
Dan Remus yang mulai mengepalkan tangannya karena ulah Kers pun berbalik sekarang. “Revtel!” teriaknya.
Sontak saja Pangeran berlabel haram itu menoleh ke belakang. Dia terkesiap saat tatapan mereka bertemu pandang.
Seolah kegelapan langsung menghantam tanpa aba-aba.
Dan tiba-tiba Kers pun tersentak akibat serangan tak terduga. “Revtel?” gumamnya menyadari keanehan yang terjadi. Terlebih sang sepupu melayangkan kemampuannya kepadanya. “Kamu menyerangku?”
Tapi tak ada jawaban. Sepupunya itu mengangkat kedua tangan dan melancarkan serangan es besar-besaran. Sontak saja para murid yang menyadari bahaya langsung menghindar. Dan bukan hanya mereka, tapi para guru juga.
Tapi masih ada dua orang yang berdiri di posisinya. Dialah Kers dan juga Aza. Sosok incaran es bocah Elkaztas.
Kers yang melihat itu pun mengibarkan senyum tipis di bibirnya. Merebahkan tubuh ke belakang tiba-tiba dan lenyap entah ke mana.
Seolah tertelan tanah yang dihantamnya.
Di atas sana, Blerda yang menyaksikan itu pun menyipitkan mata. Fokusnya masih pada jejak terakhir Hydragel Kers. Terlihat olehnya, kalau bocah hydra memang tenggelam ke dalam tanah. Seolah permukaan keras tersebut merupakan air baginya.
Sekarang, pertarungan gila pun terjadi antara Aza dan Revtel. Tak peduli sekelilingnya, mereka baku hantam dengan kemampuan bak langit dan bumi.
Entah ada apa sebenarnya, para murid yang menonton dari kejauhan tampak ketakutan dan memilih berlari.
Sementara para guru sudah tahu apa yang terjadi. Tanda di dahi Revtel merupakan lambang kendali Remus Eterno sang guru besar siren. Tak diragukan lagi, dia berada di dalam ilusi dan bergerak sesuai kejadian di dalam mimpi.
“Solea! Bartigo! Vea! Kalian bertiga, segera tangkap anak-anak itu dan bangkitkan Cindaku Aftoria!” perintah Jascuer tiba-tiba.
Dan para guru besar yang tersisa selain Remus pun menatap ke arahnya.
“Baik!” angguk Solea. Tanpa keraguan ia pamerkan jurus tanamannya, mencoba menangkap para murid yang sudah berlari menjauh dari sana.
Trempusa pun langsung mengeluarkan sabitnya. Mencoba melindungi dirinya dan Orion agar tidak terkena serangan guru besar.
“Sial! Apa ini?!” ucapnya dengan napas terengah-engah.
Sementara di satu sisi, tak jauh dari mereka Thertera juga melindungi dirinya dan Lascarzio.
“Tak diragukan lagi, mereka sepertinya tak ada niat baik pada kita,” gumam Thertera yang mengayunkan senjatanya.
“Jika terus seperti ini, Hadesia akan mati,” lirih pemuda berkulit eksotis itu sambil melirik pijakannya.
Tampak olehnya, cairan magma mulai muncul di sana. Pertanda kalau kemampuan Aza Ergo hendak menggenangi area.
“Kalian!” Bartigo Aertia yang berlari ke arah mereka pun menampilkan tampang geram.
Lascarzio pun langsung menarik lengan Thertera. Melompati pohon demi menghindari kejaran lawan.
“Jangan pikir kalian bisa lari!”
“Kau!”
“Ayo!” ajak Lascarzio entah ke mana. Tapi arah ini jelas menuju tempat pertarungan.
“Kenapa kita berbalik?!”
“Azkandia harus dihentikan atau kita bisa mati.”
“Tapi—” kalimat Thertera pun terpotong karenanya.
Akibat kemunculan Vea Krusevka yang tiba-tiba. Sosok merlindia (penyihir) dari bangsa kurcaci pun melayangkan kemampuannya. Seolah ingin mengepung dua murid itu agar tidak bisa lari ke mana-mana.
“Nedierma! (Menyebar!)” teriak Trempusa tiba-tiba. Dan serangannya pun menghantam kemampuan sang guru besar yang hendak menyerang dua rekannya.
“Kalian!” kaget Thertera.
Sampai akhirnya Bartigo Aertia yang tadi mengejar mereka muncul di sana. “Dasar bocah-bocah keras kepala,” jengkelnya.
“Kenapa kalian menyerang kami?!” tanya Orion. Tampaknya, ia masih belum bisa menerima aksi para gurunya.
