
“Kenapa pintunya sudah terbuka?” tanya Reve Nel Keres saat melihat lubang besar di sebuah pohon gaharu. Tapi Aza cuma tersenyum dan berbalik memperhatikan sosok-sosok di belakangnya.
“Kalian semua tunggu di sini, karena hanya aku dan Horusca yang akan masuk.”
“Apa!” kaget Doxia dan Rexcel bersamaan.
“Kenapa cuma kalian berdua?” sosok assandia (petarung) berkapak itu tampak tak terima.
“Karena ini konflik bangsa-bangsa. Lebih baik kalian tidak terlalu ikut campur jika masih sayang nyawa.”
“Begitu?” Reve menanggapinya santai.
“Ya. Kau pasti paham maksudku bukan?”
“Baiklah,” setuju pemuda berambut hitam kebiruan itu.
“Hei! Kenapa kau malah setuju?! Kalau terjadi sesuatu pada kita bagaimana?! Penyembuh kita malah pergi bersamanya!” cegah Doxia agar Horusca juga tak ikut pergi.
“Di dalam ada Cerberus. Jika kau ingin mati sia-sia ayo ikut bersamaku. Karena tak ada jaminan kalau aku dan tanaman ini bisa menolongmu.”
Pernyataan santai Aza Ergo pun berhasil membungkamnya. Mungkin bukan hanya Doxia, tapi juga guider yang lainnya. Sampai akhirnya sang pengendali magma dan pemakai kekuatan tumbuhan itu memasuki gerbang di pohon meninggalkan mereka.
“Baiklah, aku istirahat dulu,” Reve pun merebahkan tubuhnya di hamparan rerumputan itu. Dan sosoknya, ditatap tenang Toz dan Riz sebagai sesama rekan pemula di dunia Guide.
“Apa Tuan Aza tidak membawa kita karena takut jadi beban?”
Riz Alea pun menoleh pada temannya. “Apa kamu merasa tersinggung?”
“Tidak. Aku bersyukur karena dia masih memikirkan kita,” Toz mengibarkan senyum di bibirnya dan juga dibalas lawan bicaranya dengan ekspresi serupa.
Di dalam kawasan terlarang yang berhiaskan aroma melati sepanjang jalan, Horusca dan Aza sama-sama tak bersuara.
Tapi ketika pengendali tanaman itu tak sengaja menginjak tulang dalam langkahnya, barulah ia memecah suasana.
“Cerberus, itu berarti sensasi tadi memang tanda kebangkitannya.”
“Mungkin saja.”
“Apa kamu tidak takut? Monster legenda itu bisa saja membunuh kita.”
__ADS_1
“Kenapa aku harus takut? Aku kan punya elftraz (penyembuh) level bangsawan bersamaku,” kekehnya sambil melirik Horusca.
Namun sayangnya, langkah mereka harus terhenti akibat raungan keras memekik jauh di hadapan keduanya. Sungguh membuat bulu kuduk para pendengarnya berdiri karenanya.
“Cerberus!” kaget pemuda berambut merah itu.
Dan Aza tiba-tiba menengadah, dengan penglihatan menangkap rupa seekor gagak tak jauh di atasnya. Perlahan hewan itu turun lalu hinggap di bahunya.
“Gagak pesan?” bingung Horusca.
Hewan itu pun pecah menjadi serbuk merah yang mengitari petinggi empusa. “Harus jadi tujuh ya?” gumamnya dan mengundang heran penyembuh di sampingnya. “Apa pun yang terjadi, kamu tetaplah berdiri di belakangku. Saat kuberi tanda, baru sembuhkan orang-orang yang kuperlu. Kamu, bisa melakukannya bukan?”
Tentunya sosok elftraz (penyembuh) muda itu tak paham akan maksud dari perkataan Aza Ergo. Tapi dia tetap mengangguk, menyanggupi permintaan rekan seperjalanannya. Bagaimanapun juga, Horusca bukan tipe yang suka ikut campur. Walau uluran tangan penuh darah di depannya, dirinya tidak akan menyambutnya.
Kecuali sosoknya cuma berniat mengulurkan bantuan, pada orang yang benar-benar berurusan dengannya. Memang begitulah tipe dirinya.
Di dalam kuil Nagagini, Mosia dan Zenolea yang tak berdaya akibat sakit di pendengaran mulai merasakan ketakutan.
Terlebih lagi tengkorak yang terikat pada salib, mulai diselubungi darah dari mantra di atas altar. Perlahan namun pasti, cairan merah kental beraroma menyengat itu semakin menyelimutinya, membentuk siluet seperti raga seekor hewan raksasa.
Beberapa detik kemudian, wujud sebenarnya dari sang tengkorak telah tercipta dengan sempurna. Memekikkan raungan layaknya makhluk buas yang tidak bijaksana. Lolongan ikut berkumandang dari salah satu di antara tiga kepala.
Dan Cerberus, telah bangkit sepenuhnya.
