
“Kau—” dengan memaksa tubuh penuh luka itu untuk bangkit, Laraquel pun terduduk di tanah sekarang. “Siapa kau sebenarnya?”
Aza, tidak. Entah dirinya atau sang kakak dalam tubuh itu, pastinya Laravell lah yang bersuara. “Mengerikan. Apa ini perang?”
“Aza?” gumam Beltelgeuse. “Tidak. Kau siapa?”
Sosok yang ditanya pun menoleh. “Aku? Aku Laravell, kakaknya.”
“Kau! Kau yang sudah dimakamkan itu!” petinggi gyges mengingatnya. Karena dia ikut menguburkan Laravell di Hadesia.
“Ah, benar juga. Tubuhku sudah mati ya,” ia pun tersenyum. “Tapi lupakan itu, pasti kau yang memakai kutukan aneh pada adikku,” sosoknya pun berpaling ke arah Reygan Cottia.
Penampilan sang penyimpang cukup berantakan. Baju bagian dadanya agak koyak seperti terbakar. Begitu pula area lengannya, siapa lagi sang pelaku kalau bukan magma duri Aza yang pertama.
“Adikmu? Mantra jiwa? Apa mungkin kau tradio?”
“Lepaskan kutukanmu.”
Tersentak. Begitu sekejap mata, karena Laravell yang menggerakkan tubuh Aza sudah berdiri tepat di depan Reygan.
“Kau cukup cepat rupanya.”
Laravell tersenyum. “Sepertinya begitu. Jadi, bisa kau lepaskan kutukanmu?” tangannya pun terangkat menyentuh dada sang penyimpang.
Mengejutkan Reygan, karena ada sensasi panas menyeruak di sana. Secepat kilat ia menghindar, namun serangan magma Aza juga sudah duluan mengenai dada.
Kulitnya seperti meleleh dan itu disaksikan beberapa pasang mata.
“Kau cukup berbahaya. Jika kulepaskan, aku yang akan menderita,” Reygan terkekeh dan menepis magma di badan dengan mudahnya. Bahkan parahnya lagi, kulit melelehnya sembuh kembali.
Dan itu membuat Laravell menatap tajam dirinya. “Aromamu gyges, tapi penyembuhanmu seperti elf. Apa mungkin karena pedang itu?” matanya menyorot berlian di gagang pedang Reygan.
“Matamu cukup jeli rupanya. Ya, inilah bayaran dari membantai phoenix.”
Ucapan penyimpang itu pun membuat Laravell mengalihkan perhatiannya pada Reve. Tampak sosok muda phoenix menatap aneh padanya. Dan lirikan mereka terputus karena Laravell menoleh ke arah Perseus yang berdiri jauh darinya.
“Tiga penyimpang ya,” ucapnya tiba-tiba. Setelah selesai memperhatikan siapa saja yang berada di sana, ia pun tersenyum ke arah Reygan.
“Sepertinya, aku tahu bagaimana cara melumpuhkanmu.”
Komplotan Aegayon yang saling berdekatan pun kaget mendengarnya.
__ADS_1
“Hei! Apa maksudmu?!” Laraquel menyela tiba-tiba.
“Memang menyenangkan jadi tradio. Mantraku, bisa memastikan jenis kemampuan di sekitarku.”
Reygan pun mengernyitkan dahi akibat ucapannya. Tiba-tiba Laravell mengangkat tangan dan menyentuh dahinya.
“Baiklah. Apa kalian bisa mendengar suaraku?” ucapnya.
Dan setiap orang yang berada di tanah gyges, terkesiap karena mendengarnya. Semua yang bisa melihatnya di area sekitar, langsung menoleh padanya. Entah karena kemampuannya, siapa pun jadi tahu kalau Laravell di tubuh Aza lah yang bersuara.
“A-apa yang terjadi? Ini bukan suara Aza,” lirih Xavier Lucifero terbata-bata.
Perseus juga Kuyang yang bisa mendengarnya, ikut menatapnya.
“Tak perlu basa-basi. Dua elftraz (penyembuh), aku akan menggunakan kalian untuk menyembuhkan orang-orang seketika. Aku sudah paham situasinya. Dengan memakai api abadi dua phoenix, mereka akan jadi bekal energi kalian.”
Tiga penyimpang yang mendengarkan itu pun tersentak.
“Dengan mengatakan rencanamu, apa kau pikir akan berhasil? Kalian mungkin baik-baik saja. Tapi kami, punya perjanjian dengan Helga juga dunia bawah sehingga tidak akan bisa mati.”
Laravell tersenyum. Entah apa yang lucu, tampangnya membuat Reygan agak kesal. Ia pun memiringkan wajah dalam keadaan tangan masih memegang kepala. Pertanda kalau mantra suaranya masih menggapai sekitarnya.
“Aku mendengarnya. Dan aku juga bisa merasakannya. Ingatan ibuku di masa lalu yang tersisa, sudah memberitahuku. Kalau kalian sedang mengulur waktu untuk kebangkitan Helga.”
Tentunya para pendengar di bawah mantra Laravell terkejut mendengar ucapannya.
