Death Game

Death Game
Peti Zeus Vortha


__ADS_3

“Akhirnya kau sadar juga,” gumam Horusca. Sementara sang petinggi yang sudah terbuka matanya melirik ke sekelilingnya. Dirinya berada di ranjang di tempat peristirahatan mereka.


“Apa yang terjadi?”


“Kau pingsan.”


“Benarkah?”


“Ya. Dan bocah ular itu menyeretmu ke sini.”


“Seret?” nada suara Aza berubah.


“Digendong di punggungnya lebih tepatnya.”


“Cih.” Dirinya pun bangkit sambil mengusap kepalanya. Kembali mengingat penyebab pingsannya. Tapi, sorot matanya teralihkan karena fenomena aneh di langit sana. Di mana gumpalan awan berbentuk pusaran terlihat nyata untuk ditonton semua.


“Itu—”


“Langit sudah begitu sejak tadi.”


Tapi, pintu tiba-tiba kembali terbuka dengan kemunculan Toz Nidiel yang bernapas terengah-engah. “Ada, ada musuh!” pekiknya.


Dan benar saja, bocah itu langsung tersungkur karena kemunculan sosok tak terduga yang menendangnya.


“Kau,” kaget Aza melihatnya. Tiba-tiba kerah bajunya dicengkeram oleh pendatang yang tiada ramah-tamahnya.


“Brengsek! Apa yang kau pikirkan?! Kau sudah gila?!” marah orang itu pada sang petinggi.


“Apa yang kau bicarakan?” masih dengan nada santainya.


“Jangan pura-pura keparat! Kau ingin membebaskan Reygan Cottia kan?!” Aza pun terkesiap namun kembali dinetralkannya ekspresinya. “Kenapa? Masih mau berpura-pura? Aku tahu dari Blerda!”


“Cih!” decih sang petinggi. “Apa sebenarnya tujuannya,” gumamnya dan ditatap tajam Xavier Lucifero. “Benar juga, lepaskan cengkeramanmu.”


“Kau—”


Akan tetapi mereka tersentak tiba-tiba oleh sebuah gempa berkekuatan luar biasa, meretakkan tanah-tanah dan hampir merobohkan bangunan yang berdinding lemah.


“Ini!” syok Xavier dan langsung melepaskan cengkeramannya.


“Gempa ini benar-benar menakutkan,” pekik Doxia Mero yang terburu-buru berlari menuju ruang istirahat Aza.


Sementara di kediaman Raja hydra, Raguel terpekik karena sensasi panas menghantam telapak tangannya. Di mana sinar hijau yang menyala seolah ingin menghancurkannya.


“Raguel!” cemas Revtel melihatnya.

__ADS_1


Bahkan bukan hanya dirinya, sosok-sosok yang telapak tangan kanannya senasib dengannya juga merasakan hal serupa.


Izanami bahkan jatuh terduduk saking mengerikannya sensasi yang menimpa.


Dan Cley Vortha, dia menggeram dan membuat panik Trempusa, Anca, serta Ragraph yang bersamanya.


“Tidak mungkin, peti matinya!” erang Bragi Elgo sang mantan Raja empusa.


“Yang Mulia! Apa yang terjadi?!” kaget Serpens akibat rintihan Aegayon Cottia.


“Jangan!” cegat pria itu ketika sang Wakil hampir saja membuka gorden yang mengurung ranjangnya. “Aku baik-baik saja, jadi jangan lihat.”


“Tapi, suara anda gemetaran Yang Mulia,” walau dirinya cemas, tapi Serpens memang tak bisa apa-apa. Karena kalau dia memeriksa keadaan Rajanya maka itu sama saja hukuman mati untuknya.


Di satu sisi, Aza merasa tidak baik-baik saja. Tubuhnya bergetar hebat dan ia pegang dada berdebarnya. Detakan jantungnya begitu tidak normal entah apa penyebabnya.


“Kau kenapa?” bingung Xavier saat melihatnya.


Horusca pun langsung menyentuh bahu sang petinggi muda. Tapi ia mengerang karena merasakan panas di telapak tangannya. Seolah terbakar saat kulitnya menerpa Aza yang aneh kondisinya.


“Hei! Kau kenapa?! Kau baik-baik saja kan?!” cemas Xavier mendekatinya. Jujur saja, dirinya benar-benar berharap kalau orang ini tidak apa-apa. Mengingat Aza Ergo bertipe magma dan kemampuannya salah satu yang tergila di dunia Guide.


“Ugh!” Aza pun memeluk tubuhnya. Rasanya kian menyakitkan setiap jantungnya berdetak cepat. Dan tanpa keraguan Horusca pun melepas mantranya, mengelilingi sang petinggi dengan bola hijau penyembuhannya.


Tiba-tiba sang petinggi terdiam dan tertunduk di hadapan mereka.


Tersentak. Sang petinggi terkesiap. Lirihan dari suara lemah lembut menyadarkan sosoknya. Bersamaan dengan kejadian aneh sedang menari di tanah Kaspera.


Di mana Kuyang, muntah darah akan percobaan terlarangnya dalam membangkitkan gerbang penjara yang mengurung rekannya.


