Death Game

Death Game
Gerbang Toz Nidiel


__ADS_3

“Setaaaaan! Siapa pun tolong akuuu! Di sini ada setaaaan!” pekik Toz sejadi-jadinya. Larinya bahkan hampir meniru atlet profesional.


“Buaagh!” suara tubuhnya menabrak sesuatu.


“Uugh! Sakit! A-apa itu?” ia pun mengangkat wajahnya. “Se-se-se-” Toz menutup mulutnya.


“Ucapkan mantramu, ucapkan nyanyianmu. Gerbang sudah terbuka, gerbang sudah terbuka,” lirih makhluk yang dipanggil setan itu. Toz yang sedang menangis panik langsung sadar dengan ucapan makhluk itu.


“Mmm? Setelah kulihat-lihat, sepertinya anda tak begitu mengerikan. Sebelas dua belas angkernya dengan bangsa kurcaci,” lirihnya.


“Gerbang sudah terbuka, waktunya sudah tiba, ucapkan nyanyianmu.”


“Gerbang? Gerbang apa? Lagi pula aku tak punya nyanyi-” Toz terdiam saat menyadari sesuatu. “Apa itu nyanyian kurcaci tua yang kudengar? Tadi anda juga menyanyikannya,” ucap Toz menerawang.


“Gerbangmu sudah terbuka, waktunya sudah tiba, ucapkan nyanyianmu, ucapkan nyanyianmu.”


“Baiklah, jika ada yang salah tolong dimaklumi ya,” tanggap Toz dengan santai.


“Ini adalah nyanyian, kisah mereka yang berjanji. Sekuntum lily menyambut darah, kata saling terikat, tatapan saling berpindah, tangan saling berkait.” 


“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang pernah mengucapkan. Biru yang dibawa, hijau yang diganti, putih yang dimakan, merah yang dikeluarkan.”


“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang menanti. Tangan yang terulur, buah dewa yang diperlihatkan, pijakan yang disediakan, semua yang ditawarkan, nyawa yang dibayarkan.”


“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang memberi. Cahaya yang diturunkan, silau yang membutakan, suara yang dirindukan, belaian yang menghangatkan, kegelapan yang dipersembahkan.”


“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang mati. Tangan yang diangkat, suara yang menggertak, darah yang berserak, kutukan yang dilepas, lantunan doa terlarang.”


 “Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang berlari. Napas yang memburu, tawa yang menari, amarah yang bersembunyi, kegilaan yang menyelimuti, langkah kematian di sini,” Toz selesai mengucapkan nyanyian yang pernah diucapkan kurcaci tua.


“Bagaimana? Ada yang salah? Rasanya aku mengatakannya dengan benar. Ingatanku memang luar biasa, tidak heran aku selalu masuk sepuluh besar di sekolah,” sahutnya bangga.


Makhluk berkulit merah mengerikan dan berambut panjang itu tak lagi bersuara, kecuali menjulurkan tangan ke depan.


“Mmm? Ingin berjabat tangan denganku?” lirih Toz bingung, ia juga ikut mengangkat tangan. Akan tetapi, tiba-tiba ada sesuatu yang memakannya dari belakang.


“Sialan! Apa-apaan lelucon ini?” oceh Toz berputar sambil mencoba meraba-raba kegelapan.


“Buka matamu.”


“Hah? Buka mata? Mataku kan-” Toz terdiam. Ia tak sadar kalau matanya tertutup. Dan sekarang, begitu mata terbuka ada tempat aneh di depannya.


Sebuah lapangan dengan begitu banyak pemakaman di sana. Ada anak kecil yang tersedu-sedu di salah satu makam. Dan beberapa orang membawa sebuah peti mati sambil diiringi isak tangis memecah keadaan. Di tempat yang tak jauh, tampak seorang nenek tua memakai tongkat hanya diam menatap iringan di depan.


Toz terdiam. Berdiri seperti orang asing yang tak diacuhkan. Tangisan begitu meraung-raung masuk ke telinga namun tak mengusik pandangan. Anehnya, langit sore mendung itu meneteskan salju namun tak berasa dingin olehnya.


“Di mana ini? Seingatku tadi sedang bersama dengan makhluk berambut itu. Apa yang-” Toz menyadari sesuatu. “Bukankah tadi aku sedang bersama yang lainnya? Kenapa aku bisa lupa? Mereka ada di mana?!” Toz mengedarkan pandangan berkeliling.