Dan Vea pun memilih diam membiarkan Bartigo Aertia bersuara. “Lebih baik kalian mati, daripada banyak tanya begini!” senjata assandia (petarung) miliknya pun diayunkan untuk menghasilkan serangan besar.
Tiba-tiba, Thertera berlari mendekati Trempusa. Dan keduanya pun sama-sama menggerakkan senjata untuk melindungi diri mereka.
Serangan pun berhasil dihentikan walau pipi keduanya sama-sama tergores sekarang.
“Kerja sama yang bagus,” puji sosok dari gyges itu.
Sementara Solea, sudah berhasil menangkap para murid yang berlarian darinya. Dengan bantuan para prajurit yang berada di Hadesia.
Memang miris sebenarnya, karena tak satu pun dari mereka merasa iba pada anak-anak yang tak tahu apa-apa.
Kalau sebenarnya tempat ini bukanlah pelatihan untuk menjadikan muridnya sosok petinggi dan juga Raja.
“Berisik sekali. Tak kusangka kebangkitanku disambut seperti ini.”
Suara wanita itu pun mengejutkan Solea. Refleks ia menoleh ke samping, dan mendapati sosok tak terduga.
__ADS_1
Perempuan dengan wajah gelap sepenuhnya. Rambutnya panjang, tapi ada ukiran aneh mirip harimau di rupa dan dadanya. Taring setajam pedang, cakar dan ekor mirip binatang tapi jalannya serupa orang normal.
Dan di lehernya terdapat bekas penggalan namun dijahit dengan sangat buruknya.
“K-kau, b-badan itu?! Apa mungkin anda—”
“Cindaku Aftoria. Itulah aku, wahai empusa.”
Tapi pertarungan Revtel dan Aza benar-benar mengerikan hasilnya. Area dihiasi dengan bongkahan es serta magma.
Di mana yang satu kehilangan kendali sementara lainnya terkurung dalam ilusi. Sungguh tak disangka, jika kedua anak muda itu memiliki kemampuan di luar logika. Seperti bukan sekadar pertempuran dua guider level pemula.
Hanya saja, Blerda Sirena masih menonton itu semua. Seolah tak berniat melakukan apa pun padahal dia punya peliharaan dari ras kayangan.
Dan Jascuer yang menyadari keberadaannya pun jelas geram. Sosoknya sebagai penyihir air, memakai kemampuannya untuk menurunkan hujan.
Sehingga Blerda pun mendongak melihat ribuan jarum air yang hendak melubangi tubuhnya. Tapi senyum malah terpancar dari bibirnya. Saat sesosok makhluk tiba-tiba muncul mengudara dan melayangkan serangan luar biasa.
Dalam sekali tebasan, hujan milik Jascuer Alcendia langsung sirna. Tentunya Blerda meliriknya dengan angkuhnya.
“Bagaimana bisa dia—”
“Awas Jascuer!” teriak Lorgia Asqeral tiba-tiba.
Hampir saja, ekor magma dari tempat Aza menusuk dirinya. Benar-benar jarak gila yang luar biasa, kalau bukan karena tameng Ireas tubuh Lorgia dipastikan terluka.
Dan mereka mendapati pemandangan tak terduga. Di mana Revtel mulai melancarkan serangan di luar kendalinya.
“Tuan Remus!” pekik Ireas.
Tapi cuma senyuman yang dipancarkan sosok itu. Tentunya ditatap heran oleh rekan-rekannya. Sampai akhirnya sebuah bayangan bergerak aneh di belakang sang guru besar.
Dan seseorang pun bangkit dari sana dengan kekehan yang mengejutkan mereka.
“Kau!” pekik Ireas tiba-tiba.
Tapi terlambat, karena Kers telah terlanjur memegang lengan Remus Eterno. Belum sempat pria itu berbalik sensasi kejut menyapa seluruh organnya.
Tubuhnya menegang dan berubah jadi abu-abu seketika.
“Tuan Remus!” teriak Azakhel Nerea.
“Kau!” kesal Jascuer dan menyerangnya.
Namun tiba-tiba Kers sudah berdiri di belakang mereka. Sehingga serangan sihir air itu gagal menyentuhnya.
Sayangnya raga itu telah kaku. Dingin di kulit saat menyentuhnya. Gambaran seperti aliran darah di sekujur badan menghitam warnanya. Begitulah keadaan Remus Eterno sekarang.
“Kau,” gumam Lorgia yang menatap tak percaya. “Siapa kau sebenarnya? Kemampuan apa yang kau gunakan sampai membuatnya seperti ini?!”
