Death Game

Death Game
Penyerangan pada bangsa-bangsa


__ADS_3

“Dasar naif! Para Raja takkan tinggal diam saja jika memang itu rencana kalian!”


“Benarkah? Sepertinya kau meremehkan Blerda Sirena. Dia mungkin Raja yang termuda, tapi itu tidak menolak kenyataan kalau dialah yang merencanakan ini semua. Dia adalah otak yang akan membawa perubahan dalam bangsa-bangsa. Dan hasil akhirnya, bisa kau lihat setelah Cerberus selesai menggila.”


Dan di saat yang bersamaan namun lokasinya berbeda, sosok Raja siren sedang berjalan dengan langkah santainya.


Pelayan Dewa yang menjadi peliharaannya, juga berada di sisinya. Area pijakan di sekitar mereka dihiasi dengan genangan darah. Tentu saja semua terjadi akibat ulah Megalodon dan Capricorn yang menggila.


Penjara di mana Blerda Sirena ditahan tadinya, akhirnya menjadi makam tersendiri bagi para sipir penjara yang telah meregang nyawa.


Dia benar-benar tidak ragu dalam membinasakan orang-orang dari bangsanya.


“Yang Mulia!” kaget Otama melihat sosoknya. Tubuhnya gemetar ketakutan, terlebih lagi menyaksikan mata tajam pemimpin di depannya. Langkahnya, perlahan bergeser agar sang Raja bisa melewati pintu yang menjadi bibir pembuka dalam jalan menuju penjara.


“Ada apa, Otama?”


Suara dingin Blerda, berhasil menusuk ketenangan bawahannya tiba-tiba.


“I-itu, ada gagak pesan datang tiba-tiba.”


“Isinya?”


“T-tentang Tuan Abertio, d-dia sedang berada di perjalanan kembali kemari.”


Raut wajah Blerda pun menggelap seketika. Diliriknya Capricorn, Sang Rasi Bintang yang merupakan pelayan Dewa.


Dan Otama yang menyaksikan tampangnya itu hanya bisa bersikap panik ketakutan. Karena bagaimanapun juga, Blerda Sirena pasti tidak suka dengan laporan dari mulutnya barusan.


“Capricorn,” panggil Blerda tiba-tiba. Disentuhnya wajah peliharaan miliknya, sambil melirihkan kata tak terduga. “Pisahkan cerberus yang akan datang ke bangsa kita menjadi dua. Dan salah satunya, giring untuk menemui Abertio tanpa ketahuan olehnya. Kamu, bisa melakukannya bukan?”


Sosok pelayan Dewa pun mengangguk kepadanya.


Blerda Sirena, jadi tersenyum melihat tanggapannya.


“Kalau begitu pergilah,” perintahnya.


Selesai mengatakan itu, sosok Capricorn pun lenyap di depan mata. Menuju tempat di mana perintah Blerda sedang dipikul oleh bahunya.


“Y-Yang Mulia. Apa anda yakin kalau ini semua akan baik-baik saja? P-para peting—”

__ADS_1


“Yang bersalah harus membayar harganya,” potong Blerda tiba-tiba. “Tidak peduli siapa pun mereka, jika tidak bisa dihukum maka kita hanya perlu melenyapkannya. Bukankah itulah cara terbaik untuk balas dendam pada mereka?” seringai Blerda tiba-tiba.


Dan sosoknya yang seperti itu, ditatap gugup oleh Otama. Mengingat tak ada lagi harapan untuk meluluhkannya.


Terlebih, waktu pembantaian sedang menuju puncak tertingginya. Di mana para Cerberus yang dikendalikan Thertera dan juga Arigan, sedang menuju enam bangsa di dunia Guide.


Sebagai tanda kalau hukuman bagi para pemegang jabatan, tidak lama lagi akan mencium nasib akhir dalam kehidupan mereka.


“Bohong, itu semua bohong! Kau, apa kau tidak malu mengatakan semua itu?! Kalian menghabisi para penghuni Hadesia seolah mereka tidak ada artinya!” marah Zenolea tiba-tiba.


Dan Aza yang dicerca begitu, tak memberikan balasan apa-apa kecuali sebuah senyuman di bibirnya.


“Lalu apa masalahnya? Mereka memang pantas mati. Bukankah kami sangat baik? Hanya sekadar membunuhnya, tidak sampai melenyapkan tubuh mereka sehingga tak bisa lagi kembali ke dalam pangkuan keluarga. Tak ada yang lebih baik hati dibandingkan kami semua, dalam menghabisi para sampah tidak berguna.”


“Jika mereka yang kehilangan tahu, kalian pasti akan tamat.”


