
Pria berambut pirang yang ringkih itu pun langsung berjalan menuju jendela. Mencengkeram gordennya dengan rahang menegas di wajahnya.
Sementara Reve Nel Keres terpekik karena kemunculan Reygan yang tiba-tiba. Pria mengerikan itu sudah berada di antara mereka.
Sontak saja bocah ular dan sang petinggi muda mengayunkan pedangnya secara brutal pada Reygan Cottia. Tarian berwarna putih dari senjata Reve, begitu berlawanan dengan milik Aza.
Bahkan tanpa aba-aba Aza Ergo mengangkat tangan ke arah lawannya sehingga duri magma yang lincah memburu sosok itu.
Tak sulit bagi Reygan untuk menghindarinya, terlebih ia bisa bergerak di udara. Dalam sekali ayunan semua serangan lenyap di depan matanya.
“Apa ini? Apa hanya ini level kalian? Aku sudah lama di penjara, kuharap guider era sekarang lebih luar biasa,” sindirnya.
Dan Reve pun tanpa keraguan mengeluarkan pedang-pedangnya. Bergerak tak tentu arah mencoba mencabik kulit pria di hadapan.
“Kenapa?” gumamnya tiba-tiba. “Kenapa orang terkutuk sepertimu melakukan itu? Dasar brengsek!” marahnya.
Tapi tawa pria tersebut sangat mengusik pendengarnya. Sampai akhirnya ia muncul tiba-tiba di depan Reve. Memegang bahu pemuda itu dengan tampang remeh.
“Apa hanya ini yang kau punya? Phoenix.”
“Kau!”
“Reve!” pekik Toz yang kaget menyaksikannya.
Karena Reygan Cottia tiba-tiba memotong tangannya. “Lemah.”
“Diam kau, brengsek!”
“Banyak celah.”
Reve tak henti-hentinya mengeluarkan pedangnya untuk menyerang lawannya. Tampaknya emosi yang membubung tinggi membuat gaya bertarungnya berantakan dan tak terkendali. Mengabaikan sakit di tangan yang telah terpotong kondisinya.
“Kau, melirik ke mana?” gumam seseorang tiba-tiba.
Sontak saja Aza Ergo menoleh ke belakang. Bersamaan dengan erangan Doxia dan Toz karena serangan kejam Kuyang menembus tubuh mereka.
“Saatnya makan.”
Ledakan besar pun langsung terjadi di sana. Semua karena Xavier menghantam Kuyang dengan serangan gelombang miliknya.
Membuat wanita itu menggertakkan gigi karena ulah tak terduga. “Ka— ugh! Dasar brengsek!” marahnya. Hampir saja, tubuhnya terluka karena duri magma muncul tiba-tiba.
Ulah anak muda yang membelakangi dirinya sungguh membuatnya kesal. Terlebih tatapan Aza Ergo lewat sudut mata yang terkesan arogan memanaskan emosi lawan.
Dia benar-benar kesal melihatnya.
“Kau,” tekannya. “Aku akan menyiksamu putra Olea terkutuk!”
Jaring-jaring pun langsung bermunculan dari setiap ayunannya. Memburu para mangsa yang berada di jangkauan. Sementara Toz dan Doxia sedang diobati Horusca.
__ADS_1
Mereka masih tak menyangka monster itu akan muncul tiba-tiba dan melukai keduanya.
Tapi, Aza Ergo yang mengeluarkan ekor magmanya spontan saja mengarahkan jurus itu untuk memburu Reygan dan Kuyang.
Sampai akhirnya dalam proses penghindaran Reygan pun menghempaskan Reve ke daratan. Bocah itu kalah dalam adu kekuatan.
“Reve!” pekik Riz melihatnya. Dia benar-benar ingin membantunya tapi posisinya mengharuskan dirinya melindungi sang elftraz (penyembuh).
“Apa-apaan monster itu? Dia terlihat bermain-main,” lirih Xavier melihat pertarungan Reve dan Reygan tadinya.
Sementara Kuyang masih melancarkan serangan dan di hadapi Aza Ergo dengan tenang.
“Kuyang,” panggil Reygan tiba-tiba. Membuat wanita itu menoleh kepadanya. “Ayo beraksi. Karena ada orang-orang yang harus kutemui,” seringainya tiba-tiba.
“Baiklah,” senyum tipis pun terpatri di bibirnya.
“Menghindar!” teriak Horusca tiba-tiba.
Dan entah untuk siapa pekikan itu, Aza serta Xavier pun langsung bereaksi akan serangan tak terduga.
Orang-orang terkesiap karena Reygan sudah berdiri di tengah-tengah dua murid Hadesia.
“Tapi sebelum itu, akan kuhabisi kalian terlebih dahulu,” pedangnya pun bergerak cepat ke arah mereka. Aza terlempar ke udara dengan kasarnya. Sedangkan Xavier yang juga sama kondisinya memuntahkan darah tiba-tiba akibat hantaman keras gagang pedang ke dadanya.
