
“Ini salah kalian, karena terlalu fokus pada serangan di depan mata,” ucap seseorang tiba-tiba.
“Si-siapa?” pemuda pemakai elemen listrik mencoba mencari sumber suara.
Tiba-tiba, sebuah tubuh pun berdiri di balik tumpukan badan peserta yang telah kalah di serangan pertama. “Sepertinya aku harus berterima kasih pada mereka yang sudah kalah duluan,” Reve pun menyeringai sambil menyisir rambutnya ke belakang.
“Kau!” geram laki-laki yang dari tadi mencarinya.
“Ah, salahmu karena tidak mengalahkanku duluan,” Reve pun tersenyum padanya.
“Dia, apa yang sebenarnya sudah terjadi?” gumam Bleria Sirena yang masih tak paham dengan keadaan di depan mata.
“Reve?! Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?!” Riz juga tak mengerti bagaimana bisa Reve masih baik-baik saja.
“Peserta yang licik,” timpal Horusca tiba-tiba.
“Horusca, apa maksudmu?” Riz memandang heran padanya.
Di tempat yang berbeda, pak tua pemilik toko barang antik memandang tenang ke arahnya. “Apa anda sudah tahu tentang ini?” tanya seseorang padanya.
“Apa maksudmu?”
“Karena mata anda tak pernah lepas dari bocah itu,” jelas Logan melirik pada pak tua tersebut.
“Sepertinya kau terlalu memandang tinggi diriku. Aku juga tak menyangka jika pemuda itu akan mendominasi pertarungan.”
Reve pun menarik pedang dari sarungnya, berjalan ke arah pemuda yang sudah memakai listrik sebelumnya. “Ka-kau ....”
“Aku akan membayarmu, karena sudah melukai tanganku,” tukas Reve sambil mengangkat pedangnya.
“Jangan pikir kalau ini sudah berakhir!” teriak salah satu peserta.
Tiba-tiba, sebuah tendangan pun mendarat ke arah dada Reve. Dengan cepat pemuda itu menahan tendangan yang mengarah dengan pedang. Akan tetapi, efek serangan itu masih terasa dan membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.
“Masih sanggup berdiri?” gumam Reve menatap jengkel padanya.
“Racun apa itu?!” teriak wanita bertanduk rusa yang sudah melayangkan serangan. Ada aura merah mengalir keluar dari tubuhnya. Membuat gadis itu tak terluka begitu parah akibat serangan diam-diam yang sudah dilancarkan Reve.
“Racun?!” gumam pemuda pemakai listrik yang akhirnya jatuh tersungkur akibat pusing dan sakit di badan.
“Woah! Luar biasa! Sekarang hanya dua peserta yang tersisa!” oceh seseorang di atas panggung. Kehebohannya sekali lagi membuat orang-orang di sekelilingnya menatap jengkel akibat mulut berisiknya.
“Racun apa yang sudah dipakai pemuda itu?” gumam Bleria.
“Racun yang bisa melumpuhkan guider level komandan dengan mudahnya. Bukankah anak itu hebat?” puji Hea akhirnya.
Tuan Criber yang dari tadi sudah cukup lama mendengar ocehan orang sekitarnya angkat bicara. “Anak yang pintar. Tapi, apa dia bisa mengalahkan gyges seperti wanita itu?”
“Bangsa raksasa ya, ini pertarungan yang cukup menarik,” timpal orang yang dari tadi teriak-teriak menimbulkan kejengkelan.
Wanita bertanduk rusa pun memperlihatkan guratan emosi di wajahnya. “Di saat orang-orang sibuk bertarung, bisa-bisanya kau bertindak curang. Apa yang sudah kau lakukan?! Racun apa itu?!”
Reve tersenyum. “Curang? Jika yang lain boleh menyerang, kenapa aku tidak?”
“Kau!”
“Tenang saja, begitu kemenangan di
tanganku, akan kuberikan penawarnya untuk kalian.”
“Jangan pikir aku akan membiarkanmu begitu saja!” teriak wanita itu mengepalkan tangan. Ia pun berlari ke arah Reve hendak meninjunya.
“Bangsa gyges memang hebat. Bahkan dalam keadaan terluka, mereka masih memiliki kekuatan bertarung sebesar ini.”
“Diam kau!” wanita itu kembali mengayunkan kakinya akibat pukulannya berhasil di tepis Reve dengan punggung pedang. “Kena kau!” teriak wanita itu.
Reve yang menahan tendangan dengan punggung pedang tak mengira jika wanita itu akan memukul mundurnya dan membuat pedang di tangan berbalik mengarah padanya.
“Trang!” sebuah pedang muncul di tangan Reve satu lagi. Sehingga berhasil menahan serangan senjata makan tuan yang hampir mengenainya.
“Kau, assandia! (Petarung!)”
