Death Game

Death Game
Tersiksanya Hellbertha


__ADS_3

Dan tiba-tiba gadis itu tersenyum kepadanya. Sehingga Kagura pun bergidik ngeri melihatnya.


“Ada tikus kecil rupanya.”


Pernyataannya barusan, berhasil membuat yang lainnya menoleh ke arah pandangannya.


Sementara di tempat yang cukup jauh lokasinya, Thertera pun sudah berada di lokasi Arigan serta Zeril yang tadi terpisah darinya. Di sisinya, juga ada Ivailo Stoyan. Mereka berempat, saling memamerkan tampang dengan ekspresi beragam.


“Mana yang lainnya?” tanya petinggi manusia tiba-tiba.


“Efaseus mungkin sudah di sana bersama rekannya. Yang lainnya aku tidak tahu, Tapi kalau para penyusup di kawasan kuil Dewa Susanoo, jangan harapkan apa pun lagi darinya,” jelas Arigan.


“Bagaimana dengan Hellbertha?”


“Entahlah. Nenek tua itu begitu keras kepala. Mungkin saja dia tertangkap,” jawabnya pada Zeril yang bertanya.


“Padahal kau sudah dari kawasan siren, kenapa tidak bebaskan Bleria?” Ivailo memasang muka jengkel pada sosok di sampingnya itu.


“Mau bagaimana lagi. Pengawasan Blerda itu ketat. Dia pintar, jadi tak ada gunanya kita bergerak dan masuk perangkapnya. Lebih baik cepat lanjutkan perjalanan, karena entah kenapa saat melihat badai itu firasatku jadi buruk begitu saja.”


Semuanya pun menyetujui ucapan Arigan Arentio, sehingga memilih melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju kawasan terlarang yang dituju.


Dan dalam langkah saling beriringan itu, sosok dari siren pun tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Thertera yang lebih banyak menunduk saja. “Apa yang kamu pikirkan?” bisiknya.


Laki-laki itu meliriknya. Penglihatannya cukup tajam sehingga tak biasa jika disandingkan dengan wajahnya. Tak ada jawaban darinya, kecuali kakinya tetap mengikuti Ivailo Stoyan dan Zeril Septor yang berjalan di depan.


“Apa kau merasa bersalah? Mengingat kau salah satu penghuni Hadesia.”


“Itu tak ada hubungannya denganku.”


“Kenapa? Bukankah Para Raja serta petinggi muda itu teman sekaligus rekan seperguruanmu?”


Thertera pun tersenyum kepadanya. “Fokus saja pada tujuan kita, Arigan.” Dan sosoknya pun meninggalkan laki-laki itu selangkah di belakangnya.


Sementara di reruntuhan istana siren, terdengar rintihan keras dari Hellbertha yang meraung-raung kesakitan.


Serpens sang Wakil Raja gyges pun terdiam menatap pemandangan luar biasa di depannya. Tak menyangka jika istana kebanggaan milik bangsa pemain harpa itu akan porak-poranda begitu saja.


“Dari mana saja kau?” Pertanyaan Heksar dibalas dengan senyuman olehnya. “Jangan tersenyum padaku bodoh! Kau membuatku geli!” jengkelnya pada laki-laki itu.


Serpens tak peduli dan tetap saja melangkah mendekati Barca Asera. “Jadi, apa yang sudah aku lewatkan?”

__ADS_1


“Ghoul, kegilaan Ratu siren, dan juga orang asing yang ditangkapnya,” jelas Aza menimpalinya.


“Orang asing? Dia dari bangsaku,” tatapnya pada Hellbertha itu.


“Oh, kalau begitu uruslah.”


Dan tabib dari bangsa gyges yang kesakitan pun menatap tersiksa pada Blerda yang tak bersuara. Gadis itu begitu arogan di matanya, terlebih dia menyentuh dagunya sehingga sosoknya harus menengadah sekarang.


“Kers akan mengurusmu, setelah itu kau akan dieksekusi karena sudah membunuh petinggi dari bangsaku.”


Tapi, justru tawa yang disemburkan Hellbertha. Bahkan bisa-bisanya ia meludahi rambut Blerda Sirena, membuat orang-orang di sana tak bisa berkata-kata atas kekurang ajaran dirinya.


“K-kenapa menatapku seperti itu? Tak menyangka kalau aku berani melakukan ini padamu? Asal kau tahu saja, cepat atau lambat kalian semua pasti akan mati!”


“Nyonya Hellbertha,” lirih Serpens yang menatap miris ke arahnya.


“Serpens, tak kusangka kita akan bertemu di sini. Apa kau juga ingin mengadiliku?”


“Nyonya.”


“Maafkan aku, Nak. Tapi aku juga tak punya pilihan. Bersiaplah, karena tidak lama lagi kalian pasti akan bertemu dengan gerbang dunia bawah.”


