
Siren.
Salah satu dari bangsa asli dunia Guide. Begitu banyak bangsawan di dalamnya, pecahan dari keturunan murni yang identik disebut Sirena. Para keturunan asli, memiliki hak penuh atas pengelolaan air suci.
Begitulah rumor menyebutkannya.
Dan pemimpinnya, begitu diakui pesona serta wibawanya. Blerda Sirena, kakak dari Bleria Sirena yang menjadi petinggi di bangsanya. Mereka hanya seayah, dan ibu keduanya merupakan kakak-beradik.
Bleria, selalu bertolak belakang dengan keputusan kakaknya. Menurutnya, kakaknya kurang cakap sebagai pemimpin. Tapi, tak mampu diutarakan karena dirinya hanyalah petinggi dari bangsa siren.
Akan tetapi, memang harus diakui. Kalau tidak semua orang di bangsa siren setuju akan kepemimpinan Blerda. Gadis itu terlalu muda menurut mereka, atau sebenarnya orang-orang hanya iri dengan statusnya. Menjabat sebagai pemimpin dan juga berdarah asli sehingga membungkam orang-orang yang juga memimpikan posisi Raja.
Dan dia tak peduli bagaimana pendapat orang-orang sekitarnya.
“Kakak?” suara ketukan pintu kamarnya. Perlahan terbuka, menampilkan sosok adiknya.
“Bleria? Ada apa?”
“Aku hanya ingin mengantarkan minum untukmu Kak,” langkah adiknya pun memasuki tempat peristirahatan Kakaknya. Di atas nampan perak itu, sebuah minuman dari anggur telah mengisi gelas emasnya.
Dan Blerda tidak menatap sajian kecuali memandangi pesona di depan balkon kamarnya.
“Aku selalu heran. Sebenarnya, apa yang kakak lihat? Sering menatap pemandangan, apa kakak tidak bosan?”
Sang pimpinan siren pun menoleh pada adiknya. “Ini lebih baik, daripada menatap perperangan.”
Bleria tersentak dan perlahan menggigit bibir bawahnya. Beberapa detik kemudian, ia kembali bersuara. “Kapan-kapan, ayo kita latihan Kak.”
“Terlebih dahulu, berlatihlah dengan Tuan Criber. Skill anginnya akan berguna untuk kemampuan assandia (petarung) milikmu.”
“Tapi aku ingin latihan denganmu.”
“Aku sibuk, Bleria.”
“Sibuk apanya? Kerja Kakak cuma menatap pemandangan saja.”
“Jika kamu menjadi pemimpin, nanti kamu akan tahu apa artinya ini semua. Sekarang keluarlah.”
Jujur Bleria sangat kesal diperlakukan seperti itu. Blerda benar-benar menyebalkan. Tangannya terkepal erat, dan menutup pintu sedikit kasar. Di balik kejengkelan yang luar biasa, dirinya terkesiap saat melihat gagak merah terbang ke arahnya. Spontan saja ditangkapnya dan langsung ia cekik untuk memastikan informasi yang ada.
“G-Gilles?” gumamnya kaget menyadari pemilik gagak pesan barusan. Seketika langkahnya memburu entah ke mana.
Dan sekarang, di sinilah rombongan yang dipimpin Kers. Memasuki kawasan lembah dingin yang menjadi kawasan perbatasan antara pinggiran desa pantai bangsa dracula dan kota buangan bangsa siren.
Sensasi dingin di tempat ini benar-benar keterlaluan levelnya. Bahkan ingus pun akan langsung membeku dibuatnya.
“Sialan, dingin sekali. Apa tidak ada yang bisa menghangatkan kita? Kakiku seperti tidak mau berjalan lagi,” keluh Doxia saat menapakinya.
“Aza, lakukan sesuatu dengan magmamu,” pinta Kers padanya. Jujur dia juga benci ini, kawasan tak bersalju namun dinginnya menggigil membeku.
Aza yang tertawa remeh pun langsung mengeluarkan ekor magmanya. “Kalian boleh pegang.”
“Sialan, kau ingin membunuh kami?” sindir Reve padanya.
__ADS_1
“Eh, kalian tidak bisa menyentuhnya ya? Payah,” petinggi muda itu pun tertawa.
“Lakukan sesuatu bodoh! Hanya sihirmu yang berguna di sini!” keluh Kers sambil menjitak kepalanya.
“Sialan kau, Kers. Kau sendiri yang membawa kami ke sini.”
“Berisik. Tumbuhkan saja ekormu banyak-banyak, tapi jangan sampai melukai kami,” perintah Kers seenak perutnya.
Sambil mendengus sebal, Aza tetap mengikuti sarannya. Ia pun memunculkan tambahan ekor magma sehingga jumlahnya menjadi delapan. Di bagi duanya dan dibuat seperti lingkaran besar yang mengelilingi orang-orang sekitarnya.
Sehingga memunculkan sensasi panas ketika mereka berjalan di belakang Aza. Kemampuan magmanya benar-benar seperti Dewa penyelamat bahkan bagi Kers sekalipun.
“Kenapa kau melihatku begitu?” tanya Kers pada sosok di sebelahnya.
“A-ah m-maafkan aku. Aku tidak bermaksud apa-apa,” Toz jadi panik karenanya.
“Kenapa kau gugup begitu? Aku tidak ada niat memakanmu.”
