Death Game

Death Game
Pemimpin siren


__ADS_3

Akan tetapi, empat dari mereka tersentak tiba-tiba. Membuat yang lainnya menatap heran.


“Reve? Ada apa?” tanya Toz bingung.


“Near ketakutan.”


Beberapa pun mengernyitkan wajah bingung mendengarnya.


“Ini,” gumam pemuda berambut merah. Sensasi yang tidak dingin lagi di dalam gua, membuatnya bisa mendeteksi keadaan sekitarnya dengan baik.


“Hei, jangan bilang,” Aza malah tersenyum.


“Iblis,” begitulah ucapan Kers dan Blerda secara bersamaan bahkan jika mereka berada di tempat yang berbeda. Sungguh luar biasa, karena wanita itu juga menyadari sensasi tak biasa dari kawasan lembah dingin. Bukan hanya dirinya, bahkan sosok Raja milik bangsa pemangsa darah merasakan hal serupa sepertinya.


Tapi Lucian Brastok, memilih tetap berada di peti matinya. Melanjutkan tidur panjang sebagaimana mestinya.


“Kers? Dan juga—” ucap wanita itu melirik jendelanya.


“I-iblis?!” pekik Toz dan Riz bersamaan.


“Hush! Jangan berisik bodoh!” Kers mendengus sebal.


Mereka tampak waspada sekarang, karena sensasi mengerikan jelas-jelas terasa dari luar gua. Bahkan, gelombang api yang berkibar mulai mengecil kobarannya, seperti ikut takut akan keberadaan makhluk di luar sana.


“Bersiaplah, karena kit—”


“BRUAGH!”


Suara ledakan keras mengejutkan mereka. Sontak saja Aza terburu-buru keluar dari gua dan memastikan apa yang terjadi barusan.


Tapi, dirinya terkesiap. Bukan hanya sosoknya, orang-orang di belakangnya juga menatap tak percaya dengan pemandangan di depan mata.


“B-Blerda?!” pekik kaget Kers melihat penampakan di hadapannya.


Dan perlahan, wanita yang membelakangi mereka pun berbalik menatapi orang-orang di belakangnya.


“Kalian,” ucapnya dengan sorot mata tenang namun menekan.


Sepertinya, kengerian yang ingin mereka lihat telah sirna begitu saja. Ada begitu banyak darah berserakan di sekitar wanita itu, bahkan memancarkan aroma anyir tak tentu arah.


Blerda Sirena, sang pemimpin bangsa siren telah hadir di hadapan mereka dengan cara yang tak terduga.


Beberapa saat kemudian.


Sekarang di sinilah mereka. Di salah satu rumah pinggiran. Terpaksa mendatangi tempat ini atas ajakan Blerda. Tentu saja orang-orang menurutinya. Tak ada satu pun yang menolak bahkan jika itu Aza dan Kers sekalipun.


Sungguh mereka benar-benar mematuhinya.


Begitu cantik pesonanya. Mereka belum pernah melihat penampakan seindah ini, kecuali Aza Ergo dan Hydragel Kers. Karena bagaimanapun juga, keduanya merupakan murid seperguruan yang sama dengan Blerda.


Rambut pirangnya dihiasi forget me not. Gelombang sebahunya memamerkan aroma menyegarkan, dan netra seperti kegelapan malam melirik satu-persatu orang-orang di sekitarnya.    

__ADS_1


Sungguh takjub menghiasi mereka saat bertemu penampakan Blerda yang cantik tiada tara. Bahkan Rexcel sekalipun, belum pernah melihat pemimpin bangsanya ini karena kastanya sangat jauh berbeda.


“Mm ... apa kamu tidak akan mengajak kami ke istana?” tanya Kers tiba-tiba tanpa dosa.


Gadis itu, hanya memiringkan wajahnya.


“Katakan, Kers. Apa yang membuatku harus membawa kalian ke istana?”


“Kawasan terlarang.”


Kata barusan, jelas-jelas menyentak pendengaran Blerda. Tapi tak terlihat keterkejutan dari dirinya. Perlahan, ia pun berbalik.


“Kalau begitu, silakan ikuti aku,” ucapnya berjalan duluan. Tentu saja orang-orang dibelakangnya mengekori langkahnya. Masuk lebih dalam dan sampai di tempat yang mirip dapur di sana.


Hanya dalam sekali injakan kaki Blerda, sebuah jalan rahasia bertangga gelap langsung menganga di depannya. Tanpa bersuara, dilangkahinya entah ke mana.


“H-hebat,” bisik Toz pada Riz yang dibalas anggukkan.


Sementara Reve berjalan di samping Aza dan juga ikut bersuara padanya. “Itu pemimpin Siren?” tanyanya dan dibalas anggukkan sekilas oleh petinggi empusa. “Dia tak seperti yang kubayangkan.”


“Memangnya kau membayangkan apa?” Aza menatap remeh.


“Mengerikan?”


“Apa sekarang dia tidak terlihat seperti itu?”


“Lebih mirip putri Raja.”


“Sayangnya dia bukan Putri melainkan Raja itu sendiri. Tapi yah, akan lebih baik tidak menilai luarnya saja. Karena kecantikan itu luka untuk para penikmatnya,” Aza pun tertawa pelan yang dibalas tampang berkerut oleh Reve. Sekilas pemuda ular mengangkat bahunya karena jawaban ambigu petinggi di sebelahnya.


