
Rexcel dan Doxia bergidik mendengar kalimat Aza Ergo. Perkataan lelaki itu kembali mengingatkan mereka akan kengerian tuan Criber.
“Hei! Kau salah paham! Kami tak ada hubungannya dengan ini semua!” teriak Doxia.
“Begitu?”
“Jika kau sudah selesai, cepat beri tahu apa alasanmu menemui kami,” potong Reve.
“Mmm ... alasanku ya. Kalau aku bilang ingin menghabisi kalian semua, bagaimana?”
Reve melirik cincin di jari tengah pemuda itu. “Merlindia (penyihir), jangan pikir kalau kami tak punya cara untuk menghadapi petinggi sepertimu.”
“Aah! Sombong sekali dirimu. Aku ke sini hanya ingin menawarkan perjanjian. Kalian bertiga, apa kalian bisa ikut aku?” tunjuk Aza Ergo pada Horusca, Riz dan Reve.
Ketiga orang yang ditunjuk saling memandang, sampai akhirnya dua di antara mereka mengangguk lalu pergi mengikuti Aza Ergo. “Apa yang ingin dibicarakan orang itu?” tanya Doxia.
“Entahlah, apa pun itu, tapi sepertinya bukan hal yang baik,” sela Rexcel.
Di sebuah kamar di lantai tiga yang sepi, empat orang itu sekarang berdiri berhadapan. “Jadi ada perlu apa?”
“Tidak sabaran,” Aza Ergo memandang Reve yang berbicara.
Riz menatap berkeliling, merasa aneh dengan ketenangan di sana. Sebuah lukisan tak biasa dengan gambar berupa merak yang penuh darah menggagalkan fokus Riz. “Aku ingin kita bekerja sama,” ucap Aza Ergo tiba-tiba.
“Bekerja sama?” fokus Riz pada lukisan tergagalkan oleh ucapannya.
“Ya, bagaimana?”
Ketiga pemuda itu tampak ragu menjawabnya. Tatapan Aza Ergo di balik senyum anehnya mengisyaratkan suatu misteri. “Memangnya kita akan bekerja sama dalam apa?” Riz memiringkan wajah heran.
Aza Ergo tertawa. “Jika kita bekerja sama, aku bisa membuat kalian keluar dari kota ini tanpa ketahuan. Jangan lupa, mengganggu hukum dunia Guide berarti kejahatan.”
“Sayang sekali aku tidak tertarik. Tanpa bantuanmu, aku bisa pergi saat ini juga,” sambung Reve dengan angkuhnya.
“Bocah sombong, kau ingin kubuat ketahuan sekarang juga?” ancam Aza Ergo.
“Apa yang kau harapkan dari kami?” potong Horusca.
Aza Ergo menoleh padanya. Perlahan, senyum aneh merekah lebar hendak membelah wajahnya. “Apa kalian pernah mendengar tentang amarilis?”
Reve tertegun. Sementara Riz, ia memandang dengan raut wajah tak tahu dengan apa yang ditanyakan Aza Ergo. Lain halnya Horusca, pemuda itu tetap tenang ekspresinya mendengar pertanyaan petinggi di depannya.
“Amarilis? Bunga?” oceh Riz.
“Peri.”
“Peri? Aku baru datang ke dunia ini. Jadi aku tidak tahu tentang itu,” jelas Riz.
Reve mengalihkan pandangannya. Begitu pula Horusca, sampai akhirnya pemuda itu mengeluarkan suara rendah yang menenangkan. “Peri amarilis. Peri yang cintanya tak berbalas lalu menjual jiwa-jiwa pada kegelapan untuk kesenangan?”
“Aha! Kau tahu ceritanya?” Aza Ergo tampak senang ekspresinya. Ia mendekatkan wajah tampannya ke arah Horusca yang tak memandangnya.
“Cerita kuno. Apa yang kamu inginkan dengan cerita itu?”