“Woah! Akhirnya bangkit juga!” kagum Arigan yang muncul tiba-tiba. Di tangannya, ada sebuah gulungan hitam berukuran sedang dan perlahan dibuka.
“Arigan!” kaget Mosia.
“Bleedya, iselkia soulkazia redas, medalikan aemus astropo iragidas, lisenas zikara, herbehena aemus asekara ira foodrakias, causas mehana erka lordkazia, (Perjanjian, memanggil jiwa terdalamnya, mengendalikan semua indera di raga, dengarkan bisikanku, kupersempahkan semua kematian sebagai makananmu, karena aku adalah tuanmu)”
Dua orang itu pun sama-sama terkesiap akan mantra yang diucapkan Arigan dan Thertera yang entah muncul dari mana.
“Kau, mantra apa yang kau katakan?” Mosia menatap tak percaya.
“Mantra apa lagi? Tentu saja mantra agar kita tidak mati di tangannya,” Arigan pun terkekeh lalu menyentak gulungan di genggaman. Bukan hanya dirinya, bahkan Thertera juga melakukan hal yang sama.
Sontak saja, rantai hitam pekat bertebaran dari kertas gulungan itu. Melilit Cerberus dan juga menusuk badannya. Begitu keras raungannya, sehingga sosok-sosok di luar kuil mendadak kehilangan tenaga di kaki akibat tekanan yang dirasa.
“Itu, apa itu mantra untuk mengendalikannya?” tanya Zenolea dengan tatapan yang tidak ramah.
__ADS_1
“Bukankah sudah kubilang? Ini mantra agar kita tidak mati. Kenapa kau tidak percaya begitu? Temanku,” Arigan menyunggingkan seringai tipis di bibirnya.
Sampai akhirnya rantai pun lenyap karena sudah masuk sepenuhnya ke badan Cerberus yang mulai menggila.
“Gawat!” pekik Mosia tiba-tiba.
Seketika ledakan besar terjadi di dalam kuil. Meluluh lantakkan bangunan kuno yang menjadi lambang salah satu Dewa. Meruntuhkannya sebagai puing-puing walau tak hancur sepenuhnya.
Dan para penonton di luar sana, sekarang bisa melihat sosok sesungguhnya dari hewan yang tak seharusnya bangkit ke dunia.
“Zenolea!” teriak Mosia.
Laki-laki itu pun melukai tangannya. Mengeluarkan sesuatu berupa cambuk namun aneh sensasinya. Mirip energi yang digunakan pak tua berambut hitam legam sebagai guru dari Redena. Ia empas kasar senjatanya, ujung cambuk pun berbunyi keras saat beradu dengan tanah.
Serangan frontal pun ia arahkan pada monster legenda, bertujuan untuk mencekik lehernya, agar mudah dikendalikan karena kuncinya masih ada di tangan Mosia.
“Cepat!” perintahnya pada wanita itu.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi takkan kubiarkan!” Ilhan membungkuk seperti ingin mengubah dirinya, tapi Zeril Septor malah mengurung sosoknya. Dalam pelindung emas, bersama dengan Logan Centrio dan juga Estes yang sedang mengobatinya.
“Ayah!” pekik kaget Libra melihat ulah pria itu.
“Libra! Di belakangmu!” pekik Hanzo tiba-tiba.
Tapi untung saja Hayato Sarutobi berhasil menyelamatkan tankzeas (pelindung) dari hydra itu. Karena kalau tidak, bisa dipastikan mereka harus kehilangan petinggi lagi seperti Huldra.
“Sial! Kenapa ghoulnya malah tambah banyak!” Reoa jadi makin panik terlebih di depan sana Mosia serta Zenolea sibuk mengurus Cerberus yang menggila.
Sampai akhirnya, serangan Zargion Elgo dengan maksud membuat hewan itu pingsan malah membelah kepalanya jadi dua. Total sekarang kepala cerberus ada empat.
“Sial! Apa yang kau lakukan Zargion!” kesal Zenolea melihatnya.
Di satu sisi Caspier juga tiada ampun dalam menyerang Asus Sevka. Bahkan api Ivailo Stoyan ikut menyemarakkan suasana. Mengejar siapa pun untuk dibakarnya.
“Sialan! Aku tidak bisa keluar!” kesal Ilhan karena merasa seperti terkurung di dalam sangkar.
“A-apa ini?” kaget petinggi bangsa gyges yang baru datang.
“Kau! Ksatria Bintang!” Zeril Septor terkejut begitu menyadari siapa sosok yang datang.
__ADS_1
“A-apa i-itu?” tubuh Hea sangat gemetaran. Tak bisa dihentikan, kalau detakan jantung di dadanya begitu memburu saat melihat monster di ujung penglihatan.
“Hea!” kaget Gandari karena menyadari ghoul muncul di belakang sang pemuda. Sontak saja ia keluarkan senjatanya dan membasmi monster itu agar tak melukai rekannya.