
“Darah? Untuk apa?” tanya Aza dengan tatapan penuh selidik.
Tentunya di balas seringai tipis oleh sosok Dokter di depannya. Perlahan dirinya mengangkat tangan sebagai tanda mempersilakan petinggi itu untuk duduk di sofa.
“Setuju atau tidak?”
Aza Ergo tidak mengatakan apa-apa. Dirinya memilih diam dengan sorot mata menekan. Ini dunia Guide, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan darah bukanlah sesuatu kebaikan.
Bisa saja orang di depannya merencanakan hal buruk dengan darah mereka.
“Kau ragu. Aku takkan macam-macam, kecuali menjadikannya bahan eksperimen.”
“Karena itulah kau mencurigakan.”
Dokter Cley pun terkekeh. Tawanya yang pelan pun kian mengeras. Aza terusik dan menoleh ke sekitar. Tersadar kalau ternyata ruangan ini kedap suara.
“Jangan gugup begitu, bocah. Aku takkan macam-macam padamu,” seringainya.
Jujur saja, Aza tidak takut kepadanya. Hanya saja sosok di hadapan memancarkan keanehan. Sekilas auranya seperti Lascarzio Hybrida, di mana menyeruakkan sensasi tenang yang tidak menyamankan. Namun di satu sisi ada tekanan, seolah hawa tenang namun memendam lubang hitam.
Serupa Blerda yang diam-diam menghanyutkan.
“Kau sedang memikirkan diriku,” kekeh laki-laki itu.
Tampang berkerut pun langsung terlukis di wajah petinggi empusa. Merasa jengah dengan kalimat ambigu yang dipancarkan sosok di depannya.
“Kunci Reygan.”
“Apa itu berarti kau menyetujuinya?”
“Ya.”
Senyum pun berkibar dari sang pendengar. “Tenang saja. Aku hanya ingin memakai darah kalian sebagai eksperimen. Jadi jangan cemas tentang mantra terlarang para tradio.”
Tersentak. Aza memandang tak suka. Bagaimana bisa orang ini mengetahui apa yang ia pikirkan? Kalau dirinya sedang mengira-ngira sang Dokter bisa saja menyerahkan darah itu pada bangsa tradio.
Di mana keluarga pemakai sumpah terlarang itu bisa melakukan kutukan lewat cairan merah yang di dapatkan.
Perlahan, senyum hangat pun terpancar dari sang petinggi muda. “Apa kau bisa baca pikiran?”
“Aku bisa membaca raut wajahmu.”
Mendengar itu Aza pun menyentuh mukanya. Membuat sang Dokter tertawa puas melihat kepolosannya. Dan untaian kata tak terduga pun terlontar di mulutnya.
“Iselkia Redas Lobos (Memanggil dalam kenistaan)”
__ADS_1
Aza tersentak dan menurunkan tangannya. Di sela-sela kalimat itu tersirat senyuman Dokter Cley yang berbicara.
“Regaria Redas Ragidos (Menyentuh dalam ketiadaan)”
“Yerka Redas Arginos (Menusuk dalam keheningan)”
“Barcaria Redas Mardobos (Membutakan dalam penglihatan)”
“Firezakia Redas Phoenoros (Membakar dalam kehampaan)”
“Marzikara Redas faktronos (Membisikkan dalam kenyataan)”
“Izaria Neras Armera (Memanggil sang penjara)”
“Exdoza vailhera nad tearzaria (Dengan keringat dan air mata)”
“Agua bleedya nad soulkazia (Juga darah dan jiwa)”
“Thretaria cradya keysavana (tiga belas ahli kunci)”
“Ovena roomara ensa levarian (Membuka ruang yang bernyawa)
“Eathera nas damonea redas hugarebas (Menelan sang pendosa dalam pelukannya)
“Itu—”
“Abteriov (terbukalah)” lanjut Dokter Cley sambil menaik turunkan alisnya.
Tentunya bocah magma itu menyipitkan matanya. Karena masih tak percaya kalau sosok di depan mata tahu tiga belas mantra kunci yang mengikat Reygan Cottia.
“Terima kasihmu mana?” sela orang gila itu.
Aza masih tidak melirihkan apa-apa. Tentunya sang Dokter terkekeh sambil menyisir rambutnya ke belakang. Dan sialnya sensasinya seperti perpaduan Blerda, Kers, juga Lascarzio secara bersamaan.
Benar-benar membuat petinggi muda itu tidak nyaman.