Akan tetapi, Kers malah mengangkat tangannya. Bersamaan dengan datangnya bongkahan es ke arah mereka. Sontak jurus Revtel menguap saat menyentuh tangannya.
Seolah tak berarti apa-apa jika di hadapkan pada adik sepupu yang aneh kemampuannya. Dan sekarang justru ekor magma yang hendak menyapa mereka.
Tapi langsung sirna di hadapan telapak tangan Kers yang mengenainya.
“Sekte Hadesia. Aku benarkan?”
Para guru besar yang tersisa pun terkesiap mendengarnya.
“Kau! Bagaimana bisa ka—”
“Ajaran konyol di bawah Helga Nevaeh. Pimpinan tertinggi para penyimpang. Harus kuakui kalian bodoh karena mengikutinya.”
“Siapa kau sebenarnya?!” geram Jascuer Alcendia.
Bukannya menjawab, Hydragel Kers malah terkekeh pelan. Diliriknya ke kiri entah apa maknanya.
“Sekte konyol karena cinta pada Kronos. Dan kalian para pengikut Helga cuma bidak catur dalam ambisinya. Apa kalian tidak pernah berpikir kenapa Hadesia bisa ada?”
“Kau—” Ireas Masamune dibuat tak bisa berkata-kata olehnya.
“Sekte Hadesia bisa ada, karena Helga ingin balas dendam untuk sosok yang dicintainya. Hanya itu alasan aliran konyol ini dibangkitkan. Dan kalian, malah mengikutinya? Pelatihan? Bukankah akan lebih tepat kalau disebut upacara tumbal? Untuk menguatkan dirinya dan kalian cuma kaki tangan tak berguna.”
“Diam! Beraninya kau menghina Hadesia! Kau bahkan tak pantas menyebut sosoknya, karena dia sangat mulia!” marah Lorgia Asqeral mendengarnya.
“Bodoh. Kau cuma bocah yang tak tahu apa-apa. Bisa-bisanya memuja wanita gila itu. Benar-benar pengikut berotak lumut,” ucap Kers sambil geleng-geleng kepala.
“Sialan! Tutup mulutmu bocah keparat!” seketika fisik Lorgia berubah menjadi sosok tak terduga. Kebangkitan dari kemampuan scodeaz (pengendali) miliknya berhasil mengundang hempasan angin kasar ke semua.
Dan tekanannya bahkan mengusik ekor magma Aza. Dan dari jarak cukup jauh, kemampuan itu melesat melewati Revtel. Walau es Pangeran berlabel haram masih tak henti-hentinya menyerang sang petinggi empusa.
“Azkandia!” panggil Revtel karena dia sudah terlepas dari ilusi yang membelenggunya.
Tapi, kalimatnya tak mampu menembus amukan Aza. Karena dia benar-benar sudah kehilangan kendali sepenuhnya.
__ADS_1
Bahkan, cairan magma sudah mulai menggenangi area pijakan bocah empusa. Sebagai tanda kalau dia mungkin akan menenggelamkan tempat itu tanpa disadarinya.
“Sial!” pekik Revtel sambil memukul tanah dengan telapak tangan. Spontan saja es bermunculan darinya dan melesat membekukan pijakan mereka.
Tentunya termasuk genangan magma yang ada di sekitar Aza. Tak ketinggalan kemampuannya juga membekukan kaki Aza sampai lututnya.
Tapi bukannya berhenti menyerang atau kembali mendapatkan kesadaran, Aza Ergo justru makin membabi buta. Ekor magma yang jumlahnya belasan kian bangkit mencapai ratusan.
Cindaku Aftoria yang sedang bersama dengan Solea Ganymede pun terkesiap dibuatnya. Saat mendapati energi gila saling berkumandang di tanah Hadesia.
“Magma? Siapa yang mengendalikan ini?”
“Bocah dari empusa.”
“Mendengar jawaban Solea, Cindaku pun menyipitkan matanya. “Ayo kita ke sana,” ajaknya dan melangkah bak Raja.
Sementara sang guru besar mengikutinya dari belakang. Dan tanamannya, masih menyeret para murid yang ditangkapnya. Mengingat mereka akan berguna untuk ditumbalkan pada Cindaku Aftoria yang memegang kunci kebangkitan Helga Nevaeh, sang pemimpin para penyimpang.
Dan di tempat pertarungan Aza serta Revtel, ketakutan mendera sang Pangeran. Karena sosok itu melancarkan serangan membabi buta ke arahnya. Di mana ekor magmanya bergerak tak tentu arah seperti punya kesadaran masing-masing.
Tentunya Revtel yang sudah kembali sadar dari ilusi sekarang melemah kemampuannya. Karena dia terlalu berhati-hati dalam melancarkan serangannya. Berbeda dengan tadi di mana sosoknya seperti tidak takut mati.
