Death Game

Death Game
Pesan dalam gagak


__ADS_3

“Kau lengah, Aza.”


Seketika denyutan sakit memaksa petinggi muda empusa untuk bergerak maju, agar serangan pedang pendek Aquila Ganymede terlepas darinya.


Pemuda itu pun jatuh terduduk sambil tangan bertumpu pada gagang pedang yang tertancap di tanah.


“Tak peduli sekuat apa pun dirimu. Jika kau lengah, tamat sudah,” seringai wanita di belakangnya.


Aza Ergo, hanya meliriknya lewat sudut matanya. Perlahan sensasi derita yang ia terima, menyentak dadanya untuk batuk dan memuntahkan darah. Tangannya pun menutupi mulut yang mengalirkan cairan merah seperti menodainya.


“Aku kaget. Tapi tak kusangka kalau ini benar-benar berhasil.” Dan sosok yang berbicara melompat dari atas pohon tepat di hadapan Aza.


“Ahool,” gumam pemuda itu begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.


“Hei, aku lebih tua darimu. Sopanlah sedikit, Nak,” seringainya menatap kondisi Aza.


Bahkan jika petinggi muda itu kesakitan, tak menolak kenyataan jika tampangnya terlalu tenang. Membuat laki-laki yang berusia 30 tahun tersebut mulai mengernyitkan dahi bingung karenanya.


“Bukankah kau terlalu sombong sampai-sampai menatap seperti itu?” dirinya pun mencengkeram rambut Aza sehingga sang petinggi mendongak.


“Jangan buang-buang waktu, Ahool. Cepat bunuh dia,” perintah Aquila.


“Kenapa?” pemuda itu tiba-tiba bersuara. “Padahal kita sudah seperti keluarga,” tanyanya. “Kenapa kalian melakukan ini? Trempusa harus membayar harga tinggi jika orang-orang tahu kalian ke sini.”


“Bagus! Memang itu yang kami inginkan!” sentak Ahool melepaskan jambakannya dari rambut Aza. “Kalau bisa, dia mati saja sekalian agar kami tak perlu repot-repot mencoreng namanya!”


“Ahool!”


“Kenapa Aquila? Lagi pula bocah ini akan mati. Berbagi kisah sebagai saat terakhir bukan hal yang buruk.”


“Cih! Terserahlah!” umpat Aquila. Dirinya pun meninggalkan mereka menuju sebuah batu. Ada anak buahnya di sana, sibuk mengukir mantra yang mengudara dengan bulu merak entah apa gunanya.


“Jangan menatap seperti itu. Para prajurit hanya melukis.”


Seketika seringai miring tercetak di bibir sang pemuda. “Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan?”


“Entahlah. Apa pun itu,” tangan Ahool terangkat dan perlahan berubah seperti jari-jari monster yang berwarna hitam serta berkuku panjang. “Tak ada urusannya dengan dirimu. Selamat ting—”


DEG!


Horusca tersentak. Burung gagak milik Aza yang bertengger indah di bahunya mengepakkan sayap seperti menggila. Bahkan sampai mematuk kepalanya dan membuat pengendali tanaman itu mencengkeramnya.


Tentu saja penampakan tersebut mengundang tawa karena tampak seperti lelucon bagi penontonnya.


Akan tetapi, hewan itu pecah dan berubah menjadi serbuk merah yang mengelilingi wajah sang pemuda.


“Sialan,” umpatnya tiba-tiba.


“Horusca, kamu baik-baik saja?” walau ekspresi menahan tawa jelas terpancar dari bibir Toz yang bertanya.


“Ayo kita pergi.”

__ADS_1


“Hah? Apa maksudmu?” Doxia bersuara.


“Aza—”


Sekarang, kondisi Aza Ergo cukup memprihatinkan. Pedang magma yang ia gunakan untuk menahan serangan, telah jatuh di dekat kakinya. Bahkan goresan berupa cakaran telah memanjang di area pipi kanannya.


“Kau cukup gigih, Aza.”


“Cepat bunuh dia! Atau kau ingin aku turun tangan?!” hardik Aquila. Ia sangat benci membuang-buang waktu seperti yang dilakukan Ahool.


“Sepertinya, rasa iba memang sudah tak berlaku untukku,” petinggi itu terkekeh.


“Ya. Salahmu karena datang ke sini dan mengganggu kami,” tangan Ahool pun mencekik leher sosok di depannya. “Tapi, apa yang lucu? Kau masih saja tersenyum bahkan jika kondisimu seperti ini.”


“Ingin tahu?” seringai di bibirnya kian melebar. Tangannya pun terangkat dan mencengkeram lengan pria itu. “Aku monster, Ahool.”


“Aaagh!” sontak saja erangan keras pria itu memecah suasana. Bahkan membuat burung-burung yang hinggap di pepohonan berterbangan tak tentu arah.


Terkesiap, tentu saja. Aquila Ganymede sang petinggi dari bangsa empusa, menatap tak percaya kalau bocah yang terluka cukup parah itu baru saja memutus tangan Ahool. Bahkan tawa pelan menari dari bibir sang pelaku utama.


“Sudah cukup main-mainnya. Sekarang, saatnya perburuan,” seringainya sambil menoleh pada wanita di belakangnya.


“Kau—” geram Aquila. Aura membunuh langsung menguar dari tubuh wanita itu. Membuat beberapa orang yang sedang dalam perjalanan ke sana dirundung keterkejutan.


“Apa-apaan itu?!” pekik Doxia. Mereka yang semula berjalan terburu-buru sekarang berlarian.