Tiba-tiba, tampak olehnya sesosok manusia berambut panjang dengan sebelah muka yang hancur akibat luka bakar. Jubah merah darahnya terlalu mencolok untuk suasana pelik itu. Toz memiringkan wajah. Ia terdiam, karena bingung oleh pandangan orang itu yang terarah padanya.


“Apa kamu percaya pada dewa?”


Toz mengernyitkan dahi bingung. Merasa tidak yakin apakah pertanyaan diarahkan padanya. Toz pun menoleh ke sekeliling dan hanya dirinya yang berada di dekat orang itu. “Anda bertanya pada saya Tuan?”


“Apa kamu percaya pada dewa?”


Toz terdiam sejenak. “Entahlah. Kalau anda, apa anda percaya pada dewa?”


Orang itu tersenyum, mengambil kelopak bunga lily yang ada di tanah. Toz kaget, ia baru menyadari kalau area pemakaman itu dihiasi bunga liliy yang berserakan.


“Apa kamu percaya pada dewa?” orang itu menjatuhkan kelopak bunga lily di tangan.

__ADS_1


Toz merasa aneh karena ditanyai pertanyaan yang sama. “Aku tak pernah melihat dewa. Jadi, jawabannya entahlah.”


“Apa kamu percaya pada dewa?”


Toz merasa sedikit jengkel. Tapi ia tak ingin mengoceh aneh di tempat yang asing. Mentalnya saat pertama kali terdampar dan menjalani kehidupan di dunia Guide, membuatnya mulai terbiasa.


“Percaya,” jawab Toz akhirnya. 


“Apa yang kamu percaya darinya?”


Toz mengeluarkan tatapan aneh. “Aku percaya kalau dewa sedang melihat segalanya.”


Orang itu masih tetap mengukir senyum. “Apa kamu percaya kematian?”


“Aku percaya kalau aku akan mati,” Toz berjalan mendekatinya.


“Apakah dunia ini sudah salah?”


Toz semakin bingung ditodong berbagai pertanyaan yang terasa aneh dan tak masuk akal. “Jika dunia sudah salah, maka tugas kita untuk memperbaikinya. Kalau tidak, apa gunanya kita hidup di dunia ini? Dan juga, kenapa anda bertanya seperti itu?” sekarang Toz berdiri tepat di hadapannya.


“Dewa melihat segalanya,” tukas orang itu. Dan seketika, teriakan serta tangisan saling sahut-menyahut keras mengganggu suasananya. Toz mendelik kaget menatap sekeliling. Peti mati yang tadi dikubur sudah tertanam. Nisan sudah berdiri kokoh, bunga baru ditabur, namun tangisan tak biasa seperti kerasukan meneriaki keadaan.


“Ada apa dengan mereka?” Toz merasa ada yang tidak beres, terlebih langit sore yang menggelap mengeluarkan aura mencekam.


“Kematian yang tidak bisa diterima, akan mendatangkan tangisan dari pemiliknya. Entah mereka akan bahagia atau sengsara. Mata terlalu polos untuk bisa melihat segalanya, karena itu dewa kadang tertawa melihat keadaan di depannya.”


Kalimatnya seperti menusuk batin Toz. Ia berbalik, menatap kembali orang yang berbicara. “Siapa anda sebenarnya? Dari tadi berbicara hal-hal yang tidak masuk akal.”


“Saat ada yang salah, terkadang dunia lebih memilih menutup mata daripada menegurnya. Bahkan jika itu menyakitkan dan mengorbankan keadaan, tetapi diam tetaplah jawaban terbaik untuk semuanya. Jadi, apakah kamu juga begitu?”


“Hah? Aku?” Toz menunjuk dirinya. “Apakah anda sedang bertanya padaku? Padahal dari tadi rasanya seperti sedang berceramah,” ledek Toz.


Orang itu tak menanggapi, kecuali melebarkan senyum di wajahnya yang tampak tak biasa. Toz memanyunkan bibir karena diabaikan. “Jadi, apa yang sebenarnya ingin anda katakan? Aku benar-benar tidak paham.”


“Jadi, apakah kamu juga begitu?” kalimat tersebut kembali terulang dan bisa terdengar jelas oleh Toz. Ia tak peduli dan memilih membantu nenek di depannya.


“Nek! Anda tidak apa-apa? Ada yang sakit?” tanya Toz membantu memapahnya.


“Apakah kamu juga begitu?”