“Benarkah? Karena yang tahu hanya dirimu, maka kau sendiri yang akan tamat. Pilihanmu hanya mengikuti rencana kami atau mati di sini. Jadi, yang mana?”


“Sepertinya kau terlalu sombong karena berhasil membunuh Dantalion. Asal kau tahu saja, bahkan jika dia lebih hebat tapi aku jauh lebih cerdas! Jadi jangan remehkan aku!” kesal Zenolea sambil melancarkan serangan cambuknya ke arah Aza.


Tapi, bukan hanya sekadar menghindarinya. Sang petinggi dari bangsa empusa, juga menginjak cambuk itu sehingga menjadi sulit ditarik oleh lawannya.


“A-apa-apaan itu?!” kaget penjaga gerbang di kawasan bangsa chimera. Dan sosok pemimpin mereka yang masih berdiam di kamarnya, hanya bisa mengepal erat tangan sambil tersenyum miris menyaksikannya.


Menanti kedatangan cerberus yang akan meluluh lantakan daerah kekuasaannya. Dan dirinya hanya bisa diam memperhatikan itu semua sampai pada waktu yang telah ditentukan Raja dalam permainan mereka.


“Dasar gila,” Lucian Brastok tersenyum di ruangan yang sama sekali belum ditinggalkannya sejak kedatangan gagak merah menemuinya.


Padahal, kegemparan jelas-jelas terjadi di daerah kekuasaannya. Di mana seekor cerberus datang mendobrak gerbang masuk kawasan bangsa dracula tanpa iba.


Menyerang siapa pun yang datang untuk menghentikannya. Sampai akhirnya kebrutalan monster legenda itu terhenti juga. Saat sorot matanya melihat sebuah bangunan megah yang tak jauh darinya.


Dan itu merupakan kediaman milik ayah dan ibu Dantalion yang mengusai pecahan kawasan di sana.


“Sudah dimulai ya,” lirih Lucian Brastok sambil menopang kepalanya dengan punggung tangan kanannya yang tersandar pada pinggiran kursi Raja.


“I-ini—” syok Trempusa menyaksikan kejadian yang tak jauh dari tempat peristirahatannya. Di mana cerberus telah mengamuk dan memakan beberapa pengawal Kerajaan bangsa empusa.


Tapi sosoknya hanya bisa mengepal erat tangannya. Karena tak mampu melakukan apa-apa selain menonton itu semua dari posisinya.

__ADS_1


Dia harus tetap seperti ini, sampai saat-saat tertentu mengizinkannya untuk turun tangan dengan sabit legendanya.


Dan saat itu adalah saat di mana para bangsawan dan juga Tetua di daerah kekuasaannya sekarat dan benar-benar membutuhkan bantuannya.


“Ini gila. Benar-benar gila. Kalian, benar-benar gila karena sudah melakukan ini semua,” begitulah lirihan kata Revtel yang menyaksikan kengerian di depan matanya.


Dari balkon di lantai empat istana Raja hydra, sosoknya pun terpaksa memandangi kegilaan cerberus yang menghancurkan kawasan bangsanya.


Dan dia, tak bisa melakukan apa-apa selain membeku di posisinya. Karena sesuai perintah Kers, dirinya hanya bisa membantu pertarungan saat kehancuran bangsanya sudah mencapai lebih dari lima puluh persen.


Di mana kondisi itu ditentukan ketika para bangsawan dan beberapa tetua sudah meregang nyawa.


Itu berarti, tujuan dari penyerangan ini memanglah mereka yang harusnya tak pernah unjuk gigi dalam kekuasaan para Raja.


Dan Blerda Sirena, otak dalam rencana ini semua malah tersenyum manis di dalam kamarnya.


Mendengarkan setiap teriakan orang-orang yang ketakutan akan serangan. Tak peduli siapa pun yang histeris meminta bantuan, sosoknya tetap saja tidak peduli.


Karena baginya, jika memang menginginkan perubahan pertumpahan darah itu hal yang wajar dilakukan.


Bahkan jika itu berarti bangsa mereka harus dirundung banyak kehilangan serta kesedihan.


Sayangnya, Itu memang hal yang pantas untuk dikorbankan.


“Baiklah. Selanjutnya, aku harus bagaimana?” lirih Aza Ergo yang menyaksikan sosok di depannya.


Zenolea.


Dia kehilangan tangan kanannya. Dan juga mata kirinya mengalirkan darah di wajahnya. Tentu saja semua terjadi akibat serangan sang petinggi empusa, diselimuti mantra bangsa tradio dan berhasil melukai sosok lawan mudanya itu tanpa iba.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2