Death Game

Death Game
Kematian empat pemuja


__ADS_3

“Aa-aa ....”


“Maafkan aku, tapi kami tak punya waktu mengurus sampah seperti kalian,” ucap Reve menusuk leher salah satu penyerang dengan pedang yang tiba-tiba muncul di tangan. Tak hanya sekali, ia melakukannya berkali-kali hingga leher orang itu terkoyak.


“Baiklah, selanjut-”


“Hentikan!” cegat Toz. “Apa yang mau kamu lakukan?!”


“Tentu saja memberi pelajaran.”


“Ta-tapi! Mereka sudah mati,” Toz menahan tangan Reve.


“Lalu?”


“Lalu? Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?! Ki-kita sudah membunuh orang,” Toz memandang tak percaya pada Reve yang menatap santai ke arahnya.


“Kita? Bukankah Near yang membunuhnya? Aku hanya akan membereskan sisanya.”


“Itu ...” tiba-tiba terdengarlah suara tawa tak jauh dari tempat itu yang menambah kepanikan Toz.


“Sudahlah, ayo kita pergi,” Reve berbalik.


Sementara Near sudah lenyap entah ke mana saat Toz memandang ke arahnya.


Dengan langkah terburu-buru, mereka sampai juga di depan pintu mencolok yang berada di dinding kiri pembatas jalan. Pintu yang terbuat dari kristal merah dan memancarkan aroma anyelir yang pekat.


Reve pun menyentuhnya. Tiba-tiba, pintu itu bercahaya yang menyilaukan kegelapan di sekeliling mereka.


Beberapa detik kemudian, kristalnya melunak layaknya jelly merah dan berlendir.


“Cih! Apa ini?” Reve mamandang jengkel. Akan tetapi, tangannya yang menempel di pintu malah tertarik ke dalam membuat mereka sama-sama kaget. “Ini.”


“Reve!” Toz memegang lengannya. Tak butuh waktu lama, keduanya akhirnya tertarik ke dalam pintu kenyal dan berlendir itu.


“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...” Toz terbatuk-batuk karena kaget dan tak sengaja menjilat pintu yang ditembusnya.


“Selamat datang tuan-tuan, ada yang bisa dibantu?” sambut seseorang bersuara lembut yang unik. Reve dan Toz melirik ke arahnya.


Tampaklah di depan mereka, sesosok aneh dengan badan dan wajah menyerupai manusia tapi memiliki sisik trenggiling di kulitnya. Ditambah lagi, rambut pirang panjang yang membuat penampilannya semakin mencolok.


“Kami butuh sebuah kamar dengan dua ranjang di dalamnya.”


“Baiklah, silakan ikuti saya,” orang itu memandu mereka.


Toz terpana menatap keindahan penginapan yang sedang didatanginya. Seperti negeri dongeng, bagian dalam bangunan sangat luas dengan dinding, lantai dan langit-langitnya terbuat dari kristal merah bersinar terang. Bahkan bunyi langkah yang bergesekan dengan lantai terasa merdu olehnya.


“Sepertinya kalian pengunjung baru di kota ini,” ucap pelayan itu tiba-tiba.


“Ya,” balas Reve singkat.


“Apakah perjalanan ke sini menyenangkan?”


Toz tak mengatakan apa-apa. Ia tak ingin salah bicara sehingga membiarkan semua urusan Reve yang menanganinya. “Ya, sangat menyenangkan.”


“Begitu?” Orang itu menoleh ke belakang dengan senyum ramahnya, membuat Toz menjadi canggung dan Reve menatap datar.


“Ini kamar kalian,” jelasnya sambil menyentuh pintu ruangan yang dimaksud. “Harga kamar ini semalam tiga koin emas. Fasilitas di dalam lengkap sehingga kalian tidak akan merasa bosan. Jika berminat, tempelkan saja koin emas ke pintu dan ia akan terbuka.”


Reve mengangguk, ia mengeluarkan beberapa keping koin emas dan menempelkannya ke dinding pintu. Pintu langsung terbuka bersamaan dengan lenyapnya koin yang ditempelkan.


“Baiklah, semoga hari kalian menyenangkan,” ucap pelayan itu dan pergi meninggalkan mereka.


“Wah ... apa ini benar-benar kamar kita?” ujar Toz bernada senang. Ia memasuki kamar terlebih dahulu. Sementara Reve, sorot matanya masih tak beranjak dari lelaki yang sudah memandu mereka.


“Menyenangkan ...” gumam Reve berwajah dingin saat memasuki kamar.


Esok harinya, Reve dan Toz keluar penginapan sambil diiringi senyum oleh pelayan yang memandu mereka kemarin. “Semoga hari anda menyenangkan Tuan.”


Toz mengangguk, merasa puas dengan pelayanan penginapan. “Jadi kita akan ke mana?”


Reve tersenyum, tak menjawab dan memilih mengabaikannya. Toz hanya bisa memandang heran dan tak bertanya lagi.


Sejujurnya ia sangat waspada terhadap Reve, takut-takut kejadian tadi malam juga akan menimpanya. Bayangan pembunuhan yang dilakukan sang ular peliharaan kembali menghantuinya.


