
“Menghindar!” pekik Caprio pada mereka.
Dan akhirnya sosok yang diburu ekor-ekor magma pun melompat menghindari serangan kecuali Horusca. Dirinya masih berdiri tegak dan membangun dinding tanaman raksasa yang tebalnya tak terkira.
Tetapi, beberapa saat kemudian justru pemandangan mencolok muncul di hadapannya. Di mana, dinding tanamannya dilubangi secara perlahan oleh sihir panas yang meleburkan itu.
“Tidak kusangka dia akan sehebat ini jika sedang menggila,” lirih Horusca yang makin memperbanyak tumbuhan pelindungnya.
“Bagus! Alihkan pandangannya!” Redena tampak senang dengan ulah Horusca. Tetapi, hal di luar dugaan justru terjadi. Ekor-ekor magma yang semula memburu lainnya pun sekarang justru terfokus sepenuhnya pada sosok penyembuh itu.
“Kesempatan!” ucap Caprio penuh semangat.
Sayang, semua tak sesuai harapan. Ekor magma itu berputar seperti tornado yang membuat mereka terpekik.
“Kenapa dia sehebat ini? Padahal kupikir dia petinggi bodoh!” umpat Redena.
Horusca tak punya pilihan selain membangkitkan dinding tanaman raksasa yang seperti penjara. Bagaimanapun posisinya tepat di depan tiga orang yang sedang diobatinya. Walau terlihat seperti itu, prinsipnya untuk menjadi pelindung mereka masih bertahan di benaknya.
CRANG!”
Suara rantai berduri milik pak tua itu melilit tubuh Aza. Aura merah yang menyelimuti senjatanya, langsung terbakar begitu bersentuhan dengan mangsa. Seolah ada teriakan aneh yang dimunculkan cambuk berdurinya.
“Grrr!” geram monster itu sambil meronta.
Bahkan di saat seperti ini, tanah bergetar hebat karena pria asing yang memegang tongkat besi mirip ranting itu memutar-mutar senjatanya. Dilembarnya tongkat tersebut ke depan dan tiba-tiba terpecah ke segala arah membentuk serpihan besi yang bergerak luar biasa.
Redena menatap kaget pada kemampuan sosok asing yang cukup mencolok sihirnya. Seperti gelombang tsunami. Memburu mangsa dan menghantamnya dengan serbuk besi yang entah kenapa melebar besarnya.
Teriakan Aza Ergo yang berwujud monster itu benar-benar memecah suasana. Tanah di pijakan semakin panas yang mengundang tatapan cemas beberapa pasang mata.
Tanpa menunggu waktu lama Horusca pun menggigit ujung jempol tangan kanannya dan menghentakkan telapaknya ke permukaan tanah. Entah apa yang ia lirihkan dalam keadaan tak bersuara, tumbuhan di sekitar bergoyang hebat seperti disapu angin kencang.
Tiba-tiba, permukaan tanah yang digambari akar-akar magma itu ditumbuhi rerumputan dari es.
“I-ini!” pekik Redena dan Caprio hampir bersamaan.
__ADS_1
“Aromanya, dia seorang chimera.” Izanami memandang lekat pemuda di depannya yang telah menumbuhkan duri-duri es di sepanjang jalur akar milik Aza.
“Elftraz (penyembuh) bangsawan? Apa yang mereka lakukan di sini?” pak tua berambut hitam legam memandang lekat Horusca.
Tapi, sosok mengejutkan itu hanya bisa menatap sayu keadaan di depannya. Skill yang baru saja ia pamerkan, jelas menguras banyak energinya. Bahkan separuh wajahnya yang berubah menjadi es langsung kembali normal karena lelah yang dirasa.
Dirinya, hanya bisa terduduk dengan tatapan jengkel.
“Sadar petinggi bodoh. Ini di luar perjanjian kita!” keluh pemuda berambut merah itu akhirnya. Dirinya yang sudah jatuh terduduk bisa merasakan tangannya gemetar hebat sebagai efek samping akibat jurusnya barusan.
Bahkan, dinding penyembuh yang ia ciptakan untuk mengobati tiga orang di belakangnya telah lenyap karenanya.
Caprio pun menoleh ke arah Reve Nel Keres. “Lukanya belum pulih sepenuhnya. Tapi setidaknya itu tidak akan membahayakan nyawanya.” Dirinya pun menoleh ke arah elftraz (penyembuh) di depannya. “Tak kusangka anggota bangsaku ada di sini. Tapi, level bangsawan?” sahutnya yang membuat Izanami Forseti dan pak tua berambut hitam legam meliriknya.
Namun di sisi lain, pemuda pembawa ular yang tak sadarkan diri akibat luka di tubuhnya sebelumnya, tak bergerak sama sekali. Dirinya masih tergeletak di atas tanah di belakang Caprio.
Hening.
Dingin, menyapa ke dalam kesadarannya. Tiba-tiba kehangatan api biru berkobar hebat di depan mata.