Tiba-tiba, Reve pun melempar pedang panjang yang sudah menemaninya dari awal pada wanita itu dengan sangat cepat seperti hendak menusuknya. Wanita bangsa gyges menghindar ke kiri sehingga pedang lolos ke belakang melewatinya.
“Lelucon apa yang kau lakukan?”
Reve kembali mengulanginya dengan melempar pedang terakhir di tangan dengan gerakan yang sama. Lagi-lagi wanita itu menghindarinya. “Kutanya sekali lagi, apa yang kau lakukan? Kau tidak sebodoh itu berpikir seranganmu akan mengenaiku kan?”
Reve masih mengulas senyum di bibirnya. Wanita itu kembali melanjutkan, “padahal tanah ini sangat panas, tapi kau tak memperlihatkan reaksi apa-apa. Apa mungkin itu tak berpengaruh padamu?”
“Kenapa tidak tanyakan pada dirimu sendiri?”
Wanita itu menyipitkan mata mendengar ucapan Reve, “kau bukan gyges.”
__ADS_1
“Benar, dan itu tak ada hubungannya.” Reve melangkahkan kakinya dengan pelan.
“Hei, kenapa pertarungannya menjadi membosankan? Apa mereka hanya akan bicara sampai akhir?” timpal Hea akhirnya.
“Pemuda itu, aku penasaran apa yang direncanakannya,” sambung Logan.
“Hei Tuan, sepertinya kau sangat tertarik dengan anak manusia itu,” tanya Hea padanya.
“Melancarkan serangan tak terlihat di akhir, bukankah dia cukup menarik untuk dilihat?”
“Padahal menurutku dia hanya bermodal keberuntungan saja. Memakai keributan untuk menyebar racunnya. Mungkin saja sekarang ia bingung harus bagaimana, karena racunnya kurang berefek pada wanita gyges itu,” jelas Hea.
“Tapi aku penasaran racun apa yang dia gunakan sampai bisa melumpuhkan peserta hebat lainnya,” Bleria ikut bersuara.
Para penonton di atas panggung pun melirik para guider hebat yang tumbang akibat racun tak terlihat Reve. Mereka tak bisa bergerak dengan tubuh gemetaran itu, ada yang masih tertahan duduk tanpa bisa apa-apa atau pun tersungkur tak berdaya terbaring di atas tanah.
Sapuan angin seakan meneriakkan langkah awal kemenangan Reve. Namun, daun berterbangan seperti mengingatkannya kalau itu masih jauh di dalam angan. Keberadaan wanita dari bangsa gyges yang masih bertahanlah sebagai penyebabnya.
Reve mengepalkan tangannya, mulai berjalan pelan ke arah wanita itu. “Heh? Tangan kosong?” ledek wanita gyges karena Reve tak memakai senjata.
Langkah Reve berubah cepat dan berlari ke arahnya sambil melancarkan serangan ke wajah wanita itu. Dengan sigap ia memegang lengan Reve yang hendak meninju wajahnya, “tidak sopan, kau ingin memukul seorang wanita?”
“Ya,” balas Reve singkat. Ia memutar tubuhnya dan memainkan siku untuk menyikut pipi wanita tersebut.
“Kau pikir serangan fisik akan mempan padaku?!” wanita itu berhasil menghindarinya.
Reve tak menjawab dan memilih melepaskan tangan yang memegang lengannya dan mencoba memainkan kaki. Akan tetapi, gerakannya kurang cepat, sehingga wanita itu melayangkan serangan ke arah dada Reve.
Reve pun terpaksa menghindari tendangan dengan menjatuhkan tubuh ke tanah. Ia berhasil menahan tubuh dengan menumpu tangan kanannya, lalu memakai kaki kiri dan melayangkannya ke wajah wanita itu.
“Duaagh!”
“Uugh!” erang wanita itu sambil mengusap-usap pipi kanannya yang terkena serangan kaki kiri Reve. “Sialan!”
Reve menatapnya sinis, “nigel (muncullah)” ucapnya. Sebuah pedang sama persis dengan sebelumnya pun muncul di tangan kiri yang hangus.
“Kau!” Wanita itu menatap tajam ke arahnya. Tanpa ia sadari, aliran darah pun menetes dari hidungnya. “I-ini.”
“Racunku sudah menyebar ke seluruh tubuhmu, dan kau masih saja keras kepala.”
“Dasar manusia licik,” umpat wanita gyges sambil menghapus darah di hidungnya. Tubuhnya bergetar hebat, namun tak ia acuhkan karena hawa energi sebagai keturunan bangsa gyges berhasil membuatnya bertahan sejauh ini.
Reve memajukan pedang dan mengarahkannya pada wanita itu. Tanpa mantra apa pun, pedang di tangan Reve mengeluarkan aura yang tak biasa. Auranya begitu dingin, membuat orang-orang di sekitar terdiam dengan asap panas mengudara lewat senjatanya.
