
“Keparat itu!” geram Rexcel Sirenca begitu melihat ada sosok menjengkelkan hendak mendominasi pertempuran.
“Ah! Bukankah itu keparat yang waktu itu?!” Aos menunjuknya.
“Kau benar, suatu keberuntungan bisa bertemu dengannya,” sambung Crea tersenyum licik. Ia pun mengeluarkan pisau dari tengkuknya.
“Woah! Assandia (petarung) level komandan,” pekik seseorang di atas panggung. “Sepertinya ia tahu bagaimana cara bermainnya.”
“Dasar siluman,” umpat Rexcel sambil mengeluarkan pedangnya yang muncul tiba-tiba di udara.
“Mmm? Bukankah orang itu dari bangsamu?” tanya seorang pemuda berambut pirang yang duduk di atas panggung.
“Ya, lalu?” balas Bleria Sirena sambil melirik datar pada orang yang bertanya.
“Harus kuakui, pesona bangsa siren memang luar biasa,” lanjut pemuda yang tak mengacuhkan lirikan Bleria padanya.
“Mati kau!” teriak Crea menyerang Rexcel. Ia langsung menghunuskan pisau ke dada Rexcel. Dengan sigap, laki-laki itu pun langsung menghindar sambil menunduk dan menghunuskan pedang ke arah perut Crea.
Tapi sayangnya Crea cukup lincah, ia melompat dan menumpukan tangannya pada bahu Rexcel yang menunduk. Dengan genggaman erat pisau di tangan, ia layangkan ke arah kepala Rexcel hendak menusuknya.
“Bagus Crea!” Aos tampak senang dan menyiapkan serangan selanjutnya. Gumpalan besi tak berbentuk sedang mengudara di atas tangan kirinya, hendak memulai serangan bantuan.
“Tes ... tes ... tes ...” perlahan rintik hujan turun membasahi bumi.
“Hujan?” gumam peserta lain.
“Duaghh!” Rexcel berhasil menahan serangan pisau Crea yang mengarah ke kepalanya dengan memainkan kaki untuk menendang Crea di atasnya.
“Cih, lincah juga dia,” gerutu Crea mengelus tangannya yang memegang pisau akibat ditendang Rexcel. “Hujan?” ia menoleh memandang langit.
“Bagaimana ini? Walau hujan, rasa panas di kaki masih belum hilang,” lanjut peserta lain dengan ekspresi cemas.
Entah sampai kapan mereka harus berdiri di sana. Dengan tanah yang semakin terbakar rasanya dan beberapa peserta pun mulai melayangkan serangan untuk mengurangi jumlah yang bertahan.
“Hujan itu,” gumam Bleria.
“Kau juga menyadarinya?” tambah pemuda yang dari tadi mengajaknya bicara.
Semakin lama, awan di langit semakin gelap dan menurunkan tetesan air yang semakin deras. Reve menatap ke atas, ekspresi tenangnya mulai berubah. Ia langsung mengedarkan pandangan berkeliling, mencari seseorang yang masih tak bisa diperkirakan itu siapa.
“Reve,” Toz menatapnya dengan pandangan cemas.
Tiba-tiba, ada aliran yang menyengat bulu kuduk muncul ke permukaan. “A-apa itu?” lirih salah satu peserta saat menyadarinya.
“Ini!” pekik Crea kaget.
“Aos!” teriak Zancro mengingatkannya.
“Jangan-jangan!” wajah Aos langsung berubah begitu aliran listrik mengalir di bawah kakinya.
“Blaaar! Bzzt ... bzzt ... bzzt ...” akhirnya sebuah ledakan listrik membakar arena dan menyebabkan kegemparan semua mata yang masih berdiri kokoh untuk menatapnya.
“I-itu!” ucap Doxia kaget melihat kejadian di depannya.
Para peserta pun terkapar dengan aroma hangus menguar ke udara. Akan tetapi, di antara begitu banyaknya peserta, ada yang masih bertahan dengan keadaan tubuh tak terduga. Hujan pun mendadak berhenti begitu saja.
“Reve!” pekik Toz kaget melihat kondisinya.
Salah satu tangan Reve yang memegang pedang tampak hangus dan mengeluarkan sedikit aliran listrik di sana.
“Sialan! Hampir saja,” Aos jatuh terduduk.
Pria berkumis tebal yang selalu bersamanya, berhasil menyelamatkan rombongan Aos dengan kemampuan tankzeas level komandan yang baru saja digunakannya.
“Kupikir kita akan mati barusan,” kilah Zancro sambil memegang erat tangannya yang memegang tombak. Tangannya itu berkedut sakit akibat aliran listrik, sehingga tombak pun terlepas jatuh begitu saja.
