
Sekarang, satu nama benar-benar membungkam semuanya. Deru napas Reoa Attia terlihat naik turun akibat ucapan Reve yang tiba-tiba mengejutkan mereka.
“Kau! Apa maksudmu berkata seperti itu?!” teriak Reoa Attia dengan lantangnya.
“Kenapa? Apa sekarang kalian tahu di mana kesalahannya?” Reve memiringkan wajah sambil tersenyum tipis.
Sementara tuan Barca, sang pemilik toko barang antik tak bisa berkata-kata. Ekspresi kaget jelas terpancar di wajahnya, karena ia tak mengira jika nama itu akan muncul di mulut Reve tiba-tiba.
“Kutanya sekali lagi! Apa maksud ucapanmu itu?!” tangan Reoa Attia terkepal erat.
“Kalian tak mengerti? Benarkah? Jadi, apa perlu kuperjelas?” Reve menyeringai.
“Kurang ajar juga ada batasnya!” bentak Bleria.
Toz dan Riz hanya bisa terdiam ketakutan. Tekanan di ruangan itu sangat luar biasa, karena beberapa petinggi berbicara sambil mengeluarkan hawa mengerikan dari tubuhnya. Dan mereka bisa merasakan itu, terlebih rasa cemas mulai menggerogotinya.
Lain halnya dengan Reve, rasa takut tak terpancar darinya karena dialah penyebabnya. Kalau bukan satu nama yang ia ucapkan, para petinggi itu takkan memperlihatkan muka marah hendak mengoyak apa pun yang ada di depannya.
“Jika kau berani bicara lagi! Aku akan mengoyak mulutmu!” hardik Hea.
“Kalian marah, itu berarti kalian mengakuinya.”
“Dasar makhluk keparat!” Reoa Attia tiba-tiba memukul meja, lalu berlari cepat ke arah Reve hendak menyerangnya.
“Hentikan!” lerai tuan Criber.
Serangan Reoa Attia hampir saja dilayangkan ke arah Reve. Jika tidak dihentikan, maka bisa dipastikan kalau tubuh Reve akan bernasib mengenaskan.
“Tuan Criber!” pekik Reoa Attia.
“Kita dalam persidangan, akan lebih baik tak membuat kericuhan.”
“Tapi!” Reoa Attia tampak tak bisa menerimanya.
“Dia sudah kurang ajar. Menurutku hal yang wajar jika tuan Reoa ingin menghajarnya,” sela Bleria.
Tuan Criber tak menanggapi, sampai akhirnya Aza Ergo menyuarakan pendapatnya. “Setelah dipikir-pikir, apa yang dia katakan tidak salah.”
“Apa!” pekik Reoa Attia, Hea dan Bleria secara bersamaan.
“Apa kau tahu apa yang baru saja kau katakan?!” geram Reoa Attia.
“Aku hanya mengatakan. Jangan munafik, kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya-”
“Aza!” bentak Reoa Attia.
“A-a-apa yang sebenarnya terjadi?” bisik Toz pada Riz.
Riz hanya menggeleng, menatap gugup pada mereka dan sesekali melirik Reve. Berbagai macam pikiran terlintas di otaknya, rasa geram beberapa petinggi menimbulkan ketegangan bahkan sampai meretakan dinding kristal ruangan.
Aza Ergo menyeringai. “Aku jadi takut jika ditatap begitu,” lirihnya.
Reoa Attia benar-benar tampak marah dengan ucapan Aza Ergo. Sampai akhirnya Reve kembali memancing mereka.
“Ketegangan ini, karena kalian mengakui kesalahan. Baguslah, itu berarti kami bisa pergi sekarang.”
“Diam kau! Kau pikir kau siapa?! Beraninya berkata seperti itu di hadapan kami!”
Reve tersenyum. “Sekarang aku penasaran, kenapa anda sangat marah? Apa karena pendosa terbesar berasal dari darahmu?”
“Kau! Bocah keparat! Sudah cukup! Aku akan menghukummu!” teriak Reoa Attia. Teriakan lantangnya bahkan membuat retakan di ruangan membesar dan energinya sampai terasa di tempat Horusca dan lainnya berada.
“Apa yang terjadi? Energi apa itu?!” pekik Doxia.
“Kemungkinan itu energi salah satu petinggi. Dari sensasinya, sepertinya bangsa gyges,” sahut Rexcel.
Lantai yang bergetar, memunculkan tanaman berduri merambat di sekitar Reoa Attia.
“Elftraz (penyembuh),” Riz kaget, saat menyadari kalau itu adalah kemampuan yang sama dengan Horusca.
“Tuan Reoa, tolong tenanglah! Kita dalam persidangan!” ucap Logan akhirnya.