“Mana terima kasihmu, Aza Ergo.” Sekarang nada suaranya menekan. Menimbulkan guratan lebar di bibir Aza yang semringah. Tak jelas apa makna ekspresinya yang jelas menyebalkan. Dan sang Dokter memiringkan kepalanya. “Kau butuh didikan? Bocah magma.”
“Terima kasih, Dokter Vortha,” balasnya dengan senyuman. Wajahnya memancarkan rupa bahagia. “Aku pasti akan membayar hutangku,” kekeh Aza lalu berdiri dari duduknya.
Tentu saja sang Dokter melirik tenang ke arahnya.
“Tanah para Kaspera,” lirihnya tiba-tiba dan menghentikan langkah Aza. “Kalian akan mati begitu penjara itu terbuka, jadi pastikan bayar hutangmu dulu sebelum meregang nyawa.”
Petinggi muda itu pun menyipitkan matanya. Entah kenapa ia hanya memandang diam saja.
__ADS_1
“Sekarang pergilah,” usir Dokter itu tanpa basa-basi.
Dan Aza pun menurutinya. Pergi dari sana namun langkahnya sekarang terdiam di depan pintu kamar rekan Ragraph Revos itu.
Tak tahu kenapa, ia memang senang telah mendapatkan kunci sang penyimpang berbahaya. Namun masih ada yang mengusik hatinya.
Kenapa orang gila itu dengan mudahnya menyemburkan kunci yang dijaga leluhurnya? Aza tidak bodoh, instingnya berbicara kalau Dokter tersebut tidak menipunya.
Tapi sensasi aneh ini apa?
Elftraz (penyembuh) dari bangsa yang sudah sama-sama punah dengan makhluk tanah biru itu memancarkan sensasi tak biasa.
Rasanya tak dapat dilukiskan dan benar-benar tidak menyamankan. Dan tanpa keraguan sang petinggi berbalik lalu membuka pintu tanpa aba-aba.
“Kau!” pekiknya tiba-tiba. Karena keadaan di dalam ruangan sangatlah berbeda. Seperti hutan namun memancarkan kemewahan. Dari aroma lily pekat namun juga menakutkan. “Apa ini?” dirinya kembali masuk ke dalam.
Sang Dokter yang masih duduk di sofa, menoleh ke belakang. Berdiri dari duduknya dan mengangkat tangan.
“Kenapa kau kembali lagi, Nak? Masih ada yang kau butuhkan?”
Terkesiap. Aza terbungkam. Karena sebuah ranting menyeruak dari dadanya. Membuat sudut bibirnya meneteskan darah tiba-tiba tanpa di sadarinya.
“Siapa kau?” tanya Aza tanpa peduli kondisinya. Ranting di badan jelas menyakitkan. Seperti disayat dengan kejam.
“Kau benar-benar tidak punya sopan santun. Bukankah sudah kukatakan? Kalau aku Dokter Cley yang jenius.”
“Kau tidak memancarkan energi apa-apa. Kau di level berapa?” tanya Aza tanpa basa-basi.
Sang Dokter yang ditanyai pun perlahan mendekat. “Lalu bagaimana denganmu? Kau ada di level berapa? Bocah sekarat dengan dua jiwa.”
Aza tidak menanggapinya. Ia tak peduli dan mulai menyipitkan mata.
Dan Dokter gila itu pun menyentuh dagu Aza untuk menghapus darah yang mengalir di sana. “Kau sangat cocok jadi bahan eksperimenku. Anak muda,” ia menarik tangannya lalu memperhatikan dengan lekat bekas darah yang tadi dipegangnya. “Dua jiwa, sekarat, dan aroma tubuh yang bercampur di dalamnya. Ada segel naga dan tradio yang menguncimu. Mau dicari ke mana lagi bahan luar biasa sepertimu? Kau pasti berbahaya jika sampai diperlakukan seperti itu.”
Tak dapat di hentikan. Ekor magma Aza muncul tiba-tiba. Bersamaan dengan melelehnya ranting di badan menjadi magma. Seperti lima jari yang hendak mencengkeram sosoknya dan sang Dokter di depan mata.
Begitulah penampakan ekor magma Aza yang siap menghujam keduanya.
“Apa kau ingin membunuhku? Bocah.”
Perlahan, ekor magma itu semakin menjulang tinggi. Tampaknya apa yang ditanyakan mungkin saja akan terjadi.
Namun sebuah suara menyentak keduanya. Dan mereka sama-sama menoleh ke arah pintu di mana di balik sana terdapat sumbernya.
__ADS_1