Aza Ergo menyeringai. “Aku ingin darah amarilis, sebagai gantinya, akan kucarikan tempat persembunyian serta jalan aman untuk kalian kembali ke dunia manusia. Bagaimana?”
“Jalan aman ke dunia manusia?” telinga Riz seolah melebar mendengar perkataan Aza Ergo.
“Benar. Kalian buronan, sekali menantang hukum kalian tetaplah penjahat yang harus diadili. Bukankah ini tawaran yang menarik?”
“Intinya, jika bersamamu, kami takkan kesulitan dengan petinggi yang lain?” tanya Reve.
“Benar, karena aku bisa mengamankan kalian dari perhatiannya. Bagaimana?”
“Peri amarilis hanya dongeng,” timpal Horusca.
“Dongeng? Kau penghuni asli dunia Guide?” Aza Ergo menatap tajam Horusca. Ia menatap pemuda berambut merah itu dari atas ke bawah, “apa ini? Kau bukan manusia? Kau dari bangsa mana?” Aza Ergo mengernyitkan dahi karena tak bisa mencium aroma apa pun dari tubuhnya.
Horusca hanya menatapnya. “Aku menolak,” potong Reve tiba-tiba sambil bersandar ke sofa.
“Kenapa?”
“Aku punya tujuan lain. Bekerja sama denganmu hanya buang-buang waktu,” jelas Reve mengabaikan tatapan jengkel petinggi itu.
“Benarkah? Memang apa tujuanmu?”
“Bukan urusanmu,” ketus Reve.
“Kau yakin menolak tawaranku?”
“Lalu kenapa kau menawarkannya? Kau ingin memakai kelemahan kami demi keuntunganmu?” Reve berdiri kembali dan mendekatinya. “Membunuhmu adalah cara teraman untuk bersembunyi.”
“Tak masalah. Tapi langkah kalian tak akan aman di dunia ini. Kediaman bangsa-bangsa takkan membiarkan buronan seperti kalian berkeliaran. Terlebih dengan insiden hydra baru-baru ini.”
“Bahkan jika kami bersedia membantu. Apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan darah peri amarilis itu?” tanya Riz padanya.
“Kalian hanya perlu menemaniku dan memberi bantuan tenaga di perjalananku mencari darah itu.”
“Menemani dan memberi bantuan tenaga?” ekspresi Riz berubah enggan.
“Ya. Aku hanya memerlukan itu. Sebanding bukan?”
“Kenapa harus kami? Padahal anda bisa saja mencari orang lain.”
“Pembangkang bermasalah jauh lebih menjanjikan dibanding pembicara nyaman. Karena aku bisa mengetahui kapan kalian akan berkhianat, dibanding mereka yang tenang denganku namun menusuk dari belakang.”
__ADS_1
“Sepertinya kau sudah pernah dikhianati,” sela Reve.
Aza Ergo tersenyum. “Jadi, bagaimana?”
Mereka sama-sama diam sejenak. Sampai akhirnya salah satu mulai melepaskan keluhannya. “Tapi aku datang ke sini untuk menjadi kuat dan mencari kristal biru.”
“Tenang saja, semakin sering menghadapi bahaya, kau akan semakin kuat. Aku akan membantumu dalam masalah kristal itu. Bahkan juga bisa menyediakan persembunyian serta jalur aman kembali ke dunia manusia. Bagaimana?” Aza Ergo masih mencoba meyakinkan Riz.
“Aku tetap menolaknya,” tegas Reve.
Ekspresi Aza Ergo yang semula ramah mendadak gelap rautnya. “Kenapa?”
“Kau bersikeras merekrut mereka yang tampak menguntungkan. Aku tak bisa, aku juga punya urusan.”
Aza Ergo semakin jengkel dengan pemuda itu. Lalu menoleh pada Horusca.
“Kedengarannya bukan ide yang buruk. Tapi, aku juga punya tujuan. Dan aku tidak yakin itu akan menyenangkan jika bekerja sama denganmu.”
“Sebutkan. Aku jadi ingin mendengarnya," pinta Aza Ergo.