__ADS_1
“Setelah mendengar dia menghina bangsaku, apa kau pikir aku akan diam saja?!”
“Ugh,” Logan tak bisa lagi mengatakan apa-apa. Sedikitpun tak terlihat wajah takut di muka Reve, sikapnya sangat berbeda dengan Riz dan Toz yang sudah harap-harap cemas.
“Reve, ayo minta maaf Reve,” pinta Toz padanya.
“Kenapa aku harus minta maaf?”
“Itu-” Toz tak tahu harus berkata apa sekarang.
Sedangkan Riz, suasana mencekam itu menyelimuti dirinya. Reve yang blak-blakan adalah sumber masalah. Tapi itu juga karena dirinya. Dialah yang sudah membuat Reve terlibat, karena bagaimanapun ia tahu kalau Reve bukan orang yang bisa menjaga mulutnya sejak pertemuan pertama.
“H-hentikan! Aku mohon!” potong Riz tiba-tiba. Ia berdiri di hadapan Reve, memohon pengampunan dari Reoa agar tidak menyerangnya. Rasa takut menggetarkan suaranya, terlebih lagi tanaman merambat dari Reoa Attia sudah membentuk kipas raksasa di belakang tubuhnya.
“Setelah berkata semena-mena, sekarang kalian minta pengampunan? Kau juga akan dihukum atas kejahatan yang sama!” teriak Reoa. “Nedierma! (Menyebar!)”
Tanaman di belakang Reoa Attia menyebar ke segala arah hendak menyerang musuhnya. Toz dan orang yang menjadi majikan budak itu pun teriak ketakukan melihat amarah Reoa.
“Sial!” Riz mengarahkan kedua tangannya ke depan. “Nigel! (Muncullah!)” ucapnya.
Tanpa sadar, ia mengucapkan mantra yang tak pernah dipelajarinya, dan sebuah lingkaran besar muncul melindungi dirinya serta Reve dan Toz.
“Ini!” pekik Toz kaget. Sebuah perisai kuning mengelilingi mereka dan menahan tanaman merambat berduri yang menyelimutinya.
“Ugh!” erang pelan Riz. Tanpa sadar perisai itu mulai retak. Bagaimanapun, lawan Riz adalah seorang elftraz (penyembuh) level komandan tingkat tinggi, wajar jika pelindung dari guider level pemula atau level E sepertinya takkan berpengaruh apa-apa.
“Riz!” panggil Toz khawatir.
“Sial! Kalau begini terus!” Riz mulai panik karena perisainya takkan bertahan lama.
“Baiklah, kalau begini terus, apa yang akan terjadi pada kita?”
Toz bergidik mendengar kalimat Reve, di satu sisi Riz melirik budak yang dari tadi memandang mereka dengan khawatir. Di sela hiruk-pikuk itu sang budak menangis, karena rasa bersalah atas orang yang sudah membelanya.
Riz menggertakkan giginya.
“Bersiaplah, begitu perisai hancur, kita akan kabur,” bisik Reve padanya.
“Apa! Apa maksudmu?!” Riz kaget mendengarnya. Begitu pula dengan Toz yang tak menyangka akan ucapan aneh Reve itu.
Teriakan keras Reve mengejutkan mereka. Tapi apa yang mengagetkan bukanlah teriakannya, melainkan perisai yang tiba-tiba hancur. Diiringi munculnya ratusan pedang di sana dan mencabik-cabik tanaman lawan, lalu menyerang para petinggi lainnya.
“Dia!” teriak Bleria. Dengan cepat gadis itu mengeluarkan tombaknya dan membabat habis pedang yang mengarah padanya.
Sementara, Logan Centrio yang sudah mengulurkan tangan untuk menahan, tiba-tiba menembakkan petir ke seluruh ruangan sehingga pedang yang hampir menyerang para petinggi terhenti dan jatuh.
“Hebat,” puji Hea. Tapi, di sela-sela kekaguman ia tersentak kaget karena sosok para pembangkang dan budak itu sudah tak ada di sana. “Cih! Mereka kabur!”
Ia segera berlari ke arah pintu di mana kemungkinan para pembangkang lari melewatinya.
“I-ini, ini benar-benar jurus assandia? (petarung?). Bukankah assandia (petarung) hanya bisa mengeluarkan satu tipe senjata dari tulangnya?” tanya Bleria.
Para petinggi lain terdiam. Logan menyentuh salah satu pedang yang sudah berserakan di lantai. Tapi begitu disentuh, pedang itu lenyap seperti asap dan bertebaran di udara. Bahkan, seluruh pedang itu lenyap tak bersisa di sana.
