
Dunia manusia. Begitu mewah tampilannya. Gedung-gedung pencakar langit menghiasi setiap penampakan yang ada. Walau di beberapa pelosok indahnya hamparan hijau masih terpampang nyata untuk dinikmati semuanya.
Dan suara beberapa orang berkumandang dalam ruangan di salah satu gedung yang ada.
“Ada surat undangan, Tuan. Jadi, siapa yang akan dikirim ke Hadesia?”
Pertanyaan itu membuat salah satu Pemimpin tertinggi di dunia manusia diam sejenak sebelum meresponsnya.
“Hadesia ya.”
“Benar, Tuan.”
“Hah ... pelatihan di sana memang luar biasa. Tapi kalau melihat isi dalamnya mungkin saja anak-anak kita akan menderita.”
“Lalu sebaiknya bagaimana, Tuan?”
“Umumkan saja isi suratnya pada rapat besok. Siapa pun yang ingin mengirimkan anaknya, maka setujui saja.”
“Baiklah kalau begitu.”
Tapi, di lokasi yang berbeda, hiruk pikuk dalam menyambut undangan dari Hadesia justru ditanggapi dengan pro dan kontra.
“Jadi, siapa saja yang akan dikirimkan ke Hadesia?” tanya Raja bangsa setengah Dewa.
Nyatanya, para bawahan menanggapinya dengan rupa tertunduk tidak bersemangat. Seolah terbebani dalam menjawabnya.
“Apa tak ada satu pun yang ingin mengirimkan keturunannya ke sana?”
“Maaf, Yang Mulia. Bagaimanapun juga, kita sama-sama tahu bagaimana paham pelatihan di sana. Tentu saja orang-orang jadi ragu untuk mengirimkan keturunannya.”
Dan Bragi Elgo pun mengangguk-angguk menanggapinya.
“Lalu, Yang Mulia. Bagaimana dengan Zargion Elgo? Apa anda tidak akan mengirimkannya?” tanya salah satu Tetua yang berhasil mengalihkan atensi sang pemimpin untuk menatap lekat dirinya.
“Kupikir, aku akan menanyakannya terlebih dahulu.”
Senyuman tipis pun terpatri samar dari bibir sosok yang menanyakan itu pada Raja bangsa empusa.
Akan tetapi, raut santai di muka Hydragel Kers langsung hancur begitu mendengar lirihan ibunya. Pulang-pulang dia disuguhi ocehan yang tak disangka-sangka olehnya.
“Hadesia? Tidak mau! Ibu tahu sendiri kan aku seperti apa? Mengayunkan pedang saja susah, masa aku disuruh ikut pelatihan konyol begitu? Bisa-bisa aku mati muda, Bu! Tidak mau, pokoknya aku tidak mau!” kukuhnya.
Wanita yang begitu menawan rupa dan perawakannya itu hanya tersenyum sambil mengelus kepala putranya.
“Kers. Kamu tidak lupa dirimu siapa kan?” Butuh sejenak waktu bagi anak itu untuk menjawabnya. “Kers?”
“Aku anak Ibu dan sepupu Pangeran Kerajaan.”
“Benar. Dan kamu, juga akan menjadi pelindung untuk Pangeran itu. Kamu adalah pedang Revtel, Kers. Karena itu kamu harus kuat deminya. Ibu mohon ikutlah pelatihan itu, Sayang. Bagaimanapun juga, semua demi kebaikanmu.”
Tapi, wajah anak muda itu tetap saja cemberut melihat rupa Ibunya. “Demi, Revtel? Bukan demi Ibu? Lagi pula aku hidup untuk, Ibu,” lirihnya sambil memeluk wanita itu.
__ADS_1
Helaian rambut yang bak benang sutra berwarna hitam itu pun menyentuh kulit Kers saat merangkul ibunya.
“Terima kasih, Sayang. Tapi, Ibu lebih ingin kamu hidup untuk dirimu sendiri. Karena bagaimanapun juga, kamu adalah kebanggaan Ibu. Jadi Ibu mohon, Sayang. Ikutlah pelatihan itu. Jadilah anak yang kuat untuk dirimu saat Ibu tidak lagi bersamamu.”
Dan putranya pun terdiam mendengar lirihan wanita itu. Ditatap lekat Kers Ibunya, sambil tangan perlahan mengusap pipinya tanpa aba-aba.
“Ibu jangan bicara seperti itu. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan melindungi Ibu. Jadi aku mohon, jangan berbicara seolah-olah ingin meninggalkanku begitu.”
Senyuman hangat pun tercetak jelas dari Ibunya saat mendengar kalimat sendu sang putra. “Ibu berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Tapi, walaupun rangkulan dihadiahkan wanita itu pada anaknya, nyatanya ekspresinya sangatlah berbanding terbalik dengan nada suara.
Matanya berkaca-kaca, diiringi tetesan kristal bening jatuh ke baju belakang Hydragel Kers yang dipeluknya.
Entah kenapa dia terlihat sangat menyedihkan saat mendekap anak semata wayangnya.
