Death Game

Death Game
Thertera Aszeria


__ADS_3

“Blerda.”


Gadis itu mengabaikan Raja hydra yang bersuara. “Dan jangan lupa dengan batasanmu. Kau mungkin kakak seperguruanku, tapi ini singgasanaku. Dan aku berhak mengirimkan pemburu atas kelancanganmu. Ingat itu, Revtel.”


Selesai mengatakannya, Blerda pun pergi dari sana. Tapi anehnya, sensasi menekan dari sosok Wakil hydra untuk menakuti Reve sudah tak terasa lagi.


Dan Aza, juga memilih meninggalkan ruangan bersama dengan bocah ular yang dibantunya. Tak ingin berlama-lama, mengingat dirinya tak begitu akur jika dihadapkan pada Revtel yang menjadi musuh bebuyutannya.


“Kau baik-baik saja?” tanya petinggi empusa.


“Mana mungkin aku baik-baik saja? Dia mengeluarkan hawa seolah ingin membantaiku. Jadi itu Revtel? Benar-benar di luar bayanganku.”


“Memangnya apa yang kau bayangkan?”


“Yah, pria besar dan berotot. Tapi dia lebih mirip seperti kutu buku. Apa dia benar-benar Wakil Raja?”


“Ya.”


“Apa hydra tak salah menjadikan Hydragel Kers sebagai pemimpin mereka? Dia benar-benar jauh berbeda dibandingkan bawahannya.”


“Yah ... seharusnya memang Revtel yang jadi Raja. Tapi aku tak tahu kenapa malah bocah lapar itu penggantinya. Setidaknya dia jauh lebih baik untuk diajak berbicara.”


“Kupikir juga begitu.”


“Sudahlah. Ayo kita kembali. Bersiap-siaplah memasuki gerbang sebelum melanjutkan perjalanan.”


“Meningkatkan level ya. Seperti apa ujiannya?”


Aza pun tersenyum ke arahnya. “Ujiannya? Hm ... mungkin lebih seperti permainan hidup dan mati. Yah, tenang saja. Jika melihat skillmu, kupikir kau akan baik-baik saja. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai berjumpa lagi, teman,” pamit sang petinggi setelah mengantarkan rekannya menuju pintu ruangan.


Dan Reve, masih saja memperhatikan punggung Aza sampai sosok itu lenyap sepenuhnya.


Dalam waktu yang terus berlanjut, dinginnya dunia Guide menyusup masuk ke badan siapa pun makhluk hidup di sana.


Samar-samar terdengar lolongan serigala, dan berlanjut pada aliran air terjun yang berjatuhan iramanya.


Hutannya memancarkan pohon-pohon seperti pencakar langit. Burung-burung beterbangan, dedaunan basah akibat terpaan embun di sekitaran, sampai akhirnya langka kaki seseorang dengan rambut hitam panjang senada penglihatannya, menatap pantulan diri pada permukaan air di hadapan.


Muka yang tenang dan ada sepasang tanduk kecil di kepalanya.


“Thertera, apa yang sedang kamu lihat?” tanya seorang pria kepadanya. Dan lirihan barusan, berhasil membuyarkan pandangan laki-laki di depan aliran air.

__ADS_1


“Tak ada. Hanya memperhatikan wajahku saja.”


Zeril Septor pun tersenyum karenanya. Perlahan langkah kakinya pun berjalan mendekati sosok yang lebih muda dari putrinya.


“Jadi, bagaimana yang lain? Apa mereka sudah jalan?”


“Dari pesannya sudah. Tapi, mungkin saja kita yang akan sampai duluan.”


“Cerberus ya,” sambil diiringi helaan napas pelan. Zeril pun berjongkok dan menyentuh aliran air di depannya. “Sepertinya, keputusan sudah tak dapat dielakkan.”


“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Thertera Aszeria sambil melirik pria di sampingnya.


“Tidak, tak ada masalah. Hanya saja, aku penasaran apa rencana ini akan berhasil.”


Tak ada jawaban. Kecuali penampakan menengadahkan kepala, mewakili sosok laki-laki dari bangsa chimera itu. Pesonanya laksana langit malam tanpa bintang, cukup menarik untuk dipandang terlalu lama.


Sampai akhirnya sebuah guratan tipis berupa senyuman, tersungging di bibirnya.


“Bisa saja rencana ini gagal.” Dan kalimatnya berhasil membuat Zeril Septor menoleh ke arahnya. “Tapi, tak ada salahnya dicobakan? Setidaknya takkan ada yang menyesal nantinya.”


“Kau cukup optimis, Nak.”


“Padahal menurutku kau tidak seperti itu.”


“Benarkah?”


