
“Sialan! Dasar keparat! Berani-beraninya bocah laknat itu mengancamku!” kesal Tetua yang paling dihormati dalam Dewan bangsa empusa.
Sungguh rasa marah begitu mendera hatinya, terlebih lagi wajah menyebalkan Aza Ergo masih tidak bisa menghilang dari pandangannya.
“Tuan, sekarang kita harus bagaimana? Untuk menurunkan Trempusa, kita memang butuh izin dari para saksi sumpah.”
“Cih!” decihnya. “Saksi sumpah ya,” kekehnya tiba-tiba. “Lagi pula, tanpa saksi sumpah pun kita tetap bisa menurunkannya.”
“Caranya?”
“Tiga perkara, kau tidak lupa kan kesalahan apa saja yang bisa membuatnya turun tahta?”
“Ah,” lawan bicaranya pun tersadar dengan maksud atasannya. “Kupikir memang hanya itu caranya,” sambil menyeringai menanggapinya.
“Mm?”
“Ada apa, Tuan?”
“Siapa itu?”
Sosok yang diajak berbicara pun menoleh pada sumber pandangan sang Tetua. “Ah, dia putri dari pandai besi di persimpangan.”
“Dia cantik,” puji Tetua itu sambil menatap lekat gadis muda yang sibuk mengangkut gerobak berisik buah-buahan di dalamnya.
“Benar dia sangat canti—” sosok itu terdiam. Saat mendapati sorot mata menekan sang Tetua kepadanya. “Saya mengerti,” angguknya lalu meninggalkannya.
Pak tua itu pun terkekeh melihat respons anak buahnya. “Sepertinya, malam ini aku akan berpesta.”
Di satu sisi, Reve Nel Keres sibuk berjalan-jalan di sekitar kediaman Aza. Rumah bak kastil kuno, dan tampak seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan jika ditatap dari luar.
Parahnya lagi, hanya ada seorang pelayan di sana. Bagaimana bisa satu orang pekerja menangani bangunan sebesar itu? Mungkin saja, sang petinggi orang yang pelit menurut pengendali ular tersebut.
Sampai akhirnya, suara teriakan seseorang mengalihkan perhatiannya.
“Apa itu?” gumamnya menoleh ke sumber suara. Tanpa keraguan, Reve terus berjalan menyusuri sumber yang mengusik pendengaran.
Dan setelah berjalan sekitar belasan meter dari halaman kastil Aza Ergo, sebuah pemandangan menjijikan terlihat jelas di ujung sana. Di mana dua orang dengan usia yang berbeda mencoba menjajah wanita di depan mata.
Benar-benar perilaku bajingan menurutnya.
Tapi, desisan Near mengusik pendengaran Reve.
“Kamu ingin aku membantunya?” lirihnya. “Tapi, magma itu bilang jangan sampai membuat masalah di sini. Bukankah lebih baik kita biarkan saja?”
Tiba-tiba, ular itu mendesis kasar kepadanya. Seperti marah akan jawaban Reve Nel Keres yang tak terlihat iba. Raungan gadis muda tersebut begitu memilukan rasanya.
__ADS_1
Meminta tolong pada siapa pun agar membebaskannya dari kebejatan Tetua dan seorang bangsawan yang ingin merudapaksanya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Reve Nel Keres pun sontak menoleh ke belakang. Dan Aza yang menatap tenang ke arahnya, sekarang melirik ke sumber teriakan. “Apa itu,” langkahnya pun melewati sosok pengendali ular.
Sampai akhirnya, lukisan tak senonoh terlihat jelas di pandangan. Seorang gadis muda yang meronta dan hampir setengah telanjang keadaannya.
“Apa istrimu tidak bisa memuaskanmu? Tetua.”
Sontak saja, dua orang yang sedikit lagi berhasil melaksanakan tindakan bejatnya, terkesiap melihat saksi mata tak jauh dari mereka.
“Kau!” pekik Tetua itu karena syok dengan kehadirannya.
Dan perlahan, sorot mata Aza beralih pada gadis yang beruraian air mata.
“Dia masih muda. Mungkin lebih mirip cucumu. Sebegitu inginnya kau dipuaskan olehnya?” sang petinggi pun mendekat ke arah mereka.
Tanpa aba-aba, gadis yang histeris tadinya berhasil membebas diri dari cengkeraman dua orang penyiksa.
“Ah!” pekik sang bangsawan menyadari sosok yang ingin ditindas terlepas dari genggaman.