“Bangsa naga.”
“Hah? Apa yang kau bicarakan?” Aza Ergo memiringkan wajahnya.
“Aku ingin bertemu dengan bangsa naga.”
“Bangsa hantu itu akan kau cari di mana? Lagi pula kenapa kau ingin menemuinya?”
“Lalu kenapa kamu menginginkan darah amarilis? Jawaban kita tidak berbeda,” kilah Horusca.
Aza Ergo berpikir sejenak sebelum memberi jawaban. Apa yang dikatakan Horusca memang benar. Mereka punya tujuan dan jawaban masing-masing. Hanya itu persamaannya.
Namun, ia tetap tak bisa melepaskan Horusca karena pemuda itu seorang elftraz (penyembuh) yang sangat dibutuhkan. Tapi, tujuan Horusca benar-benar di luar bayangan. Tak satu pun yang tahu di mana keberadaan bangsa naga.
Ini benar-benar kerja sama yang akan merepotkan nantinya. “Baiklah. Jika kau membantuku, aku juga akan membantumu mencari keberadaan bangsa naga. Bagaimana?”
Horusca masih belum menyetujuinya. Ia melirik ke arah Reve. “Apa yang kau lihat? Jawabanku masih sama.”
Aza Ergo mulai kesal karena pemuda dengan kemampuan menarik mata menolak kerja samanya. “Sebutkan.”
Reve memandang heran pada petinggi itu. “Apa?”
“Sebutkan tujuanmu. Mungkin saja kita bisa saling membantu.”
“Tidak! Kita tidak bisa dan takkan pernah bisa. Aku kembali dulu,” Reve berbalik hendak meninggalkan kamar itu.
“Reve, apa aku boleh tahu apa tujuanmu di dunia ini?” pertanyaan Riz menghentikan langkah Reve.
“Lebih baik kau tidak mengetahuinya. Jika kau masih ingin hidup tenang di dunia ini,” Reve lalu pergi dari kamar itu.
Beberapa saat kemudian, tiga orang itu kembali ke kamar Reve di mana yang lainnya menunggu. “Riz,” sapa Toz. Riz mengangguk pada Toz lalu mendekatinya.
“Toz, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ajak Riz padanya.
Toz terdiam, lalu memandang berkeliling sebelum menyetujuinya. “Baiklah, ayo,” angguknya. Mereka pun pergi ke kamar yang dipesan Horusca. “Ada apa Riz?” tanya Toz.
“Toz, aku pikir ... aku akan pergi mengikuti petinggi itu.”
“Hah?! Apa maksudmu? Kamu ingin ditahan?!”
“Bukan, bukan itu. Aku akan bekerja sama dengannya.”
“Bekerja sama?” Toz masih tak paham.
“Ya, aku akan pergi mencari darah amarilis dengannya.”
“Darah amarilis? Darah siapa itu?”
“Aku tidak tahu. Kata petinggi itu, jika kita mau membantunya, dia juga akan membantu kita. Entah itu mencarikan tempat persembunyian yang aman, jalan menuju dunia manusia atau kristal biru yang sangat kita butuhkan. Bagaimana Toz? Apa kamu mau ikut bersamaku? Bersama-sama jauh lebih baik. Bagaimanapun sekarang kita ini buronan.”
Toz terdiam. “Sepertinya bukan ide yang buruk. Aku tidak menyangka jika Reve akan menyetujuinya.”
“Reve?”
“Ya. Bukankah Reve juga menyetujuinya?”
Riz memasang wajah bingung. “Dari siapa kamu tahu? Reve menolak kerja sama itu.”
“Apa! Kenapa?!”
“Dia bilang, dia punya tujuan lain sehingga memilih menolaknya.”
“Itu berarti Reve takkan pergi bersama kita?”
“Tidak Toz,” terang Riz. Raut wajah Toz langsung berubah mendengarnya. “Kamu mengkhawatirkannya?”
“Ya.”
“Tapi, bagaimanapun dia tak mau bekerja sama. Bahkan jika kita bisa saling membantu, dia masih tak mau mengatakan keinginannya.”