“Sepertinya assandia (petarung) langka sudah kabur di depan mata,” Aza Ergo terkekeh.
“Sial! Aku akan menangkapnya!” teriak Reoa Attia meninggalkan ruangan. Para petinggi lain masih berdiam tanpa bergerak satu pun.
“Tuan Criber,” panggil Bleria.
“Sepertinya urusan kita, masih belum selesai dengan mereka,” ucap tuan Criber akhirnya.
Tuan Barca Asera yang merupakan pemilik toko barang antik hanya bisa menghela napas. Akan tetapi, dalam hati ia berharap para pembangkang itu bisa kabur, karena dirinya tak ingin kalau petinggi bangsa-bangsa mengetahui tujuan Reve datang ke bukit Kristal.
“Benar-benar anak yang luar biasa,” tukas Asus Sevka sang petinggi dari bangsa kurcaci secara tiba-tiba. Ia juga pergi mengikuti langkah petinggi lain yang sudah keluar duluan.
“Anda takkan mengejarnya tuan Barca? Bagaimanapun mereka itu pelanggan anda,” sela Logan.
“Pelanggan dan pembangkang itu berbeda. Dan hukum tetaplah keadilan di dunia ini,” tuan Barca pun keluar dari ruangan itu.
Di sisi lain, para pembangkang berlari cepat sambil diikuti budak di belakangnya.
__ADS_1
“Bruaagh!” suara pintu yang hancur akibat diserang pedang melayang milik Reve.
“Kalian! Apa yang terjadi?!” teriak Doxia panik.
Sementara, energi mengerikan mulai terasa di dalam bangunan seperti sedang mengejar mereka. “Kita harus pergi!” teriak Riz.
Tapi terlambat, langit-langit di tempat mereka berdiri tiba-tiba hancur oleh sebuah gelombang energi dari pak tua yang tak asing lagi di kota itu.
“Guru!” pekik Doxia dan Rexcel secara bersamaan.
“Ada batasan dalam bertindak kurang ajar,” ucap tuan Criber. Sebuah pusaran angin raksasa lalu mengelilingi seluruh ruangan yang membuat mereka terjebak di dalamnya.
“Guru! Apa yang terjadi? Kenapa anda mengejar anak-anak ini?!” Rexcel tampak panik melihat raut wajahnya.
“Harga yang dibayar oleh seorang pembangkang tidaklah murah. Hukum tetaplah hukum, itulah keadilan di dunia Guide.”
“Apa yang dibicarakannya!” Doxia kaget mendengar ucapan gurunya.
“Keadilan apanya? Kalian pikir itu keadilan? Hukum dan dewa di dunia ini benar-benar sudah salah! Tak kusangka aku memasuki dunia mengerikan seperti ini!” teriak Riz padanya.
“Budak itu bukan hak kalian. Kalian bersalah karena kabur bersamanya. Cukup sampai di sini, atas nama para petinggi dunia Guide, aku akan mengadili kalian di sini!” teriak lantang tuan Criber.
“Tuan Criber!” panggil Hea. Langkahnya terhenti karena pusaran angin besar yang tak bisa ditembusnya. Tak hanya dirinya, bahkan para petinggi yang baru sampai di sana juga hanya bisa berhenti melihat pemandangan di depannya.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?” timpal Horusca akhirnya.
“Itu!” Toz tak bisa berkata-kata. Karena sekarang ketegangan yang terjadi takkan selesai hanya dengan kalimat saja.
“Kita tidak salah, kenapa harus dihukum? Apa sebagai petinggi anda terlalu tua sehingga tak bisa berpikir dengan benar?” tanya Reve pada tuan Criber.
“Kau!” jerit Rexcel dan Doxia bersamaan karena kaget mendengar ucapannya.
“Kau benar-benar lancang. Tak hanya di sayembara tapi juga di sini. Hanya karena kau seorang assandia (petarung) langka, jangan kira kau bisa berbicara seenaknya,” wajah tuan Criber berubah dingin menatap mereka.
“Lancang? Aku juga tak berminat terlibat di sini. Tapi, karena kenyataan kotor yang kalian sebut sebagai keadilanlah makanya aku jadi bermasalah di sini,” gerutu Reve yang membuat Riz dan Toz agak merasa bersalah.
“Kenyataan kotor? Anak muda seperti kalian tahu apa? Setiap yang bersalah harus membayar dosanya. Budak itu membayarnya, sesuai aturan yang berlaku. Bahkan jika menyakitkan, tapi memang itulah harga yang harus dibayar. Menjadi budak adalah hukuman mulia bagi para pendosa dibanding kematian,” jelas tuan Criber.