Walau kondisinya sangat menyedihkan, gadis itu pun berlari ke arah Aza. Sambil menutupi tubuh bagian atas dengan tangannya.
Dan sang petinggi pun langsung melepas jubahnya lalu menyodorkan pada dia yang tersiksa.
“Pergi dari sini.”
“Pergi dari sini,” suruh Aza dengan sorot mata tajamnya.
Gadis itu pun sontak langsung menelan ludah kasar akibat tekanan dari laki-laki di depannya.
“T-terima kasih untuk bantuannya. Suatu saat saya pasti akan membalas kebaikan anda,” lirih gadis itu sebelum pergi dari sana.
Dan sekarang, hanya tersisa para pria di dalam hutan yang berdaun rindang itu.
Aza Ergo dan Reve Nel Keres. Serta sang Tetua bejat bersama bangsawan yang jadi bawahannya.
“Karena aku tak ada urusan denganmu, maka aku akan undur diri dulu,” pamit sang Tetua tanpa merasa berdosa. Padahal tadi, dia baru saja hampir melakukan hal tak senonoh di sana.
Membuat Reve tak habis pikir dengan ketebalan muka yang dimilikinya. Benar-benar orang tua tak punya malu menurutnya.
“Undur diri? Setelah apa yang terjadi?”
“Memangnya apa yang terjadi?” tatap remehnya pada Aza. Dan hal itu berhasil membuat sang petinggi memiringkan kepalanya. “Kenapa menatapku seperti itu? Kau juga laki-laki kan Aza? Kalau kau mau, aku bisa kirimkan banyak wanita cantik kepadamu. Siapa pun yang bisa menghangatkan ranjangmu. Kupastikan kau akan puas dengan itu,” dirinya bahkan terkekeh di akhir kata.
Dan Reve pun melirik canggung ke arah sang petinggi yang tak bersuara. Jujur saja, ocehan kotor seperti ini jelas-jelas bukan levelnya. Dia tak begitu suka dengan pembahasan dari sosok renta di depannya.
__ADS_1
“Kau pikir, aku seorang bajingan?”
“Aku hanya bilang kau seorang laki-laki, Aza Ergo. Jadi tidak aneh kalau kau ingin membebaskan hasratmu. Bukankah itulah keuntungannya menjadi petinggi di empus—”
Hening pun berkumandang. Tak ada lagi sambungan kalimat dari Tetua yang bersuara. Selain lukisan mengerikan miliknya yang dipertontonkan pada setiap saksi mata.
Reve berkedip berulang kali akibat kaget yang mendera. Sementara sang bangsawan di sisi pak tua itu, perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah.
Darah telah terpercik di sana sehingga sosoknya pun histeris jadinya. Tetua yang paling disegani di Dewan itu, telah mati akibat lehernya dipenggal sang petinggi dengan benang magma yang tampak kasat mata.
Serangan dalam senyap dan tak bisa di deteksi oleh mereka. Aza pun berjalan ke arahnya.
“Kenapa? Ayo teriak lagi. Bukankah hanya itu yang bisa kau lakukan?” tiga ekor magma pun menyeruak dari punggungnya.
“K-kau—”
“Selamat tinggal.”
Dan dua ekor magma pun mendadak muncul dari dalam tanah. Melubangi tubuh bangsawan itu tanpa sempat ia hindari serangannya.
Sementara tiga ekor magma yang mengudara, perlahan bergerak untuk melilit sosok yang berlubang raganya.
Seolah ingin meleburkan badannya dengan serangan menyala dari sang petinggi yang membunuhnya. Kemampuan Aza pun ******* dua orang itu untuk tak lagi bersisa wujudnya.
“Aku yakin jika kamu menyuruhku untuk tidak menimbulkan masalah.”
“Lalu, apa kau sudah menimbulkan masalah?” petinggi muda itu pun meliriknya lewat sudut matanya.
“Belum. Tapi sepertinya kau sudah.”
Aza pun tertawa pelan mendengarnya. “Aku petinggi di sini, jadi itu tidak masuk hitungan.”
Dan ekor magmanya pun lenyap bersamaan dengan jatuhnya tengkorak dua orang tadi di belakangnya.
“Apa tidak masalah? Jika dilihat dari dandanannya, sepertinya mereka bangsawan.”
“Oh, apa itu berarti kau mencemaskanku?”
Reve pun menatap malas sosok di depannya. “Aku hanya tak ingin terlibat masalah di sini.”
“Sayang sekali. Padahal aku, baru saja ingin mengajakmu untuk mengacau di tanah ini.”
__ADS_1