“Sepertinya masih banyak yang bertahan,” ujar seseorang sambil meregangkan tangannya ke depan.
“Kau benar,” jawab lelaki yang berdiri di sampingnya. Kedua telapak tangannya meneteskan air ke tanah.
“Dia!” geram Aos kesal.
“Uugh ... tubuhku,” Rexcel jatuh terduduk. Tadinya ia berhasil menghindari ledakan listrik dengan melompat ke atas. Akan tetapi, sisa-sisa listrik yang mengudara berhasil membakar tubuhnya walau tak separah peserta lain.
“Reve,” Toz mengepal erat tangannya.
Di tempat yang berbeda, wajah polos Riz benar-benar kaget melihat sesosok wajah tak asing di arena. “Dia! Bukankah dia Reve?!” sahut Riz dengan nada tak percaya. “Dia di sini juga?!”
“Mmm? Siapa?”
“Anak itu! Anak itu rekan sekamarku,” jelas Riz pada Doxia sambil menunjuk Reve.
__ADS_1
Sementara, sorot mata Horusca tak beranjak sampai menyapu bersih peserta yang masih bertahan.
Dari sekitar dua ratus lebih peserta, hanya dua puluhan yang masih bertahan dengan keadaan cukup mengejutkan.
“Cara tercepat menghabisi musuh ya,” seorang pak tua pun terkekeh. Di bawah kakinya, tampak guratan akar aneh muncul ke permukaan.
“Sudah tua, kenapa masih bisa bertahan?” ledek pemuda yang tadi meregangkan tangan.
“Luar biasa! Lihat dia! Tangannya hangus,” tunjuk seorang wanita dengan tanduk rusa di kepala.
Siapa lagi maksudnya kalau buka Reve dengan sorot mata tajam ke arah laki-laki yang meneteskan air di telapak tangannya.
“Tak kusangka akan bertemu dengan seseorang yang kukenal,” lirih Riz tak melepaskan pandangan dari Reve.
“Hei, menurut kalian siapa yang akan menang?” tanya Doxia tiba-tiba.
Akan tetapi, di atas panggung, pertanyaan yang sama persis dengan Doxia juga muncul di sana. “Menurut kalian siapa yang akan menang?” tanya pemuda berambut pirang yang memainkan ujung rambut depannya.
“Entahlah,” balas Bleria. “Menurut anda bagaimana tuan Criber?”
Beberapa orang pun melirik ke arah tuan Criber, salah satu tetua siren yang sering menghabiskan waktu dengan jalan-jalan atau melatih murid-murid tak berguna. “Entahlah. Ini ... bukan sesuatu yang bisa diprediksi.”
Sementara, pak tua pemilik toko barang antik, masih tak melepaskan pandangan dari sosok pemuda yang terpaksa mengikuti sayembara akibat permintaannya. Tatapannya tak bisa diartikan. Akan tetapi, ada seseorang yang menyadari ke mana arah pak tua melihat dari tadi.
“Apa anak itu menarik perhatian? Karena anda tak sedikit pun melepaskan pandangan darinya.”
Pak tua pemilik toko bareng antik pun menoleh padanya. “Kau bicara padaku?”
Orang yang ditanya tersenyum, dan ikut melirik ke arah Reve. “Dia cukup pintar, mengorbankan tangan agar tetap bertahan di sana. Tapi aku tak merasakan apa pun darinya, selain keberuntungan. Karena itulah aku penasaran, kenapa anda menatap lekat dirinya.”
“Entahlah. Mereka memiliki energi yang luar biasa. Tapi jika ada manusia biasa mampu bertahan di dalamnya, bukankah itu cukup menarik perhatian?” jelas pak tua sambil terkekeh.
“Sepertinya, aku harus banyak-banyak belajar dari anda Tuan.”
Pak tua itu tak menjawabnya, kecuali melirik kembali ke arah Reve. Aura di arena mulai terasa menekan, terlebih seorang wanita dengan tanduk rusa di kepala sedang berjalan mengitari arena.
“Satu, dua, mmm ... begitu ya. Sepertinya masih ada dua puluh tiga peserta yang tersisa. Bagaimana ini? Mungkin saja mereka sangat hebat,” celetuk wanita itu.
“Crea, kamu baik-baik saja?!” Zancro tampak khawatir.
“Ya, aku baik-baik saja. Walau tanganku hangus akibat mereka,” ia berdecak kesal.