Toz terdiam. Cukup lama ia seperti itu, membuat Riz cemas dan penasaran dengan apa yang dipikirkannya. “Jika kamu ingin dia ikut kita, cobalah membujuknya. Aku juga berharap dia mau pergi bersama.”
Toz tak menjawab apa pun. Sampai akhirnya mereka kembali ke kamar Reve di mana beberapa orang sedang berdiskusi.
“Jangan gila! Kita sudah gagal mendapatkan tujuan kita, dan sekarang ingin melakukan hal terlarang?! Aku bahkan masih belum tenang memikirkan Criber tua akan menghajarku!” gerutu Doxia tiba-tiba.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Riz yang tak tahu permasalahan.
“I-itu, mereka berdebat tentang hukuman tuan Criber,” jelas budak yang juga di sana.
“Kenapa kalian setakut itu dengan tuan Criber?”
Doxia mendelik mendengar pertanyaan Aza Ergo. “Tentu saja aku takut. Tua bangka itu tak peduli murid atau lawan. Dulu aku kabur gara-gara menipunya, dan sekarang ingin mencoba menipunya lagi?! Aku benar-benar menyesal datang ke sini. Ini semua salahmu bodoh!” tunjuk Doxia pada Rexcel.
“Tapi guru tak terlihat seperti mempedulikan kita. Menurutku takkan ada masalah. Kita hanya perlu mencurinya lagi dan kabur dari sini.”
“Apa kau lupa kalau kita sudah kabur dengan para buronan ini?! Kau mau mati muda?!”
“Dulu kau berhasilkan? Sekarang ayo kita coba. Kita pasti takkan ketahuan,” gigih Rexcel membujuknya.
“Kalau gagal bagaimana? Kau mengajakku kemari untuk jadi tumbal? Aku tidak mau!” tegas Doxia.
“Aku tidak paham apa yang mereka bicarakan,” timpal Toz tiba-tiba.
“Aku juga,” Riz menyetujuinya.
Sementara Reve, pemuda itu tampak sibuk rebahan dengan ularnya. Toz memandang ke arahnya, membuat pemuda itu sadar akan tatapan yang mengganggu. Toz tersenyum, namun tak diacuhkan oleh Reve.
“Apa kita juga akan membawanya?” potong Horusca tiba-tiba.
“Hah?! Apa maksudmu?!” teriak Doxia.
“Menurutku akan lebih menguntungkan mengajak dia daripada mereka berdua,” tunjuk Horusca pada Reve.
“Kau benar, kemampuan assandia (petarung) langkanya bagus untuk menyapu musuh dalam jumlah banyak,” Aza Ergo melirik Reve yang tak acuh. “Apa kau benar-benar tak tertarik? Padahal jika bekerja sama, semua tujuan akan tercapai.”
Reve membalas tatapannya. “Tujuanku akan sial jika bekerja sama dengan kalian,” balas Reve bangkit dari tidurnya.
Mendengar kalimat itu, hati Toz sedikit terluka. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya, karena bagaimanapun, hanya dirinya yang tahu tujuan Reve sebenarnya. “Maafkan aku Riz. Tapi aku pikir, aku akan ikut Reve.”
Riz tersentak kaget, ia tak menyangka temannya akan berkata seperti itu. “Kenapa? Bukankah kita akan pergi bersama-sama?! Kita sama-sama memasuki dunia ini. Kita berteman, kita juga baru bertemu, bukankah lebih baik kita pergi bersama?!”
“Benar katanya. Kenapa kau malah ikut denganku? Aku tidak suka membawa beban di punggungku.”
“Reve!” bentak Riz.
“Maafkan aku. Tapi keputusanku sudah bulat,” tegas Toz. “Bahkan jika aku hanya beban dan tak punya kekuatan, aku akan tetap mengikutimu. Maafkan aku Riz,” ucap Toz lirih. Ekspresi wajahnya benar-benar merasa bersalah, karena harus memilih berpisah dari Riz.
