Death Game

Death Game
Pohon kehidupan


__ADS_3

 


Sayangnya, Raja hydra menangkap cepat tangannya lalu menyambungkan kembali seperti semula.


Begitu mudah baginya, seolah luka barusan bukan apa-apa.


“Dia—” Kuyang merasa kesal. Untungnya ia seorang penyimpang, karena jika sosok biasa, energi hitam milik Kers pasti memakan kulit dan tulangnya sampai tak bersisa.


Namun efeknya baru sekarang ia rasakan.


“Ugh!” pekiknya. “Leherku!” seakan sensasi terbakar memenuhi aliran darahnya.


“Kuyang!” Reygan juga Perseus terpekik bersamaan.


Tapi, sekedip mata mereka, leher wanita siluman itu sudah melayang ke udara. Jatuh menggelinding di dekat kaki Reygan Cottia. Suasana mendadak sunyi namun aneh pesonanya jika diperhatikan wajah Raja hydra.


Di mana dia tersenyum, karena energi gelap di tangannya lah pelaku pemenggalan dalam wujud pedang hitam. 


“Tanganku gatal. Bagaimana ini? Dia butuh hiburan,” Kers memamerkan senjata di tangan yang langsung menguap menjadi asap.


Reygan dan Perseus masih terdiam. Membeku di tempat apalagi saat menyaksikan perubahan warna di kepala Kuyang, menjadi abu-abu juga keriput sepenuhnya. Dan lambat laun di makan sesuatu seperti ingin menghabisi wujudnya.


“Siapa selanjutnya?”


“Kau Dewa keparat,” tekan Perseus tiba-tiba. Kuda-kuda penyerangan pun langsung tercipta bersamaan dengan kapak ganda yang menjadi ciri khasnya. Senjata itu pun dilayangkan untuk menggapai leher Raja hydra.


Namun bukan kapak itu yang menyentuhnya, justru pedang Reygan lah menusuk dadanya. Dan batuk pun sekilas tercipta bersamaan dengan darah tersembur di mulut sang Raja.


“Kers!” kaget Beltelgeuse melihatnya.


“Kubunuh kau!” geram Reygan padanya. Bersamaan dengan pedang putihnya mengeluarkan desiran tak biasa.


Kers pun tak bergerak karena menyaksikan senjata yang tertancap di dada.


“Reygan!” teriak Perseus.


Sang penyimpang tersentak dan langsung menjauh sehingga tusukan pedangnya terlepas dari musuhnya. Mengingat beberapa ekor magma bermunculan untuk terus mengejarnya.


“Sudah selesai? Aku lelah menunggu,” ucap Kers. Luka di tubuhnya mendadak langsung sembuh begitu saja.


Tapi, sosok yang ditanya tidak menjawabnya. Karena dia, sedang memeluk kakaknya dalam tubuh Megalodon.


Ya, Aza dan juga Laravell.


Tapi anehnya, tubuh petinggi empusa memiliki tiga belas pisau menancap punggungnya. Dan air mata berjatuhan ke pipi mewakilkan perasaan.


“Aza,” panggil Laravell membalas pelukannya.


“Aku merindukanmu—” selesai mengatakan itu, mata sang petinggi memerah sepenuhnya. Retak memamerkan bara, dan pisau-pisau tertelan ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


“Awas!” Trempusa memperingatkan.


Dan tanpa disangka, kobaran ekor magma menggila di hadapan mereka. Akibat kutukan terlarang Reygan masih ada di dalam tubuhnya.


“Perutku!” erang Xavier karena terkena serangan. Andai Trempusa tidak menariknya, bisa dipastikan organ-organnya pasti melebur menjadi magma.


Di satu sisi Blerda juga berhasil menyelamatkan Laravell. Tapi, akibatnya mantra yang ia gunakan pada elftraz dan phoenix pun terputus sekarang. Sehingga penyembuhan jangka panjang terhentikan.


Dan Reve akhirnya bisa bergerak secara perlahan.


“Kau harus diobati?” lirih Ratu siren. Mengingat lengan dan dada Laravell, meleleh akibat serangan adiknya.  


Sementara di dekat Aza yang kembali mengamuk, sudah ada tiga Dewa. Namun Kers menghadap ke arah yang berbeda. Di mana matanya masih berpandangan dengan Reygan.


“Aku sudah tahu, jika kalian tidak akan bisa berbuat banyak. Tapi karena kau telah membunuh Kuyang, hukumanmu di dunia pasti akan diperpanjang. Kau benar-benar sudah membuang harapan untuk kembali ke kayangan,” Perseus berujar.


Kers pun menoleh kepadanya. Diiringi pekikan Aza yang terus-terusan menyerang dua Dewa.


