
Gyges.
Sang Raja yang merupakan keturunan murni Reygan Cottia, tampak rebahan di atas ranjang bertabur alas dari kain sutra.
Langit-langit kamarnya bernuansa kubah dengan lukisan laki-laki serta wanita yang duduk di atas ayunan.
Menarik untuk di pandang namun tak jelas apa artinya. Karena di balik nuansa bahagia sosok dalam gambar, ada kolam darah di bawah kaki mereka. Bersamaan dengan anak kecil tenggelam di sana.
Begitulah gambaran lukisan di depan mata.
Sesekali, Aegayon Cottia memainkan rambut emasnya. Setiap sentuhan menampilkan serbuk berkilau yang berjatuhan.
Di sampingnya, ada gagak merah milik Blerda yang setia menemaninya. Berisi pesan wanita itu tentang rencananya terhadap dunia.
“Jika memang ingin melakukan perubahan, kenapa setengah-setengah begini? Seharusnya kalian juga menyerang ke sini,” begitulah gumaman sang Raja.
Wajahnya masih tak jelas seperti apa, karena tertutup oleh lengan serta rambut panjangnya saat berbicara.
Manusia.
Teriakan melalang buana di Dunia Guide. Kawasan hunian mereka, diterjang cerberus dengan ganasnya. Banyak yang mati karena menjadi santapan monster legenda. Tubuh tak bernyawa berceceran layaknya daging buangan bagi sang hewan kelaparan.
Tapi di satu sisi, Julius Troya hanya diam menonton itu semua. Walaupun dia bukan pemimpin kaum manusia di kawasan Dunia Guide, itu tidak menolak kenyataan kalau sosoknya memiliki pengaruh tinggi bagi bangsanya.
Hanya saja, pesan dari gagak merah membuatnya malas melakukan apa pun di sana. Lebih baik baginya tidur di penjara bawah tanah dan membiarkan atasannya menangani itu semua.
Kalau pun orang-orang itu mati, juga tidak ada pengaruhnya baginya.
Dia tidak peduli dan tidak mau tahu dengan sekelilingnya. Seperti itulah wujud aslinya yang sebenarnya.
Hening menerpa di sepanjang hutan larangan. Setiap batang pohon dipenuhi lumut hitam dengan aroma seperti lumpur.
Tak ada lolongan hewan. Bahkan berisik dari burung-burung yang beterbangan juga tidak berkumandang.
Akan tetapi, ada seseorang dengan lentera di tangan. Minimnya cahaya di sana dan hanya dihiasi sedikit kunang-kunang, menemani sosoknya.
Tapi yang mengejutkan adalah penampilannya. Ada tanduk di kepala. Sayap bak kelelawar raksasa bermekeran di punggungnya. Taring di gigi atasnya cukup mengusik penampilan menawannya.
Kulit eksotisnya begitu kontras dengan mata emasnya. Dia pun bergumam tiba-tiba tapi tak jelas apa yang dilirihkan mulutnya.
“Hah!” pekik seseorang akhirnya.
__ADS_1
Setelah cukup lama pingsan, Aza Ergo pun sadar dari keadaannya. Begitu berdenyut kepalanya, seperti dipukul palu tumpul secara berulang.
Akan tetapi, dirinya tidak menyangka. Jika di sekelilingnya ada beberapa petinggi tak asing di depan mata.
“Sudah sadar?” sapaan pertama yang dilontarkan Hanzo kepadanya.
Hanya saja butuh sejenak waktu bagi petinggi empusa untuk membalasnya. Perlahan ia pun menoleh ke kirinya.
“Semua baik-baik saja,” ucap Horusca.
Dan petinggi itu tahu pasti apa maknanya. Tentu saja berkaitan dengan anggota perjalanannya yang tidak hadir di sana.
“Tapi pemandangan ini, apa kamu yang melakukannya?” tanya Estes kepadanya.
Aza tidak menanggapinya. Kecuali penglihatannya menyapu keadaan sekitarnya.
Cincangan mayat Zenolea di sekeliling mereka cukup miris untuk disaksikan mata.
“Aku seorang pengendali magma. Mana mungkin aku tersangkanya?” kilah Aza sambil berdiri dengan susah payah.
Tentunya, usahanya ditatap aneh oleh Beltelgeuse Orion. Bagaimanapun juga, sosok pemilik firasat tertinggi merasakan keanehan darinya.