Pusaran angin masih mengelilingi mereka, tekanannya benar-benar luar bisa. Kemampuan yang sesuai untuk merlindia (penyihir) level bangsawan seperti tuan Criber.
“Jika menjadi budak adalah hukuman yang mulia, kenapa mereka menangisinya?” lanjut Horusca tiba-tiba.
Tak ada yang bersuara, karena terbungkam dengan ucapannya.
“Ini bukan pertama kalinya aku melihat para budak tersiksa. Bahkan kesalahan yang mereka perbuat juga bukan keinginannya. Jika dunia memang adil, maka takkan ada yang berbuat dosa. Itu adalah tugas kalian para pemimpin untuk memeriksa kehidupan kaumnya,” tambahnya.
Tuan Criber menatap tajam pada Horusca. Tapi pemuda itu masih tak berhenti mengeluarkan suara. “Ada tiga belas bangsa, sepuluh yang tertera, dan beberapa menjadi pemimpin serta petingginya. Orang itu, dia adalah budak dari bangsamu,” ucap Horusca sambil menunjuk budak yang tadi ikut lari bersama Riz.
“Apa kau tidak punya sedikit belas kasih padanya? Jika budak itu pendosa, maka kita juga sama. Jangan lupa kalau sejarah di dunia Guide lahir karena pembangkangan dari leluhur pada dewa. Pembangkangan yang melahirkan kutukan di malam Bloodgrya. Kutukan di mana kalian juga berdosa besar di malam itu.”
Tuan Criber mengepal erat tangannya mendengar perkataan panjang lebar Horusca. Tak hanya dirinya, para petinggi yang juga berdiri di luar pusaran angin merasakan emosi yang sama.
Lain halnya dengan orang-orang yang berdiri di dekat Horusca. Mereka tak menyangka, jika pemuda aneh yang terkadang hemat suara mengeluarkan kalimat menusuk di dada.
“Jangan melihat kesalahan seseorang dari dosa yang mereka lakukan. Tapi lihat penyebab mereka melakukannya. Jika ini yang kalian sebut keadilan, maka aku mengerti kenapa para dewa menghukum kita di malam bloodgrya. Di saat dia menurunkan kasih sayangnya, kita dengan tega berkhianat akan rasa kekurangan yang dimiliki hati kita. Kalian berpikir diri kalian lebih baik dan mulia dari dewa, tapi yang kalian lakukan tak ada bedanya dengan pendosa.”
“Apa kau sudah selesai bicara?” tiba-tiba pusaran angin membuat lubang yang disebabkan senjata Bleria Sirena. Ia masuk ke dalam pusaran angin dan mendekati tuan Criber.
“Beraninya orang sepertimu menggurui kami? Kami para petinggi jauh lebih berpengalaman dari bocah sepertimu! Tahu apa kau tentang kutukan? Jika para dewa boleh menghukum hambanya, kenapa para petinggi tak boleh menghukum rakyatnya?” tentang Bleria.
“Dia! Dia sudah mencuri air suci yang akan dipersembahkan pada dewa.” Bleria menunjuk budak yang tertunduk tak berdaya. “Dan itu merupakan dosa besar, karena sudah mencuri air yang tak sepantasnya jadi milik mereka!”
“Air suci?” Reve tersenyum sinis. “Jika air suci merupakan persembahan pada dewa, kenapa ada orang yang mandi dengan airnya?”
Bleria tersentak kaget. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan wajah geram.
“Kau dari bangsa siren bukan? Tidak mungkin kau tidak tahu dengan cerita dari leluhur para Sirena. Keturunan murni bangsa siren yang selalu mandi dengan air suci demi keabadian. Jangan pikir kalau itu hanya dongeng kuno, karena cerita itu takkan muncul di permukaan jika tak ada yang mengetahuinya,” sindir Reve yang membuat wajah Bleria memerah karena emosi.
Tiba-tiba, energi mengerikan terpancar dari tubuh Bleria, membuat semua penghuni di lantai itu kaget. Tombaknya mengeluarkan energi tak bisa, sangat berat dan juga menekan kulit.
“Bleria!” cegat tuan Criber.
__ADS_1
“Jangan hentikan aku. Berani-beraninya mereka menghina bangsa kita. Anak-anak seperti itu, memang harus diberi hukuman agar mengerti sedang berhadapan dengan siapa!”
Gadis itu mengangkat tombaknya, wajah yang tadinya cantik, sekarang mulai memperlihatkan guratan penuh emosi. Sepertinya ia benar-benar kesal dengan kalimat yang dilontarkan Horusca dan Reve. Terlebih, pemuda pembawa ular itu juga menghina bangsa dan darah murninya.