Death Game

Death Game
Bukit Lagarise


__ADS_3

“Kenapa orang-orang di sini memakai pakaian berwarna merah?”


“Karena ini tempat Dewi Lagarise diturunkan. Jadi para bawahannya memakai apa pun sesuai warna kesukaan sang dewi sebagai penghormatan.”


“Dewi Lagarise?” Riz memandang penasaran.


“Di tengah kota kau akan melihat patungnya.”


Reve menatap berkeliling. Rasanya tak ada yang aneh dengan kota itu, tapi kenapa Near sangat risih? Dirinya bisa merasakan, kalau sejak memasuki kawasan bukit Lagarise Near tidak baik-baik saja.


“Reve? Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.”


Mereka bertiga memasuki sebuah toko yang menjual berbagai jenis pakaian dari sutra. Dan lagi-lagi semua yang ada dominan berwarna merah.


“Apa tak ada warna lain?”


“Kenapa? Lagi pula ini cocok untukmu,” Aza Ergo terkekeh sambil menyodorkan baju perempuan pada Reve. “Kau tidak cantik memakainya,” diiringi semburan tawa.


“Aku akan memotong lidahmu bodoh,” Reve ikut tersenyum.


Riz hanya bisa menatap ketidak akuran mereka. Entah kenapa rasanya keduanya sangat mirip. “Baju ini bagus,” selanya menyentuh salah satunya.


“Oh, matamu cukup bagus. Kalau suka ambil saja, akan kubayar.”


“Benarkah?” tanya Riz semringah.


“Ya. Aku orang kaya,” Aza tersenyum sombong.


“Bodoh,” cela Reve. Ia memilih ke sudut ruangan karena melihat pakaian yang cukup menarik. Tempat yang mereka datangi sangat besar, dan cukup ramai pengunjung, tapi karena semua pakaian yang ditawarkan hampir sama warnanya semua terasa menjengkelkan.


Tapi, saat Riz memilih baju untuk rekan lainnya, seseorang juga menyentuh pakaian terpajang yang ia pegang.


“Ah, ma-maafkan aku,” ucap Riz.


Laki-laki yang masih memegang baju itu hanya diam dan mengangguk. Ia lalu melepaskan pegangan dan memilih melangkah pergi ke arah lain.


“Ada apa?” tanya Reve.


“Tidak. Tidak ada apa-apa,” sahut Riz. Tapi sosok orang itu masih tertinggal di ingatan sehingga ia kembali menoleh. Namun, orang tadi sudah tak tampak di mata.


“Bagaimana?” tanya Aza Ergo.


“Ah! Aku sudah selesai memilihnya,” Riz memperlihatkan pakaian di tangan.


“Baiklah. Ayo bayar,” ajak Aza Ergo.


Akan tetapi, saat membayarnya Riz terdiam karena orang yang tadi terlihat juga membayar pakaian itu.


Aza Ergo dan Reve tampak tak acuh, namun mata Riz dan orang itu kembali beradu. Tak tahu kenapa, Riz merasa aneh dengannya.


“Ayo Riz,” ucap Aza Ergo.


“Ya.”


“Apa yang kau pikirkan?”


“Tidak ada,” ucap Riz pada Reve.


Keluar dari sana, Reve tersentak. Near keluar dari persembunyian dan lari tiba-tiba. “Near!” pekik Reve mengejarnya.


“Hei bocah bodoh!” teriak Aza Ergo. Mereka menjadi tontonan orang-orang. Terlebih Reve masih berusaha mengejar Near sang ular yang entah ke mana. “Sial!” umpat Aza Ergo.


Riz yang juga ikut mengejar merasa kesusahan karena larinya tak secepat kedua orang itu.


“Near!” panggil Reve. Langkahnya tiba-tiba berhenti. Di sebuah peristirahatan di tengah danau, tampak ada empat orang sedang makan bersama.


“Lho, kau!” pekik wanita salah satu dari mereka.


“Reve! Apa yang-” Aza Ergo menatap malas pemandangan di depan mata.


“Kalian!” panggil Riz dengan napas terengah-engah.

