Death Game

Death Game
Kecurigaan terhadap Empusa


__ADS_3

Kalimat Hydragel Kers, sontak saja membungkam pak tua itu. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan menghadirkan sosok tak disangka.


“Kers!” pekiknya keras tanpa tahu siapa saja yang ada di dalam kamar. “Ah, maafkan aku, Tuan. Aku tidak tahu jika anda ada di sini,” Revtel pun membungkuk sopan sambil melangkah mendekati mereka.


“Cih, lihatlah dia. Di depanku yang jadi Raja dia bersikap seperti singa. Tapi kenapa di depan anda malah jadi panda? Ceramahi dia Tetua! Bagaimanapun aku tetap atasannya,” adu Kers tiba-tiba.


“Cih!” decih Revtel.


Pak tua itu hanya bisa menghela napas pelan karena sikap kedua orang itu. “Revtel.”


“Ya?”


“Ada pergerakan aneh dari empusa.”


Sontak saja matanya terbelalak sempurna. “Benarkah?”


“Benar. Dan seperti inilah respons seharusnya, Kers. Bukan seperti dirimu yang terlalu santai,” lanjut pak tua itu pada pemimpin bangsa ular. Kers hanya memasang tampang mencibir mendengar ocehannya.


“Aku akan perintahkan orang untuk menyelidiki mereka, apa ada informasi lainnya?”


Pak tua itu kembali menoleh pada Revtel. “Mereka diam-diam pergi ke kuil Dewa Susanoo.”


“Untuk apa?!”


“Entahlah. Mata-mataku yang melaporkannya. Mereka secara tak sengaja melihat orang dari bangsa empusa memasuki kawasan terlarang untuk pergi ke sana.”


“Apa tetua yang lain tahu?”


“Tidak. Aku hanya memberi tahu kalian berdua.”


“Kalau begitu aku akan kirimkan surat pada Trempusa.”


“Jangan!” cegat Kers tiba-tiba.


“Kenapa?!”


“Ayolah Revtel. Sudah jelas empusa yang berulah. Dan kau ingin mengirim surat pada pemimpinnya?” Kers pun tertawa akhirnya.


“Bagaimana jika Trempusa tidak tahu? Kita tak bisa menutup mata akan sikap tetua empusa yang tak mendukungnya sepenuhnya.”


“Tapi dia tetaplah Raja, Revtel. Dia sudah duduk di singgasananya.”


“Cih! Sudahlah. Kalau begitu aku akan kirim Hea ke kuil Dewa untuk memastikannya.”


“Tidak. Kirim saja Aza Ergo ke sana,” sela Kers yang membuat Revtel dan pak tua itu terbelalak.


“Kau gila?! Dia petinggi empusa!”


“Lalu? Dia dan Trempusa tak ada bedanya. Dari pada kau mengirim surat ke pimpinan empusa, lebih baik suruh bocah itu menangani kekacauan bangsanya.”


“Lebih baik aku menanyakan itu pada Aquila Ganymede.”


“Sudah, hentikan. Tak ada gunanya berdebat. Dan Revtel, aku tahu kalau Trempusa adalah temanmu, tapi bukan berarti dia akan jujur padamu dan mengatakan alasan dari orang-orang bangsanya pergi diam-diam ke kuil Dewa.”


“Tapi, bisa saja—”


“Memang benar kalau banyak tetua empusa yang berniat menjatuhkannya. Bahkan mungkin saja orang-orang yang pergi ke kuil ini juga berniat untuk mencoreng namanya. Tapi, seperti kata Kers. Dia sudah jadi Raja, dan singgasana tetaplah miliknya.”


Revtel pun akhirnya memasang ekspresi kecut karena kalimat pak tua yang tak bisa dibantahnya.


“Kirimkan saja orang kepercayaanmu ke sana. Karena bagaimanapun juga, kita harus tahu apa yang mereka rencanakan di tempat terlarang itu.”


“Makanya kusarankan kirim saja Aza Ergo ke sana,” timpal Kers dengan santainya.


“Dia empusa, Kers,” pak tua itu tampak tak setuju. 


“Lalu? Dia jauh lebih bisa dipercaya. Kita sama-sama tahu seperti apa kepribadiannya. Dia saja bahkan tak ragu menyebarkan aib bangsanya. Siapa lagi yang lebih baik darinya untuk dikirim ke sana? Kita tak perlu mengotori tangan dan bisa mendapatkan informasi darinya. Ideku baguskan?”


Terlihat tampang semringah dari Hydragel Kers yang merasa benar dalam berkata. Bahkan tangannya masih sempat-sempatnya mengambil sebuah anggur dan memakannya.

__ADS_1


“Tidak, menurutku Hea—”


“Revtel,” potong Kers tiba-tiba. “Jika terjadi sesuatu di sana, menurutmu bagaimana nasib Hea?”


