Death Game

Death Game
Kebodohan tiga pengembara


__ADS_3

“Aaah ... aku lelah,” keluh Cley Vortha setelah berjalan cukup jauh.


“Ayo kita berhenti di sini,” ajak Ragraph padanya.


Bahkan sebelum adik dari Yang Mulia Trempusa mengatakan itu padanya, sosok Dokter jenius tersebuh sudah merebahkan tubuhnya di sembarang tempat.


Tak peduli jika kotor ataupun lembab yang penting dirinya rebahan.


“Apa? Cepat carikan makanan,” suruhnya pada anak muda yang menatapnya.


Tentu saja Anca Blake mengernyitkan dahi bingung akibat perintahnya.


“Ini, makanlah,” Ragraph pun menyodorkan seonggok rumput yang kebetulan dicabutnya dekat kakinya.


“Ayolah, Nak. Apa kau ingin berlian mahal sepertiku berkarat karena kelaparan? Cepat balas budi dan carikan aku makanan.”


Bukannya menjawab, rekan seperjalanannya itu hanya menatap masam. Sambil melemparkan rumput barusan ke wajah dia yang suka mengoceh sembarangan.


Sontak saja, Cley Vortha menyipitkan matanya walau sosoknya membiarkan tanaman kotor itu menghiasi wajahnya.


“Kau, apa kau ingin mati?” seringainya pada Ragraph Revos yang tersenyum tipis.


“Kenapa tidak? Setidaknya sampah di Dunia Guide akan berkurang walau cuma satu orang.”


“Dasar bocah kurang didikan,” sindirnya. Perlahan tubuhnya pun berbalik untuk memunggungi mereka.


“Apa? Apa kamu tidak ingin istirahat?” tanya sosok dari bangsa empusa itu pada Anca.


“Ah,” pemuda itu pun menjatuhkan dirinya untuk duduk di dekat mereka. Sesekali sorot matanya melirik sang penyembuh yang tampak tak bergerak di kanannya.


“Apa kamu lapar?” Pemula dari dunia manusia itu menggelengkan kepala. “Baguslah. Karena aku juga tidak lapar,” sambil merebahkan tubuhnya.


Tentunya, sosok dengan jaket yang tudungnya selalu menutupi kepala itu memandang lekat pada dua laki-laki santai di depan mata.


“Apa kalian tidak takut?” Ragraph pun menatap heran ke arahnya. “Bisa saja ada serangga yang memasuki tubuh kalian kalau tidur sembarangan.”


“Lalu? Kita harus tidur di mana? Selama nyaman aku tidak peduli bahkan jika harus istirahat di kandang hewan.”


Pernyataan Ragraph, sejujurnya cukup mengejutkan Anca yang mendengarnya. Mau tidak mau, anak muda itu ikut rebahan di atas tanah.


Tidak enak rasanya. Ada bebatuan yang mengganggu punggung dan bokongnya. Bahkan dirinya terpaksa pindah sambil mencari lokasi ternyaman. Nyatanya mau di mana pun itu, ranjang tanah versi nikmat memang nihil untuk dirasakan.


Sampai akhirnya dengan menelan keadaan, Anca pun tiduran di tempat asal-asalan.


Mungkin tiga orang itu memang sangat kelelahan.

__ADS_1


Berjam-jam mereka lewati sambil menutup mata dan lelapnya kantuk di badan. Bahkan gemuruh di langit-langit pertanda mendung dan petir tidak mampun mengusik ketiganya.


Sampai akhirnya, hujan badai pun menerpa barulah Cley Vortha tersadar dari tidurnya.


“Oh, hujan,” gumamnya kembali menutup mata.


Membiarkan pakaiannya kotor dan basah karena menempel pada tanah.


“Eeeeh! Hujan?!” kagetnya menyadari kalau fenomena alam sudah datang menerpa. “Bangun bodoh! Bangun!” pekiknya tiba-tiba sambil memukul perut kedua anak muda di dekatnya.


“Agh! Sakit brengsek! Apa yang kau lakukan?!” kesal Ragraph kepadanya. “Ah, hujan?” lirihnya santai sambil menengadah.


Sementara Anca Blake, mengusap lembut perutnya akibat penindasan tiba-tiba yang dirasakannya.


Menyebalkan.


Satu kata itu benar-benar pantas dilabelkan pada Dokter bermulut besar di hadapan.


“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak mungkin! Namiiii, Mariaaaa! Bagaimana bisa kalian jadi seperti ini?!” histeris elftraz (penyembuh) itu sambil menatap tak percaya pada majalah kesayangannya.


Begitu lepek tampilannya, dihiasi percikan tanah serta basah untuk menertawakan kebodohan pemiliknya.