Bahkan para murid asrama terakhir merasa akan tewas tidak lama lagi. Mengingat pertarungan mereka melawan guru besar justru beralih melindungi diri dari Aza.
Sepertinya, jika bocah magma itu tidak dihentikan seluruh penghuni akan melayang nyawanya.
Tapi, memang begitulah kenyataannya. Para prajurit selain guru besar di Hadesia telah meregang nyawa akibat melawan magma Aza.
Tipe jurusnya terlalu mematikan sebenarnya. Tak ada ubahnya dengan kemampuan aneh yang dimiliki Kers dalam memakan energi kehidupan lawannya.
Kemampuan merlindia (penyihir) tampaknya tidak begitu berpengaruh pada bocah hydra yang terkekeh melihat perjuangan para guru besar dalam menyerang dan melindungi diri dari magma.
“Semuanya!” teriak Solea tiba-tiba.
Dan dalam sekali ayunan cakar Cindaku, serangan Aza lenyap dari sana. Hal itu membuat orang-orang menoleh kaget pada tamu yang datang.
Sekarang, tatapan sang penyimpang dan bocah hydra pun saling bertemu pandang.
“Terima kasih, karena sudah membuatku bangkit kembali,” ucapnya tiba-tiba dan sudah berdiri di hadapan Kers.
Anak itu terbelalak sambil mendongak menatapnya. Seringai lebar di bibir Cindaku pun menyentak ketenangannya.
Karena tanpa ia sadari, tangan wanita itu sudah menembus dadanya. “Darahmu akan sangat berharga demi kebangkitan Ratu kami,” kekehnya.
Napas Kers jelas tercekat dibuatnya. Dengan darah mengalir pelan dari sudut bibirnya, matanya pun mulai tertutup sempuna. Dan sosoknya kemungkinan mati di tangan Cindaku Aftoria yang sudah dibebaskan Loki akibat perjanjian sebelumnya.
Sekarang, dengan merasa seolah mendapatkan kemenangan, para guru besar pun mengikuti langkah wanita itu menuju Area pertempuran. Sambil menyeret Kers Cindaku memamerkan ekspresi tenang.
Karena tujuan selanjutnya adalah membangkitkan Helga yang merupakan pimpinan sektenya.
Dan Revtel tampak kesakitan. Akibat percikan magma yang ia bekukan mengenali bahunya. Rasanya lebih parah daripada terbakar. Karena ini memakan kulitnya untuk menghancurkannya.
“Jadi dia yang mengendalikan magma?”
Suara Cindaku pun mengalihkan perhatian Revtel yang bertahan. Tapi ia terkesiap melihat sosok digenggaman tangan itu.
Sang adik sepupu yang tampak tak berdaya dan diseret oleh Cindaku ke arah mereka.
“Kers!” jerit Revtel karenanya. Dan tanpa keraguan ia pun berlari ke arah adiknya.
Tapi dalam sekali ayunan, raga anak itu terhempas menabrak pepohonan di sana. Dipastikan tulang rusuknya patah akibat ulah sang monster yang tak punya iba.
“Lumayan, untuk tumbal,” lirihnya dengan tatapan menekan ke arah sang Pangeran.
“K-Kers,” Revtel yang kesakitan pun menatap sayu ke arah adik sepupunya.
Sekarang, Cindaku yang sudah berdiri tepat di hadapan Aza, memerintahkan Ireas untuk menghapus perisainya.
Dan dia langsung berhadapan dengan bocah itu walau masih menyeret Kers bersamanya.
“Menarik. Majulah!” suruh Cindaku.
Padahal nyatanya, Aza tak bisa mendengar apa pun. Tentunya ia akan menyerang tanpa ampun.
Lawannya yang dominan menggunakan serangan dari cakar dalam menyerang, memang tak bisa diremehkan.
Sedikit pun Aza Ergo tak bisa menyentuhnya. Sampai akhirnya tatapan Cindaku beralih melirik sosok digendongan bocah magma.
“Tato itu, sumpah terlarang?” dirinya tampak agak terkejut. Dan sekarang fokusnya tertuju ke arah rantai yang mengikat tangan kanan Aza serta Laravell. “Apa ini? Bukannya itu rantai kehidupan?”
“Apa maksud anda?” kaget Solea mendengarnya.
Dengan rahang menegas, Cindaku pun melontarkan kalimat tak terduga. “Tak diragukan lagi! Mayat itu mentransfer jiwa dan kemampuannya! Cepat hentikan sebelum bocah magma itu semakin kuat nantinya!”
__ADS_1