Tapi ia tidak bisa apa-apa. Kenyataan kalau Reve sudah bersamanya dan membantu saat susah bukan hal mudah yang bisa disepelekan. “Reve, apa aku boleh bertanya sesuatu?”


“Mmm.”

__ADS_1


“Kamu dapat koin emas dari mana?” Toz benar-benar penasaran. Matanya tak mau beranjak dari wajah Reve yang berjalan di sampingnya.


“Aku mencurinya.”


“Hah?! Apa!”


“Dari makhluk yang kubunuh,” pejelasan Reve sudah mengartikan semuanya.


Mulut Toz menganga karena masih tak percaya dengan ucapan rekan seperjalanannya. “Dari korban yang ia bunuh? Oh dewa, sepertinya aku juga berdosa karena sudah ikut serta memakan uangnya,” batin Toz meradang.


Perjalanan mereka, sekarang memasuki sebuah kawasan yang tampak seperti pasar di kota modern, hanya saja bangunan di sini lebih indah. Berbagai macam dagangan terpamer di stan-stan unik dengan sosok pedagang yang menarik.


Mereka rata-rata menyerupai manusia, tapi memiliki sesuatu yang berbeda. Entah itu tanduk, sisik, taring ataupun sayap sebagai tambahannya.


“Hei! Apa kau sudah dengar?” tanya salah satu pelanggan pada pedagang yang didatanginya.


“Dengar apa?” pedagang itu mengangkat-angkat pakaian yang akan ditawarkannya pada pelanggan.


“Tentang penemuan mayat di dekat bar Deadsia!”


“Oh ya! Aku sudah dengar! Katanya tim patroli kota ini sangat ribut dengan tidak adanya saksi di lokasi kejadian.”


“Bagaimana bisa hal mengerikan itu terjadi?!”


Ocehan mereka terdengar jelas di telinga Toz, tapi ia tetap mengikuti langkah Reve yang tak acuh dengan gunjingan orang-orang sekitar. Tidak ada saksi, tak ada alasan untuk takut jika melihat arti wajah Reve.


Sampai akhirnya kaki mereka berdua terhenti di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam barang antik. “Pelanggan baru?” sambut orang di dalam toko melihat kedatangan mereka.


“Aku ingin membeli pedang,” pinta Reve menatapnya.


Pak tua itu tersenyum. “Baiklah, silakan ikuti saya,” keduanya berjalan ke arah yang dipandu. Menuruni sebuah tangga dan sampai di kamar yang berisi senjata.


“Memangnya ada pedang di sini?” oceh batin Toz saat melihat hiasan dari tengkorak ataupun barang unik lain bertengger indah di dalamnya. Kemudian, “wah ... luar biasa,” Toz tak bisa menghentikan rasa takjubnya.


Apa pun yang baru ditemuinya di dunia Guide, pasti dikomentari dengan pujian. Ia seolah lupa, dengan ocehannya barusan.


Reve memandang berkeliling. Ada begitu banyak senjata terpajang di dinding dan lemari-lemari kaca. Tak lama sorot matanya terhenti di sebuah tumpukan senjata yang berdebu tebal. Ia mendekat dan menatap sejenak ke dalamnya. Menyentuh salah satu mata kapak dan mengelusnya.


“Itu hanya senjata tua. Jika ingin yang terbaik, senjata terpajang ini jauh lebih luar biasa,” sela orang tua yang merupakan pemilik toko itu.


Reve tak menanggapinya. Lalu menarik dua buah pedang yang satu berukuran sedang dan satu lagi lebih panjang dibanding pedang pada umumnya. “Aku ingin ini,” ia menyerahkan keduanya pada pemiliki toko.


“Ya.”


“Ini hanya senjata tua, bahkan matanya juga tak setajam mata pedang lainnya,” pak tua itu menimbang-nimbang senjata di tangan dan mengelusnya. “Sinar senjata ini sudah lama memudar.”


“Lalu? Tidak tajam bukan berarti tak bisa digunakan. Terkadang mereka memang tak bersinar karena harus membunuh dalam kegelapan,” ucapan Reve membungkamnya.


Lambat laun senyum merekah di bibirnya, membuat Reve dan Toz menatap tanpa berkedip ke wajah pak tua yang cukup aneh baginya.


“Baiklah, jika itu yang kau inginkan,” lirihnya sambil membuka sebuah lemari yang tak jauh di posisinya berdiri. Diambilnya sebuah kain dan sebotol kristal kecil. “Ayo,” ajaknya pada mereka berdua.


Ketiganya kembali ke lantai atas di mana pintu masuk toko berada. Pak tua itu lalu memasukkan kedua pedang ke dalam sebuah guci besar yang berisi air keruh.


Disiramkannya cairan dalam botol kristal kecil sehingga air di guci mengeluarkan asap dan mendidih.


“Apa yang dilakukannya?” bisik Toz.


“Entahlah,” jawab Reve tanpa ekspresi.


“Apakah kalian sudah mendengar mitos tentang kematian para pemuja?”


“Mitos?” tanggap Toz kaget.


“Belum,” sambung Reve datar.