__ADS_1


“Siapa mereka?” tanya seorang pria berambut pirang berbandana itu.


“Mereka bocah-bocah sialan yang tak hormat pada guru!” oceh Redena.


 “Apa!” suara pria berambut pirang terasa menggelegar.


“Hei Reve! Kenapa kau malah kemari? Kau ingin kita kena masalah?” gerutu Aza Ergo.


“Near.”


“Ada apa dengan Near, Reve?” tanya Riz.


“Dia lari ke sini.”


Riz dan Aza Ergo sama-sama terdiam mendengarnya. Tiba-tiba, Aza Ergo maju beberapa langkah. “Maaf karena kami mengganggu. Tapi aku ke sini untuk mengambil peliharaan temanku. Kalian tidak keberatan kan?”


“Peliharaan?” tanya pria berambut pirang. “Aku tak lihat ada hewan datang kemari.”


“Mungkin yang di maksud ini?” sela seorang laki-laki. Riz terdiam, karena orang tersebut adalah sosok aneh yang ditemuinya di toko pakaian.


“Ya. Dia peliharaanku.” Reve mendekat dan mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tapi laki-laki itu menghindari arah tangan Reve.


“Dia datang padaku. Bukankah itu berarti dia ingin bersamaku?”


Aza Ergo tiba-tiba tertawa. “Mungkin karena kau seperti makanannya. Jadi kembalikan saja sebelum kau disantapnya.”


“Petinggi tak sopan,” sindir Redena.


“Petinggi? Siapa?”


“Menurutmu siapa?”


Pria berambut pirang itu menoleh pada ketiga pemuda tersebut. “Jangan-jangan kau? Aromamu, kau empusa?”


Aza Ergo tersenyum sombong. “Kembalikan padaku, selagi aku masih meminta baik-baik,” sahut Reve.


“Kalau aku tidak mau?” laki-laki itu tampak keras kepala.


Reve menatap jengkel padanya.


Laki-laki itu menoleh padanya. “Tapi Tuan. Ular ini datang padaku. Bukankah itu berarti aku bisa memilikinya?”


“Sepertinya didikkan orang tuamu begitu buruk,” sindir Reve.


Laki-laki itu tersenyum. “Karena aku tidak pernah di didiknya.”


Tiba-tiba Reve mengeluarkan pedang.


“Reve!” pekik Riz saat pemuda itu hampir saja melayangkannya ke leher orang di depannya.


“Hei pak tua! Katakan pada pengikutmu untuk mengembalikan ular itu. Kami orang sibuk!” Aza Ergo menimpali.


“Iza,” bujuk pak tua itu.


“Tapi aku menginginkannya.”


“Jika Izanami menginginkannya maka biarkan saja. Lagi pula hewan ini datang sendiri padanya,” sahut pria berambut pirang.


“Izanami?” ucap Aza Ergo tiba-tiba. Ia lalu melirik Reve yang juga berekspresi sama.


“Kenapa kalian menatap Izanami seperti itu?!” Redena tampak tak suka.


“Apa kau Izanami Forseti?” tanya Reve.


“Mm? Kau mengenalku?”


“Oh! Jadi kau Izanami? Beruntung sekali. Kita tak perlu kesusahan mencarinya,” Aza Ergo menyeringai.


“Sialan! Mau apa kau dengan Izanami?!” cegat Redena.


“Nenek sihir berisik sekali,” ledek petinggi itu.


“Apa kau bilang!”

__ADS_1


Pak tua berambut hitam legam itu terdiam saat melihat ekspresi Reve dan Aza Ergo. “Kalian,” ucapnya.


“Tuan Izanami. Jika kau berkenan, maukah kau ikut dengan kami sebentar? Ada yang perlu kita bicarakan,” bujuk Aza Ergo.


“Kalau aku menolak?”


“Maka kau takkan dapatkan ular itu,” tegas Reve.


“Kau pikir aku tidak bisa merebutnya?”


“Berisik,” gerutu Aza Ergo. Tiba-tiba ia menarik kerah baju Izanami Forseti. “Kau mau ikut tidak?”