Langkah mereka terus menapaki jalanan dengan lebar setengah meter. Diterangi cahaya lilin yang tergantung di dinding lorong. Begitu pengap area ini, bahkan sensasi menusuk dari kawasan lembah dingin tak terasa lagi.


Sesekali hembusan angin yang entah muncul dari mana menerpa kulit mereka. Diperkirakan, semuanya telah menempuh jalan selama kurang lebih dari 15 menit.


Dan akhirnya, di sinilah sosok-sosok yang mengikuti langkah Blerda. Disambut ruangan besar dan diperkirakan itu sebagai area bawah tanah. Ada tangga baru ke atas sana, bahkan di sekelilingnya dihiasi patung-patung wanita. Namun tak berwajah sehingga penikmatnya merasa ngeri menatapnya.


“Aku tidak pernah tahu ada jalan seperti ini,” bisik Rexcel tiba-tiba pada Doxia.


“Padahal kau juga siren, bodoh.”


“Tapi bukan berarti aku tahu semuanya.”


“Dasar payah!”


“Blerda,” cegat Aza tiba-tiba. Menghentikan langkah wanita itu dalam menapaki tangga. “Di atas sini, apakah bagian dalam istana?”


“Ya.”


“Kalau begitu, bisa sediakan ruangan yang tak bisa di datangi siapa pun juga?”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Karena orang-orang yang ikut denganku dan Kers, mereka buronan.”


“Hei!” pekik kaget Doxia dan Rexcel bersamaan.


Sungguh mereka tak menyangka, bila petinggi itu akan membuka kedok semuanya. Jelas-jelas ini malapetaka karena berada di sarang singa.


Blerda tak menjawabnya, dan memilih melanjutkan langkah. Menaiki tangga satu persatu sampai akhirnya tiba di pijakan terakhir. Tempat yang cukup lebar dan disambut pintu kokoh seperti gerbang besi besar.


Dalam sekali sentuhan, cahaya langsung muncul dari belahan pintu yang terbuka. Menampilkan ruangan lapang dan memancarkan aroma tak biasa.


Lily.


Begitu pekat hampir menyengat. Bahkan detakan jantung pun berdesir aneh karenanya. Sampai akhirnya sosok gadis di depan mereka berhenti di sebuah pintu besar.


“Masuklah,” perintahnya begitu pintu dibuka. Tatapannya, terarah pada orang-orang yang berada di belakang Aza.


“A-apa tak masalah?” bisik Doxia pada sang petinggi empusa.


“Ini adalah ruang peristirahatan. Hanya Raja yang diizinkan memasukinya,” kalimat Blerda menyiratkan kalau dirinya tahu apa yang dicemaskan mereka.


“T-terima kasih Yang Mulia,” ucap Toz padanya.


“Yang Mulia? Aku juga Raja, tapi kenapa kau memanggilku Tuan?”


“Ah, maafkan aku Tuan. Mungkin itu karena anda laki-laki,” dan penjelasan Toz justru mengundang tawa petinggi empusa.


“Payah kau Kers! Sebenarnya dia ingin mengatakan kalau tampangmu tak cocok jadi Raja,” dan Aza tetap saja terus tertawa. Mengundang dengusan sebal Kers untuk menatap jengkel pada adik seperguruannya.


“Ayo,” sela Blerda tiba-tiba. Dirinya berjalan duluan meninggalkan mereka.


“Kalian tunggu di sini saja. Kami tidak akan lama,” jelas pengendali magma lalu melambaikan tangannya.


Tentu saja kepergian mereka ditatap oleh rekan-rekannya. Cukup penasaran ketiganya akan ke mana dan membahas apa.


Dan begitu pintu selanjutnya terbuka, ruangan yang dipenuhi aroma bunga Lily serta lavender menyeruak ke penciuman Kers dan Aza. Membuat petinggi empusa melirik sekelilingnya.


“Ini pertama kalinya aku ke istana merah.”


Kers pun tersenyum remeh. “Aku juga. Kira-kira, apa yang akan dipikirkan Tetua siren melihat kita di sini?”


“Sampah Guide akhirnya mengganggu Ratu mereka,” kekeh Aza pelan.


Blerda yang mendengar itu semua hanya diam saja. Dirinya terus melangkah, duduk di salah satu sofa dengan sangat menawannya. Sedangkan Aza tampak santai, berbeda dari Kers yang terlihat tak terhormat untuk ukuran seorang Raja.


“Blerda, apa tidak ada anggur?”


Pendengarnya langsung melirik tenang ke arah pemimpin bangsa hydra. “Katakan apa yang ingin diberi tahukan,” sahut Blerda mengabaikan ucapan Kers.


Laki-laki itu dibuat mencibir akan sikap wanita di depannya. “Pelit.”


“Tapi aku juga lapar, Blerda,” Aza menimpalinya.

__ADS_1


Sepertinya, kedua laki-laki ini belum berniat menyampaikan maksud kedatangannya dengan benar. Sampai akhirnya, Blerda menyipitkan mata dan memiringkan wajahnya. “Anak muda yang lancang.”


 


__ADS_2