“Begitu?”


Toz berwajah panik dan memilih mengedarkan pandangan ke arah barang-barang antik sekitar.


“Padahal mitos itu cukup heboh di kota ini,” lanjut pak tua sambil menyentuh guci.


“Kami pendatang, jadi tak begitu akrab dengan gosip yang beredar,” sahut Reve mengalihkan arah penglihatannya.


“Dari mana kalian?”


“Dari hutan.”

__ADS_1


“Begitu?”


Reve kembali menyorot pak tua lewat sudut matanya. “Di kota ini, di mana aku bisa bertemu dengan seorang pembuat kaca?”


“Pembuat kaca?”


“Ya.”


“Di pinggiran sungai Leviosa, ada rumah yang mengkhususkan diri untuknya,” jelas pak tua sambil mengambil kedua pedang dari dalam guci.


“Terima kasih untuk informasinya.”


Pak tua itu mengangguk, lalu mengambil sarung untuk menyarungkan pedang-pedang di depannya. “Senjata ini cukup sensitif, jika tidak di tangan yang benar.”


“Begitu?” Reve menanggapinya dengan ekspresi tak acuh.


Selesai melakukannya, pak tua pun menyodorkan pedang pesanan Reve. “Tujuh puluh tujuh koin emas,” ucapnya saat menyerahkan ke tangan Reve.


Reve pun mengambilnya dan memberikan pedang-pedang itu pada Toz.


“Harga yang pantas untuk dua pedang tua,” ledek Reve sambil mengeluarkan sebuah kantong yang terbuat dari kulit berwarna hitam.


“Bagaimana rasanya?”


“Apanya?” wajah Reve mengeruh mendengar ocehan tak jelas orang di depannya.


“Membunuh pemuja yang ditakuti para pendatang,” keduanya terkesiap mendengar kalimat pemilik toko yang tak disangka.


“I-itu ...” Toz terbata-bata.


“Kalian mungkin bisa menipu yang lain. Tapi aroma darahmu tak bisa mengelabuiku,” pak tua itu menyeringai.


Sorot mata Reve berubah dingin, “ingin kubunuh?”


“Reve!” cegat Toz panik.


“Dua orang anak manusia, satu ular, aroma darah, kantong para pemuja, pedang tua, bukankah kalian sangat mencurigakan?” pak tua itu pun terkekeh begitu selesai mengatakannya.


Wajah Toz memucat karena orang itu mengatakan sesuatu yang aneh baginya. Jantungnya berdegup kencang dengan keringat membasahi pelipis.


“Lalu? Kau mau apa?” nada suara Reve terasa menekan.


“Seorang assandia (petarung) membeli pedang? Bukankah itu aneh?”


“Jika tak ada yang penting, ini koinnya,” Reve melempar kantong kulit itu ke atas meja. “Ayo,” ajaknya pada Toz.


“Pembuat kaca, apa yang diinginkan anak mencurigakan seperti kalian menemuinya?”


Begitu Reve akan membuka pintu, mendadak seluruh ruangan menggelap dan pintunya tak lagi tampak begitu kegelapan menghilang.


Reve tersenyum, membuat Toz bergidik ngeri melihatnya. “Karena aku butuh kaca, agar kau bisa melihat dengan jelas bagaimana kematian yang sesungguhnya,” Reve menarik salah satu pedang dari tangan Toz.


“Re-ve,” sergah Toz pelan.


“Jadi kalian yang membunuh mereka?”


“Membunuh siapa?” tanya Reve dengan wajah yang polos.


“Bahkan jika kalian menutupinya, jangan kira kalau aku tak tahu itu darah siapa,” pak tua pun mempertajam sorot matanya.


“Rupa manusia dan kemampuan tak biasa, chimera kah? Atau hydra?” Reve mengacungkan pedang ke arahnya.


“Sepertinya kau bukan anak biasa.”


“Buka pintunya sebelum aku menebas kepalamu.”


“Kau pasti hebat jika seyakin itu dengan kemampuanmu.”


“Reve, bukankah kita tak bisa seperti ini?” timpal Toz tiba-tiba.


Ia tak ingin situasi bertambah buruk dan mereka ketahuan, karena sudah terlibat dalam insiden semalam akibat perdebatan melawan pak tua yang mencurigakan.


“Buka pintunya,” Reve kembali memperingatkan.


“Ada jejak darah hydra di tubuhmu,” sekarang Toz benar-benar panik karena pak tua itu sudah mengatakan kalimat yang sangat ingin dihindarinya.


“Braak!” suara pedang yang dilempar dan menembus dinding. Tak disangka, kalau pedang itu menggores pelipis pak tua sebelum menembus dinding di belakangnya.

__ADS_1


“Kau tak berbelas kasih pada orang tua.” Pak tua itu menyeringai dan menyentuh darah yang mengalir di lukanya.


Sekarang, sebuah pedang tiba-tiba muncul di udara dan jatuh ke tangan Reve begitu ia mengangkatnya. “Aku tak ingin menggunakannya. Tapi sepertinya, orang tua sepertimu memang harus diberi pelajaran.”


__ADS_2