Toz tersentak dengan pertanyaan Sang Raja. Tentu saja dia terus menatapnya, pesona Kers terlalu jauh dari bayangannya.
“Maafkan aku. Itu karena aku tidak menyangka akan bertemu pemimpin bangsa besar seperti anda, Tuan.”
“Kalau begitu bersyukurlah, Nak. Karena aku Raja pembuka yang telah kau temui.”
“Ah, maafkan aku. Tapi aku sudah bertemu pemimpin kurcaci terlebih dulu.”
“Aish! Kau mematahkan kesombonganku.”
Aza dan Reve sama-sama tertawa mendengarnya. Walau sang petinggi empusa jauh lebih terbahak-bahak.
“Hah ...” suara helaan napas Kers. “Orang tuamu pasti membesarkanmu dengan baik karena sering meminta maaf.”
“Ah, maafkan aku.”
Pemimpin hydra pun geleng-geleng kepala.
“Tunggu,” cegat Reve tiba-tiba.
“Ada apa, Reve?” tanya Riz padanya.
“Menurutku, kita harus beristirahat di sini.”
“Hah?! Kau gila?! Tempat ini dingin sekali. Kau ingin kita mati beku?!” Doxia benar-benar tak terima. Jujur ingusnya sudah mengering sampai ia terkadang merasa kesulitan bernapas.
Akan tetapi, Aza dan Horusca malah menyetujuinya.
“Hei-hei, aku pemimpinnya lho,” Kers menimpali dan menatap Aza serta Horusca bergantian.
“Jika kau ingin lanjut, jalan saja. Aku ingin istirahat,” Aza pun mencabut ekor magma itu lalu memudarkannya. Membuat sensasi dingin kembali menyelimuti mereka dengan kejamnya.
Mau tidak mau semuanya terpaksa berhenti karena sumber panas mereka tidak mau jalan lagi.
“Istirahat di mana?” tanya Horusca pada Reve.
__ADS_1
Pemuda ular itu pun menunjuk kawasan tebing batu yang tak jauh di depan mereka. “Aza,” panggil Reve dengan suara tak bersemangatnya.
Petinggi itu langsung paham dan melubangi tebing dengan ekor magma yang tiba-tiba muncul. Memang kemampuan praktis dan sangat membantu untuk hal-hal seperti ini. Bahkan Horusca menumbuhkan rumput yang menyelimuti tempat tersebut, dan juga tanaman merambat menutupi pintu masuk.
Berharap sensasi dingin tak lagi mengganggu mereka. Unggun dari kayu milik tanaman Horusca pun menyala di tengah-tengah semuanya. Walau tadi Aza Ergo sempat teledor meleburkan kayu bakar itu menjadi tak bersisa.
Karena bagaimanapun juga sifat kemampuannya magma bukan api.
“Aku benar-benar lelah,” keluh Riz akhirnya.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu,” Aza pun merebahkan tubuhnya. Matanya mulai berat akibat pertarungan di kawasan terlarang menguras banyak energinya.
“Aku jadi penasaran apa Revtel sudah tahu bosnya menghilang atau belum,” lirih Kers tiba-tiba sambil memakan roti yang disodorkan Osmo.
“Jangan sebut namanya lagi,” Aza benar-benar malas membayangkan tampang menyebalkan Kakak seperguruannya itu.
“Kenapa?”
“Kau tahu kami bagaimana, Kers.”
“Mm ... maafkan aku. Tapi, apa Tuan Revtel itu sangat berbahaya? Karena Tuan Aza tampaknya takut kepadanya,” tanya To tiba-tiba mengikuti pembicaraan mereka.
Sontak tawa pun langsung berkibar dari bibir sang pemimpin bangsa ular. “Kau juga berpikir begitu? Matamu jeli juga, Nak.”
“Kapan aku takut padanya?” Aa tampak tak terima.
“Ah, saat kita di kawasan lembah Hidir. Anda terlihat tak ingin bertemu dengannya,” lanjut Riz.”
“Tentu saja aku tidak ingin bertemu karena tak ingin perjalananku diganggu olehnya.”
“Alasan,” ledek Kers dengan tampang remehnya.
“Diam kau, Kers.”
Sang Raja pun tertawa pelan mendengar respons adik seperguruannya itu. “Katakan saja kalau kau memang takut padanya. Lagi pula, siapa yang berani melawan Revtel? Bahkan Trempusa pun tak berkutik bersamanya.”
“Itu karena mereka teman. Lagi pula ada Blerda. Di atas langit masih ada langit, Kers.”
“Blerda itu pengecualian.”
“Tadi katamu siapa yang berani melawannya. Dasar plin plan.”
“Tutup mulutmu, Nak.”
“Kers bodoh.”
“Aku akan menguliti kepala jelekmu.”
“Pemimpin pecundang.”
“Aku tetap Raja bangsa hydra.”
Begitulah perdebatan mereka. Orang-orang dengan kepribadian bermasalah dikumpulkan menjadi satu. Akan tetapi, di balik kehebohan mereka di dalam gua buatan, ternyata ada sosok tak disangka mengintai keberadaan.
__ADS_1
Memancarkan aroma mengerikan, tak bisa di deteksi akibat dinginnya kawasan membuat mereka melemahkan penjagaan.
Waktu-waktu tertentu sedang dalam penyambutan.