Reve mengayunkan pedang dari tangannya yang hangus. “Sepertinya kamu lumayan juga, karena masih bisa bertahan dalam keadaan seperti itu,” sela seseorang di sebelahnya. “Bagaimana jika kamu menyerah saja? Mungkin kamu tidak akan babak belur nantinya.”
Reve melirik orang itu lewat sudut matanya. “Jika kau mau mengambilkan hadiahnya untukku, maka aku akan menyerah.”
“Ah, sepertinya kamu anak keras kepala yang suka bercanda ya,” orang itu tersenyum puas sambil mengangkat tangan ke arah Reve.
“Ingin menyerangku?”
“Cuma ingin mengurangi jumlah peserta yang tersisa.”
“Daripada melawanku, bukankah lebih baik menyerang mereka? Setidaknya bisa menghemat tenagamu,” Reve pun memainkan matanya ke arah kelompok Aos.
“Hmm? Kamu ingin kita bekerja sama?”
“Aku tidak ingin kau menyesal karena tidak mengalahkan mereka terlebih dahulu.”
Mendengar ucapan Reve, orang itu pun melirik pada kelompok Aos. “Tankzeas (pelindung), itu cukup merepotkan.”
Di sisi yang berbeda, tampak seseorang mulai bersiap. “Eto, bagaimana jika kita lancarkan serangan selanjutnya?”
Laki-laki yang telapak tangannya masih meneteskan air pun bergumam. “Hujan kedua, akan dilakukan secara tiba-tiba.”
“Ah, baiklah,” balas pemuda di sampingnya.
“Ah, panasnya tanah ini benar-benar membuatku gila,” pak tua yang masih bertahan di arena pun menyatukan kedua tangan di depan dada. Perlahan udara di sekelilingnya berubah, membuat para peserta yang menyadarinya menatap padanya.
“Dasar tua bangka,” ketus salah satu peserta.
“Apa yang akan dilakukannya?” ucap wanita bertanduk sambil menempelkan jari telunjuk tangan kanan ke dagu.
“Evaseus!” teriak Aos pada pria berkumis tebal itu.
Tampaknya mereka sudah paham dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah pusaran angin tebal menggulung layaknya tornado di sekitar pak tua yang tadi menyatukan tangan. Semakin lama, gulungan angin itu mulai terasa menyakitkan.
“Ini menyakiti kulitku,” pemuda yang tadi meregangkan tangan melirik padanya. “Eto, sepertinya kita juga tak bisa diam saja.”
Beberapa assandia (petarung) dan merlindia (penyihir) mulai mengeluarkan senjata dan jurus andalan di tangan.
“Sepertinya ada yang ingin jadi umpan,” potong lelaki yang tadi ingin menyerang Reve. “Mmm? Ke mana dia?” ia menatap berkeliling karena sosok yang tadi bicara dengannya sudah tak ada di depan mata.
__ADS_1
“Ke mana bocah itu?” batin pak tua pemilik toko barang antik juga ikut berbicara. Ia menyapu bersih seluruh pemandangan di arena tapi tak bisa melihat sosok yang dicarinya.
“Reve? Apa yang terjadi? Kamu di mana?” gumam Toz cemas.
Entah apa yang terjadi, karena kemampuan angin mencolok yang sedang dipertontonkan pak tua berjubah merah, pandangan mereka pun teralihkan ke sana. Sehingga tak sadar jika sosok Reve yang tadi hanya diam saja, sudah tak tampak di arena.
“Sial! Ke mana bocah itu?!” laki-laki yang tadi bersama Reve masih mencari-cari dirinya.
“Ini! Apa yang terjadi?!” tukas salah satu penonton di atas panggung.
“Logan, ada apa?”
“Anak itu, dia tak ada di arena.”
Pak tua pemilik toko barang antik dan orang di sebelah Logan ikut menoleh padanya.
“Siapa yang kau maksud?” tanya tuan Criber padanya.
“Apa anda tahu di mana dia Tuan?” Logan malah mengalihkan pandangan pada orang di kirinya dan tak menjawab tuan Criber.
Pak tua pemilik barang antik hanya memasang wajah datar, tapi terlihat jelas ia enggan menjawab Logan karena tak tahu di mana Reve berada.
Sementara di arena, pertarungan sengit sudah terjadi. Kelompok Aos bertahan dari serangan angin dahsyat yang membakar arena dengan tameng cahaya milik Evaseus.
Rexcel Sirenca terpaksa menahan serangan dengan melontarkan energi dari pedangnya. Ia mengayunkan pedang dan melancarkan serangan untuk membelah sihir angin yang hendak melahapnya.
Dua orang lelaki yang menjadi penyebab hujan dan petir di serangan pertama, bertahan sambil menyerang memakai jurus sihir dari elemen keduanya.