Padahal, Ivailo Stoyan, Aquila Ganymede, Hellbertha, Thertera Aszeria, Zargion Elgo, Zeril Septor dan juga Arigan Arentio, merupakan sosok penting dalam bangsanya masing-masing. Karena itulah dirinya merasa miris mendengarnya.


“Kupikir, lebih baik biarkan Yang Mulia Kers membaca ingatannya,” pinta Serpens pada Blerda. Mengingat gadis itu masih belum melepaskan tangannya dari wajah Hellbertha.


“Zankai (Mencengkeram)”


“Aagh!” pekik keras Hellbertha tiba-tiba. Tubuhnya seperti dipelintir oleh sesuatu yang ia tak tahu itu apa. Sampai akhirnya terdengar bunyi patah tulang di telinga mereka semua.


“Blerda!” marah Revtel lalu membekukan tangan pemimpin siren yang masih mencengkeram pipi tabib bangsa gyges. “Apa yang kau lakukan?! Kau mau membunuhnya!”


“Dasar gila! Padahal kita butuh informasi darinya!” Heksar juga ikut menghujatnya.


Dan gadis itu, memalingkan wajah pada sosok yang sudah berani menyerangnya. “Batalkan jurusmu, Revtel.”


“Aku tak tahu apa yang salah dengan otakmu. Tapi jangan sampai amarah membuatmu menghancurkan sumber informasi kita.”


“Aku bilang batalkan jurusmu, Revtel.”


Dan Serpens pun tiba-tiba menjauhkan Hellbertha dari Raja siren itu tanpa aba-aba. Membuat sang gadis melirik dingin padanya, namun diabaikan Sang Wakil Raja karena kalimat Revtel ada benarnya.

__ADS_1


“Lepaskan jurusmu, Tuan Revtel,” pinta Noa Krucoa yang mengejutkan mereka. “Jangan sampai kita terpecah belah setelah bekerja sama seperti ini.”


Wakil Raja hydra pun menuruti ucapannya. Melenyapkan jurusnya dari tangan Blerda yang ia bekukan. Mengingat jenis kemampuannya, merupakan es terburuk di dunia Guide.


“Dan Yang Mulia Blerda. Tolong tenangkan diri anda. Bagaimanapun anda dan Tuan Criber masih hutang penjelasan pada kami semua atas kejadian tadi. Dan juga, jika perkataan anda itu benar, kami turut berduka atas apa yang menimpa Tuan Arjuna.”


Akhirnya, Blerda tak lagi memasanng ekspresi menekan di wajahnya. Kecuali sorot matanya menatap Kers yang sudah selesai membaca ingatan Del Aney di sana.


“Aneh.”


“Ada apa, Kers?” tanya Trempusa.


“Yang bisa kulihat hanya adegan pertarungan mereka dengan kelompok Zarca. Ingatan sebelumnya tidak ada. Apa mungkin sudah dihapus sebelum dirinya bertarung dengan mereka?”


Orang-orang pun terdiam karenanya. “Apa kau benar-benar bisa baca ingatan? Atau jangan-jangan kemampuanmu itu sudah tumpul ya,” sindir Heksar tiba-tiba.


“Apa aku harus membaca ingatanmu untuk membuktikannya?” Kers pun tersenyum kepadanya.


Yang Mulia, kalau begitu tolong baca ingatan Nyonya Hellbertha. Mungkin saja ada informasi lain yang bisa kita dapatkan.”


Kers pun mengangguk sekilas. “Encanteri prohibit, que devora imatges de memoria (mantra terlarang, pelahap bayangan ingatan)” ucapnya begitu tangannya menyentuh kepala Hellbertha. “Ugh! Uhuk-uhuk! Uhuk!”


“Kers!” kaget Revtel tiba-tiba. Karena dari mulut Rajanya, tersembur darah yang ia batukkan dengan anehnya.


“Hei! Kau baik-baik saja?!” panik Heksar melihatnya.


“A-apa ini? Dadaku sakit,” ucapnya tiba-tiba sambil memegang area yang disebutkan.


“Kau!” Revtel pun sontak langsung murka sambil mencekik leher Hellbertha yang tak berdaya. “Siapa kau sebenarnya?!” sensasi mengerikan pun langsung terpancar dari sosok Wakil Raja hydra.


Akan tetapi, justru senyuman samar yang diperlihatkan Hellbertha. Seolah meledek mereka, karena gagal mendapatkan informasi dari kepalanya.


“Sepertinya ada yang memasang kutukan. Mungkin mereka sudah memperkirakan kalau Yang Mulia Kers akan membaca ingatan para pengkhianat yang tertangkap.”


Dan tak jauh dari mereka, ada sosok-sosok tak disangka muncul dari hutan. Tempat yang sama di mana Hellbertha keluar sambil diseret paksa Capricorn tadinya.


“Kalian,” gumam Tuan Criber menatap tak percaya pada pendatang di depan matanya.


  


    

__ADS_1


__ADS_2