“Hei! Apa yang kau-” pria berambut pirang itu dihadang Reve.


Aza Ergo tersenyum menatap wajah laki-laki itu. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Izanami Forseti membisikkan sesuatu. Tampak kalau ekspresi pemuda itu berubah, dan menatap tajamnya.  


Laki-laki itu menjatuhkan Near di tangan dan berjalan duluan. “Izanami! Kau mau ke mana?” tanya pria berambut pirang.


“Maaf teman. Tapi ini tak ada hubungannya denganmu,” Aza Ergo tertawa lalu mengikuti langkah Reve dan Riz yang sudah duluan meninggalkan mereka.


“Ada apa sebenarnya?” pria berambut pirang itu menatap pak tua berambut hitam legam. Tak ada jawaban, kecuali tatapan yang masih mengiringi langkah menjauh mereka.


Langkah yang entah diarahkan ke mana, sekarang sampai di depan bibir hutan. Deretan pohon-pohon agathis dammara tampak menyambut mereka. Tapi, Izanami terlihat masih belum berhenti, sampai memasuki area dalam hutan yang mulai gelap dan berat auranya.


“Mau ke mana dia?” tanya Riz.


“Entahlah. Ikuti saja,” jawab Aza Ergo.


“Apa yang kau katakan padanya?”


Aza Ergo menyeringai lalu melirik Reve lewat sudut matanya. “Menurutmu apa?”


Reve menatap diam. Langkah mereka terhenti, karena Izanami sudah berdiri diam tak jauh di hadapan mereka. Tatapannya dingin, namun itu tak berpengaruh apa pun bagi ketiga pemuda itu mengingat wajahnya.


Rambut sepinggang yang dikuncir kuda. Berwarna perak indah dan berponi, mata abu-abu dengan tato aneh di area mata kiri. Kulitnya sepucat Reve, tapi tatapannya tak ada bedanya dengan Aza, sehingga tak berkesan menakutkan.


“Siapa kalian?” kalimat pertama yang diucapkan Izanami Forseti.


“A-aku Riz Alea.”


“Reve Nel Keres.”


“Aku petinggi empusa.”


“Petinggi empusa?” Izanami menatapnya dari atas ke bawah. “Ah, kau Aza Ergo ya? Apa yang dilakukan orang gila sepertimu di sini?”


“Siapa yang kau sebut gila sialan!”


“Tuan. Kenapa orang-orang menyebutmu gila?” tanya Riz.


“Mereka iri padaku yang hebat ini,” ucapnya menyombong.


“Jadi, apa yang kalian inginkan?” Izanami membuyarkan suasana. “Berani-beraninya kau menyebut nama kotor itu di hadapanku?” sahutnya menekan.


“Di mana kunci penjara Reygan?” tanya Reve.


Izanami Forseti tersenyum. “Aku tak tahu dari mana kalian mendengarnya. Tapi, kau menanyakan itu padaku? Sepertinya kalian salah orang.”


“Kau pikir bisa membodohiku? Aku tahu kalau kau mengetahuinya.”


Rasanya, mendadak udara menjadi dingin. Izanami kemudian berjalan santai dengan arah hendak mengelilingi ketiga pemuda itu.


“Petinggi, pemula dan pelarian. Kombinasi menarik,” gumamnya. Semakin ia berjalan, tekanan udara semakin berat.”


“Firasatku buruk,” Riz memandang berkeliling.


Di tempat yang berbeda.


“Ada apa Tuan?” tanya pria berambut pirang pada pak tua di sampingnya.


“Iza.”


Seketika pemuda itu memandang ke arah berkeliling. Tiba-tiba, wajah dan tubuhnya mulai ditumbuhi bulu.

__ADS_1


“Groaar!” pekik pria berambut pirang. Air danau yang mengelilingi mereka berubah riaknya. Aliran angin berubah haluannya, dan teriakan-teriakan binatang mulai memekakan telinga.


“Ini!” pekik seseorang yang sedang mengasah pedang di dalam penjara. 


__ADS_2