Seperti kesedihan terpancar dari diri Aza Ergo yang baru terjaga. Entah apa sebenarnya itu, tapi memang tidak baik menanyakan hal tersebut di depan semuanya.
“Entahlah. Aku sudah terlanjur pingsan tanpa tahu hewan itu pergi ke arah mana,” jelas pengendali magma dengan santainya.
Tak berapa lama kemudian, suar berwarna biru layaknya kembang api pecah di langit-langit jauh dari pandangan. Berkali-kali, dan bukan hanya di satu tempat, tapi di beberapa kawasan.
Menilik dari lokasinya, bisa dipastikan itu berasal dari kediaman bangsa-bangsa.
Sekitar lima lokasi suar mengumandangkan tanda tak asing di atas tanah mereka. Kalau warna biru berulang merupakan pesan jika kemenangan dalam peperangan sudah di dapatkan olehnya.
Sehingga itu berarti, pertarungan di Dunia Guide yang disebabkan oleh Cerberus sudah tidak terjadi lagi.
Tapi, seorang anak manusia menatap diam ke kawasan terlarang di depannya.
Riz Alea.
Anak manusia yang datang ke dunia itu untuk mengubah nasibnya. Merasa kalau tujuan hidupnya semakin lama kian menyimpang dari impiannya.
Semenjak menginjakkan kaki di sini, tak satu pun dari kristal-kristal yang dibutuhkan tampak olehnya.
__ADS_1
Entah sampai kapan dia akan di sini, jujur rasa rindu pada sang ibu sudah menggerogoti hatinya.
Berharap kalau semua ini takkan mempupuskan harapannya untuk pulang ke tanah kelahirannya.
“Suar biru? Apa artinya?” tanya seseorang pada sosok di belakangnya.
“Itu tanda kemenangan para penghuni Dunia Guide dalam pertarungan.”
“Begitu? Jadi siapa lawannya? Apa mungkin sosok yang ada dalam mimpi Dewa Apollo itu?”
“Entahlah.” Pak tua yang ditanya lalu menambah kayu bakar ke api unggunnya. “Hei, Nak. Sampai kapan kamu mau tidur? Kamu bahkan belum memakan apa pun sejak pertama kita bertemu.”
Dan anak muda yang diajak bicara cuma membuka matanya sekilas. Menimbulkan kekehan dari rekannya, lalu perlahan menidurkan kembali kesadarannya.
“Ellio memang selalu begitu. Semenjak datang ke sini, dia jadi jarang berbicara. Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kamu bisa beritahu aku. Karena bagaimanapun juga, aku ini tetaplah temanmu. Bukankah karena itu kita datang bersama-sama?” ujar Jion yang duduk di dekatnya.
Mau tidak mau, mantan sahabat Riz itu bangkit dari rebahannya. Menatap tenang ke arah tukang bully di sekolahnya.
“Aku hanya lelah. Entah kenapa, semenjak datang ke sini bawaanku ingin tidur saja.”
“Mungkin kamu merindukan rumahmu,” sela pak tua yang membakar ikan untuk mereka.
“Ayolah, kita baru datang ke sini. Jika kamu sudah mau pulang, bukankah sangat tidak menyenangkan? Lagi pula aku belum bermain-main dengan siapa pun semenjak memasuki tempat ini. Aku benar-benar butuh seseorang untung meregangkan tubuhnya yang cukup kewalahan.”
Dan Ellio yang mendengar ocehannya, hanya menatap tenang. Bagaimanapun juga sosoknya tahu kalau tukang bully di sekolahnya cuma ingin mencari bahan perundungan.
Akan tetapi, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Mengingat sosoknya seperti tidak tertarik pada lirihan Jion di depannya.
“Benar juga. Riz Alea. Kulihat dia sempat memasuki tempat pendaftaran. Bukankah itu berarti dia juga ada di dunia Guide? Kuharap, aku bisa bertemu dengannya. Karena memang tidak ada yang lebih baik darinya, dalam memuaskan hasratku sebagai seorang assandia (petarung)”
Ellio yang mendengar itu pun perlahan mengepal erat tangan kirinya. Walau tak terlihat oleh dua orang di dekatnya, tapi cengkeraman kuat tersebut berhasil membuat kukunya menembus telapak tangan.
Menjejakkan lubang mencekam agar luka menyakiti fisiknya.
Tak jelas apa yang membuat Ellio sampai seperti itu. Tapi perilakunya barusan jelas berbanding terbalik dengan raut wajahnya.
Perawakannya seperti aliran air yang tenang namun menghanyutkan.
__ADS_1