Death Game

Death Game
Kepekaan Pemimpin Siren


__ADS_3

Dan di sinilah mereka. Di ruangan yang dihiasi meja makan besar serta hidangan penggugah selera. Begitu mewah makanan penyambutannya, untuk digunakan tiga orang bersatus tinggi di masing-masing bangsa.


Blerda Sirena.


Telah menanti kedua orang itu dengan dandanan yang cantik. Kimono hitam berlukisan bunga teratai. Dan rambut pirang bergelombangnya, diperindah dengan aksesoris dua kupu-kupu biru.


Sorot matanya masih sama. Tenang sekaligus menekan.


“Blerda memang sangat pengertian,” Kers tersenyum senang dan lagi-lagi menyantap anggur. Sepertinya, hidupnya hanya untuk memakan buah-buahan itu.


Akan tetapi, saat dua lainnya ingin memulai makan, pintu ruangan terbuka dengan kehadiran yang tak disangka-sangka.


Bleria Sirena.


Sang petinggi siren itu tersentak kaget saat melihat sosok-sosok yang duduk dan makan bersama kakaknya. Batinnya mulai memburu, bertanya-tanya kenapa dua orang penting bangsa lain tersebut bisa berada di sini.


Sampai akhirnya, suara kakaknya yang memanggil namanya menusuk kesadaran. Dirinya terdiam tak berkutik, merasa salah sudah masuk dengan lancang di hadapan mereka bertiga.


“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau ada tamu. A-aku, permisi dulu.”


“Bleria.”


Wanita itu terkesiap. Wajah menunduknya perlahan diangkat untuk menatap kakaknya. Blerda, memperhatikan dengan lekat ekspresi adiknya.


“Tunjukkan sopan santunmu pada dua tamu agung bangsa siren.”


Rasanya seperti dihujam. Kalimat barusan, jelas-jelas sebuah perintah untuknya agar sadar diri sebagai seorang petinggi pemula. Perlahan, Bleria pun mengatur hormat untuk dipersembahkan pada dua tamu agung bangsanya.


“Maafkan diriku atas kelancanganku barusan. Salam hormat dari Bleria Sirena, sang petinggi bangsa siren untuk Yang Mulia Raja hydra, Hydragel Kers. Serta, untuk Tuan Aza Ergo sang petinggi yang agung bangsa empusa.”


“Aku menerima salammu,” balas Kers sambil tetap memakan anggurnya.


Aza Ergo hanya tersenyum pada rekan sesama petingginya itu sampai akhirnya kalimat tak terduga terlontar dari bibir Bleria.


“Maafkan aku atas kelancanganku, Yang Mulia. Tapi jika anda tidak keberatan, apa aku boleh tahu kenapa orang-orang terhormat seperti kalian berdua bisa berada di sini?”


Hening.

__ADS_1


Tak ada yang bersuara. Bleria bertanya-tanya apakah ia baru saja membuat kesalahan. Karena bagaimanapun juga, tiga orang di depannya hanya diam menatapnya.


Tanpa terasa, tangannya berkeringat hebat akibat tekanan yang menyelimuti tubuhnya.


“Bleria.”


Gadis itu tersentak. Bahkan bila wajahnya menunduk, dirinya bisa menatap rupa tanpa ekspresi sang kakak lewat ruang-ruang rambutnya. Sepertinya, dirinya memang sudah melakukan kesalahan dengan bertanya seperti itu pada mereka.


“Ada batasan dalam bertanya, adikku. Dan dirimu, tidak pantas mempertanyakan keberadaan tamu agung bangsa ini. Mengerti?”    


“Aku mengerti. Sekali lagi maafkan aku karena sudah lancang begitu. Kalau begitu, aku akan undur diri.”


“Bleria.”


Lagi-lagi, dirinya terasa dicegat oleh panggilan kakaknya.


“Ya Kak— ya Yang Mulia?”


Tapi, sepertinya suasana mulai berubah sekarang. Dingin menekan, dan meremangkan bulu kuduk untuk ikut menyuarakan ketakutan.


“Kenapa, aku mencium bau aneh dari dirimu?”


Mereka benar-benar terbungkam.


“Kutanya sekali lagi, Bleria. Kenapa, aku mencium bau aneh dari dirimu?” ulangnya sambil berdiri dari posisinya.


“B-bau aneh apa? Apa yang Kakak bicarakan?” panik Bleria. Tanpa terasa, kakinya langsung kehilangan tenaga dan ia jatuh terduduk sambil mendongak menatap kakaknya.


Hawa dari Blerda, benar-benar meruntuhkan keberaniannya.


“Jawab aku, Bleria. Kenapa aku mencium bau aneh dari dirimu?”