Ya. Di depan mata seorang anak kecil yang beruraian kristal bening di penglihatan karena menatap keadaan sekelilingnya. Mayat berserakan, diiringi potongan-potongan tubuh bergelimpangan sepanjang mata memandang. Dihiasi darah sebagai lambang memilukan.
“A-ayah, I-ibu, kalian di mana?” panggilnya dengan langkah tak beraturan mengingat kaki kanan yang patah terpaksa diseret begitu saja. “Ayah, Ibu? Kalian ada di mana?” ulangnya lagi.
Sekarang, air mata mengalir di pipi mulai masuk ke dalam mulutnya.
“Ayah, Ibu kalian di mana? A-aku takut di sini,” lirihnya terisak-isak. Namun tak ada jawaban. Kecuali kobaran api biru dan aroma darah yang menguar kasar di penciuman.
CRAK!
Suara langkah kakinya, tidak sengaja menginjak pecahan kristal biru di tanah. Lalu anak itu terdiam melihat apa yang disajikan di depan matanya.
Seorang wanita yang memegang erat bayi perempuan dipelukan. Punggung sosok yang diperkirakan ibu bayi itu justru dipenuhi luka bakar.
Namun memilukan, karena dua buah pedang panjang tertancap di leher dan jantungnya sehingga menembus tubuh bayi dirangkulan.
__ADS_1
Tragis. Seolah tak ada satu pun batang tubuh yang bernyawa sepanjang mata memandang di area terdekat. Kecuali akhirnya beberapa teriakan seperti lolongan keras dalam insiden berdarah jauh di hadapan memecah keadaan.
Pekikan nyaring seorang laki-laki muda, suara hujaman sebuah senjata, tawa meledak dari sesosok pria, tangisan sang wanita, umpatan mereka yang tersiksa, harapan siapa pun yang ketakutan, ampunan untuk mereka yang tak sanggup merasakannya, kutukan dari mulut yang penuh kebencian, teriakan tak tahan akan kegilaan, telah berkumandang jauh di depan mata anak kecil yang menatapnya.
Dan dirinya pun semakin tak bisa menahan tangisan tercerai-berai di wajahnya. Untuk anak kecil yang berusia 9 tahun ini adalah tragedi. Trauma mengerikan di sepanjang aliran ingatan di dalam tubuhnya.
Mengerikan. Sungguh mengerikan. Seolah seperti tarian aneh, bergerak jelas membantai mereka yang menjadi tontonannya. Diiringi tawa puas pria berambut panjang yang hampir menyentuh tanah surai keindahannya.
Tato misterius di dahinya menjadi lambang kengerian di lukisan wajahnya. Ayunan tangan yang memegang pedang putih itu, bergerak tanpa keraguan memotong setiap jengkal tubuh yang dilewatinya.
Sebuah energi biru dari tubuh-tubuh tak bernyawa pun mulai terhisap ke dalam gagang pedang yang berbatu ruby pesonanya.
Ya. Semua kegilaan ini, demi memberi makan pedang bernyawa yang lapar akan jiwa-jiwa mereka.
“Tak peduli apa pun yang terjadi. Bahkan bila ini tragedi, harus ada yang melanjutkan garis kita di daratan ini,” bisik seseorang tiba-tiba.
Wanita 30 tahun namun rupanya hampir paruh baya, setengah wajahnya sudah hancur tak bersisa. Mata basah yang masih utuh di penglihatan, beruraian tangis di setiap ucapan.
“I-ibu?”
“Kamu harus lari. Tak peduli apa pun yang terjadi. Bahkan jika ini tragedi, kamu harus hidup untuk kami. Maafkan Ibu, Nak. Tidak bisa melindungimu lagi. I-ibu sangat-sangat menyayangimu. Ibu benar-benar akan selalu menyayangimu, maafkan Ibu karena tak bisa lagi bersamamu, ibu benar-benar minta maaf Nak, maafkan Ibu,” ucapnya sambil berderai air mata memeluk erat putra kecilnya.
Di balik salah satu telapak tangan yang berlukiskan mantra, disentuh erat punggung putranya. Perlahan mengalirkan suatu kehangatan di detik-detik terakhir penantian.
“SRAT!”
“I-ibu?” lirih anak itu menyadari sesuatu baru saja berbunyi di dekatnya. Perlahan sosok di depannya, mulai mengalirkan darah di area lehernya.
“H-hi-dup-lah,” gumaman terakhirnya. Dan tiba-tiba, kepala wanita itu jatuh terpisah dari lehernya tepat di depan mata anak kandung yang dipeluknya.
“Tak kusangka, kau tidak melarikan diri dan malah berpelukan di sini. Mm? Anak kecil ya? Kau pikir aku akan berbelas kasih pada makhluk menjijikan seperti kalian?” ucapnya penuh kebencian.
“Ini akan menjadi kuburanmu Nak. Berterima kasihlah, karena pedang pusakaku akan menjadi dewa kematian untuk anak terkutuk seperti dirimu.”
Dan akhirnya tangan yang memegang pedang putih itu pun diayunkan tepat ke arah leher anak itu.
__ADS_1
“Jangaaan!!!”
DEG!