“Kau—”


“Aku melakukan ini juga demi bangsa kita. Tak ada satu pun yang mengetahui apa rencana empusa. Entah Trempusa tahu tentang ini atau tidak, memang cuma Aza yang bisa menanganinya. Karena bagaimanapun juga, dia tetaplah petinggi yang tak bisa disentuh oleh mereka.”


Wakil pemimpin hydra itu akhirnya hanya menghela napas pelan sambil membetulkan letak kacamatanya.


“Cih, terserahlah. Kau saja yang urus itu semua,” Revtel pun pergi dari sana setelah membungkuk sopan pada pak tua yang cuma mendengarkan perdebatan.


“Sepertinya, kau sangat mempercayai petinggi itu.”


“Tidak juga.” Tapi, hening berkumandang beberapa detik sampai akhirnya Kers melanjutkan ucapannya. “Kenapa melihatku seperti itu? Ya, ya. Aku memang mempercayainya. Karena bagaimanapun juga dia orang gila.”


“Atau karena dia adik seperguruanmu yang tersisa?”


Tapi, seringai tipis justru terpatri di bibir pemimpin bangsa hydra. “Entahlah.” Dirinya lalu mengambil pisau buah di hadapan dan menyayat telapak tangannya. “Nigel (muncullah)” ucapnya sambil meneteskan darah di meja. Perlahan, cairan merah itu bergerak sendiri untuk menggumpal dan membentuk rupa yang tak disangka-sangka.


Gagak merah.


Digenggamnya burung itu, sambil merapalkan sesuatu tanpa bersuara. Perlahan, ia lepaskan burung gagak dari darah tersebut untuk terbang mengudara. Entah akan ke mana hewan itu hanya pemiliknya yang tahu tujuannya.


“Semoga pilihanmu tidak salah, Kers.”


Laki-laki itu pun tersenyum. “Tenang saja. Di antara semua orang kecuali kalian, dia adalah salah satu yang bisa dipercaya.”


Pak tua itu tak lagi bersuara. Bahkan bila dirinya tidak menyetujuinya, tapi keputusan Raja tetaplah mutlak. Kalaupun pilihan Hydragel Kers itu salah, maka dia sendiri yang akan menanggung akibatnya.


“Hatchiuu!” bersin Aza Ergo.


“Kenapa?”


“Aku bersin. Memangnya kau tidak dengar?” keluhnya pada Reve yang duduk di sebelahnya.


“Sialan! Kau pikir aku apa? Aku begini karena aku kedinginan.”


Seketika tampang Reve berubah menyindir. “Bukannya kau pengendali magma?”


“Kemampuanku tak ada hubungannya dengan kondisi fisikku.”


“Payah.”


“Tutup mulutmu, bodoh.”


“Kau yang bodoh.”


“Kau, bocah sekarat. Kalau bukan karena aku, kau pasti sudah mati.”


“Itu karena aku lengah. Lagi pula kau kan juga terluka.”


“Tapi aku sempat menggila.”


“Begitu saja bangga.”


“Tentu, itu harus. Dari pada kau, sekarat dan pingsan. Tidak berguna.”


Reve mulai kesal jadinya. “Near,” panggilnya tiba-tiba sehingga ular itu muncur dari balik kerah bajunya.


“Mau apa kau? Ularmu ingin kubuat gosong?” tantang Aza.


“Hentikan!” potong Doxia tiba-tiba. “Apa kalian tidak sadar kalau kalian berdua sedang jadi tontonan?” geramnya karena muak mendengar perdebatan mereka.


Sekarang, mereka ada di kediaman rumah hitam. Dari pada disebut rumah, akan lebih tepat disebut sebagai sebuah istana.


Sekarang semuanya berada di ruang makan besar dengan meja yang bisa menampung tiga puluh lima tamu undangan. Itu terjadi karena undangan dari Izakiel sang pemimpin kota Lagarise, agar kelompok Aza datang ke sana.


Tapi parahnya, bukan hanya mereka yang hadir. Bahkan Izanami dan Caprio juga ikut serta bersama. Begitu pula pak tua berambut hitam legam dengan muridnya yang bernama Redena. Tentu saja wanita itu jadi menatap tajam Aza, akibat serangannya yang hampir membuat kakinya cacat.

__ADS_1


Tapi, petinggi yang berbagi bangsa dengannya itu hanya menampilkan rupa menyebalkan untuk dipandang. Benar-benar sangat menyebalkan.


“Mana makanannya?” tanya Horusca tiba-tiba.


Izakiel tersenyum. “Maaf jika masih belum datang. Apa tak masalah menunggu sebentar lagi? Bagaimanapun pelayan di sini tidak banyak, sehingga mereka perlu waktu untuk bersiap.”  