“Hah?” Toz kaget karena kalimat yang sama juga terlontar di mulut nenek itu. “Aku tidak tahu! Tapi ayo ke tepi dulu, aku akan membantu anda,” ucap Toz memapahnya ke tempat peristirahatan di pinggiran. Sementara tangisan ataupun suasana aneh di sekeliling tak ia pedulikan, baginya yang terpenting adalah membantu orang tua kesusahan.


“Mmm?” Toz merasa ada yang aneh saat membantu nenek itu duduk di pinggiran. Tangannya terasa basah, bahkan mengeluarkan bau anyir. “Apa ini?” Toz mengangkat tangan bekas menyentuh sang wanita tua.


“Da-darah?!” pekiknya kaget lalu berpaling pada nenek yang tiba-tiba sudah tak ada di sampingnya.


“Ini menyakitkan. Bantu aku, biarkan aku mati dengan tenang,” ucap nenek itu di belakangnya. Toz segera menoleh, dan matanya terbelalak kaget begitu mendapati pemandangan mengerikan.


“A-a-apa yang terjadi?!” Toz mundur dengan badan gemetar takut melihat tubuh nenek tersebut penuh sayatan menganga yang mengalirkan darah. Bahkan setiap ia berbicara darah menyembur terus dari mulutnya, membuat Toz ingin muntah dengan bau anyir dan busuk dari wanita itu.   


Sang nenek pun mengulurkan tangan ke arah Toz hendak menggapainya. “Jangan sentuh aku! Pergi!” teriak Toz panik.


Mulut yang menyemburkan darah itu perlahan menyeringai. Hendak membelah dua, wajah tua yang mengerikan di depan mata. “Tolong aku. Ini sangat menyakitkan. Siapa pun bantu aku,” ucap nenek itu mendekati Toz yang semakin mundur langkahnya.


“Jangan mendekat!” pekik Toz mundur tergesa-gesa.


“Apa kamu juga begitu?”


“Gyaaaa!” teriak Toz saat suara di belakang mengagetkannya dan sebuah tangan mencekik lehernya.


“Apa kamu juga begitu?” tanya seorang wanita cantik berambut pirang. Cekikannya pada leher Toz, membuat pemuda itu terangkat dan menendang-nendang kasar udara.

__ADS_1


“L-lepaskan aku!” Toz mencengkeram erat lengan wanita itu, bahkan matanya bergidik ngeri menangkap pemandangan di mana mulut dan hidung wanita itu juga mengalirkan darah.


“T-to-long, sia-pa pun tolong aku ...” lirih sang pemuda terbata-bata.


Matanya menyorot sosok yang mungkin saja bisa membantu. Akan tetapi, ketika tatapannya beradu dengan pria yang tadi berbicara padanya, orang itu tersenyum. Di belakangnya bahkan terdapat dua anjing sejenis doberman yang hitam pekat. Air liur dari balik taring mirip gergaji menetes di sana, namun tak mampu mengundang rasa jijik Toz mengingat situasi peliknya.


“Jadi, apa kamu juga begitu?” ucap pria itu kembali. Sekarang, ia dan anjing-anjingnya berdiri tepat di samping wanita yang mencekik lehernya. Tubuh Toz semakin lama semakin lunglai dibuatnya. Tenaga untuk meronta atau bersuara seolah menguap di badan, tapi gerakan sorot matanya menyiratkan sesuatu. Sebuah arti dari perlakuan tak masuk akal mereka.


“Jadi, apa kamu juga begitu?” lanjut wanita itu mengucapkan hal yang sama kembali.


Tatapan Toz perlahan sayu, mulai tertutup kelopaknya, berharap semua cuma mimpi dan ia akan baik-baik saja.


“Jadi, apa kamu juga begitu?” sela seseorang tiba-tiba menyadarkan dirinya. Toz spontan terperanjat dan bangun dari tidurnya.


“I-ini!” ia tak menyangka dengan pemandangan di depan mata. Sekarang, dirinya tak lagi berada di bawah langit sore bersalju di pemakaman, melainkan di sebuah aula besar dengan lima patung aneh di dalamnya. Kelima patung yang masing-masing bagian dadanya melukiskan lambang dari kelima cincin kemampuan. Sebuah tempat yang pernah didatangi Riz Alea. Namun, keadaan patung-patung itu sekarang sudah berbeda.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya sebuah suara tiba-tiba.