“Sepertinya, bukan tradio lemah ya,” Perseus pun terkekeh.
“Dia pasti akan ke sini. Aku bisa merasakan aliran energinya. Pertempuran ini, akan menjadi langkah awal kedatangannya. Setelah kau lepas ke dunia, belenggunya pun terbuka.”
Reygan pun tersenyum dibuatnya. “Kalian sudah tamat.”
“Sayang sekali kayangan tak terlibat, tapi untungnya tiga Dewa di sini,” ucap Laravell dengan santainya.
“Dewa?!” pekik kaget Kuyang dan Laraquel bersamaan.
“Bukankah sudah saatnya kalian keluar? Jika Helga muncul, kayangan pun akan turun tangan. Bukankah aku benar? Para Dewa tak bertahta,” selesai mengatakan itu Laravell pun menoleh bergantian pada tiga sosok.
Membuat beberapa pasang mata yang melihat terkesiap dibuatnya.
“T-tunggu, k-kenapa dia melihat kemari?” syok Xavier mendapati arah pandangan Laravell.
__ADS_1
“Lirikan matanya, apa mungkin itu kau?” tanya Perseus pada sosok di depan mata.
Siapa lagi kalau bukan sang Raja hydra. Hydragel Kers dengan mulut penuh anggurnya. Sontak saja ia telan kunyahannya dan tertawa pelan. “Dasar gila. Aku ini sudah ditendang dari singgasana dan tak berguna.”
Di tempat yang berbeda, Reygan pun melirik aneh ke arah pandangan Laraquel pada sosok lainnya. “Kau Dewa? Bukannya kau hanya phoenix tak berguna?” ucapnya pada Reve Nel Keres yang terkejut.
Dan sisanya, sosok terakhir yang diperkirakan Dewa hanya tersenyum memandangi mereka. “Jadi, sudah saatnya ya?” ucap Lascarzio Hybrida yang kemudian duduk di samping badan Trempusa. “Baiklah. Sepertinya sudah saatnya bagimu untuk ambil bagian, wahai saudara seperjanjianku, Trempusa.”
Dan tangannya pun menyentuh kepala Raja empusa. Seketika asap mengepul di kepalanya, membuat sosok itu spontan memasang wajah aneh menatap sekitarnya.
“I-ini, apa yang terjadi?” bingung Trempusa.
“Bangunlah. Sudah saatnya memberi hukuman pada mereka,” ucap Lascarzio yang meninggalkannya.
“Tunggu, kau yakin mereka Dewa?” tanya Laraquel tiba-tiba. Dengan mengabaikan kondisi sakitnya, ia suarakan penasaran.
“Entahlah, buktikan saja kebenarannya. Aku akan mulai, jadi bersiaplah elftraz (penyembuh), phoenix.” Tanpa menunggu lagi, Laravell jauhkan tangannya yang menyentuh kepala. Sehingga mantra suaranya tak berlaku lagi di telinga para pendengar.
Tanpa aba-aba ia jentikkan tangannya sehingga sayap naga langsung terkepak dengan gagahnya. Dan ekor magma pun bermunculan lalu menjelma menjadi ular raksasa. Dengan tujuh kepala membubung ke udara.
“Baiklah, ayo kita mulai.” Dia pun langsung meghantamkan telapak tangannya ke tanah. “Oculos habeo. Multa habeo nomina. Videre possum, quia ubique sum. Isqa ego sum, haec larva est. Noli me vexare, noli me confodere. Quia credo, veniam ad te. Collum tuum avellere laetitia.”
“(Panggilan suci. Mantra suci nomina. Gerbang abadi, kegelapan yang bersuara. Kutukan yang berbunyi, merah darah singgasana. Memberi tanda pengusik, memberi tanda penusuk. Membangkitkan garis, bisikan orang mati. Menjemput jiwa para pendosa.”
“Abteriov, senka porta! Terbukalah, gerbang bayangan!)”
Tanah bergetar.
Mengeluarkan asap merah di permukaannya. Lambat laun lingkaran sihir tergambar di langit-langit mereka. Bersamaan dengan itu, dua rantai biru pun bangkit dari tubuh Reve Nel Keres juga Castroz Kerez yang tergeletak tak berdaya. Bergerak cepat untuk menghujam punggung para elftraz (penyembuh).
“Dia, apa dia serius?” ucap Horusca tiba-tiba.
Dan aura hijau pun berkobar dari raganya begitu pula Cley Vortha. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menyembuhkan diri akibat serangan duri magma Aza yang pertama. Tapi, tentunya hal tak terduga juga terjadi selanjutnya. Di mana benang serupa aura keduanya pun menyeruak dalam jumlah banyak lalu menusuk siapa pun yang ada di sana.
Terkecuali tiga penyimpang yang tak mendapatinya.
“Kau pikir, sampai kapan mantramu bisa aktif? Kalian semua mungkin bisa menyembuhkan diri berulang kali. Tapi kami tidak bisa dibunuh. Kalian hanya memperpendek nyawa phoenix untuk pertarungan yang sia-sia,” seringai Reygan yang tersenyum miring pada Laravell.
__ADS_1