Dia tak menyangka kalau pertahanan gelombang kejutnya akan ditembus semudah itu.
Namun di satu sisi, Reve yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya memaksakan diri untuk bangkit. Karena bagaimanapun juga, tujuannya untuk membunuh Reygan.
“Nigel! (Muncullah!)” teriak Aza tiba-tiba. Dari tubuhnya pun bermunculan ekor magma yang entah berapa jumlahnya. Bergerak cepat menuju daratan agar dia tak jatuh ke bawah jembatan yang hancur tadinya.
“Mati kau!” teriak Kuyang yang menyemburkan jaring ke arahnya.
Bersamaan dengan itu, Reygan juga menyeringai pada Aza dan tanpa di sangka-sangka dirinya sudah muncul di belakang sang petinggi empusa.
“Kau tahu? Siapa pun yang berada di jangkauan penglihatanku, akan selalu berada di dekatku,” tangannya pun langsung mencengkeram leher sang pemuda. Bersamaan dengan jaring Kuyang melilit tubuh sang petinggi secara tiba-tiba.
Tapi Aza hanya melebarkan senyum dan tubuhnya memancarkan lelehan magma.
“Cih!” umpat Kuyang karena jaringnya melebur.
Sementara Reygan menghempaskan pemuda itu akibat panas dari magma hampir saja merusak tangannya. “Cukup merepotkan.”
Dengan kelihaiannya Aza pun mendarat di daratan tempat Horusca serta yang lainnya berada. Sosoknya pun menoleh pada Reve, tersenyum melihat kesusahan sang pemuda.
“Aku tak tahu bagaimana orang-orang itu ada di sini. Tapi, kau tidak lupa dengan tujuanmu bukan? Reve.”
Perlahan, bocah pengendali ular yang sudah dihiasi keringat di pelipisnya pun menyeringai.
“Tak perlu mengingatkanku,” dirinya pun berjalan ke arah Horusca.
__ADS_1
“Kalau begitu aku duluan,” ucap Aza. “Hexlama (Kutukan kegelapan)”
Kuyang dan Reygan pun tersentak saat merasakan sensasi sang petinggi empusa.
“Dia,” gumam sosok berambut pirang itu.
Dan tanpa aba-aba, ledakan cairan magma pun menyeruak di kaki sang pemuda. Membentuk gelombang tsunanmi lalu memburu lawan-lawannya.
“Dia!” jengkel Xavier melihatnya. Karena sosoknya yang berdiri di udara pun berada dalam jangkauan serangan.
“Kemampuan yang indah,” puji Reygan.
Dan tangannya pun mengayunkan pedang, menimbulkan tebasan kasar ke arah tsunami magma. Begitu pula Kuyang, sosoknya juga melakukan hal serupa.
Tapi siapa yang bisa menyangka, kalau rupanya serangan Aza Ergo bukan hanya itu saja. Kolam magma yang berdampingan dengan es di bawah jembatan tadinya sekarang bergerak seperti duri besar untuk menghujani bagian atasnya. Seolah sedang mematahkan hukum gravitasi dunia.
“Dia, benar-benar,” geram Kuyang. Dan dengan emosi luar biasa, lengan pedangnya pun melakukan tebasan beruntun pada sekelilingnya. Membuatnya berhasil membuka jalan menuju Aza. “Akan kucincang kau bocah keparat!”
Bunyi keras pun memekik di antara mereka berdua. Tentunya berasal dari senjata Aza serta Kuyang.
Wanita yang berwujud scodeaz (pengendali) itu tampak unggul dalam menekan sang petinggi. Karena Aza bertahan di posisinya dalam menepis serangan dengan mundur terus ke belakang.
“Apa hanya ini yang kau punya?! Anak Olea!”
Pemuda itu tidak mengatakan apa-apa. Terlebih dia harus hati-hati sebab Kuyang sesekali melontarkan jaring kepadanya. Untung saja ekor magmanya selalu siap sedia. Dan dia menyerang wanita tersebut dengan tarian dari kemampuannya.
Sementara Reve, tangannya sudah kembali seperti semula karena Horusca. Tampaknya sang elftraz (penyembuh) itu benar-benar aset yang luar biasa.
“Sudah baikan? Kalau begitu ayo maju, Nak. Akan kutemani kau bertarung seperti seharusnya.”
Akan tetapi siapa yang menyangka, kalau bukan Reve Nel Keres yang melancarkan serangan, melainkan seorang elftraz (penyembuh) dengan buasnya mengeluarkan tanaman gila.
Orang-orang itu pun terkesiap melihat sosok di daratan seberang.
“Siapa itu?!” pekik Doxia.
Dan tanaman aneh yang bergerak bak badai itu pun menyemburkan asap kuning ke arah mereka.
“Ini!” Horusca bersuara tiba-tiba.
“Sial! Racun!” Xavier terbelalak saat melihat serangan itu hendak menyelimutinya.
__ADS_1