
“Jadi ini ruangan kami?”
“Benar, Tuan. Ini tempat peristirahatan utusan dari bangsa hydra. Di dalamnya ada pintu untuk masing-masing kamar, anda sekalian bisa memilih mana pun yang ingin ditempati. Dan juga jika ada yang anda butuhkan, silakan sampaikan pada pengawal yang berjaga di luar. Semoga anda semua nyaman berada di sini. Saya undur diri.”
“Tunggu.”
Tersentak, Otama dibuat merinding oleh suara Revtel yang mencegatnya tiba-tiba. “Y-ya Tuan?”
“Di mana kamar Raja hydra?”
“Itu, di area sayang kanan Tuan.”
“Antarkan aku ke sana.”
Bagai disambar petir, itu jelas permintaan yang mustahil untuk dituruti. Sorot mata Otama pun seakan bergetar karena menerima perintah yang sudah diperkirakannya. Namun benar-benar tak disangka kalau itu akan terjadi.
“Maaf Tuan. Tapi, saya perlu izin agar siapa pun bisa memasuki kawasan sayap kanan.”
“Begitu?” Ludah kasar pun diteguk Otama karena ekspresi Sang Wakil Raja. “Lupakan itu. Sebagai gantinya, panggilkan saja Rajaku kemari. Itu tidak perlu izin kan?”
“Baik Tuan. Akan saya lakukan.”
Dan bawahan Blerda pun beranjak dari sana. Tapi, itu tak menyurutkan penglihatan dingin Revtel. Sampai akhirnya ia memilih bergabung dengan dua petinggi yang sedang duduk di sofa.
Di dalam perjalanan menuju tempat peristirahatan Raja hydra, Otama pun bertemu sosok petinggi empusa. Terlihat rupa Aza Ergo yang kecut di pandangannya.
“Tuan Aza.”
“Otama? Anda ke kamar Kers juga?”
“Iya Tuan. Saya ingin menyampaikan permintaan Tuan Revtel yang ingin bertemu Yang Mulia Kers.”
“Dia ingin menemuinya?”
“Benar, Tuan.”
“Cih!” decih Aza tiba-tiba. Sontak saja dibukanya pintu kamar Kers dengan lancangnya.
“Hei! Mana sopan santunmu?!”
Otama dan Aza Ergo, mengernyitkan wajah bingung menatap pemandangan di depannya dari dia yang bersuara. Di mana sosok paling terhormat milik bangsa hydra, justru tidur-tiduran sambil berselimut di atas ranjang. Bahkan ada keranjang anggur di dekat bantalnya.
“Bangun bodoh! Revtel ingin bertemu denganmu!”
“Lalu? Mana dia?”
“Maaf Yang Mulia. Tapi siapa pun tak diizinkan memasuki kawasan di tempat ini.”
“Ah,” Kers pun tersadar. “Sudahlah, biarkan saja. Aku akan menemuinya besok.”
“T-tapi—”
__ADS_1
“Aku akan bertanggung jawab. Jadi kamu tidak perlu khawatir Otama. Atau kamu, mau menemaniku di sini? Aku tidak keberatan jika kamu mau,” sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Kalau begitu saya undur diri dulu,” pamitnya terburu-buru.
Aza hanya memamerkan tampang remeh melihat sikap kecentilan Kers itu.
“Kenapa kau di sini? Keluar. Aku ingin tidur.”
“Jangan lupa tutup mulutmu tentang rekan-rekanku,” Aza memperingatkan.
“Kau pikir kau siapa?”
“Jangan membuatku menyesal karena sudah melakukan pertemuan ini, Kers.”
“Apa ini? Kau marah? Tenang saja. Siapa juga yang ingin memburu rekan-rekan kecilmu itu?”
Tapi, tak ada satu pun jawaban yang ditorehkan Aza selain tatapan menekan. Perlahan, Kers memamerkan senyum dan bangkit dari posisinya. Di dekatinya sosok pengendali magma, sambil menyentuh pipi sang pemuda.
“Jangan menatapku begitu. Kau tidak lupa siapa aku kan? Jika saatnya tiba, aku pasti akan jadi penonton di pinggiran. Kau tak perlu takut Aza, karena aku bukan tipe yang akan ikut di peperangan,” lirihnya sambil tertawa.
Dan dahinya pun bertemu dengan kening sang petinggi empusa yang berekspresi tenang.
“Kenapa kau baru menemuiku sekarang?!” teriakan Revtel bergema di dalam ruangan.
Sosok yang dihardiknya, hanya memamerkan cengiran bak kuda kekenyangan.
“Aolah, Revtel. Jangan marah-marah begitu. Apa kamu tidak sadar kalau kacamatamu oleng begitu?”