“K-kau, bagaimana bisa?!” Ahool menatap tak percaya pada sosok yang tampak baik-baik saja di depannya. Bahkan cakaran di wajahnya tergantikan oleh lelehan magma.


“Bodoh. Aku ini magma, tentu saja serangan fisik tak berlaku untukku. Yah, tapi tentu saja ada pengecualiannya,” tiba-tiba tangannya yang memegang pedang terangkat.


Ayunan cepat pun langsung dihajarkan sang petinggi empusa. Menampilkan hempasan angin kasar pada permukaan tanah di bawah kakinya.


“Wah ... aku tak menyangka, rupanya ada tamu lainnya. Bagaimana ini? Radarku sepertinya payah juga,” kekehnya melihat sosok yang sudah menggagalkan serangannya.


“Aza Ergo.”


“Apa yang dilakukan wanita gila sepertimu di sini?” petinggi muda itu memiringkan wajahnya.


“Gilles,” panggil Ahool yang merintih kesakitan. Sikunya terus mengalirkan darah akibat lengannya putus.


“Bertahanlah,” ucapnya berdiri di hadapan pria itu seolah melindunginya.


“Kenapa kamu di sini? Jangan bilang kalau siren otaknya. Bagaimanapun aku yakin Blerda tak segila itu untuk mencari harta tak berguna di kawasan ini.”


“Sepertinya, kamu sangat mempercayainya.”


Aza terkekeh. “Tentu saja. Dia kan pintar. Bukankah karena itu orang-orang sepertimu menjadi bawahannya?”


Mendengar kalimat Aza, membuat guratan murka terpampang di wajah Gilles. “Kau memang harus diberi pelajaran.”


“Silakan. Itu pun kalau kau hebat.”

__ADS_1


“Hiaah!” pekik Aquila sambil mengayunkan pedangnya tiba-tiba. Dia cukup cepat karena sudah menghampiri lawannya. Serangan berhasil ditahan Aza, dengan tetap memamerkan tampang menyebalkannya. Pertarungan pun terjadi, membuat keduanya saling menyerang dan bertahan.


Tapi, bagaimanapun Aquila Ganymede yang merupakan assandia (petarung) level komandan tingkat menengah tetaplah bukan tandingannya. Sehingga, pada pertarungan jarak dekat ini menimbulkan banyak luka seperti terbakar di kulit wanita itu.


Refleks Aza Ergo memutar tubuhnya dan menendang perut petinggi sebangsanya.


“Ugh!” erang Aquila yang terpukul mundur. Ia sentuh bekas tendangan tadinya sambil menatap tajam Aza.


“Menyebalkan. Ini terakhir kalinya aku akan bertanya baik-baik. Apa tujuan kalian ke sini? Jika tak menjawab, kupastikan eksekusi kalian tidak akan menyenangkan.”


Suasana mencekam. Tekanan dari perkataan Aza Ergo seolah mendinginkan suasana. Bahkan jika tampangnya tidak seserius itu, namun kegilaannya tak bisa diremehkan.


Dia bukan tipe yang bisa diprediksi sesuai ucapannya.


“Kau pikir kau siapa? Bocah kotor sepertimu takkan mengerti apa-apa!” Lambat laun kepala Gilles menumbuhkan tanduk seperti unicorn.


“Hee ... bagus. Majulah!” dirinya bersemangat. Bahkan di punggungnya muncul ekor raksasa sebanyak lima buah dari magma. Meliuk-liuk dan mulai mengukur serangan.


Gilles yang menggertakkan giginya karena kesal pun maju. Tangannya seperti cakar hewan buas. Bergerak cepat menghancurkan ekor magma yang menerjang dirinya. Sama seperti Ahool, ia seorang scodeaz (pengendali).


Sementara di sisi lain.


“Aku akan membawamu ke tempat elftraz (penyembuh)” lirih Aquila membantu Ahool sambil merangkulnya. Dengan memusatkan tenaga di kaki, mereka berdua pun melompat menjauhi pertarungan.


Satu lawan satu bukanlah cara terbaik untuk memerangi Aza Ergo. Mengingat tipe serangannya bisa menyerang musuh dalam jumlah banyak. Tapi terlebih parahnya lagi, ia cukup ahli dalam pertarungan jarak dekat.


Benar-benar merlindia (penyihir) menyebalkan menurut Gilles yang berusaha mendekatinya.


“Tak kusangka Nona Gilles ada di sini,” bisik Rexcel.


“Kau kenal?” tanya Reve.


“Tentu saja. Dia salah seorang bangsawan dari Siren. Tapi, kenapa dia di sini?”


“Entahlah. Tapi sepertinya dia hebat,” Reve cukup kagum melihat gaya bertarung Gilles.


Sosok-sosok yang menjadi kubu Aza Ergo, sekarang sedang mengintai pertarungan. Untung saja petinggi gila itu mengeluarkan tekanan kemampuan yang tinggi sehingga orang-orang di sana tidak sadar dengan kehadiran mereka.


“Jika kulihat-lihat lagi, Tuan Aza benar-benar hebat,” puji Toz.


“Dia kan petinggi, wajar saja hebat,” gerutu Doxia.


“Tapi, bukankah dia masih muda? Di umur segitu sudah menjadi petinggi, bukankah sangat luar biasa?”


“Cih, berhentilah memujinya. Lagi pula, kenapa dia meninggalkan pesan agar kita mengintai di sini? Menyebalkan.”


Begitulah. Mereka terpaksa datang hanya untuk mengamati pertarungan Aza atas suruhan darinya. Pesan yang ditinggalkan pada gagak, memberi tahukan jika terjadi sesuatu, hewan itu akan berulah dan mematuk kepala Horusca.


 


  

__ADS_1


 


 


__ADS_2