“Apa kamu tahu?! Kudengar, adik harammu itu akan ikut ke Hadesia.”
Begitulah lirihan dari teman Pangeran pertama. Sang Pangeran merupakan anak kandung Yang Mulia Ratu Skasia. Dan raut wajahnya tampak masam saat mendengarnya.
“Lalu kenapa? Dia kan tidak ada hubungannya denganku.”
“Tapi, bukankah dia tetap adik kita? Walau Ibu membencinya, nyatanya orang-orang tahu kalau Revtel anak haram ayah,” sambung Pangeran kedua.
“Diam kau, Bodoh!” kesal Pangeran pertama akibat ocehan adiknya.
Dan Revtel yang kebetulan mendengar itu semua tak jauh dari taman Kerajaan, hanya bisa menghapus tangisan dari balik kacamata.
Sosoknya juga ingin pelukan sang ayah serta senyuman darinya.
Tapi, Raja hydra sering menghadiahinya dengan lirikan mata dingin saat berjumpa. Seolah sosoknya tak punya ikatan darah di sana.
Kakinya pun melangkah pelan menjauhi area itu. Berharap tidak tertangkap basah oleh kakak-kakaknya.
Karena bagaimanapun juga, Pangeran pertama pasti akan menghadiahkan siksa jika bertemu dengannya.
Sudah tidak terhitung berapa banyak lebam-lebam serta pesakitan yang diterima Revtel dari saudara-saudaranya.
Sampai akhirnya, langkahnya dihadang oleh Kers di ujung jalan yang tidak disadarinya.
“Kamu habis menangis?” tanya Kers dengan santainya. Di tangannya, terlihat sekeranjang anggur biru yang tampak menggoda.
“Tidak. Kamu pikir aku cengeng?”
“Iya.”
“Hah?”
“Karena itu kan kamu pakai kacamata? Kata tetanggaku, orang-orang yang matanya empat itu mudah menangis sebenarnya.”
“Kamu ibu-ibu?! Bergaul dengan tetangga.”
__ADS_1
“Tidak, aku laki-laki. Kamu mau lihat milikku?” balas Kers dengan polosnya sambil bersiap membuka celana.
“Sialan! Apa yang mau kau lakukan bodoh!” pekik Revtel melihatnya. Spontan saja tangannya menjitak Kers sehingga menggagalkan aksinya.
“Sakit sialan! Kenapa kau malah menjitakku?!”
“Seharusnya aku yang tanya! Kenapa kau mau buka celanamu?!”
“Itu karena kamu mengataiku ibu-ibu!”
“Tapi tidak harus buka celana juga bodoh!”
“Kamu yang bodoh!”
“Kamu!”
“Kamu!”
Dan akhirnya, keduanya pun saling adu pukul di sana. Tapi sebelum itu terjadi, Kers sempat-sempatnya menepikan keranjang anggurnya agar tidak menjadi korban kebrutalan pertengkaran mereka.
Tiba-tiba suara seseorang pun datang menyela seperti melerainya.
“Lihatlah si bodoh ini. Bertengkar tanpa melihat situasi. Kamu pikir, ini rumahmu?” Pangeran pertama pun melangkah mendekati mereka.
Revtel yang melihat kehadirannya pun terkesiap sekarang. Mundur perlahan dan berdiri sejajar dengan adik sepupunya.
“Ya. Ini kan memang rumah kami,” jawab Kers dengan polosnya.
“Apa kau bilang!” kaget Pangeran kedua mendengarnya. Dan kakaknya langsung merentangkan salah satu tangan agar sang adik tidak terburu-buru menyerang mereka.
Sementara Revtel yang ketakutan pun hanya bisa tertunduk saat di datangi kakaknya.
Akhirnya, Pangeran pertama berdiri tepat di hadapan mereka berdua walau hanya berjarak satu meter raganya.
“Kamu, adik sepupu si anak haram ini kan?”
“Ya,” balas Kers penuh keyakinan.
Tapi jawabannya justru mengundang tawa komplotan Pangeran pertama. Entah apa yang lucu dia masih tidak mengetahuinya.
“Kalian dengar? Dia mengakui kalau sepupunya sebagai anak haram. Bagaimana menurutmu? Keluargamu sendiri juga melabelimu seperti itu. Apa kamu tidak malu?” kekeh Pangeran pertama sambil mendekatkan wajahnya pada Revtel.
Sayangnya sang adik, hanya bisa tertunduk tanpa mampu bersuara. Revtel begitu takut membantahnya, terlebih yang di depannya adalah anak sang Ratu penguasa.
“Kenapa Revtel harus malu? Lagi pula seluruh daratan juga tahu itu. Bukankah harusnya kalian yang malu? Kalian kan juga saudaranya.”
Sontak saja raut wajah komplotan Pangeran berubah mendengar ocehan Kers.
“Kau!” geram Pangeran pertama.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa wajahmu keram? Pangeran.”
__ADS_1
Alhasil, sosok yang ditanya pun langsung memukul pipi Kers akibat tidak terima dengan perkataannya.