“Kau, bukan sekedar assandia (petarung) biasa,” wanita itu mengepalkan tangan saat menyadari level lawan di depannya.
Reve tak bergumam apa-apa, kecuali mengangkat pedangnya tinggi. Raut wajah wanita gyges pun berubah panik. Ia langsung melesat maju hendak menyerang Reve, mencoba menggagalkan serangan yang akan dilancarkannya.
“Jangan pikir aku akan membiarkannya!” teriak wanita itu mengangkat tangan yang terkepal dan diselimuti aura merah menyala di sana. Saat pukulan hampir menyentuh tubuh Reve, arena pun meledak hebat yang menggetarkan seluruh area alun-alun.
Ledakan itu menimbulkan asap gelap pekat mengudara, membuat beberapa pasang mata hebat tak bisa menembus kedalamannya. Hiruk-pikuk penuh tanda tanya menyelimuti arena, bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Dari balik asap tersebut, tampak sosok samar masih berdiri kokoh muncul dengan wujud samarnya. Mencoba memperlihatkan keadaan terakhir lewat celah-celah yang bisa ditembus oleh mata.
Tak disangka, seorang pemuda dengan tangan memegang pedang masih berdiri tegak di tengah arena. Akan tetapi, pedang di tangannya memancarkan aura gelap tidak biasa yang dialiri petir hitam.
Membuat para penonton tak bisa berkata-kata, kecuali terkesiap menatap sosok wanita gyges yang memiliki luka besar menganga di sepanjang dada dan perutnya.
“Dia!” Hea berdiri karena kaget melihat pemandangan di depannya.
“Reve,” gumam Toz tak percaya. Walau sekilas, tapi ia melihat jelas apa yang terjadi.
“Dia,” batin pak tua pemilik toko barang antik bergumam. Semua terlihat jelas di depan matanya.
Sesaat sebelum wanita gyges berhasil melayangkan pukulan, energi di pedang Toz yang berasap langsung berubah hitam dan keluar seperti sambaran petir ke lawannya. Menimbulkan efek ledakan besar akibat menembus aura merah yang menyelimuti wanita bertanduk itu.
Wanita itu pun langsung terkapar tak sadarkan diri, sementara Reve berbalik setengah putaran menghadap panggung. Di mana penonton dengan energi luar biasa dan hadiah menantinya di sana.
Tanpa aba-aba, Reve melempar pedangnya ke arah panggung yang membuat para petinggi dari masing-masing bangsa langsung berdiri.
“Dia!” Hea dan Logan mengangkat tangan hendak menahan serangan pedang itu. Tapi belum sempat mengeluarkan jurus, Reve tiba-tiba sudah berdiri di atas panggung sambil memegang gagang pedang yang tadi dilemparnya.
“Kau!” Hea memandang tajam.
“Aku hanya ingin mengambil hadiahku,” ucap Reve tanpa rasa takut sama sekali.
“Apa kau tahu siapa yang ada di hadapanmu?” tanya Bleria dengan nada menekan.
“Siapa pun kalian tak ada urusannya dengan kemenanganku,” terang Reve berwajah datar.
Tiba-tiba, sesuatu pun bergerak dari balik bajunya, mencoba keluar lewat celah yang bisa mempertontonkan dirinya.
“Itu!” pekik Hea.
__ADS_1
Seekor ular black mamba pun menelusup keluar dan melingkari lengan Reve yang memegang pedang. Laju tubuhnya lambat, namun mendekat ke bongkahan kristal di mana hadiah utama sayembara bertengger indah.
“Ular?” Logan menatap lekat makhluk itu.
“Near, lakukan,” perintah Reve.
Sang peliharaan pun mengeluarkan lidahnya. Lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan memperlihatkan taring panjang yang tergantung di sana.
Tiba-tiba, mulut sang ular pun bergerak maju dan melahap hadiah-hadiah di depan mata seolah tak ada apa-apanya. Tak butuh waktu lama, hadiah-hadiah utama itu langsung tertelan dan lolos ke dalam tubuhnya.
Membuat beberapa pasang mata menatap tak percaya dengan adegan aneh di depan mereka.
Reve tersenyum, “terima kasih atas hadiahnya,” lirihnya sambil mengeluarkan sebotol kristal kecil bercairan hijau di dalamnya. Ia melempar botol itu ke tengah-tengah arena, sehingga pecah dan cairannya mengeluarkan asap hijau pekat berbau menyengat.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” Reve memandang sekilas para petinggi bangsa-bangsa yang duduk di depannya. Dengan merebahkan tubuh ke belakang, sosok Reve tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa sisa.