Tentu saja tawa yang langsung disemburkan Raja hydra, sambil bersembunyi di belakang Hea. “Ayolah, jangan marah-marah begitu. Aku bisa melihat kerutanmu makin bertambah Revtel.”
“Kau—”
“Hea, katakan pada gurumu itu agar tidak cerewet lagi,” bisik Kers sambil memeluknya dari belakang. Sontak saja murid Revtel itu terperanjat karena merasa geli diperlakukan begitu. “Hei, apa-apaan itu? Padahal jika Aza, dia akan santai saja,” cibirnya.
“Aza? Benar juga. Apa-apaan maksud surat Blerda itu? Kenapa namamu dan bocah terkutuk itu ada di sana?”
Kers yang sedang mengganggu Hea pun mengalihkan pandangannya. “Bukannya gara-gara kalian aku jadi mengurus penyusup-penyusup itu?”
“Kapan aku menyuruhmu? Kau saja yang berinisiatif mengirim Aza.”
“Dan sudah kulakukan bukan? Memangnya kau tidak lihat hasilnya.”
“Potongan siren dan empusa. Apa itu hasil yang sedang kau bicarakan?”
“Tentu saja,” Kers tersenyum sombong.
“Lupakan. Bukankah empusa yang menyusup ke kawasan terlarang? Kenapa siren juga terlibat di sini?”
“Karena mereka juga ikut serta.”
“Siren?”
__ADS_1
“Benar. Kau tidak dengar perkataanku?” Raut wajah Revtel berubah. Seketika nyali Kers menciut menatap rupa wakilnya itu.
“Apa yang mereka inginkan?”
“Medusa dan cerberus.”
“Apa!” pekik Hea dan Libra bersamaan.
“Berisik bodoh!” Kers pun menjitak Hea.
“Agh!” pekik sang pemuda sambil meringis kesakitan. Dia pun mengusap-usap kepalanya sambil mencibir Kers yang jengkel.
“Kau yakin?”
“Yakin! Bisakah kau tidak meragukan perkataanku begitu? Menyebalkan,” sahutnya sambil memanyunkan bibirnya.
Rahang di wajah Revtel pun kian menegang, memperlihatkan guratan ketegasan serta keanehan di ekspresinya. Perlahan namun pasti, raut mukanya menggelap seperti murka.
“Mereka sudah bosan hidup rupanya,” Revtel pun mendudukkan dirinya di kursi. Melepas kacamatanya, dan membuat Libra, Hea serta Kers menegang.
Melepas kacamata, entah kenapa perilaku Revtel yang begitu membuat mereka tegang dan berkeringat dingin. Cepat-cepat Kers menghampirinya lalu memijat baju Wakilnya.
“Tenang saja, Revtel. Bukankah, karena itu pertemuan ini dilakukan? Lagi pula pasti tak ada satu pun yang ingin bencana itu muncul kembali.”
Revtel pun kembali memasang kacamatanya dan melirik Raja hydra. “Blerda. Apa dia sudah meminta izin Trempusa untuk mengeksekusi empusa?”
“Belum. Tapi itu ada di bawah naungan Aza. Jadi kupikir takkan ada masalah.”
Sosok yang kini tak lagi dipijat Kers itu mengerutkan dahinya. “Peraturan tetaplah peraturan, Kers. Blerda tak punya hak mengeksekusi empusa di sini tanpa izin Trempusa. Karena Aza, hanya petingginya.”
Sebuah senyuman tipis pun merekah di bibir pemilik tahta hydra.
“Apa yang lucu?”
“Tidak ada. Hanya saja, hidupmu sepertinya terlalu kaku, teman.”
“Apa—”
Kers pun membalikkan tubuhnya. “Sepertinya, akan ada peraturan baru. Kuharap kalian menikmati tontonannya.”
“Apa! Mau ke mana kau Kers?!”
Tapi, sang Raja hydra mengabaikan panggilan temannya itu. Membuat sosok yang ditinggalkan saling beradu pandang penuh arti.
Nyatanya, Hydragel Kers tidak tersenyum lagi. Bibirnya kian melebarkan seringai yang membelah wajahnya. Dia tertawa pelan entah apa maksud ekspresinya. Dan sorot matanya pun bertemu dengan sesosok makhluk hidup yang terkesiap.
Mengintip dari balik gorden tinggi. Seekor hewan melata, dengan pandangan tajam beradu pandang di kegelapan.
“Jangan mengintip begitu, karena aku benci tikus pinggiran,” selesai mengatakannya, hewan itu langsung melompat dan bergerak cepat menjauhinya. Begitu ketakutan sosoknya sampai-sampai membuat sang pemilik menatap kaget melihat kedatangannya.
“Near?”
__ADS_1