Toz berbalik menatapnya dengan pandangan menganga. “Anda!” Di depannya, pria yang tadi berada di pemakaman bersama dua ekor anjing doberman sekarang berdiri angkuh. “Di mana ini?! Siapa anda sebenarnya?!” 


“Lihatlah, berkah para dewa di sekelilingmu. Bukankah ini begitu indah?”


Ekspresi Toz semakin jengkel karena pertanyaannya diabaikan. “Hei Tuan! Apa anda tak bisa menjawab pertanyaanku dengan benar? Dari tadi selalu saja tak diacuhkan,” kicau Toz kesal. Ia bahkan menghentak-hentakan pijakan.


“Jika kamu diberi pilihan, patung mana yang akan kamu pilih?”


Raut wajah Toz semakin jengkel. Tapi akhirnya ia menghela napas pelan. “Sepertinya anda tak berniat menjawab pertanyaanku.” Dirinya pun menunjuk salah satu patung.


“Kenapa kamu memilih merlindia? (penyihir?)”


“Hah? Merlindia? (Penyihir?)” Toz melirik kembali ke arah jari yang terangkat. Dirinya tersadar kalau ia menunjuk patung berlambang penyihir agung di dunia Guide. “Benar juga, aku pernah melihat lambang itu di cincin kepala desa dan tuan Aza.”


Tatapannya teralihkan oleh suara gonggongan anjing doberman itu. Jujur mukanya benar-benar sebal oleh keberadaan pria dan anjing yang tak begitu membantu dalam memberi informasi.


“Kenapa anda diam kembali? Padahal dari tadi kerjanya mengoceh saja,” lanjut Toz.


“Jadi, kenapa kamu memilih merlindia? (penyihir?)”


Toz terdiam sejenak. Pandangannya tak fokus karena air liur sang anjing yang menetes cukup deras di depan mata. “Aku suka lambangnya. Hitam mencolok namun indah.”


Pria tersebut memiringkan wajah. Gurat senyumannya lenyap. “Apakah dunia telah salah?”


“Hah?! Apa yang sebenarnya sedang anda katakan? Aku sama sekali tidak mengerti!” oceh Toz akhirnya. Ia bahkan berjalan mendekati orang itu akibat rasa jengkel di dada. “Tolong bicaralah yang jelas. Ini di mana? Kenapa semua teman-temanku tak ada di sini? Kalau ini mimpi jangan aneh-aneh lagi. Aku harus cepat bangun dari tidurku. Walau begini aku juga orang yang sibuk,” gerutunya.    


 “Segala sesuatu memiliki alasan. Entah itu kehidupan, kejadian, kebahagiaan, kegelapan, kematian, semua memiliki alasannya. Para dewa hanya melihat, pantas atau tidaknya sesuatu untuk diperhatikan tergantung dari nilainya. Jadi, apa nilaimu sampai para dewa memperhatikanmu?”


Toz terkesiap. Kalimat orang itu benar-benar di luar logikanya. “Sumpah, aku tak paham apa yang sedang anda katakan. Apa tidak bisa dipermudah kalimatnya? Aku benar-benar tidak mengerti.”


“Apakah sosok tanpa kegelapan akan kembali mendatangkan cahaya atau tragedi? Langit-langit mulai berteriak, mereka perlahan merangkak keluar mencari sandaran. Yang mati tidak harus kembali. Tanah takkan bisa mengabaikan saat darahnya mencoba bebas ke permukaan.”


“Hah?” Toz mendelik aneh akan ucapan yang ia dengar.


“Mereka yang berdosa tak boleh bebas. Kubangan darah dan air mata sudah mewakilkan keadaan. Tak ada satu pun yang menyesal. Tak ada satu pun yang bersedih. Mereka hanya mengutuk para dewa, akan dosa di badan yang mulai terlupakan.”


Toz meneguk kasar ludahnya. Kalimat itu benar-benar terasa horor baginya. Tidak masuk akal namun memiliki arti yang jelas sekarang. “Itu, apa anda seorang dewa?”


Lawan bicara Toz tersenyum. “Apakah dunia sudah salah? Kenapa kalian mengutuk para dewa atas dosa kalian?”


Toz terkesiap. “Kalian?” hatinya ragu untuk melanjutkan ucapan. Ia terdiam sejenak, menatap lekat sosok pria dengan setengah wajahnya yang hancur. “Apa anda seorang dewa? Pertanyaan itu benar-benar ....”


 

__ADS_1


  


   


__ADS_2