
Hari keempat. Tinggal sehari lagi untuk menuju pertemuan. Tokoh-tokoh terhormat dari bangsa lain sudah datang. Tentu saja beberapa saling berbaur agar bisa lebih akrab.
Tapi nyatanya, ada dua sosok yang menghilang sejak pertemuan terakhir dengan kelompok chimera ataupun Logan Centrio. Dan itu membuat Heksar jadi jengkel karena tak bisa menemuinya.
“Pertemuan? Aku jadi takut jika kita ketahuan,” sahut Toz tiba-tiba. Karena dirinya masih tak menyangka jika petinggi-petinggi yang ditemuinya di kawasan bukit Kristal juga akan berada di sini.
“Tenang saja. Kata Tuan Aza kita akan baik-baik saja jika tetap bersembunyi,” Riz menenangkannya.
Dan Reve yang mendengar itu semua, memilih mendekati Hydragel Kers. Tampak olehnya sang Raja hydra lagi-lagi sibuk memakan anggurnya. Sungguh dirinya tidak bosan dengan keanggunan buah tersebut dalam memenuhi mulutnya.
Kers menoleh padanya, tapi saat akan bersuara, “jangan mengoceh dengan mulut seperti itu. Near membencinya,” Reve menyelanya terlebih dahulu. Tentu saja Raja bangsa ular memasang tampang jengkel, namun pipi bengkaknya malah membuatnya terkesan lucu.
“Mau apa kau, bocah?”
“Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
Kers pun menjarakkan keranjang anggurnya, agar kepala Near sang ular yang mencoba mendekati anggurnya tak lagi mengenduskan hidungnya. Benar-benar ular tak tahu diri di menurutnya.
“Kenapa biarkan aku berkeliaran dengan bebas?” lanjut Reve mengeluarkan pertanyaannya.
“Hah?”
“Kau tahu jika aku sudah membunuh salah satu hydra yang menimbulkan kegemparan di bangsamu. Dan kau juga tahu, apa tujuanku. Kenapa kau tetap membiarkan itu?”
“Reygan Cottia?”
Reve Nel Keres tak bersuara. Kecuali netranya, menatap lekat rupa Raja hydra. Kers terlihat begitu santai di matanya. Benar-benar mencurigakan untuk seseorang yang menyandang status penguasa.
“Hm, lagi pula kenapa aku harus peduli? Setiap yang bernyawa pasti mati. Itu salah Cotra karena dia bisa tewas di tangan bocah ingusan sepertimu. Revtel saja yang terlalu membesar-besarkan masalah. Yah ... dia kan memang begitu.”
Benar-benar aneh dan mencurigakan. Tidakkah sosoknya terlalu acuh sebagai Raja? Reve merasa heran dengan cara berpikirnya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Kau merasa aneh dengan ucapanku? Lagi pula, apa pun urusanmu di dunia ini tak ada hubungannya denganku. Mau kau membangkitkan Reygan, setan ataupun iblis dunia bawah aku tak peduli. Lakukan saja sesukamu,” lanjutnya dengan santainya.
Bahkan tangannya terulur pada keranjang anggur yang tadi dijarakkan. Mengambil satu dan memakannya dengan lahapnya.
“Kau, apa kau benar-benar Raja hydra?”
__ADS_1
“Tentu saja. Apa kau masih tidak tahu siapa namaku? Aku Hydragel Kers. Raja bangsa hydra yang tampan dan terhormat. Seharusnya orang-orang sepertimu bersujud di kakiku.”
Dia mengoceh, namun tangannya masih tak henti-hentinya memasukkan anggur yang satu persatu ditelan habis mulutnya.
“Terserahlah. Aku hanya tak menyangka kalau orang kacau sepertimu yang menjadi Raja.”
“Apa maksudmu bocah?”
“Sepertinya, walaupun bangsamu dilanda kehancuran kau akan tetap duduk manis dengan anggur-anggur di tangan,” ledek Reve akhirnya.
“Tentu saja. Kenapa aku harus bersusah payah jika punya bawahan yang hebat? Justru bagus jika Reygan bangkit. Maka aku akan punya kesempatan besar, untuk melihat wajah-wajah para legenda yang sudah menjadi hantu di Guide ini.”
“Kau—”
“Aegayon Cottia, bangsa naga dan juga tradio. Mereka pasti akan muncul jika itu sampai terjadi.”