“Ini semua gara-gara kamu!” jengkel Cley pada dua pemuda di depannya. “Bagaimana bisa dua anak bodoh seperti kalian ketiduran?! Seharusnya kau bangun dan selamatkan kekasihku!”


“Hah?” dahi Ragraph dan Anca pun berkerut dibuatnya.


“Aku memang marah bodoh! Apa kau tidak lihat bagaimana nasib komik dan majalahku?! Ini susah payah kubeli setelah antre selama enam jam! Bahkan di dalamnya juga ada tanda tangan authorku tersayang! Tidak semua orang memilikinya! Hanya orang-orang terpilih sepertiku lah yang bisa mengoleksinya!”


Tiba-tiba Ragraph pun merebut benda yang digerak-gerakkan Dokter gila di depannya. Tanpa aba-aba, dibuangnya ke sembarang arah sehingga pengendali tanaman itu terbelalak melihat nasib benda kesayangannya.


“Kau!”


Bukannya takut melihat perubahan ekspresi Cley Vortha, sosok dari bangsa empusa justru melebarkan seringai sebagai balasannya.


“Nedierma! (Menyebar!)”


Begitulah pekikan Dokter gila itu tiba-tiba. Hanya dengan satu kali mantra, tanah yang menjadi pijakan mereka langsung diselimuti tanaman beracun di sekelilingnya.


Membunuh para hewan melata atau apa pun yang tidak bisa terbang dalam sekali tarikan napas penghirup racunnya.


Dan Anca yang menyaksikan itu semua, terbelalak akibat pemandangan mengerikan di penglihatannya.


Sungguh luar biasa. Andai refleks Ragraph Revos tidak secepat cahaya, bisa dipastikan mereka berdua takkan mampu menghindari jurus guider dari bangsa manusia yang memang terkenal dengan keanehannya.


“H-hebat,” puji Anca saat melihat Cley Vortha mengamuk tak jelas di bawah pohon tempatnya berdiri sekarang.

__ADS_1


“Hebat? Apanya yang hebat? Dia tampak seperti orang bodoh,” sela pemuda yang tadi membantunya untuk melompat ke pohon.


Terlihat kalau Ragraph memilih duduk di salah satu dahan dan menyandarkan tubuhnya dengan santainya.


“I-itu, apa tidak masalah kalau kita tidak membantunya?”


“Membantu? Membantu kenapa?”


“Meredamkan amarahnya.”


“Biarkan saja. Dia memang selalu begitu. Cara terbaik bagi kita cuma menjauh menghindarinya. Walaupun dia elftraz (penyembuh), tapi kalau sudah berhubungan dengan benda kesayangan bodohnya benar-benar luar biasa.”


Anca pun mengangguk-angguk mendengarkan.


Sesekali, matanya melirik Cley Vortha yang mengeluarkan sumpah serapahnya pada anak muda.


Begitu berduri kalimatnya. Selain kutukan juga ada ceramah terlontar dari mulutnya. Bisa dipastikan kalau siapa pun takkan tahan jika hidup berdua dengannya.


Dan matanya pun menatap lekat Ragraph yang sudah kembali tertidur di depannya.


“Apa ini? Apa dia tukang tidur?” lirihnya menyadari kalau adik dari Raja Trempusa itu juga mengorok di dekatnya.


Sementara di kawasan bangsa hydra, Kers tertawa pelan menyaksikan ulahnya. Di mana ada beberapa Tetua yang selamat namun mati di tangannya.


Tentu saja semua karena ulah jurus kegelapan miliknya.


“K-kau, siapa kau sebenarnya?” selesai mengatakan itu, energi kehidupan pak tua di depannya pun menguap mengudara.


Lirikan mata Kers pun menyadari kalau ada saksi mata yang menangkap basah dirinya di ujung sana.


“Ya ampun. Bagaimana ini? Aku sudah ketahuan,” lirihnya berjalan menyusuri lorong besar di istananya.


Sontak saja saksi mata itu jadi panik dan terus berlari terburu-buru meninggalkan sosoknya. Berharap tidak tertangkap olehnya dan meregang nyawa seperti korban-korban sebelumnya.


Namun siapa yang bisa menyangka.


Kalau ternyata Raja hydra itu juga bisa mengubah tubuhnya menjadi kabut berwarna hitam.


Menghilangnya dirinya, membuat saksi mata barusan semakin panik saat ia menoleh ke belakang.


“Agh!” erang bangsawan itu tiba-tiba. Ia jatuh tersungkur karena ada yang menjegal kakinya.


“Wah-wah, apa kau baik-baik saja?” lirih seseorang dari dalam gumpalan kabut yang mendadak muncul di kiri korban kekerasannya.


Perlahan, membentuk siluet menyerupai sosok tak asing di penglihatan.

__ADS_1


Dialah Hydragel Kers, bersamaan dengan retakan gerbang aneh yang muncul di udara belakang punggungnya.  


__ADS_2