Erangan demi erangan mengalir dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, raungan serigala tak henti-hentinya di belakang tubuhnya. Di mana hewan tersebut menyembutkan api hijau dari jiwa-jiwa guide yang sudah pernah dimakannya.


“Aku mohon terbukalah!” teriak wanita itu sambil tangan tetap menyentuh peti mati di depannya.


Perlahan namun pasti, cahaya hijau yang menyelimuti kotak itu semakin terang benderang. Aroma rerumputan kian menguar bercambur dengan bunga lily di pelataran.


Dan dunia guide sedang digoncang fenomena menakutkan. Gempa di daratan. Tsunami di perairan. Tornado di udara, hujan berjatuhan dari langit atas sana.


Tentunya mengundang lirikan aneh orang-orang yang menyaksikannya.


Tiba-tiba guntur dari langit bergemuruh dan memekakan telinga. Bersamaan dengan tulisan aneh berkumandang di atas peti mati yang dipegang Kuyang.


Perlahan namun pasti, sebuah rantai pun muncul dari dalam mulut serigala dan menusuknya. Seolah ingin membuatnya sekarat lalu mati saat ini juga.


“I-itu,” gumamnya menyadari tulisan hijau di udara mulai berubah menjadi merah. Semakin lama huruf-huruf tersebut kian tak beraturan bentuknya. Sampai akhirnya rantai yang menusuk raganya terbakar oleh api dari jiwa-jiwa di perut serigala.

__ADS_1


Barulah tulisan acak itu terukir kembali dengan bahasa kuno makhluk kayangan. Kuyang pun terkesiap dan lambat laun mulai membacanya.


“Iselkia Redas Lobos (Memanggil dalam kenistaan)”


Tiba-tiba bunga lily yang terhampar di sekitar seperti diterpa angin kasar dan terbang mengudara.


Dan Bragi Elgo pun mengerang di tempat yang berbeda. Sinar hijau yang membakar tangannya mulai menjalarkan tulisan kuno sepanjang lengannya. “Jangan bilang, Reygan—” pekik pak tua itu terus merintih kesakitan.


“Regaria Redas Ragidos (Menyentuh dalam ketiadaan)”


Sosok yang tergeletak tak berdaya di sebuah pemakaman menatap langit-langit dengan pasrahnya. Sekujur tubuhnya sakitnya, sinar hijau di telapaknya lah penyebabnya. Perlahan namun pasti tato aneh semakin memakan lengannya.


“Reygan,” gumamnya.


Tapi di tempat Kuyang berada sebuah aura merah telah berkumandang. Semua berasal dari bunga lily yang beterbangan.


“Yerka Redas Arginos (Menusuk dalam keheningan)”


Izanami tampak putus asa. Walau dirinya mencoba menghilangkan sinar di telapak tangannya tapi masih saja tak bisa. Tulisan kuno memenuhi lengannya dan Caprio benar-benar kaget menyaksikannya.


“Iza!”


“Mereka,” gumam Izanami Forseti dengan suara gemetaran.


“Apa yang terjadi?!”


“R-Reygan.”


Dan aura merah tadinya berubah menjadi gumpalan darah.  


“Barcaria Redas Mardobos (Membutakan dalam penglihatan)”


Pak tua penjual rongsokan, menatap tak percaya pada ukiran yang terlukis di lengannya. Sementara gumpalan darah di tanah Kaspera tersebut mulai bergerak membentuk sebuah gerbang. Kuyang terpekik karenanya, sebab matanya mendadak perih menyaksikan pemandangan di depan. Tapi, mulutnya terus mengucapkan mantra yang mengambang.


“Firezakia Redas Phoenoros (Membakar dalam kehampaan)”


Sekarang, Noa Krucoa lah yang merasakan efek serupa. Tangannya serasa terbakar oleh api nan menyala. Walau tak menghanguskan namun sensasi panas jelas menyakitkan.


Bersamaan dengan itu di tempat Kuyang berada, gerbang yang terbentuk dari gumpalan darah ikut terbakar. Pertanda kalau mantra yang diucapkan bersangkutan dengan sang raja bangsa kurcaci sebagai pemiliknya.


“Marzikara Redas faktronos (Membisikkan dalam kenyataan)”


Aegayon Cottia menggeram. Suaranya yang indah sekarang terasa menakutkan. Serpens benar-benar panik dibuatnya, tapi bentakan dari sang Raja membuatnya tak bisa apa-apa.


Sosok pemilik rambut pirang terindah di dunia Guide itu menggigit bibir bawahnya sehingga mengalirkan darah. Bersamaan dengan netra emasnya, menatap tajam pada lengannya yang diukir tanda.

__ADS_1


Dan kenyataannya, di tempat kejadian tak terduga sedang terjadi, suara-suara aneh berkumandang dari gerbang darah. Tiba-tiba api yang menyelimutinya lenyap bersamaan dengan mengerasnya cairan merah itu.


Akhirnya tampaklah wujud yang berbeda. Gerbang batu, namun ada ukiran mirip pedang memenuhi permukaannya.  


__ADS_2