“Ini gila. Padahal aku Dewa, tapi aku tak bisa membunuhnya karena kutukan penyakitnya. Kita harus bagaimana?” Ares sedang berlindung dalam sebuah perisai putih miliknya. Begitu pula Lascarzio, ia memiliki tameng serupa. Mereka berdua, menjadi bulan-bulanan Aza. “Kalau kita membunu—”


“Apa kau ingin memusnahkan bangsa-bangsa?” tanya Lascarzio. “Jika itu terjadi, pihak kayangan pasti akan turun tangan. Jangan lupa kalau mereka masih belum memaafkan kita.”


Ares pun mendengus sebal. Diliriknya Kers yang masih belum melakukan apa-apa.


“Apophis. Kau lagi-lagi melanggar perjanjian. Karena hukumanmu pasti akan diperpanjang, bagaimana jika dirimu saja yang menghabisi mereka? Jadi kita tak perlu melanjutkan pertarungan,” seolah tak ada beban dalam ucapan Ares.


Namun sang pemilik firasat tertinggi di sana, merasakan hal tak terduga. Tangannya mencengkeram tanah dan menatap lekat genggamannya.


“Apa yang kau lihat?” Sif Valhalla menyadarinya.


Sementara di tempat berbeda, “tanah berteriak,” Horusca melirik ke sebuah pohon yang tak jauh dari sana.


“Apa maksudmu?” bingung Arigan Arentio.


Cley Vortha yang juga bersamanya, menatap ke langit-langit. Entah apa yang dilihat, namun embusan angin mulai kasar.


“Tarik mundur orang-orang,” ucap Kers tiba-tiba. Ares juga Lascarzio mengernyitkan dahinya. “Menghindar!” teriaknya.


Tapi terlambat, karena dua Dewa dalam perisai putih itu terkesiap akan serangan tak terduga. Di mana kaki mereka ditusuk duri magma dari dalam tanah. Erangan kecil pun sama-sama terlempar di mulutnya.


“Near,” Reve menatap lekat sosoknya.


“Mundur!” perintah Kers yang berbalik tiba-tiba. Tentunya menyentak orang-orang yang masih berada di sana.


“Apa maksudnya?” bingung Laraquel.


“Kita harus pergi,” Beltelgeuse bersuara. Iramanya terdengar bergetar di telinga. Dan membuat Aegayon Cottia menatap tajam padanya.


“Orion.”

__ADS_1


“Firasat ini, aku merasakan bisikan kematian,” paniknya. “Kita harus pergi. Kita harus pergi!” histerisnya.


Para saudara seperjanjian yang berjarak darinya, dibuat syok oleh ucapannya. Karena mereka tak pernah sekalipun melihat Beltelgeuse Orion seperti sekarang.


“Jangan bilang—” Blerda menoleh ke sekitar.


“Lascarzio!” Kers mengingatkan.


Bersamaan dengan itu, guntur pun menyambar kawasan. Membuat beberapa orang terpekik akan dampak mengerikannya di kejauhan. Di mana sebuah bukit di pinggiran kawasan gyges lenyap dari pandangan.


Dan untungnya, Dewa Seth itu refleks mengeluarkan perisai raksasa untuk melindungi mereka. Tapi sialnya, dua penyimpang juga berada dalam jangkauan.


“Akhirnya, beliau akn segera datang,” seringai Reygan.


Kers terlihat menggigit bibir bawahnya. Di mana tatapannya masih mengarah pada Revtel yang pingsan.


“A-apa itu?” bingung Toz saat melihat sesuatu bergerak dari dalam tanah. Seperti tanaman namun juga mirip cacing kepanasan. Dan tanpa aba-aba langsung menusuk Doxia Mero.


“Apa ini?” ia melirik heran. 


Tapi sekejap mata, sosoknya berubah mengerikan. Hampir menyerupai tengkorak hidup namun sudah tewas mengenaskan.


“D-Doxia?” syok Rexcel melihatnya.


Tiba-tiba pekikan Toz pun memecah suasana. Dan kelantangannya sungguh menggemparkan setiap pasang mata.


“Tuan Doxia!” panik Riz melihatnya. Sontak ia sentuh pria itu, namun tangannya mendadak keriput. “Agh!” jeritnya. “T-tanganku,” syoknya.


Tak disangka-sangka, benda aneh yang tadi membunuh Doxia pun muncul kembali mengelilingi mereka.


“Gawat! I-ini!” Arigan terbelalak dibuatnya.


Dan bunyi tebasan pun muncul di tengah-tengah suasana. Di mana sang Raja pemakan anggurlah yang hadir di sana.


“Kers!” senang Arigan akan kedatangannya.


“Pergi dari sini!” suruhnya tiba-tiba.


“Apa!”


“Aku tak bisa melindungi kalian, karena ini Yggdrasil!” 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2