“A-aku tidak mengerti! Apa yang Kakak bicarakan? Bau aneh apa? Aku tidak paham.”


“Capricorn.”


Bleria terkejut bukan main. Saat sebuah kehadiran yang mendinginkan tulang, telah muncul di belakangnya.

__ADS_1


“K-kenapa Kakak memanggilnya?”


“Wahai petinggi siren,” ucapnya tiba-tiba. “Aku sudah memberimu kesempatan. Selanjutnya, adalah penghakiman. Sebagai perintah dariku, panggil Gilles ke hadapanku.”


Bagai disambar petir. Bleria dibuat terkesiap oleh pernyataan kakaknya. Dirinya tidak menyangka kalau Blerda Sirena yang menjadi pimpinan siren akan tahu tentang pertemuannya dengan bangsawan terluka itu.


Tubuhnya bergetar hebat dan matanya mulai memerah. Rasa takut telah mencuat ke permukaan karena kakaknya menyiratkan ketegangan. Bagaimana bisa dirinya tahu? Apa bau aneh yang diucapkannya barusan bukan sekadar gertakan?


Atau mungkin Kers dan Aza telah memberi tahunya? Tentang pengkhianatan Gilles dan yang lainnya dalam mengejar sosok medusa. Jelas-jelas, Bleria Sirena dibebaskan dalam rencana ini. Jadi, bagaimana bisa mereka tahu dirinya sudah bertemu dengan temannya itu? Batin petinggi muda siren pun terguncang sekarang.


“Apa dirimu bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu?” sela Blerda tiba-tiba. Kalimat itu langsung menohok kesadaran Bleria. “Menurutmu, kenapa aku bisa menjadi Raja?”


Tak ada yang bisa dijawabkan adiknya. Karena bagaimanapun juga, Bleria telah didera syok akan kenyataan yang ada.


“Karena aku adalah salah satu murid Hadesia. Ingat itu, Bleria.” Pemimpin siren tersebut sontak berbalik dan berjalan menuju balkon. “Capricorn, seret para pengkhianat itu kemari. Sekarat pun tidak masalah, jangan sampai ada yang lolos.”


Dan akhirnya, asap hitam pekat langsung mengepul dari sosok itu. Sebagai tanda kalau waktu-waktu perburuan sudah dekat. Bahkan dua laki-laki yang menjadi tamu agung di sana tak satu pun bersuara. Karena mereka sadar kalau di sini, wanita di pandanganlah Raja tertingginya.  


“Sekarat pun tidak masalah. Apa itu juga termasuk Tetua empusa?”


“Tidak ada kasihan untuk para pengkhianat. Begitulah hukum di dunia Guide,” balas Blerda tanpa melirik Kers yang bertanya. Karena sorot matanya, menatap tajam pada sosok Bleria.


Benar-benar kesalahan besar bagi mereka, memantik kekacauan sebagai salah satu penyandang siren. Sekarang, para buruan pun harus bertarung hebat melawan Capricorn. Pelayan para Dewa, sekaligus jiwa tenang scodeaz (pengendali) seperti Vanargand.


Bagaimanapun juga, pertarungan jelas dimenangkan oleh makhluk kiriman Blerda. Karena jiwa tersebut tidak bisa mati jika bukan di tangan tertentu yang memegang kunci terlarangnya.


Beberapa saat kemudian, teriakan keras jelas menyentak pendengaran beberapa orang. Namun itu takkan terdengar keluar dari ruangan tempat dua tamu agung siren sedang makan. Mengingat beberapa ruang di istana merah, telah dilapisi mantra tertentu untuk menahan suara agar tidak bocor keluar.


“G-Gilles,” lirih Bleria menatap tak percaya. Wanita itu, diseret dengan sangat mengerikan oleh Capricorn. Bukan hanya dirinya, bahkan ada Cobra tanpa kaki dan Sidag beruraian air mata.


Tetua empusa yang seharusnya dihormati sebagai orang tua, justru dibawa seperti binatang tak berguna oleh jiwa scodeaz (pengendali) suruhan Blerda.


Capricorn, dengan enam tangan yang diselimuti kabut hitam, memperlakukan buruannya tanpa ampun dan iba. Sesuai perkataan Blerda, sekarat pun tak masalah selama tidak ada satu pun yang lolos.


“A-anda,” ucap Sidag terbata-bata.


Wanita yang menjadi Raja hanya menatap diam penampakan di depan mata, sampai akhirnya langkahnya mendekati Tetua empusa.

__ADS_1


“Tamu adalah Raja. Tapi, mengikuti peraturan tuan rumah juga termasuk ke dalam tata krama. Bagaimana menurutmu? Tetua.”


__ADS_2