“Toz ...” Riz terguncang mendengarnya. Lalu melirik ke arah Reve yang tak berekspresi apa-apa.
“Keramaian ini membuatku sesak,” ucap Reve tiba-tiba pergi meninggalkan mereka.
Sementara, Rexcel dan Doxia masih berdebat dengan masalah mereka sambil sesekali mengomel pada Horusca yang sudah membandingkan keduanya dengan Reve.
“Aku ada urusan, nanti kita bertemu lagi,” sela Aza Ergo meninggalkan kamar itu. Lorong panjang bercahaya temaram, memantulkan bayangan untuk menemani langkah Aza Ergo. Pijakan itu tak bersuara, akan tetapi dinginnya udara cukup menusuk kulit dan tak berarti apa-apa bagi laki-laki pengendali magma sepertinya.
“Apa sesulit itu bekerja sama denganku?” tanya Aza Ergo tiba-tiba. Langkahnya sampai di sebuah balkon yang dipenuhi tanaman merambat di mana Reve berada.
Pemandangan danau lepas di belakang penginapan itu, memantulkan sinar bulan dalam keheningan. Sunyi, itulah pemandangan di depan mata Reve.
“Karena tujuanku akan sial jika bekerja sama denganmu.”
“Benarkah? Kalau begitu sebutkan, aku penasaran seberapa besar kesialan yang bisa kuberikan untuk itu,” tantang Aza Ergo.
“Aku berterima kasih karena kau tidak mengadu pada para petinggi. Tidak lebih dari itu.”
“Apa begitu sulit memberi tahuku tujuanmu? Sepertinya, ucapan Logan tentang kau yang mencurigakan memang benar.”
“Logan?” Reve melirik laki-laki itu lewat sudut matanya.
“Ya, dia memberi tahuku kalau kalian sempat bertemu di toko tuan Barca. Jadi, apa yang kau cari di tempat pembuat kaca itu?”
“Apa itu julukannya?”
“Itu gelarnya, walau ia penjual rongsokan,” ledek Aza Ergo. Reve tak menanggapi, membuat lawan bicara kembali melanjutkan kalimatnya. “Padahal aku sangat tertarik dengan kemampuanmu. Sayang sekali aku tak bisa merekrutmu.”
“Darah amarilis, sepertinya itu takkan mudah.”
Perlahan, Aza Ergo melebarkan senyum. “Tak mudah sesuai harganya. Karena itulah aku butuh orang-orang yang bisa menjamin keberhasilanku.”
“Lalu apa yang bisa kau tawarkan demi keberhasilan mereka?”
“Aku tahu balas budi. Bahkan jika hanya sebuah apel busuk, aku akan tetap membayarnya.”
“Terdengar baik,” cela Reve. Ia mengelus pelan leher Near sang ular.
“Teleportasi, itu binatang sihir. Apa kau berasal dari dunia ini? Tapi kau manusia.”
Reve tersenyum tipis tanpa menatapnya. Sorot pandang yang mengarah ke air danau bergelombang pelan pun menyiratkan tatapan misterius.
“Kau benar-benar berbahaya,” ucap Aza Ergo tiba-tiba.
Reve meliriknya, “kenapa begitu?”
“Mata itu, mata penuh misteri. Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya. Kau, siapa kau sebenarnya?”
Mendengar itu, Reve pun tertawa pelan. “Ini bukan pertama kali aku mendengarnya. Namaku Reve Nel Keres.”
Aza Ergo melempar pandangan ke danau. “Apa kau tahu mitos dewa malam?”
Pertanyaan itu, hanya membuat wajah Reve berekspresi datar. Aza Ergo kembali melanjutkan kalimatnya, “Dalam bahasa kuno, dewa itu selalu tidur di mana saja. Akan tetapi, ada satu hal yang membuatnya selalu dikenang,” Aza Ergo menoleh padanya. “Seekor ular, yang selalu menemaninya di mana saja.”
__ADS_1