Dan yang lain, berusaha keras bertahan sambil menyerang balik pak tua pemakai sihir angin dengan kemampuan andalan masing-masing.
“Sialan! Dia merlindia (penyihir) menyebalkan,” umpat Aos akhirnya.
Bahkan serangannya tak bisa berfungsi apa-apa karena dari tadi hanya bertahan di dalam pelindung cahaya Evaseus.
“Sepertinya pak tua itu merlindia (penyihir) komandan tingkat tinggi ya. Kalau begitu hasil pertarungan ini sudah jelas,” sela Bleria Sirena tiba-tiba.
“Apa benar begitu?” sela pemuda berambut pirang yang dari tadi sibuk menjadi lawan bicaranya.
“Kau tidak percaya ucapanku Hea?” Bleria memandangnya sinis.
“Bukannya aku tak percaya ucapanmu Nona. Tapi dalam pertarungan, jika tak mencapai akhir, maka takkan ada jawaban,” pemuda itu tersenyum manis padanya. Membuat Bleria menatap jengkel melihat wajahnya.
Gulungan angin besar semakin melahap habis sekitarnya, bahkan semua peserta yang ada di arena berada dalam jangkauannya.
Pemuda pemakai elemen listrik pun mengumpulkan kekuatan sambil berlindung di balik dinding air rekannya. Sebuah bola kecil seukuran kelereng, mulai mengeluarkan aura berbahaya di telapak tangan kanannya.
“Ini dia! Itu baru benar!” sorak salah satu penonton yang berada di atas panggung. Kicauannya membuat orang-orang yang sama-sama duduk dengannya menatap masam.
“Sial, anginnya sangat kuat. Jika seperti ini terus, aku bisa kalah,” gerutu laki-laki yang tadi mencari-cari sosok Reve. “Sialan, bocah itu ke mana? Apa aku harus mulai serius? Lantai ini benar-benar panas.”
“Cukup sampai di sini orang tua!” teriak pemuda yang sudah selesai mengumpulkan energi listrik di tangannya.
“Deg!” Jantung para peserta terkesiap.
Elemen angin yang tadi menggulung arena dan menerbangkan debu ke semuanya mendadak hilang seketika.
“Apa yang terjadi?” lirih pemuda yang masih menahan bola listrik di tangannya. “Uhuk ... uhuk ... uhuk ...” ia menahan mulutnya. “Batuk? Di saat seperti ini?” lirihnya.
Akan tetapi, ada pemandangan mengejutkan di sana. Bukan hanya pemuda itu saja, bahkan seluruh peserta juga batuk seperti saling sahut-menyahut satu sama lain.
“Apa yang terjadi?” Hea menatap bingung pemandangan di depan.
“Uhuk! Uhuk ... uhuk! Hah? Darah?” ucap wanita yang memiliki tanduk rusa di kepala. Ada cairan merah di telapak tangannya saat menahan batuk dengan tangan.
“Ini! Apa yang terjadi?” sahut Aos karena juga merasakan hal yang sama. Tak hanya dirinya, bahkan Crea, Zancro dan juga Evaseus ikut mengalami batuk berdarah yang menyesakkan dada.
“Jangan-jangan, sialan. Di mana kau bocah! Keluar kau! Keluar!” teriak laki-laki yang dari tadi mencari-cari sosok Reve. Darah berceceran dari mulutnya akibat berteriak keras.
“Siapa yang dia maksud?” gumam Rexcel sambil menghapus darah yang mengalir dari bibirnya. Rasa sakit berdenyut lagi di dadanya. Seperti di tusuk ribuan jarum, bahkan matanya terasa memanas tanpa tahu penyebabnya.
Entah suatu keberuntungan atau tidak, tak ada satu pun elftraz (penyembuh) yang masih bertahan dalam pertarungan. Karena pengguna kemampuan penyembuh dan tanaman itu, sudah terlanjur tumbang akibat serangan listrik pertama.
“Apa mungkin ....”
“Kamu tahu sesuatu Logan?” tanya tuan Criber padanya yang mengundang tatapan lainnya.
“Mungkin, walau aku tidak yakin.”
“Uhuk-uhuk!” pak tua yang tadi melancarkan serangan angin besar-besaran sekarang jatuh terduduk karena tak tahan dengan rasa sakit di dada. Untuk ukuran orang tua, serangan yang tak jelas asal-usulnya ini sudah cukup untuk membuatnya tak berdaya.
Pandangannya mulai memudar akibat rasa sakit sudah berhasil menguasai seluruh tubuhnya.
__ADS_1