Sungguh tak disangka, di balik tampang kelaparannya, tersirat hasrat yang tak biasa. Walau penampilannya seperti itu, Reve bisa memperkirakan kalau Kers sebenarnya laki-laki ambisius.
Memang harus diakui, kalau sosok-sosok yang menjadi Raja di masing-masing bangsa adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Karena bagaimanapun juga, Near selalu gemetaran di dekatnya walaupun sang ular mencoba mendekati anggurnya.
Pertanda kalau siapa pun yang membuat sang ular ketakutan, berarti memiliki kemampuan tidak biasa. Reve pun memilih pergi dari sana dan diikuti senyum tipis oleh Kers di belakangnya.
“Kers!” pekik Aza tiba-tiba.
“Apa?”
“Dia datang.”
Seketika bibir Raja hydra membulat dan menjatuhkan anggur dari dalam mulut yang menganga untuk kembali ke keranjang.
“Agh! Menjijikan,” pekik Doxia kaget melihat penampakan itu.
“Dia benar-benar datang? Gawat! Aku harus kembali ke kamar!” Kers pun langsung lari terbirit-birit dari sana. Bahkan ia juga membawa keranjang anggurnya bersamanya, dan hal itu mengundang tatapan aneh orang-orang di dalam ruangan.
“Ada apa dengan Yang Mulia Kers?”
“Revtel, sudah tiba,” jawab Aza.
__ADS_1
Sontak saja para pendengar yang tahu seperti apa rumor Wakil Raja hydra melotot dibuatnya.
“K-kenapa kalian berekspresi seperti itu?” Toz jadi bingung melihatnya.
“Mimpi buruk sudah tiba,” sela Horusca.
“Mimpi buruk?” Riz menatap tak percaya akan ucapan pemuda berambut merah.
“Memangnya dia seperti apa sampai kau menyebutnya begitu?” Reve ikut menimpali. Karena bagaimanapun juga, dia hanya mendengar rumor angin tentang Revtel yang lebih punya nama dibanding Raja hydra. Cuma itu.
Tapi tiba-tiba, Horusca mengangkat tangannya dan menunjuk seseorang yang tak disangka-sangka. “Jika ingin tahu dia seperti apa, lihat saja responsnya. Maka kalian akan tahu maksud dari ucapanku,” selesai mengatakan itu Horusca pun berlalu menuju sofa dan merebahkan diri di sana.
Tentu saja tiga remaja laki-laki yang bertanya tetap menatap bingung ke arah seseorang.
Aza Ergo.
Dialah yang tadi ditunjuk Horuca. Dirinya terlihat panik, berjalan bolak-balik ataupun sesekali duduk dalam keadaan tak tenang. Entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai menggigit kuku jempol kanannya.
Sepertinya, mereka jadi paham kenapa sosok Revtel disebut sebagai mimpi buruk. Karena bagaimanapun juga, sangat aneh melihat petinggi menyebalkan milik empusa bersikap begitu hanya karena kedatangannya.
“Yang Mulia, Tuan Revtel dari bangsa hydra, telah tiba di istana,” lapor Otama pada Blerda Sirena.
Gadis yang sibuk memandangi lukisan di luar balkonnya, menoleh tenang pada wanita di belakang. “Perintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar di istana tengah.”
“Apa tak masalah Yang Mulia? Raja Kers ada di sayap kanan.”
“Lakukan saja. Dan jangan katakan apa pun tentang semua yang ada di area sini. Termasuk mereka yang dibawa Kers dan Aza.”
“Baik Yang Mulia,” patuh Otama. Dia pun segera pergi melaksanakan perintah atasannya.
Dan Blerda, mengambil sesuatu di atas rambutnya. Sebuah bunga sakura, hiasan di mahkota kepalanya, dijatuhkan ke bawah agar terbang mengudara di depan mata. Penglihatannya mendingin begitu saja.
“Tak kusangka penginapan kita akan dipisahkan dari Yang Mulia Kers. Apa semua akan baik-baik saja?” Libra Septor berbicara. Dirinya mengikuti langkah Hea dan Revtel di depannya.
“Bagaimana kalau kita temui saja? Dirinya pasti senang melihat kita,” Hea tampak semringah. Namun berbeda dengan Wakil Raja, sosoknya jelas-jelas menyiratkan tampang tak peduli dalam langkahnya.
Jujur Otama yang menuntun mereka sudah berkeringat dingin karena jalan duluan di depan Revtel. Serasa tulangnya membeku berharap kalau ini cepat berlalu.
__ADS_1