“Kau pemimpin kan? Memangnya kau tidak memperkerjakan banyak bawahan?” sela Reve tiba-tiba yang ditatap kaget oleh rekan-rekannya.


“Bagaimana ya? Lagi pula, di sini ada tamu istimewa. Akan sulit bagiku menyuruh semua bawahanku bekerja karena mungkin saja ada mulut yang tak bisa dijaga.”


Orang-orang terdiam. Terkesan sindiran, kalau mereka itu tamu-tamu yang tak boleh ketahuan.


“Terserahlah,” Reve tak peduli.


“Tuan!” panggil salah satu pengawal Izakiel tiba-tiba. Jika dicium aromanya, bisa dipastikan ia berasal dari bangsa manusia.


“Ada apa?”


“Sepertinya, ada gagak yang terbang cepat ke arah sini.”


Raut wajah Izakiel berubah. Tak lagi santai, terkesan tenang dan menekan. “Terima saja.”


Jendela besar di ruangan itu pun dibuka sang pengawal. Sampai akhirnya burung gagak yang terbang dengan kecepatan tinggi menabrak wajah sang petinggi empusa.


“Sialan! Apa-apaan ini?!” jengkelnya.


Tapi, justru tawa yang berkumandang di bibir beberapa orang.


“Apa kau lihat bagaimana tampangmu saat ditabrak burung itu? Jelek sekali!” Doxia terbahak-bahak.


Dan akhirnya, Aza Ergo mengeluarkan pedang magma tiba-tiba ke arahnya.


“Hei! Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuhku ya!”


“Ya. Lagi pula, kehilangan satu nyawa tak berguna tak masalahkan?” seringainya.


“Tuan, kuharap anda tak lupa kalau kita sedang berada di meja makan,” sela Izakiel tiba-tiba.


Aza Ergo hanya tertawa pelan lalu mencengkeram leher burung gagak yang ada di hadapannya. Sampai hewan berbulu mirip darah itu pecah menjadi serbuk berwarna merah dan menyelimuti wajah sang petinggi empusa.


Seketika, senyum terpancar di bibir pemuda itu.


“Siapa?” tanya Reve akhirnya.


“Mm? Hanya seseorang yang kukenal. Sepertinya dia merindukanku.”


Jawaban Aza cuma ditatap tenang Reve Nel Keres.


“Aku yakin bocah rumahan itu sudah disuruh pulang. Lebih baik kau cepat pergi, sebelum orang tuamu datang kemari dan menyeretmu enyah dari sini,” sindir Caprio. Jujur ia masih kesal dengan Aza dan komplotannya karena insiden terakhir. Bahkan berada di sini juga membuatnya muak. Tapi, bagaimanapun demi Izanami ia akan bersikap santai saja.


Lagi pula ini adalah undangan dari Izakiel sang pemimpin Lagarise yang mana pinggiran kotanya sudah dihancurkan oleh mereka. Namun, mungkin akan lebih tepat jika itu disebut sebagai ulah dari Aza Ergo. Mengingat dia yang mengamuk dan meluluh lantakan hutan Lagarise.    


“Sayang sekali,” Aza Ergo tertawa pelan. “Itu takkan terjadi karena orang tuaku sudah mati.”


Terkesiap.


Caprio benar-benar terdiam. Bahkan beberapa orang yang berada di sana memilih bungkam karena pernyataan dari pemuda itu. Begitu pula dengan Reve. Walau dirinya bisa dikatakan setipe dengannya, ia juga enggan bersuara.


Aza Ergo adalah petinggi muda yang sangat terkenal. Siapa pun pasti tahu tentangnya, terlebih sebutannya sebagai bocah jenius dari empusa. Atau murid gila di tanah Hadesia. Namun, tak ada satu pun yang mengetahui bagaimana latar belakangnya atau siapa orang tuanya. Karena ia muncul tiba-tiba, sebagai calon yang diusulkan salah satu tetua gyges untuk mengikuti pelatihan dingin di Hadesia.


Pelatihan kejam yang melahirkan beberapa pemimpin bangsa dan petingginya. Dan di sana pula dirinya mendapat julukan sebagai eksekutor berdarah empusa. Diiringi dengan Revtel yang mendapat julukan kejam lainnya.


Karena kemampuan mereka berdua, telah membuat tanah Hadesia sampai sekarang tidak bisa dihuni siapa pun juga. Kawasan merah dan putih yang diselimuti panas dan dingin akibat insiden gila.


Sebagai tanda bahwa lebih dari separuh kehidupan di Hadesia, telah bertemu dengan Dewa Kematiannya. Entah apa yang sebenarnya terjadi di sana, namun pengakuan para murid tersisa sudah menjawab semuanya.


Kenyataan cerita dari mereka, bahwa salah seorang guru besar di sana sebagai pemicu tragedi kelamnya.


 

__ADS_1


__ADS_2