“Ya. Mm, ayo lanjut jalan. Jangan sampai ada orang lain yang tiba duluan, aku lebih suka menjadi yang pertama hadir di sana,” ajak Zeril akhirnya. Langkahnya yang berbalik badan pun meninggalkan laki-laki itu beberapa pijakan di depannya.


Tapi, entah kenapa Thertera Aszeria malah menampilkan seringai tipis pada sosok di hadapannya. Dan ia pun berjalan mengikutinya.


“Kagura, apa kamu tidak akan memasuki gerbang?” tanya Estes pada rekan petingginya itu.


Tapi, tak ada jawaban. Wanita tersebut memilih memperhatikan pemandangan di luar sambil bersandar di bibir jendela. Terlihat jelas sosoknya, syok dan terluka. Mungkin, ia masih tak bisa menerima atas kematian orang-orang yang disayanginya.


Namun di sisi lain, Sang Raja empusa berdiri di salah satu balkon yang menjadi tempat peristirahatan tamu siren. Tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya, karena beberapa orang masih berada di ruangan masing-masingnya.


“Ada apa? Memanggilku begitu. Apa ada yang penting? Yang Mulia.” Tak ada tanggapan. Trempusa masih melirik ke depan, dan sosok yang bertanya memilih menghampiri dirinya. Ikut berdiri di sebelah, sambil tangan memegang pembatas balkon yang penuh ukiran batu itu. “Aku tidak kemari untuk menikmati pemandangan denganmu,” lanjut sang penanya.


“Apakah itu memang harus dilakukan?”


“Apanya?”

__ADS_1


“Membunuh Ahool dan Aquila,” jelas Trempusa.


“Jadi ini tentang mereka.”


Raut muka Raja empusa pun berubah kecewa pada pemuda di sampingnya. “Mereka berdua, merupakan bangsawan penting di bangsa kita. Jika para Tetua tahu, apa yang akan terjadi? Mereka pasti akan sangat marah dan kecewa.”


“Lalu?”


Trempusa pun terkesiap. Tak menyangka, kalau respons Aza Ergo akan sesantai itu.


“Apa kamu tidak merasa bersalah sedikit pun?”


“Kenapa aku harus merasa bersalah? Mereka pengkhianat.”


“Aza.”


“Jangan bersikap lunak, Trempusa. Yang bersalah haruslah mati. Bukankah itu ultimatum yang diberikan para leluhur kepadamu? Jika kau tak suka caraku, kau bisa merubahnya. Lakukan sesuatu dengan posisimu yang seperti di atas angin itu.”


“Aza.”


“Aku menghormatimu, karena kau Kakak seperguruanku. Tapi sebagai Raja, bahkan bawahanmu yang lain tak terlalu mengakuimu.” Kalimat petinggi empusa pun menyentak hatinya. Merasa tertohok, karena itu ada benarnya. “Pilihlah dengan benar, Trempusa. Tetap menjadi boneka, atau menentang mereka semua. Karena aku, akan terus berseberangan dengan para pemegang tali itu,” dan Aza pun membalik tubuhnya.


“Setidaknya aku lebih menghormati Blerda. Karena dia berani, mengusik taring para tetua dan juga bangsawan di bangsanya. Yah, kalau kau memang ingin seperti itu, maka katakan saja. Dan aku, akan menjadi ujung pedangmu. Jangan lupakan perkataanku, teman.”


Aza Ergo yang terkekeh pelan pun berlalu dari sana. Membiarkan Sang Raja sendirian, dengan torehan kalimat yang tadi ia tinggalkan. Walau sedikit banyaknya itu berhasil menampar diri pemegang tahta tertinggi milik empusa.


Beberapa jam kemudian, langit-langit pun bergemuruh. Diiringi gempa pelan yang semakin kuat getarannya. Hembusan angin kencang juga ikut menerpa semuanya. Bersamaan dengan gambaran aura merah menyala, yang beterbangan ke seluruh permukaan Guide.


 Seperti asap merah darah, terbang mengudara layaknya ular melata. Jumlahnya tak cuma satu, tapi ada banyak sekali. Sampai akhirnya memasuki ruang-ruang para makhluk hidup dan berdiri di hadapannya.


“Ini!” pekik kaget Toz melihat apa yang ada di depannya.


“Sentuh saja! Itu asap menuju gerbang kemampuan.”


“Benarkah?” tatapnya pada Rexcel.


“Ya. Lakukan saja. Lebih cepat lebih baik.”


Dan beberapa orang pun menyentuh asap merah darah itu sesuai keinginan hatinya. Sampai akhirnya, masing-masing dari mereka lenyap begitu saja.


Memudar bersamaan dengan asap yang mengelilingi mereka. Sebagai tanda, kalau para makhluk hidup itu sudah memasuki gerbang kemampuannya.

__ADS_1


__ADS_2