertinya kalian sedang asik,” potong Aza Ergo tiba-tiba.
“Ha-halo tuan petinggi, Sudah bangun?” sapa Toz.
“Ya, karena kalian berisik.” Ia melangkah mendekati dua orang yang duduk di dekat api unggun.
“Anda mau?” Osmo menawarkannya roti padanya.
“Terima kasih.” Aza Ergo mengambilnya lalu memakan pelan. “Mungkin, kita akan langsung berangkat begitu semuanya bangun,” sambil menatap ke orang-orang yang masih terlelap.
Toz menatap lekat lelaki berambut hitam kemerahan itu. “Apa yang kau lihat?”
__ADS_1
“Ti-tidak, hanya saja ... anda benar-benar luar biasa. Padahal anda terlihat masih muda, namun sudah menjadi petinggi yang dihormati orang-orang.”
“Yah, memang benar,” Aza Ergo juga memuji dirinya.
“Tu-tuan, a-apa aku boleh tanya sesuatu?”
“Silakan.”
“Apa itu malam bloodgrya?”
Dua orang itu terdiam. Aza Ergo mulai menampilkan senyum simpul. “Sepertinya, bangsa manusia benar-benar tak sudi memberi informasi pada calon guider ya,” celanya.
“I-itu,” Toz terbata-bata, merasa ragu harus menjawab apa.
“Mmm ... apa yang harus kukatakan? Yang jelas, malam bloodgrya adalah malam di mana seluruh bangsa kembali ke wujud aslinya. Malam berdarah, dengan banyaknya teriakan, tangisan dan juga kematian saling bersahutan. Bagi bangsa dunia ini, itu adalah hukuman. Hukuman untuk penebusan pada para dewa yang murka.”
“Apa itu termasuk dengan manusia?”
Senyum Aza Ergo berubah meledek. “Seluruhnya.”
“Bagaimana caranya agar tak mendapati malam itu?”
“Entahlah. Menurut cerita, bahkan jika berada di dunia manusia, para pemilik tanda akan tetap tertimpa kutukan malam bloodgrya.”
“Tanda? Seperti apa?”
Aza Ergo menarik baju ke atas di balik jubahnya. Tampak tato mirip bunga lily merah di sana. “Ini tandanya.”
Toz mendelik, seketika aura ngeri menjalar ke tubuhnya. “A-apa aku juga memilikinya?” Toz langsung menarik baju, melihat di perut di mana tanda itu mungkin berada.
“Kau masih belum dikutuk. Terkadang, kutukan itu akan muncul tiba-tiba.”
“Apa ada yang tak memiliki tanda kutukan itu?”
“Ada, beberapa. Setahuku hanya dua orang yang tidak memiliki kutukan malam bloodgrya.”
Toz semakin tertarik untuk mencari tahunya. “Si-siapa?”
“Mantan pemimpin kurcaci terdahulu dan juga pemimpin bangsa naga.”
Toz terdiam. Mereka yang disebutkan adalah sosok dari dua bangsa dengan berkah bisa melihat aura. Semakin ia memikirkan, semakin dirinya penasaran. Banyak pertanyaan bermunculan di otaknya, berbisik agar ia tetap mencari tahu seluruhnya.
Ocehan mereka membangunkan Riz. Sampai akhirnya pemuda itu juga ikut bergabung di sana. “Riz, kamu sudah bangun?” Toz memandang cerah. Dirinya juga ditawari roti oleh Osmo. Sepertinya mantan budak kabur itu akan menjadi pemasok makanan mereka.
“Sepertinya kalian sudah cukup tidur,” timpal Riz.
“Begitulah,” Toz mengulurkan tangannya ke dekat api unggun.
“Mereka, tampak kelelahan,” Riz melirik ke belakang, di mana rekan seperjalanan terkapar seperti orang mati. Termasuk juga ular Reve yang ikut mendengkur di sana, membuat Riz tertawa pelan.
“Assandia (ptarung) langka,” ucap Riz tiba-tiba.
“Kenapa Riz?” Toz memandang penasaran.
“Entah kenapa, dari awal bertemu, aku sudah merasa kalau Reve memang berbeda.”
“Aku juga berpikir begitu. Dia terlihat tidak takut apa pun,” Toz melirik Reve yang pulas lewat sudut matanya.
“Sepertinya para dewa membencinya,” lanjut Aza Ergo tiba-tiba.
“Hah?” tanggap Riz dan Toz dengan pandangan tak paham.
“Sepertinya kalian tak mendengar mitos apa pun di dunia ini. Apa kau tahu? Mereka yang memilki kemampuan langka, adalah penyembah yang paling dibenci dewa. Karena mereka memiliki kemampuan untuk membunuh dewa lebih cepat dari yang lainnya.”
“Mitos apa itu? Bukankah dewa tak bisa mati?”
Aza Ergo tersenyum. “Tak bisa mati bukan berarti tak terluka. Karena kemampuan para guider, adalah berkat dewa yang direbut dari tubuhnya. Itu berarti para guider terdahulu mendapatkan kemampuan ini dengan membunuh dewa.” Ia lalu tertawa pelan.
“Terdengar menakutkan untukku.”
“Yah, tapi itu hanya mitos. Cerita yang bersumber dari nyanyian terlarang. Para tetua terdahulu sering mengarang cerita untuk menghibur cucunya. Aku juga tidak yakin mana yang benar. Karena, pada bangsa lain juga terdapat makna yang berbeda.”
“Apa itu berarti cerita tentang nasib guider itu bohongan?” tanya Riz penasaran.
“Jika kau ingin tahu legenda dan siksa dunia guider dengan benar. Pergilah ke meja batu. Di sana terdapat prasasti kuno untuk mengetahui kisah yang sesungguhnya.”
“Di mana itu?”
Aza Ergo membalas tatapan Riz. “Entahlah.”
“Hah?”
“Aku juga tidak tahu. Bahkan itu cerita yang kudengar dari leluhur gyges,” Aza Ergo terkekeh.
Tatapan Riz, Toz dan Osmo tampak sama, jengkel padanya. “Menyenangkan jadi petinggi, bisa punya banyak informasi.”
“Aku sangat tersanjung mendengarnya.”
“Kalian berisik,” Reve menimpali sambil bangun dari tidurnya. Ia memandang orang-orang yang duduk di dekat unggun. “Bisakah tidak mengoceh omong-kosong saat aku tidur?”
“Reve,” panggil Toz tiba-tiba. Ekspresinya sangat aneh, begitu pula dengan yang lainnya.
“Apa?” tanya Reve melirik sebal.
“Matamu, matamu bersinar” Riz terbelalak.
Reve tak menyadari, jika mata biru sedalam samudranya bersinar terang di sana. Begitu indah namun juga mengerikan di saat yang bersamaan. “Ah, ini? Sepertinya, aku kelelahan,” Reve menyipitkan mata. Membuat netra birunya sedikit mengecil.
Akan tetapi, hal yang berbeda ditanggapi Aza Ergo. “Dunia memang luas rupanya,” ia menyeringai, dengan mata dingin membalas manik Reve yang terarah padanya.
__ADS_1