Tak jelas apa yang terjadi, karena anak itu lenyap tak berjejak membuat petinggi bangsa-bangsa memandang berkeliling. “Dia menghilang? Itu sihir? Tapi dia assandia (petarung) kan?” tanya Bleria entah ditujukan pada siapa.
“Sepertinya, anak menarik sudah muncul ya,” ucap seorang laki-laki yang sejak tadi suka membuat kehebohan. Ia menyeringai, membuat pesona wajahnya yang tertutup poni hitam kemerahan semakin menawan.
“Reve? Di mana dia?” batin Toz mencari-cari sosoknya. Tapi tiba-tiba, ada seseorang yang menarik lengannya.
“Hei bodoh, ayo kita pergi!” ajaknya.
“Reve?! Ka-” kalimatnya terpotong karena Reve menutup mulutnya dengan tangannya yang hangus.
“Diam bodoh! Ikuti aku,” jelas Reve berbalik.
Akan tetapi, ada sepasang mata yang berhasil menangkap keberadaanya. Sebuah sorot mata tenang dan misterius, menatap lekat punggung kedua anak manusia itu hingga lenyap seutuhnya dari keramaian.
“Tuan Rexcel!” pekik Riz berlari menghampiri.
Asap hijau dari botol kristal yang dilempar Reve sudah menghilang sepenuhnya. Para peserta yang tadinya tumbang sekarang sudah mulai pulih kembali. Tampaknya, asap hijau itu merupakan penangkal dari racun yang disebabkan Reve sendiri.
“Tak kusangka akan kalah seperti ini,” gumam Rexcel dengan nada kecewa.
“Sialan! Sialan! Sialan! Dasar bocah keparat! Di mana dia!” teriak Aos kesal. Tampaknya ia masih tak terima dengan kekalahannya.
“Yang lemah justru yang paling berbahaya. Tak kusangka dia memakai racun untuk melumpuhkan semuanya,” lirih laki-laki yang sempat berbicara dengan Reve di pertarungan. Ia pun memandang berkelliling namun tak melihat sosok Reve di matanya.
Di tempat yang berbeda, wanita dari bangsa gyges pun tampak sedang diobati oleh seseorang dari tim pelaksana sayembara. Dia antara semua peserta, dialah yang memiliki luka paling parah. Di luka menganganya, terpancar aroma daging terbakar yang cukup menyengat.
“Tuan Barca, anda mau ke mana?” tanya Bleria saat menyadari pak tua pemilik toko barang antik akan beranjak pergi dari panggung.
“Urusanku sudah selesai, saatnya bagiku bekerja lagi.”
“Barca, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat setelah sekian lama?” ajak tuan Criber padanya.
“Sayang sekali. Tapi aku bukan orang luang sepertimu. Kapan-kapan itu bukan ide yang buruk,” jelas pak tua itu meninggalkan para petinggi dari bangsa lain.
“Sepertinya dia sangat betah di toko tuanya itu,” sela Hea.
“Jangan begitu. Walau bagaimanapun beliau adalah orang tua yang harus dihormati. Benar bukan? Aku benarkan?” timpal laki-laki yang selalu berbicara dengan nada heboh.
“Apa anda tak bisa menutup mulut sekali saja Tuan?” tanya Bleria.
“Kenapa Nona? Karena tak cocok dengan wajahku?”
Bleria menatap malas padanya. “Cocok, tapi jika anda tak berisik di sini,” sambung Hea.
“Aku tak bicara padamu bocah,” sindir laki-laki itu.
“Aku juga tak bicara padamu orang tua. Lagi pula, apa-apaan ponimu itu?” ledek Hea padanya.
“Asal kau tahu saja, ini warna langka,” ucapnya sambil menyentuh poni kemerahannya itu. Hea pun memamerkan wajah jengkel karena malas menanggapinya.
Di tempat yang berbeda. Tampak empat orang sedang berjalan beriringan, namun salah satunya terlihat sedang risih dengan keadaan tubuhnya.
“Ada apa? Dari tadi kau tidak bisa diam!” tanya Doxia.
“Efek akibat racunnya masih ada,” jelas Rexcel sambil memutar-mutar pergelangan tangannya.
“Tak kusangka kalian akan kalah dari bocah lemah itu. Benar-benar mengecewakan,” Doxia menggeleng-geleng kepala.
“Lemah? Tapi bagiku Reve tak terlihat seperti itu,” sergah Riz.
“Hah?!”
“Riz, kau mengenal pemuda berambut campuran itu?” Rexcel memandangnya.
“Ya, dia teman sekamarku saat kami masih di dunia manusia. Tapi aku tak menyangka dia sehebat itu.”
“Hebat apanya? Dia cuma licik,” gerutu Doxia. Sementara Horusca diam tak menanggapi, matanya masih fokus ke depan, dengan kaki yang menapaki jalanan menuju sebuah penginapan di mana mereka akan menemui seseorang yang tak terduga.
__ADS_1